Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Monday, December 22, 2014

Petani dan Anak-anaknya - Dongeng Yunani

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang petani yang amat kaya yang merasakan bila hidupnya tidak akan terlalu lama lagi, memanggil anak-anaknya di sebelah tempat tidurnya.

"Anak-anakku," dia berucap, "Coba perhatikan apa yang akan aku ucapkan pada kamu semua. Dengan kondisi apapun, tidak boleh menjual tanah yg dimiliki keluarga kita selama beberapa generasi. Hal ini disebabkan adanya harta karun tersembunyi. Aku tidak faham dimana posisi pastinya, namun harta itu ada di sini. Kejar dan cari harta tersebut dengan sekuat tenaga dengan cara menggali dan jangan terlewat sejengkal tanah pun yang tidak tergali.

Setelah mengucapkan itu, sang Petani akhirnya meninggal, dan tidak terpaut lama setelah pemakamannya, anak-anaknya mulai berusaha dengan sangat giat berusaha menggali setiap jengkal tanah pertanian mereka dengan sekop, bahkan ketika sudah menggalipun, mereka masih menggalinya lagi sampai berulang dua-tiga kali.

Tidak ada secuil emas pun yang bisa mereka dapatkan, namun herannya ketika musim panen, kantong dan pundi-pundi uang mereka menjadi sangat banyak dengan pendapatan dari panen yang amat besar dibandingkan dengan petani tetangga mereka. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa harta karun yang disampaikan oleh ayah mereka adalah keuntungan dari hasil panen yang melimpah ruah, dan giat bekerjanya mereka sebenarnya adalah harta karun itu sendiri.

Pesan Moral: Kerja keras adalah harta karun
Share:

Si Lugu dan Angsa Emas - Dongeng Jerman

Courtesy of google image
dongeng anak dunia - Adalah seorang lelaki yang memiliki tiga anak, yang termuda di antara mereka disebut si Lugu, dan sering diejek, ditertawakan, bahkan diabaikan keberadaannya pada setiap saat. Pada suatu ketika, putra yang tertua ingin keluar ke hutan untuk menebang kayu, dan sebelum dia keluar, ibunya memberi kepadanya sebuah kue yang enak dan sebotol minuman yang menyegarkan agar dia tidak mengalami kelaparan atau kehausan.

Ketika dia sampai di hutan, seorang lelaki tua kecil berkulit abu-abu bertemu dengannya, yang menyapanya dan berkata, "Berilah aku sedikit kue, dan biarkan aku minum sedikit minumanmu, aku sangat kelaparan dan kehausan."

Namun pemuda ini menjawab, "Apabila aku memberi kue dan minumanku padamu, maka aku tidak akan dapat makan dan minum sama sekali, pergilah kamu sekarang."

Dia pun pergi tinggalkan lelaki kecil itu berdiri di sana. Kemudian pemuda itu memulai menebang pohon, dan tiba-tiba kapaknya terselip dan melukai tangannya sendiri sehingga dia terpaksa pulang ke rumah untuk mengobati lukanya.

Nyatanya semua kecelakaan yang terjadi itu adalah hasil tindakan dari si Pria Tua kecil yang tadi ditemuinya. Putra kedua pun juga masuk ke dalam hutan untuk menebang pohon, dan ibunya seperti sebelumnya memberikan makanan dan minuman yang diberikan kepada putra tertua, kue enak dan sebotol minuman segar.

Lelaki tua kecil juga kembali bertemu dengannya, dan meminta untuk diberikan secuil kue dan minuman, tetapi si Putra Kedua menjawab, "Apabila aku memberikan kue enak dan minuman segar ini, aku tidak punya apa-apa lagi, jadi pergilah kamu."

Dia pun sama dengan meninggalkan si lelaki Tua kecil berdiri di sana. Tidak lama kemudian, si Putra Kedua pun mengalami kecelakaan ketika menebang pohon, dimana tanpa sengaja kapaknya melukai kakinya sendiri dengan begitu parahnya sehingga dia harus ditandu pulang ke rumah.

Kemudian si Lugu berkata kepada ayahnya, "Ayah, biarkan aku pergi ke hutan untuk menebang pohon."

Namun ayahnya menolak dengan menjawab, "Saudara-saudaramu telah mengalami kecelakaan hingga melukai diri sendiri, apalagi kamu yang tidak tahu apa-apa tentang bagaimana cara menebang pohon."

Tetapi si Lugu terus memohon dalam waktu yang lama, hingga akhirnya ayahnya berkata, "Baiklah, pergilah kamu jika kamu ingin, pengalaman akan menjadikan mu lebih bijaksana."

Kemudian ibunya memberikan kue kepadanya, tetapi kue ini adalah kue yang lebih sederhana, dan sebotol minuman yang sudah sedikit kecut pula.

Ketika dia tiba di hutan, si lelaki Tua kecil itu bertemu dengannya, menyapanya dan berkata, "Berilah aku sedikit kuemu, dan minum dari botolmu, aku sangat kelaparan dan haus."

Si Lugu pun menjawab, "Aku hanya mempunyai kue tepung yang sederhana dan minuman yang mempunyai sedikit kecut, tetapi bila kamu merasa kue dan minuman ini cukup enak bagi kamu, mari kita duduk bersama dan makan bersama."

Duduklah mereka bersama dan saat si Lugu mengeluarkan kue dan minumannya, kuenya menjadi kue yang nikmat dan minumannya menjadi minuman yang sangat enak. Kemudian mereka pun makan dan minum.

Tidak begitu lama, si lelaki Tua kecil itu berkata, "Kamu mempunyai hati yang baik, dan memberi apa yang kamu punya dengan sukarela, aku akan memberikan kamu suatu hadiah. Berdirilah di pohon tua itu, kemudian menebanglah. Di balik akarnya kamu akan menemukan sesuatu."

Sesudah mengucapkan hal itu, si lelaki Tua kecil itu pun berlalu. Si Lugu pun beranjak, kemudian berdiri di dekat pohon yang diarahkan, lalu ditebanglah pohon tersebut. Tumbanglah akhirnya pohon itu, dia melihat seekor angsa berbulu dari emas murni, duduk di antara akar pohon. Dia pun mengambilnya dan membawanya pergi ke sebuah penginapan dimana dia berkeinginan untuk menginap karena hari telah menjelang larut malam.

Yang memiliki penginapan ini memiliki tiga anak perempuan, dan ketika mereka melihat angsa yang dibawa oleh si Lugu, mereka menjadi penasaran untuk tahu apa sebenarnya jenis angsa yang terlihat indah itu.

Mereka pun berharap mendapatkan satu bulu angsa yang berwarna emas. Putri tertua berpandangan, "Aku akan menunggu waktu yang baik, dan pada waktu yang tepat, aku akan mengambil salah satu bulu angsa emas itu untuk aku miliki."

Ketika si Lugu keluar dari rumah, putri yang tertua dengan trengginas berusaha mengambil sebuah bulu pada sayap angsa itu, akan tetapi jari dan tangannya malah menempel pada angsa itu. Setelah itu, datanglah putri kedua yang mempunyai pemikiran yang sama untuk mencabut salah satu bulu emas untuk dimiliki sendiri, tetapi saat dia menyentuh kakaknya, dia juga ikut menempel pada kakaknya. Terakhir datanglah putri ketiga dengan keinginan yang sama, tetapi yang lainnya berseru,

"Menjauhlah! jangan mendekat!"

Namun putri ketiga tidak mengerti mengapa kakak-kakaknya menyuruhnya pergi, dan dia pun berpikir, "Jika mereka berkeinginan mencabut satu bulu angsa emas itu, mengapa aku tidak boleh?"

Setelah dia mempunyai pemikiran tersebut, dia pun tetap maju untuk mengambil sebuah bulu angsa. Tetapi ketika dia menyentuh kakak-kakaknya, dia pun menempel pada kakaknya tersebut. Mereka terpaksa harus tinggal bersama angsa emas itu sepanjang malam.

Keesokan paginya, si Lugu membawa angsa emas itu dan mengempitnya di bawah lengannya dan berlalu tanpa mempedulikan mengapa ketiga gadis itu mengikutinya ke manapun dia pergi. Ketiga gadis ini selalu mengikutinya, ke mana pun kakinya berjalan.

Saat melangkah di tengah-tengah ladang, mereka bertemu seorang tokoh adat yang saat melihat barisan ini, menghardik kepada ketiga orang gadis yang mengikuti si Lugu, "Apakah kalian tidak mempunyai rasa malu? Berjalan ikuti seorang anak muda melalui jalan-jalan umum seperti ini? Ayo, tinggalkanlah pemuda itu dan pergi!"

Dia pun langsung mengambil lengan gadis yang termuda, dan seketika itu pula tangannya menempel dan menyeret dia berlalu bersama si Lugu. Tidak lama setelah itu, seorang pengurus adat melihat tokoh adat yang dihormati ini berbaris mengikuti si Lugu dan tiga orang gadis, maka dia pun berseru, "Hai, ke manakah Anda akan berjalan? Apakah Anda tidak ingat akan ada acara yang harus kita kerjakan?"

Kemudian dia memegang jubah sang Tokoh Adat, namun setelah dia memegangnya, dia pun menempel dan ikut tertarik dalam barisan si Lugu. Saat kelima orang ini berlalu beriringan, mereka berpapasan dengan dua orang petani yang baru pulang dari ladang, dan sang Tokoh Adat berseru kepada mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk datang dan melepaskan mereka dari barisan, tetapi kedua petani ini pun menjalani nasib yang sama dengan yang lain, sehingga saat ini ada tujuh orang yang mengikuti si Lugu dan angsa emasnya.

Dalam perjalanan ini, tibalah si lugu di sebuah kota dimana raja yang memimpin hanya memiliki seorang putri yang tidak bisa tertawa dan tak ada orang yang mampu membuatnya tertawa. Oleh karena itulah sang Raja memberikan sayembara bahwa barang siapa yang mampu membuatnya tertawa, diizinkan untuk menjadi suami sang Putri.

Si Lugu yang mengetahui pengumuman ini, pergi menemui sang Putri bersama dengan angsa emasnya dan barisan orang yang menempel mengikutinya. Setelah sang Putri melihat tujuh orang yang berjalan menempel beriringan dan terseret-seret antara satu dengan yang lainnya, dia pun tertawa terbahak-bahak, dan seolah-olah sulit untuk menghentikan tawanya. Saat itu pula, ketujuh orang yang saling menempel bisa terlepas.

Si Lugu pun meminta janji sang Raja agar sang Putri dinikahkan dengannya, tetapi sang Raja merasa bahwa si Lugu tidak sepantasnya menjadi menantunya, membuat berbagai syarat untuk menentang si Lugu. Sang Raja pun memberikan syarat bahwa si Lugu harus bisa membawakan seorang lelaki yang bisa meminum seluruh minuman yang tersedia dalam gudang minuman sang Raja.

Si Lugu seketika teringat pada si lelaki Tua kecil di hutan yang dia pikir akan bisa membantunya. Dia pun berjalan menuju hutan, dan di lokasi yang sama ketika  dia dulu menebas pohon, dia lihat seorang pria duduk dengan muka yang sedih.

si Lugu pun akhirnya menanyakan apa yang terjadi, lelaki itu menjawab, "Saya amat kehausan, dan apapun yang saya minum, tidak bisa memenuhi rasa haus saya. Saya tidak suka meminum air dingin, saya lebih suka meminum air segar dalam botol kecil ini, tetapi apalah artinya minuman yang hanya sebotol kecil? Rasanya seperti setitik saja bagi lelaki yang kehausan seperti saya."

Lalu si Lugu pun berkata, "Aku sepertinya bisa membantumu, ikutilah aku, dan rasa hausmu akan terpenuhi."

Si Lugu lalu mengajaknya langsung ke gudang minuman sang Raja, dan lelaki itu kemudian duduk sendiri di hadapan sebuah tong minuman yang besar, lalu minum dan minum, dan sebelum menjelang malam, dia telah menghabiskan seluruh minuman yang ada di gudang. Si Lugu lalu meminta janji agar sang Putri bisa menjadi istrinya, tetapi sang Raja menjadi marah karena si Lugu mampu memenuhi syarat yang diberikan.

Sang Raja pun memberikan satu persyaratan lain. Si Lugu harus mampu mencari orang yang bisa memakan tumpukan roti yang sangat banyak. Tanpa bertanya-tanya lagi, si Lugu pun pergi ke hutan, dan di lokasi yang sama duduklah seorang lelaki yang perutnya diikat dengan tali dan bermuka sedih.

Lelaki itupun berbicara kepadanya, "Aku sudah memakan seluruh roti dalam oven, tetapi semua rote tidak terasa bagi lelaki yang kelaparan seperti aku. Perutku terasa melompong, dan aku terpaksa mengikatkan tali di perutku karena terlalu kelaparan."

Si Lugu sangat bahagia mendengar ucapan lelaki itu dan berkata, "Berdirilah segera, dan berjalanlah bersamaku. Aku akan berikan padamu makanan sehingga kamu kenyang."

Dia mengajaknya langsung ke halaman istana dimana semua roti di istana telah dikumpulkan dan dijejalkan ke sebuah tumpukan gunung roti. Lelaki dari hutan ini lalu segera untuk makan, dan dalam tempo satu hari seluruh tumpukan roti telah habis dimakan.

Kemudian si Lugu meminta calon istrinya kepada sang Raja untuk ketiga kalinya, namun lagi-lagi sang Raja memberikan satu alasan lagi, dan ia pun mengatakan jika si Lugu harus memberinya sebuah kapal yang bisa berlayar di daratan atau di air.

"Apabila kamu mendapatkan kapal seperti itu, kamu akan aku kawinkan dengan putriku."

Si Lugu segera berjalan ke hutan, dan di sana duduklah si lelaki Tua kecil berkulit abu-abu, lelaki tua yang pernah diberi kue oleh si Lugu. Si lelaki Tua kecil itu pun berbicara kepadanya, "Aku sudah meminum sampai habis minuman dari sebuah gudang istana demi kamu, dan aku telah menghabiskan gunungan roti demi kamu. Aku juga akan memberikan kamu kapal. Semua ini aku perbuat karena kamu sangat baik kepadaku."

Kemudian si lelaki Tua kecil itu pun memberinya kapal yang mampu berlayar di daratan dan di air, dan pada saat sang Raja melihat kapal ini, dia pun akhirnya mengetahui jika dia tidak dapat lagi menahan putrinya untuk tidak menikahi si Lugu. Pernikahan pun segera dilakukan. Ketika sang Raja meninggal, si Lugu mewarisi singgasana kerajaan, dan hidup bersuka cita selamanya bersama sang Putri.

Pengarang: Brothers Grimm
Share:

Urashima Taro & Penyu Laut - Dongeng Jepang

Courtesy of google image
dongeng anak dunia - Urashima Taro adalah anak lelaki satu-satunya dari pasangan suami istri nelayan. Dia sangat ramah, kuat dan muda. Dia sangat pandai dalam berlayar menggunakan perahu mengalahkan orang-orang yang ada di pulau tersebut. Dia sering berlyar jauh ke tengah laut dan tetangga-tetangga sering mengingatkannya bila suatu saat dia tidak akan pernah kembali lagi. Tapi orang tuanya tidak mengakhawatirkan ini mengingat mereka sangat yakin dengan kepandaian anaknya. Bahkan bila waktu pulang terlambat pun, orang tuanya tidak akan merasa khawatir.

Suatu ketika Urashima Taro mengambil tangkapan ikan di jaringnya yang telah ditebar kemarin malam. Ketika dia mengambil ikan-ikan dari jaringnya, dia menemukan seekor penyu kecil yang ikut terjaring bersama tangkapan yang lain. Penyu itu akhirnya dia ambil di letakan di ditempat yang aman sehingga dia membawanya pulang.

Namun dia tiba-tiba mendengar penyu itu berbicara dengan suara yang lembut, "Apa gunanya aku untuk mu?" Tanya penyu itu. "Aku terlalu kecil untuk disantap dan juga terlalu muda. Perlu waktu lama untuk bisa menjadi besar. Mohon kasihani aku dan kembalikan aku ke laut karena aku tidak ingin mati.". Demikian kata si penyu kecil. Urashima Taro merasa kasihan dan akhirnya melepaskan kembali penyu itu ke laut.

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ .adv - Beberapa tahun kemudian setelah peristiwa tersebut, Urashima Taro mengalami kecelakaan parah dimana kapalnya pecah berkeping-keping karena dihantam oleh badai. Dia adalah perenang yang baik sehngga dia langsung berenang berusaha mencapai tepi pantai. Namun sayangnya tempat perahunya karam sangat jauh jaraknya dengan pantai dan saat itu laut bergolak dengan kejam. Kekuatannya lama-lama melemah dan dia akhirya mulai tenggelam secara perlahan. Tapi ketika dia hampir tenggelam, dia mendengar suaranya dipanggil oleh seeorang. Dan ternyata yang memanggilnya adalah penyu yang besar.

"Ayok naik ke atas punggungku!" Teriak penyu itu, "aku akan membawa kamu ke pantai." Saat Urashima Taro telah duduk aman di atas punggung penyu tersebut, penyu itu kembali berbicara, "Aku ini adalah penyu yang kamu lepaskan waktu aku masih kecil dan tidak berdaya berada dalam jaring mu. Aku sangat senang bisa membalas kebaikanmu."

Begitulah akhirnya penyu itu membawa Urashima ke pantai, namun ditengah perjalanan sang penyu memberikan penawaran apakah dia ingin melihat kehidupan yang indah tersembunyi di bawah laut? Nelayan tersebut menyetujuinya dan dalam kecepatan kilat, mereka berdua menukik kedalam air yang berwarna hijau. Urashima memeluk erat punggung penyu yang membawanya ke kedalaman yang amat dalam. Setelah perjalanan 3 malam, mereka akhirnya tiba di dasar laut dan ternyata memang tempat itu sangat indah, penuh dengan kristal dan emas. Koral dan mutiara beserta batu-batu bersinar membuat dia terkagum-kagum. Dan ketika dia sampai kepada sebuah istana, dia tambah kagum lagi.

"Ini adalah istana dewi laut. aku merupakan salah satu pelayan dari putri dewi laut." Demikian kata sang penyu.

Penyu tersebut laporan atas kedatangan sang nelayan kepada sang Putri, dan tidak lama setelah itu mereka pun akhirnya dipertemukan. Putri tersebut sangat cantik rupawan, dan ketika sang Putri meminta Urashima Taro untuk tinggal di istana tersebut, sang pemuda langsung menyetujuinya dengan gembira.

”Jangan tinggalkan aku dan kamu akan selalu muda seperti saat ini, usia tua tidak akan pernah kamu alami," demikian menurut sang Putri.

Akhirnya tinggallan Urahima Taro bersama sang putri untuk sekian lama. Sampai suatu ketika dia merasa rindu untuk bertemu dengan orang tuanya. Dia begitu gelisah dan kehilangan, dia sangat ingin bertemu orang tuanya. Akhirnya dia menyampaikan keinginannya kepada sang Putri dan berjanji akan kembali bersama Putri selamanya setelah bertemu dengan orang tuanya.

Sang Putri asalnya keberatan, dia mengatakan bila pemuda itu bisa saja tidak akan bertemu lagi dengannya. Namun keinginan Urashima sangat kuat dan tidak lagi bisa ditahan. Akhirnya sang Putri melepaskannya dengan memberikan sebuah kotak emas kepadanya seraya berpesan agar kotak itu jangan pernah dibuka. Bila dia tidak mengikuti apa yang dia sampaikan, dia tidak akan bertemu kembali dengan sang Putri. Sang Putri juga berpesan bila penyu itu akan hadir disana ketika dia memanggilnya.

Urashima Taro dengan gembira dan semangat meyakinkan sang Putri bila tidak ada yang bisa menghalangi mereka. Dan setelah menunggang penyu selama 3 hari, sampailah dia di pantai dimana rumah orang tuanya berada.

Dengan riang gembira dia berlari ke desa tersebut untuk mencari semua teman-temannya. Namun ternyata tidak ada satu wajah pun yang dia kenal. Semuanya asing baginya. Bahkan ketika dia melihat rumah-rumah yang ada, semuanya terlihat asing pula. Ketika dia akhirnya menemukan rumah orang tuanya, dia semakin bingung ketika rumah itu telah dihuni orang lain yang dia tidak mengenalnya.

Akhirnya dia mencari pekuburan di desa tersebut dan menemukan apa yang dia cari, kuburan dari kedua orang tuanya. Dari batu nisan itu dia akhirnya tau bila orang tuanya telah meninggal 300 tahun lalu pada saat dia menghilang. Dengan penuh rasa sedih, dia menghormat kepada kedua kuburan ortunya. Sepanjang jalan dia melangkah dan berharap bila ini hanya mimpi dan dia akan terbangun dari tidurnya.

Tiba-tiba dia teringat akan kotak emas yang dititipkan sang Putri kepadanya. Dia pun berpikir mungkin sang Putri telah menyihirnya serta kotak ini adalah jimat untuk mematahkan sihir tersebut. Akhirnya dengan tergesa-gesa dibukanya kotak itu, kemudian seberkas asap ungu keluar dari kotak tersebut meninggalkan kotak yang kosong.
Dia sungguh terkejut ketika melihat tangannya telah berubah langsung menjadi keriput dan gemetaran. Dia sadar akhirnya bila kotak itu adalah jimat untuk menjaga dia tetap awet muda. Dia berlari ke tepi aliran air yang mengalir dan melihat bayangannya di air adalah seorang kakek tua renta. Dia ketakutan dan berlari kesana kemari sehingga akhirnya dia mencapai pantai. Dia coba untuk memanggil sang penyu namun tidak ada yang datang memenuhi panggilannya.

Sebelum kematiannya, dia membuat orang-orang sekitarnya keheranan dan berkerumun mendengarkan ceritanya. Sampai akhirnya dia pun meninggal dan meninggalkan hikayat pemuda meninggalkan Putri demi cintanya kepada orang tuanya.

Dari Jepang.
Share:

Wednesday, December 10, 2014

Rubah dan Buah Anggur - Dongeng Yunani

Pada suatu ketika adalah seekor rubah melihat untaian buah anggur yang ranum bergelantungan dari pohon anggur di hampir seluruh cabangnya. Buah anggur itu terlihat begitu indah, sangat enak dan berisi penuh, dan mulut sang Rubah menjadi terbuka serta meneteskan air liur saat melihat buah anggur yang bergelantungan.

Buah anggur itu menggantung pada cabang pohon yang cukup tinggi, dan sang Rubah harus melompat untuk meraihnya. Saat pertama kali melompat untuk mengambil buah tersebut, sang Rubah tidak mampu meraihnya karena buah itu menggantung sangat tinggi. Akhirnya sang Rubah mengambil ancang-ancang dan berlari sambil melompat, namun kali ini sang Rubah masih belum juga dapat meraih buah anggur tersebut. Sang Rubah mencoba untuk melompat terus, tetapi semua usaha yang dilakukannya tidak berhasil.

Akhirnya dia kemudian duduk dan melihat ke arah buah anggur itu dengan rasa penasaran.

"Betapa bodohnya saya," katanya. "Disini saya terus mencoba untuk mengambil buah anggur yang sebetulnya tidak enak untuk dimakan."

Tak lama kemudian sang Rubah berjalan pergi dengan hati yang sangat kesal.

Pesan Moral: Banyak manusia yang berpura-pura mengacuhkan dan memperkecil arti sesuatu yang tidak dapat mereka capai.
Pengarang: Aesop
Share:

Tuesday, December 9, 2014

Tukang Sepatu dan Akuntan Keuangan - Dongeng Perancis

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang tukang sepatu yang suka cita dan senang menyanyi mulai pagi sampai petang. Orang akan senang ketika melihatnya bekerja, dan lebih menyenangkan lagi ketika mendengarnya menyanyi. Orang akan berprasangka bila pekerja ini adalah orang yang paling berbahagia di dunia.

Tukang sepatu yang selalu suka cita ini mempunyai tetangga yang bersifat kebalikan dengannya. Dia hampir tidak terdengar menyanyi, bahkan dia kurang tidur pula. Orang ini mempunyai pekerjaan sebagai akuntan keuangan. Saat tetangga akuntan ini bekerja dan kurang tidur sepanjang malam, ia akan tertidur dan bangun kesiangan.

Tukang sepatu disisi lain sering bangun tepat waktu dan akan membuatnya terbangun dengan lagu yang menyenangkan. "Ha!" kata akuntan yang super kaya ini, "Sayang sekali apabila kita mempunyai uang tetapi tidak mampu membeli 'tidur' di pasar seperti kita membeli makanan dan minuman!". Lalu muncullah suatu ide di kepalanya. Ia lalu mengundang tukang sepatu untuk datang ke rumahnya, dan ia pun menanyakan sesuatu kepadanya.

"Coba beritahu aku tuan, berapakah penghasilan anda dalam satu tahun?"

"Penghasilan saya setahun, lebih banyak daripada yang bisa saya ingat. Saya belum pernah mencatatnya. Selama saya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saya, itu sudah cukup untuk saya." Jawab sang Tukang Sepatu sambil tertawa.

"Benarkah?" kata sang Akuntan. "Berapa banyak yang dapat kamu raih dalam sehari?"

"Oh, bisa lebih, bisa kurang. Kadang ada hari-hari yang ramai dan kadang ada hari-hari yang sepi."

Tetangganya yang akuntan kaya ini pun tertawa, "Coba kamu lihat ke sini teman. Hari ini saya mengangkat derajatmu ke derajat yang lebih tinggi! Di sini ada uang seratus pounds (mata uang Inggris). Jagalah sebaik-baiknya dan manfaatkanlah dengan hati-hati."

Saat Tukang Sepatu mengangkat kantung uang yang berat tersebut di tangannya, ia pun membayangkan bahwa butuh seratus tahun untuk bisa memiliki uang sebanyak itu.

Ketika ia kembali ke rumahnya, ia mengubur dan menyembunyikan uang tersebut di ruang bawah tanahnya. Bisa dikatakan bahwa dari sejak itu, ia juga menguburkan kegembiraannya karena ia tidak pernah lagi menyanyi. Sejak ia menjadi kaya raya, nyanyiannya menghilang, dan bukan saja nyanyiannya yang menghilang, tetapi tidurnya pun menjadi berkurang. Ia pun sekarang menjadi cepat gelisah, curiga, dan sering terkaget. Setiap saat ia mengawasi ruang bawah tanahnya. Saat seekor kucing membuat gaduh di malam hari, ia percaya bahwa kucing tersebut akan merampok uangnya.

Akhirnya dalam keadaan hampir putus asa, sang Tukang Sepatu yang sekarang menjadi kusut, berlari ke rumah Akuntan sambil membawa kantong uang yang pernah di berikan kepadanya. "Oh, kembalikanlah kegembiraan dalam hidupku, laguku, tidurku, dan ambillah uangmu ini kembali."

Pengarang: Jean de La Fontaine
Pesan Moral: Harta tidak selamanya membawa kebahagiaan.
Share:

Monday, December 8, 2014

Pulau Kakak-Beradik - Dongeng Indonesia

Pada suatu masa, adalah sepasang adik kakak di suatu daerah, dia bernama Mina dan Lina. Karena diperkirakan umurnya telah mencapai masanya, Mina dan Lina dipanggil ibu mereka untuk membahas tentang rencana pernikahan kakak-beradik itu.

"Kamu berdua sudah cukup dewasa. Sudah saatnya kalian membentuk rumah tangga", kata sang ibu.

"Kami berdua mau dinikahkan dengan satu syarat," kata Mina dan Lina.

"Apa syaratnya?"

"Disebabkan kami berdua kakak-beradik, suami kami juga harus kakak-beradik."

Sang ibu faham bila itu hanyalah cara mereka menampik pernikahan. Mina dan Lina berkeyakinan bila pernikahan membuat orang kehilangan segala hal yang mereka cintai: kedua orang tua, sahabat, sanak-saudara, bahkan tempat kelahiran.

Demikianlah, karena tak ada lelaki kakak-beradik yang mampu meminang Mina dan Lina, mereka akhirnya tak kunjung kawin.

Waktu pun terus berjalan. Ibu Mina dan Lina telah meninggal karena usia yang semakin renta. Sepeninggal ibunya, kedua gadis kakak-beradik itu tinggal bersama dengan paman mereka.

Pada suatu saat sekelompok bajak laut datang dan menculik Lina. Pemimpin bajak laut itu ingin menjadikan Lina menjadi istrinya. Lina menentang dan meronta sekuat tenaga.

Penculikan Lina itu diketahui oleh Mina. Karena tak ingin terpisahkan dari adiknya, Mina mempunyai tekad untuk menyusul Lina. Dengan bahtera yang lebih kecil, Mina berusaha mengejar bahtera penculik Lina. Teriakan warga sekampung diacuhkannya. Mina terus mengejar hingga badannya tak lagi terlihat.

Tiba-tiba alam menjadi mendung. Tak menunggu lama hujan pun turun dengan lebatnya. Halilintar menggelegar dan kilat menyambar-nyambar. Warga berlarian ke rumah mereka masing-masing. Ombak bergulung-gulung membuncah dan menelan bahtera penculik Lina, tenggelamkan Lina, tenggelamkan Mina, menelan semuanya.

Ketika situasi telah kembali normal, warga dikejutkan oleh kehadiran dua pulau yang sekonyong-konyong muncul di kejauhan. Mereka meyakini bila pulau itu adalah penjelmaan Mina dan Lina. Kedua pulau itu akhirnya diberi nama Pulau Sekijang Bendera dan Sekijang Pelepah, tetapi mayoritas orang menamainya dengan pulau  Kakak-Beradik.

dari: Indonesia/dongenganakdunia.com
Share:

Chin Chin Kobakama - Dongeng Jepang

Courtesy of google image
Pada dahulu kala di Jepang hiduplah seorang wanita yang menikah dengan lelaki kaya. Menurut kisah rakyat Jepang dikabarkan bahwa sang wanita dipastikan mendapatkan apa yang diharapkannya. Oleh karenanya dia tak pernah merasakan repot. Dengan kelebihan itu dan karena terus dimanja oleh suaminya, dia menjadi semaunya sendiri. Sampai-sampai dia malas sekali mengangkat tubuhnya hanya untuk membuang tusuk gigi sekalipun. Padahal dia yang telah memakainya.

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ .adv - Lelaki yang dicintai oleh wanita itu sangat sibuk mengurusi kekayaannya sehingga tak mempunyai waktu untuk mendidik istrinya. Meskipun demikian, lelaki itu tak pernah sekalipun itu meninggalkan sang istrinya walaupun hanya semalam. Sayangnya, pekerjaannya sebagai pedagang mau tidak mau memaksanya untuk pergi meninggalkan istrinya selama beberapa hari.

Suatu ketika si lelaki ini harus meninggalkan istrinya di rumah disebabkan adanya kesalahan dari anak buahnya yang tak becus dalam bekerja. Dia pun dikomplain kliennya. Dengan berat hati wanita itu merelakan kepergian sang suami dari sisinya.

Pada malam hari ketika ditinggal suaminya, si perempuan ini sangat sulit untuk memejamkan mata. Dia gelisah. Inilah kali pertama si wanita ditinggal suami sendirian. Pada saat yang sama, muncullah sekawanan manusia kerdil. Sekelompok manusia kerdil ini memiliki muka yang menyeramkan, mengenakan pakaian seperti suaminya seraya membawa sebuah pedang sepanjang lima sentimeter. Lucunya, para manusia kerdil ini hanya menari-nari mengelilinginya, sambil mengatakan, "Kami chin chin kobakama. Kami chin chin kobakama. Malam sudah larut, tidurlah tuan putri". Justru oleh sebab nyanyian itu si wanita harus terjaga semalaman. Baru ketika waktu menjelang pagi, dia akhirnya bisa tertidur. Itu pun disebabkan manusia kerdil itu sudah menghilang.

Siatuasi seperti ini rupanya tak hanya sekali dialaminya. Selama suaminya pergi, para manusia kerdil ini selalu kembali, menari-nari, dan meneriakkan kalimat yang sama berulang-ulang. Dia tak mengabarkannya kepada siapapun termasuk para pelayannya. Dia khawatir menjadi bahan tertawaan. Baru setelah suaminya pulang, dia mengabarkannya. Itu pun setelah dia dipaksa untuk cerita.

"Kamu belum tidur?" tanya si lelaki ketika melihat istri tercintanya belum juga memejamkan mata.

"Belum bisa tertidur", sahutnya.

"Kenapa? Apa penyebabnya?"

"Tidak ah. Kamu pasti tertawa mendengar ceritaku."

"Oh, ayolah, aku takkan tertawa. Apa ceritamu sejenis cerita lucu?"

Istrinya itu menggelengkan wajahnya, lalu melihat suaminya. Diwaktu awal dia ragu-ragu untuk bisa menceritakannya, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya. "Tapi, berjanjilah tidak menertawakannya."

"Ya, aku berjanji."

"Setiap malam, saat kau pergi, ada sekelompok manusia kerdil masuk ke kamar ini. Mereka menggodaku dan meneriakkan, 'Kami chin chin kobakama. Kami chin chin kobakawa. Malam sudah larut, tuan putri tidurlah.' Begitulah, aku tidak tertidur sampai pagi menjelang".

Si suami sama sekali tidak tertawa mendengar penjelasan istrinya. Yang terjadi justru, dia mendengarkan dengan seksama. "Jangan khawatir sayang, aku akan memberi mereka pelajaran."

Malam keesokan harinya, pedagang itu berpura-pura pergi lagi untuk menarik chin chin kobakama keluar. Dan, benar saja, mereka pun datang kembali pada malam hari. Si pedagang kemudian mengintip dari luar. Bukannya emosi, si pedagang justru tersenyum. Lalu, dia masuk kamarnya dan mengusir kelompok manusia kerdil itu. Dalam sekejap, mereka langsung sirna. Yang tersisa hanyalah pedang yang tak lain adalah tusuk gigi bekas yang belum dibuang oleh si istri.

Si pedagang pun memperlihatkan pada istrinya. "Mungkin akibat kamu malas membersihkan semua ini. Manusia-manusia kerdil itu kembali datang untuk menggodamu".

Cerita ini memberikan pelajaran kepada orang-orang untuk sadar akan kebersihan.

dari: Jepang/dongenganakdunia.com
Share:

Masha Dan Beruang - Dongeng Rusia

Courtesy of google image
Adalah kakek dan nenek tua sejodoh yang memiliki cucu bernama Masha. Pada suatu ketika beberapa sahabat Masha ingin jalan-jalan ke hutan mencari jamur & buah berry. Mereka datang ke rumah Masha untuk mengajaknya ikut serta berjalan-jalan. Masha bilang kepada kakek & neneknya.

”Oma, opa, boleh ya aku pergi ke hutan”, pinta Masha.

Kakek-nenek Masha memperbolehkan dengan satu syarat: Masha tidak boleh terpisah dari teman-temannya atau Masha akan tersesat.

Masha dan para sahabatnya akhirnya mencari jamur serta buah. Setelah sekian lama mencari, tanpa sadar Masha telah terpisah dari sahabat-sahabatnya. Masha berseru memanggal temannya. ”Hallo?!”

Ternyata sahabat-sahabat Masha telah tidak lagi berada di dekat Masha. Mereka semua sudah kembali dan meninggalkannya. Hari telah malam dan Masha berjalan mencari jalan pulang sampai akhirnya dia menemukan pondok kecil yang dihuni oleh beruang.

Masha mengetuk pintu pondok untuk beberapa kali. Karena tidak ada jawaban dari dalam pondok, Masha membuka pintu & duduk di dekat jendela. Dia ingin mengetahui siapa yang tinggal di sana.

Yang berdiam di pondok itu adalah beruang. Seekor beruang yang besar yang akhirnya menemukan Masha berada di dalam pondoknya. Beruang itu lalu menakut-nakutinya sehingga Masha menjadi takut. Beruang menerangkan jika dirinya tidak akan menakuti Masha asalkan Masha membuatkan makanan serta mengurus rumah itu untuknya.

Setelah sekian lama, Masha mengerjakan semua yang diperintahkan oleh beruang. Namun dia rindu untuk bertemu dengan kakek-neneknya dan juga sahabat-sahabatnya. Karena itu Masha memutar otak bagaimana supaya bisa pulang.

Setelah berpikir lama, Masha memohon kepada beruang untuk memperbolehkannya pergi satu hari saja agar bisa pulang ke rumah. Dia sangat berharap dapat memberikan kue kepada kakek dan neneknya.

”Jangan Masha. Kalau kamu pergi sendirian nanti kamu akan tersesat. Tapi jika engkau bersedia memberikan sebagian kue tersebut untukku, maka aku akan membawanya kepada kakek-nenek mu ”, kata beruang.

Masha pun akhirnya membuat kue yang besar untuk diberikan kepada kakek dan neneknya. ”Silakan kamu antarkan kue ini. Tapi aku akan naik ke pohon ek besar dan mengawasimu. Awas ya kalau kamu memakannya!”.

Beruang mengikuti apa yang disampaikan oleh Masha. Akhirnya beruang membawa kue itu dengan keranjang di belakang punggungnya, Masha menyelinap  dan masuk ke dalam keranjang yang dibawa beruang setelah itu menimbun dirinya dengan kue.

Di dalam perjalanan beruang tidak tahan ingin memakan kue. Namun dia mendengar suara Masha dari dalam keranjang. Beruang akhirnya tidak jadi memakan kue tersebut. Begitu seterusnya berulang-ulang.

Akhirnya beruang tiba di depan pondok kakek dan nenek Masha. Dengan cepat, beruang menggedor pintu serta berteriak, ”Aku membawa sesuatu untuk kalian dari Masha.”

Kakek-nekek Masha pun segera keluar dari pondoknya  dan menemukan sebuah keranjang. Mereka membukanya dan kaget ketika melihat Masha ada di dalam keranjang. Masha pun memeluk kakek dan neneknya. Mereka bersyukur Masha bisa selamat karna kecerdikannya. 

oleh: dongenganakdunia.com
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...