Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Tuesday, March 31, 2015

Tiga Pangeran dan Peri Air - Dongeng India

courtesy of temananak.com
Dongeng Anak Dunia - Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang memiliki tiga putera. Anak pertama yang diberi nama Pangeran Bintang, anak yang kedua bernama Pangeran Bulan dan yang terakhir bernama Pangeran Matahari. Sang raja sangat senang pada kelahiran pengeran yang terakhir sampai sang raja pun memberikan janji kepada sang ratu untuk memenuhi segala permintaannya.

Dengan mengingat janjiya sang raja kepada ratu, sehingga sang ratu harus menunggu sampai putera ketiganya tumbuh dewasa.

Pada saat ulang tahun Pangeran Matahari yang ke duapuluh satu tahun, berkatalah sang ratu kepada raja, ”Yang mulia, pada saat anak ketiga kita lahir dulu, kau telah memberikan janji akan memberiku hadiah. Dan sekaranglah waktunya aku meminta kepada Yang Mulia untuk memberikan kerajaan ini kepada si bungsu Pangeran Matahari.”

Butuh sewa mobil Malang murah?
CLICK DISINI>> Rental Mobil di Malang.
Tiba-tiba Sang raja menolaknya dan berkata bahwa kerajaan harus diberikan kepada putera pertama, karena itulah yang akan menjadi haknya. Apabila putera pertama nggak bisa menjadi raja, kerajaan akan jatuh kepada anak nya yang kedua. Namun kedua kakaknya meninggal, barulah putera ketiganya yang berhak memimpin kerajaan.

Kemudian pergilah sang ratu setelah mendengar jawaban dari raja, dengan melihat sang ratu pergi begitu saja. Perasaan khawatir dari raja pun keluar, yang mengkhawatirkan kalau ratu akan mengerjakan sesuatu agar dapat membuang putera pertama dan kedua.

Di panggillah putera pertama dan keduanya. Sang ratu pun mengusir mereka pergi dan menyuruh tinggal di hutan sampai ayah mereka meninggal. “Setelah itu datanglah dan pimpinlah sesuai dengan hakmu didalam kerajaan ini.”

Kemudian berjalanlah mereka keluar istana, Pangeran Matahari melihat dan bertanya pada mereka, “Kak, kalian mau pergi kemana?”

" Aku akan ikut bersama kalian pergi, kak." Pangeran Matahari berkata setelah mendengar alasan kedua kakaknya kenapa harus pergi.

Mereka berjalan terus sampai masuk ke hutan. Sesampainya di hutan mereka mengambil keputusan untuk istirahat sebentar sehingga mereka melihat sebuah kolam. Pangeran pertama berkata dan menyuruh Pangeran Matahari “Hai Dik, pergilah kamu ke kolam untuk mandi dan minum. Kami menunggu kamu disini dan jangan lupa bawakan sedikit air.”

Di berikanlah kolam itu oleh Raja Peri kepada seorang Peri Air. Raja peri berkata “Kau adalah orang yang berkuasa di kolam ini dan kau pun boleh melakukan apa saja kepada siapa pun yang menghampiri kolam ini dengan syarat bila ia dapat menjawab pertanyaanku.” Peri air mendengarkan dengan seksama. Pertanyaan yang diberikan yaitu,”Seperti apa peri yang baik itu?”

Masuklah Pangeran Matahari ke dalam kolam itu, kemudian peri air betanya kepadanya,”Seperti apa peri yang baik itu?”

Sejenak Pangeran Matahari berfikir dan berkata kepada peri air, “Peri yang baik itu seperti matahari dan bulan.”

“Ternyata, kau tidak tahu seperti apa peri yang baik,” di bawalah pemuda malang itu oleh peri air ke guanya yang ada di dasar kolam.

Dengan cukup lama kedua kakaknya menunggu tetapi tidak datang juga, Pangeran Bintang menyuruh Pangeran Bulan menyusul untuk melihat adiknya si Pangeran Matahari.

Sesampainya di kolam Pangeran Bulan tidak melihat adiknya. Dengan air kolam yang bersih membuat hasratnya ingin mandi. Kemudian, masuklah Pangeran Bulan ke dalam kolam. Tiba-tiba munculah peri air dengan langsung bertanya, “Katakan, seperti apa peri yang baik?”

Dan Pangeran Bulan pun menjawab, “Seperti langit di atas kita.”

Dengan kesal peri air itu berkata dan membawanya ke gua, “Ternyata kau juga tidak tahu."

Pangeran Bintang pun berkata dalam hati, “Pasti telah terjadi sesuatu pada adik-adikku.” Bergegaslah Pangeran Bintang pergi ke kolam. Terlihatlah jejak kaki adik-adiknya menuju ke dalam kolam. Ia pun mengetahuinya bahwa ada seorang peri air yang tinggal di dalam kolam tersebut. Dengan sabar ia menunggu sambil megeluarkan pedangnya dan menyiapkan busurnya.

Muncullah si Peri Air dan menyamar seperti seorang pencari kayu. ”Kau terlihat lelah, teman,” berkatanya kepada Pangeran. “Kenapa kau tidak mandi di kolam kemudian berbaring di tepi sana?”

Tetapi Pangeran Bintang telah mengetahui bahwa si pencari kayu itu adalah peri air. Kemudian ia berkata,”Kau sudah mengambil kedua adikku.”

"Ya," jawab peri air.

"Kenapa kau mengambil mereka?"

"Sebab mereka tidak bisa menjawab pertanyaanku,"  jawab peri air, “karena raja peri telah memberiku kuasa untuk melakukan apa saja dan kepada siapa pun yang telah masuk ke dalam air dengan syarat mereka yang bisa menjawab pertanyaanku dengan benar."

Dengan lantang Pangeran Bintang berkata, "Baiklah, aku akan menjawabnya.". “Peri yang baik ialah yang memiliki hati yang murni, yang takut dengan dosa dan berbuat baik dalam kata-kata dan perbuatan."

"Duhai Pangeran yang bijaksana,” jawab peri air. “Tetapi aku hanya satu adikmu saja yang ku balikkan. Yang mana yang harus ku balikkan kepadamu?"

"Balikkan si bungsu," kata Pangeran,”Sebab ialah kami disuruh pergi oleh ayah kami, Dan aku tidak bisa pergi bersama Pangeran Bulan kemudian meninggalkan Pangeran Matahari yang malang di sini.”.

“Sungguh kau bijaksana,Pangeran.” jawab  peri air, “Kau sangat mengetahui apa yang harus kau kerjakan dan baik hati. Dan aku akan balikkan kedua adikmu."

Bersama-samalah mereka tinggal di dalam hutan sampai ayah mereka meninggal. Lalu mereka datang ke istana lagi. Akhirnya, Pangeran Bintang menjadi raja dan ia mengajak kedua adiknya memerintah bersamanya, Di buatkanlah sebuah rumah di dalam istana untuk peri air tinggal.

Sumber: Indonesia
Share:

Monday, March 30, 2015

Legenda Rawa Pening - Dongeng Indonesia ( Jawa Tengah )

dongeng anak dunia - Jaman dahulu, rakyat kampung Ngebel terkejut melihat seekor ular besar yang sangat panjang. Karena khwatir ular itu akan menggigit mereka, rakyat kampung itu beramai-ramai meringkus ular yang diberi nama Baru Klinting. Sesudah diringkus ular itu kemudian dibantai dan dagingnya dijadikan santapan didalam sebuah pesta. Hanya ada satu orang di kampung itu yang tidak mereka ajak menikmati pesta itu, dia adalah seorang nenek tua miskin yang bernama Nyai Latung.

Setelah pesta tersebut datanglah seorang bocah laki-laki yang berumur sekitar sepuluh tahun. Bocah laki-laki itu terlihat sangat dekil dan tidak terawat, sehingga kulit tubuhnya ditumbuhi penyakit. Bocah itu menghampiri setiap rumah dan meminta makan kepada rakyat kampung. Tetapi tak satu orang pun yang memberikan makan dan minum. Mereka membenci bocah tersebut,menghinanya kemudian mengusirnya dari kampung tersebut.

Dan akhirnya bocah tersebut sampai di rumah yang terakhir, yaitu rumah Nyai Latung. Nyai Latung yang sedang duduk di depan rumahnya yang reot sambil menumbuk padi dengan lesung.

“Nyai,” bocah itu berkata, “Saya haus. Bolehkah saya meminta air, nyai?”

Kemudian nyai Latung mengambilkan segelas air untuk diminum oleh bocah itu dengan sangat dahaga bocah laki-laki itu meminumnya. Nyai Latung melihat bocah itu dengan kasihan.

“Kamu mau minum lagi? Kau mau makan juga? Tapi nyai hanya punya nasi, nggak ada lauk.”

“Mau, nyai. Nasi pun sudah cukup buat saya. Karna saya sangat lapar,” jawab bocah itu.

Segeralah Nyai Latung mengambil nasi dan sisa sayur yang ada. Dan tidak lupa diambilkannya lagi air minum, Bocah itu memakan makanan tersebut dengan sangat lahap, sehingga tidak ada sedikitpu nasi yang tersisa.

“Namamu siapa, nak? Ayah dan Ibumu dimana?”

“Baru Klinting namaku. Ayah dan ibu sudah tidak ada.”

“Kau tinggal saja di sini menemani nyai,”

“Terima kasih, nyai. Tapi saya ingin pergi saja. Di sini rakyat-rakyatnya jahat, nyai. Cuma nyai saja yang baik hati kepadaku.”

Kemudian Baru Klinting pun mencerita tentang rakyat kampung yang tidak ramah padanya. Setelah itu Baru Klinting pun pamit. Sebelum pergi, Baru Klinting memberikan pesan kepada Nyai Latung.

“Nyai, suatu ketika terdengar suara kentongan, naiklah ke atas lesung. Dan nyai pun akan selamat.”

Meskipun tidak mengerti maksud Baru Klinting, Nyai Latung mengiyakan saja.

Baru Klinting masuk ke kampung lagi. Dan menghampiri beberapa anak-anak yang sedang bermain. Sebelum memanggil anak-anak yang sedang bermain, Baru Klinting mengambil sebatang lidi kemudian menancapkannya di tanah.

“Ayo... siapa yang dapat mencabut lidi ini?”

Ejekan pun keluar dari anak-anak tersebut kepada Baru Klinting, namun tak ada satupun yang berhasil mencabut lidi itu. Sehingga mereka pun memanggil anak-anak yang lebih gede. Semuanya pun akhirny mencoba, tetapi semua gagal. Sampai orang-orang tua pun tak ada yang bisa mencabut lidi itu.

Akhirnya Baru Klinting sendirilah yang mencabut lidi itu. Dan ketika Baru Klinting mencabut lidi itu dari tanah, maka memancarlah air dari lubang bekas menancapnya lidi tersebut. Air yang memancar semakin lama semakin banyak dan semakin deras. Orang-orang kampung berlarian kalang kabut, Ada salah seorang rakyat membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya. Tapi air terlalu cepat keluar sehingga menjadi banjir dan seluruh kampung menjadi terendam.

Dari kejauhan Nyai Latung pun mendengar suara kentongan, Naiklah Nyai Latung dengan segera ke atas lesung ketika mengingat pesan dari Baru Klinting. Ketika baru saja ia dudu di dalam lesung, air bah telah tiba dan semakin tinggi yang akhirnya menenggelamkan rakyat-rakyat di kampung tersebut ketika lesung itu sendiri masih terapung-apung.

Hari terus berganti dan akhirnya air itu perlahan-lahan mulai surut. Lesung Nyai Latung yang sebelumnya terapung-apung akhirnya menepi sehingga ia dapat naik ke darat. Ia satu-satunya warga yang selamat dari banjir.

Meskipun banjir telah pergi tetapi genangan air masih tersisa sehingga terjadi danau yang dinamakan Rawa Pening. Danau yang terbentu ini berada diwilayah Ambarawa.

Sumber: Indonesia
Share:

Monyet, Hiu, dan Keledai Tukang Cuci - Dongeng Tanzania

Courtesy of google image
Dongeng Anak Dunia - Suatu ketika Kee'ma, seekor monyet, dan Pa'pa, seekor hiu, menjadi teman baik.

Monyet tinggal di pohon mkooyoo besar yang tumbuh di pinggir laut, setengah dari cabang-cabangnya berada di atas air dan setengah berada di atas tanah.

Di pagi hari ketika monyet itu makan pagi dengan kacang kooyoo, seekor hiu akan muncul di bawah pohon dan berteriak, "Lempar aku beberapa makanan, wahai teman," meminta kepada monyet untuk memenuhi permintaannya dengan suka rela.

Hal ini berlangsung selama berbulan-bulan, sampai suatu hari Papa mengatakan, "Keema, kamu telah melakukan banyak kebaikan kepadaku. Aku ingin kamu untuk pergi denganku ke rumahku, aku dapat membalas kebaikan kamu."

"Bagaimana aku bisa pergi" kata monyet; "Kita binatang darat tidak bisa pergi ke dalam air."

"Jangan menyusahkan diri tentang itu," jawab hiu; "aku akan membawa kamu. Tidak setetes air akan sampai mengenai kamu."

"Oh, baiklah, kalau begitu," kata Keema; "Ayo pergi."

Ketika mereka pergi sekitar setengah jalan hiu berhenti, dan berkata: "Kau adalah temanku. Aku akan mengatakan yang sebenarnya."

"Kenapa, apa yang ingin kamu katakan?" Tanya monyet dengan terkejut.

"Nah, kamu lihat, kenyataannya adalah bahwa sultan kami sangat sakit, dan kami telah diberitahu bahwa satu-satunya obat yang akan menyembuhkan dia adalah hati monyet."

"Nah," seru Keema, "kau sangat bodoh untuk tidak memberitahu aku sebelum kita mulai!"

"Bagaimana bisa begitu?" Tanya Papa.

Tapi monyet sedang sibuk memikirkan beberapa cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dan tidak menjawab.

"Nah" kata hiu, cemas; "Kenapa kau tidak bicara?"

"Oh, aku sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi sekarang. Sudah terlambat. Tetapi jika kamu telah mengatakan kepada aku sebelum kita mulai, aku mungkin telah membawa hatiku bersama denganku. "

"Apa yang terjadi? kamu tidak membawa hati kamu?"

"Huh!" demikian Keema menggerutu; "Kau tidak tahu tentang kami? Ketika kita pergi keluar, kita meninggalkan hati kita di pohon-pohon, dan pergi dengan hanya tubuh kita. Tapi aku melihat bila kamu tidak percaya padaku. Kau pikir aku takut. Ayolah, mari kita pergi ke rumahmu, dimana kamu dapat membunuh aku dan mencari hatiku dengan sia-sia. "

Hiu memang percaya padanya, namun dia berseru, "Oh, tidak! Mari kita kembali dan mendapatkan hatimu."

"Memang, tidak," protes Keema; "Mari kita pergi ke rumahmu."

Tapi hiu bersikeras bahwa mereka harus kembali, mendapatkan hati dan mulai dari awal.

Akhirnya, dengan keengganan besar yang jelas terlihat, monyet setuju, menggerutu cemberut seolah dia sedang dihukum.

Ketika mereka kembali ke pohon, ia memanjat terburu-buru dan berseru dengan keras, "Tunggu di sana, Papa, temanku, sementara aku mendapatkan hatiku, dan kami akan memulai dengan benar waktu berikutnya."

Ketika ia tersembunyi di antara cabang-cabang, ia duduk dan terus diam.

Setelah menunggu dengan waktu yang dia pikir wajar, hiu tersebut berseru, "Ayo, Keema!" Tapi Keema terus diam dan tidak berkata apa-apa.

Dalam beberapa saat ia dipanggil lagi: "Oh, Keema! mari kita pergi."

Kali ini monyet menjulurkan kepalanya keluar dari antara cabang-cabang atas dan bertanya, dengan tanda tanya besar!, "Pergi? Kemana? "

"Pergi ke rumahku, tentu saja."

"Apakah kau sudah gila?" Tanya Keema.

"Gila? Mengapa, apa maksudmu? "Teriak Papa.

"Ada apa denganmu?" Kata monyet. "Apakah kamu mengambil aku untuk menjadi keledai tukang cuci itu?"

"Apa keganjilan yang ada tentang keledai tukang cuci itu?"

"Itu adalah makhluk yang tidak memiliki hati atau telinga."

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ .adv - Rasa ingin tahu hiu mengalahkan ketergesa-gesaannya, kemudian memohon agar menceritakan kisah keledai tukang cuci, yang akhirnya oleh monyet diceritakan sebagai berikut:

"Seorang tukang cuci memiliki seekor keledai yang sangat ia sukai. Namun suatu hari keledai itu melarikan diri dan bersembunyi di hutan, dimana ia menjalani hidup malas, dan akibatnya tumbuh menjadi sangat gemuk.

"Akhirnya Soongoo'ra, kelinci, kebetulan melewati jalan itu, dan melihat Poon'da, keledai."

"Saat itu kelinci adalah binatang yang paling licik dari semua binatang, jika kamu melihat mulutnya kamu akan melihat bahwa ia selalu berbicara sendiri tentang segala sesuatu."

"Jadi ketika Soongoora melihat Poonda ia berkata kepada dirinya sendiri, 'keledai ini adalah lemak!' Lalu ia pergi dan mengatakan kepada Sim'ba, singa."

"Waktu itu Simba baru pulih dari penyakit parah, ia masih sangat lemah sehingga dia tidak bisa pergi berburu. Dan akibatnya dia cukup lapar."

"Pak Soongoora berkata, 'Aku akan membawa cukup daging besok untuk kita berdua miliki dan mengadakan pesta besar, tetapi kamu harus melakukan pembunuhan.'"

"'Baiklah teman baik,' seru Simba bersukacita; 'kamu sangat baik.'"

"Jadi kelinci berlari ke hutan, menemukan keledai dan berkata kepadanya, dengan cara yang paling sopan,  'Miss Poonda, aku dikirim untuk meminta kamu dalam pernikahan.'"

"'Dengan siapa?' Tersenyum simpul sang keledai."

"'Dengan Simba, singa.'"

"Keledai itu sangat gembira ini, dan berseru:'Mari kita pergi sekaligus. Ini adalah tawaran yang sangat bagus.'"

"Mereka segera tiba di rumah singa, yang diundang dengan hormat dan duduk. Soongoora memberi Simba sinyal dengan alisnya, yang menyatakan bahwa ini adalah pesta yang dijanjikan, dan bahwa ia akan menunggu di luar. Lalu ia berkata kepada Poonda: 'aku harus meninggalkan kamu untuk sementara waktu untuk mengurus beberapa bisnis pribadi. kamu tinggal di sini dan bercakap-cakap dengan calon suami kamu'."

"Begitu Soongoora sampai di luar, singa melompat ke Poonda, dan mereka bertengkar hebat. Simba ditendang sangat keras, dan ia memukul dengan cakarnya, namun kesehatannya lemah dan tidak mengizinkannya. Akhirnya keledai melemparkan singa bawah, dan lari ke rumahnya di hutan.

"Tak lama setelah itu, kelinci kembali, dan berkata, 'Haya! Simba! kamu berhasil mendapatkannya?'"

"'Aku tidak mendapatkannya,' geram singa; 'Dia menendang aku dan lari; tapi aku menjamin kamu bahwa aku membuatnya cukup sakit, meskipun aku tidak kuat.'"

"'Oh, baik,' kata Soongoora."

"Lalu Soongoora menunggu beberapa hari, sampai singa dan keledai keduanya dalam keadaan baik dan kuat, ketika ia berkata: 'Apa yang kamu pikirkan sekarang, Simba? Haruskah aku membawa kamu daging?'"

"'Ay,' geram singa, keras; 'Bawalah dia kepada aku. Aku akan merobeknya dalam dua bagian!'"

"Jadi kelinci kembali pergi ke hutan, dimana keledai menyambutnya dan meminta berita."

"'kamu diundang lagi dan melihat kekasih kamu,' kata Soongoora."

"'Oh Soongoora,' teriak Poonda; "Hari ketika aku datang kepadanya membuat aku sangat terluka. Aku takut untuk mendekatinya sekarang.'"

"'! Ah, cih' kata Soongoora; 'Itu tidak akan terjadi lagi. Satu-satunya yang dilakukan Simba adalah membelai mu.'"

"'Oh, baik,' kata keledai, 'mari kita pergi.'"

"Jadi mereka mulai lagi; tapi begitu singa melihat Poonda ia melompat dan merobek dirinya dalam dua bagian."

"Ketika kelinci datang, Simba berkata kepadanya: 'Ambillah daging dan panggang itu. Sementara aku sendiri, yang aku inginkan adalah jantung dan telinga.'"

"'Terima kasih,' kata Soongoora. Lalu ia pergi dan memanggang daging di tempat dimana singa tidak bisa melihatnya, dan ia mengambil hati dan telinga dan menyembunyikannya. Lalu ia makan semua daging yang ia butuhkan, dan menyimpang sisanya dan pergi."

"Saat singa itu datang kepadanya dan berkata, 'Ambilkan jantung dan telinga.'"

"'Di mana mereka?' Kata kelinci."

"'Apa artinya ini?' Geram Simba."

"'Kenapa, kau tidak tahu ini adalah keledai tukang cuci itu?'"

"'Nah, apa yang harus dilakukan dengan tidak adanya jantung atau telinga?'"

"'Ya ampun, Simba, kamu kan cukup lama untuk mengetahui bahwa jika binatang ini tidak memiliki hati dan telinga, dan itu tidak akan datang kembali untuk kedua kalinya?'"

"Tentu saja singa harus mengakui apa yang disampaikan Soongoora, kelinci, bahwa itu benar."

"Dan sekarang," kata Keema ke hiu, "kamu ingin mengulang cerita keledai tukang cuci itu kepadaku. Keluar dari rumahku, dan pergi kembali kesana. kamu tidak akan mendapatkan itu lagi, dan persahabatan kita berakhir. Selamat tinggal, Papa."

Sumber: Tanzania
Share:

Friday, March 27, 2015

Kura-kura Dan Gadis Cantik - Dongeng Nigeria

Courtesy of imgur.com
Dongeng Anak Dunia - Suatu ketika ada seorang raja yang sangat kuat. Dia memiliki pengaruh besar atas binatang buas dan hewan-hewan. Saat itu kura-kura dipandang sebagai yang paling bijaksana dari semua binatang dan manusia. Raja ini memiliki seorang putra bernama Ekpenyon, dan ia memberikan kepadanya lima puluh gadis-gadis muda sebagai istri, namun sang pangeran tidak menyukai salah satu dari mereka. Raja sangat marah pada hal ini, dan membuat undang-undang bahwa barang siapa yang memiliki seorang putri yang lebih halus daripada istri pangeran, dan yang mendapat kasih karunia di mata anaknya, sang gadis, ayahnya dan ibunya harus dibunuh.

Pada waktu ini kura-kura dan istrinya memiliki seorang putri yang sangat cantik. Sang ibu berpikir tidak aman untuk tetap seperti anak baik-baik saja, karena sang pangeran mungkin jatuh cinta padanya, jadi dia bilang kepada suaminya bahwa putrinya seharusnya dibunuh dan dibuang ke semak-semak. Kura-kura, bagaimanapun, tidak mau, dan menyembunyikan sampai dia besar.

Suatu hari, ketika kura-kura dan istrinya pergi dari pertanian mereka, putra raja kebetulan berburu dekat rumah mereka, dan melihat seekor burung bertengger di atas pagar sekeliling rumah. Burung itu menonton sang gadis kecil, dan begitu terpesona dengan kecantikannya dan ia tidak melihat sang pangeran datang. Pangeran menembak burung dengan busur dan anak panah, dan burung itu jatuh di dalam pagar, sehingga sang pangeran menyuruh hambanya untuk mengambil burung tersebut.

Sementara hambanya sedang mencari burung ia menemukan gadis kecil, dan begitu terpukul ketika melihat eloknya. Dia segera kembali ke tuannya dan menceritakan apa yang telah dilihatnya. Pangeran kemudian merusak pagar dan menemukan anak itu, dan jatuh cinta padanya sekaligus. Dia tinggal dan berbicara dengan dia untuk waktu yang lama, sampai akhirnya dia setuju untuk menjadi istrinya.

Dia kemudian pulang ke rumah, tetapi menyembunyikan dari ayahnya fakta bahwa ia telah jatuh cinta dengan putri cantik dari kura-kura.

Keesokan harinya, dia mengirimkan enam puluh lembar kain dan tiga ratus batang ke kura-kura. Kemudian pada sore hari ia pergi ke rumah kura-kura, dan mengatakan kepadanya bahwa ia ingin menikahi putrinya.

Kura-kura melihat bahwa apa yang ia takutkan telah terjadi, dan bahwa hidupnya dalam bahaya, jadi dia mengatakan kepada pangeran bahwa jika raja tahu, dia akan membunuh tidak hanya dirinya sendiri (kura-kura), tetapi juga istri dan putri. Pangeran menjawab bahwa ia akan bunuh diri sebelum dia membiarkan kura-kura dan istrinya dan anak perempuannya untuk dibunuh.

Akhirnya, setelah banyak argumen, kura-kura setuju, dan setuju untuk menyerahkan putrinya untuk pangeran sebagai istrinya ketika ia tiba pada usia yang tepat. Kemudian sang pangeran pulang dan memberitahu ibunya apa yang telah dilakukannya.

Sang ibu dalam kesulitan besar dengan pikiran bahwa dia akan kehilangan anaknya, ia tahu bahwa ketika raja mendengar ketidaktaatan anaknya ia akan membunuhnya. Namun, ratu, meskipun dia tahu betapa marahnya suaminya, dia ingin anaknya menikah dengan gadis yang ia cintai, jadi dia pergi ke kura-kura dan memberinya uang, pakaian, ubi jalar, dan minyak sawit sebagai mahar lanjut atas nama anaknya agar kura-kura tidak harus memberikan putrinya dengan pria lain.

Selama lima tahun ke depan pangeran terus-menerus dengan putri kura-kura, yang bernama Adet, dan ketika dia hendak dimasukkan ke dalam rumah, sang pangeran berkata kepada ayahnya bahwa ia akan mengambil Adet sebagai istrinya. Mendengar hal ini raja sangat marah, dan mengirim pesan sepanjang kerajaannya bahwa semua orang harus datang pada hari tertentu ke pasar-tempat untuk mendengar perundingan tersebut.

Ketika hari yang ditentukan tiba pasar-tempat itu cukup penuh dengan orang, dan batu-batu milik raja dan ratu ditempatkan di tengah-tengah pasar.

Ketika raja dan ratu tiba semua orang berdiri dan menyapa mereka, dan mereka kemudian duduk di batu mereka. Raja kemudian mengatakan kepada petugas untuk membawa Adet ke hadapannya. Ketika dia tiba raja cukup heran atas kecantikannya.

Dia kemudian mengatakan kepada orang-orang bahwa ia telah mengirimkan bagi mereka untuk memberitahu mereka bahwa dia marah dengan anaknya yang tidak menaatinya dan mengambil Adet sebagai istrinya tanpa sepengetahuannya, tapi sekarang dia telah melihatnya sendiri sang gadis dan dia harus mengakui bahwa dia sangat indah, dan bahwa anaknya telah membuat pilihan yang baik. Karena itu ia akan memaafkan anaknya.

Ketika orang-orang melihat gadis itu mereka sepakat bahwa dia sangat baik dan cukup layak menjadi istri pangeran, dan memohon raja untuk membatalkan undang-undang yang telah dibuat, dan raja sepakat; dan karena hukum telah dibuat di bawah hukum "Egbo", ia mengirim delapan Egbo, dan mengatakan kepada mereka bahwa perintah itu dibatalkan di seluruh kerajaannya, dan untuk masa depan tidak ada yang akan dibunuh bagi mereka yang memiliki seorang putri lebih indah dari istri pangeran, dan memberikan Egbos tuak dan uang untuk menghilangkan hukum, dan menyuruh mereka pergi.

Kemudian ia menyatakan bahwa anak kura-kura, Adet, harus menikah dengan anaknya, dan ia membuat mereka menikah pada hari yang sama. Sebuah pesta besar kemudian berlangsung selama lima puluh hari, dan raja memotong lima sapi dan memberikan semua orang banyak daging dan kelapa sawit, dan menempatkan sejumlah besar pot tuak di jalan-jalan bagi orang-orang umumnya. Para wanita membawa sebuah drama besar untuk raja, dan ada yang bernyanyi dan menari terus siang dan malam selama sepanjang waktu.

Pangeran dan teman-temannya juga bermain di alun-alun pasar. Ketika pesta itu berakhir raja memberikan setengah dari kerajaannya untuk kura-kura, dan tiga ratus budak untuk bekerja di ladangnya.

Pangeran juga memberikan ayah mertuanya dua ratus wanita dan seratus gadis untuk bekerja untuknya, sehingga kura-kura menjadi salah satu orang terkaya di kerajaan.

Pangeran dan istrinya tinggal bersama selama bertahun-tahun yang baik sampai raja meninggal, sehingga pangeran memerintah menggantikan tempatnya. Dan semua ini menunjukkan bahwa kura-kura adalah paling bijaksana dari semua manusia dan binatang.

Moral: Selalu memiliki anak perempuan yang cantik, karena tidak peduli seberapa buruk mereka, selalu ada kemungkinan bahwa putra raja bisa jatuh cinta dengan mereka, dan mereka dapat menjadi anggota keluarga kerajaan dan mendapatkan banyak kekayaan.

sumber: Nigeria
Share:

Thursday, March 26, 2015

Lelaki Yang Tidak Pernah Bohong - Dongeng Afrika

Dongeng Anak Dunia - Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang lelaki bijak dengan nama Mamad. Dia tidak pernah berbohong. Semua orang di negeri itu, bahkan orang-orang yang tinggal dengan jarak perjalanan dua puluh hari lagi, tahu tentang dia.

Raja mendengar tentang Mamad dan memerintahkan rakyatnya untuk membawanya ke istana. Dia melihat orang bijak ini dan bertanya:

"Mamad, apakah benar, bahwa kamu tidak pernah berbohong?"

"Itu benar."

"Dan kamu tidak akan pernah berbohong dalam hidup kamu?"

"Saya yakin dalam hal itu."

"Oke, katakanlah yang sebenarnya, tapi hati-hati! Kebohongan ini licik dan dapat terucap di lidah kamu dengan mudah."

Beberapa hari berlalu dan raja memanggil Mamad sekali lagi. Ada kerumunan besar: raja hendak pergi berburu. Raja menunggang kudanya yang bersurai, kaki kirinya sudah dipasangi sanggurdi. Dia memerintahkan Mamad:

"Pergi ke istana musim panas saya dan beritahu Ratu, Aku akan menyertai dia untuk makan siang. Katakan padanya untuk mempersiapkan pesta besar. Kamu akan makan siang dengan saya saat itu."

Mamad sujud dan pergi ke sang ratu. Lalu raja tertawa dan berkata:

"Kami tidak akan pergi berburu dan sekarang Mamad akan berbohong kepada ratu. Besok kita akan tertawa atas namanya."

Namun Mamad bijaksana pergi ke istana dan berkata:

"Mungkin Anda harus mempersiapkan pesta besar untuk makan siang besok, dan mungkin Anda tidak harus. Mungkin raja akan datang siang, dan mungkin dia tidak akan datang."

"Katakan padaku apakah dia akan datang atau tidak?" - Tanya ratu.

"Saya tidak tahu apakah ia meletakkan kaki kanannya di sanggurdi, atau dia meletakkan kaki kirinya di tanah setelah aku pergi."

Semua orang menunggu raja. Ia datang keesokan harinya dan mengatakan kepada ratu:

"Orang bijak Mamad, yang tidak pernah berbohong, berbohong kemarin."

Tapi Ratu bercerita tentang kata-kata Mamad. Dan raja menyadari, bahwa orang bijak tidak pernah berbohong, dan hanya mengatakan yang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.

sumber: worldoftales
Share:

Wednesday, March 25, 2015

Gadis Cilik dan Angin Musim Dingin - Dongeng Bulgaria

Courtesy of google image
Dongeng Anak Dunia - Pada suatu hari diwaktu yang dingin dan putih di mana-mana, musim dingin pada puncaknya dan tampaknya tidak bersedia untuk menyerahkan kekuasaan kepada musim semi yang akan datang.

Suatu pagi, orang-orang di desa bangun dan menemukan rumah mereka terkubur di bawah timbunan salju hingga atap.

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ .adv - Hal itu menyebabkan mereka kesulitan untuk membuka pintu depan dan harus menggali jalan keluar melalui salju, tapi salju sangat tebal. Akhirnya mereka harus menggali terowongan dari pintu ke pintu, menghubungkan tetangga satu sama lain. Ketika semua rumah telah terhubung, orang-orang memutuskan untuk membuat terowongan baru dari setiap rumah sampai ke pusat desa dimana ada gereja disana. Ketika hal ini dilakukan juga, semua akhirnya berkumpul di aula gereja untuk membahas situasi ini dan memutuskan apa yang bisa dilakukan jika salju tidak berhenti turun atau tidak segera mencair.

Courtesy of google image
Banyak pendapat yang diampaikan, tetapi mereka masih belum punya keputusan. Jika musim dingin menolak untuk pergi, musim semi tidak akan pernah bisa datang, tanaman tidak bisa dipanen di ladang dan kelaparan akan datang. Dan tidak ada yang bahkan bisa pergi ke hutan untuk memotong kayu bakar karena juga tertutup salju.

"Seseorang harus pergi ke puncak tertinggi gunung." Seorang pria tua menyarankan. "Di mana Kakek Frost, yang berdaulat dari semua elementals musim dingin tinggal di istana esnya. Hanya dia yang bisa memerintahkan salju dan badai salju."

"Mudah untuk mengatakan," yang lain membantah. "Tapi siapa yang sangat bersedia untuk pergi? Bahkan orang yang sangat kuat tidak akan mampu menggali terowongan panjang di salju untuk mencapai puncak tertinggi."

"Tidak perlu menggali terowongan ke puncak." Kata orang tua. "Saya yakin salju lereng gunung jauh lebih tipis, karena angin puyuh meniup disekitarnya dan menghembusnya ke tempat yang lebih rendah, seperti tempat dimana desa kita sekarang. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memilih seseorang dan menggali terowongan dari desa untuknya."

Para lelaki saling memandang, semua orang berharap yang lain akan sukarela, namun tidak satupun dari mereka yang mengajukan diri. Semua orang mempunyai beberapa alasan untuk tetap di rumah dengan keluarga mereka. Dan pada akhirnya ketika mereka semua tenang, mereka akhirnya hanya bisa menunduk malu sendiri.

"Sepertinya aku satu-satunya yang bisa melakukannya." kata orang tua. "Namun aku sudah sangat tua, jika saja aku lebih muda 20 tahun saja. Sekarang, aku takut aku mungkin terlalu lambat untuk mencapai Istana Es tepat waktu..."

"Jangan khawatir, kakek, aku akan pergi!" kata seorang gadis kecil. Dia adalah cucu pria tua itu, gadis yatim piatu yang tinggal dengan dia sejak orang tuanya meninggal.

"Tidak Mungkin!" orang-orang mengasihaninya. "Dia bahkan tidak memiliki mantel hangat!", "Tidak ada topi dan syal!", "Bahkan sarung tangan wol!".

"Kamu terlalu muda dan lembut untuk berjalan-jalan melalui pegunungan dingin." Kakeknya mengatakan, membelai kepalanya dengan lembut.

"Aku tidak takut! Kakiku kuat dan aku secepat kambing gunung!" Kata gadis itu.

"Tapi kau akan membeku di sana, dengan tidak ada tempat berlindung untuk beristirahat!"

"Saya tidak akan." gadis itu berkata dengan tegas. "Aku memiliki hati yang sedikit hangat, penuh cinta untuk semua orang. Ini akan menyelamatkan aku dari embun beku."

"Pergilah, anakku." kata orang tua. "Saya tahu hati yang baik dan saya percaya itu. Jika kamu melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain, itu tidak akan pernah mengecewakan kamu."

Semua orang menghela napas lega, dan anak-anak memberinya pakaian hangat mereka:

"Sini, ambil lah mantel." salah satu dari mereka berkata.

"Sarung tangan saya adalah yang terpanas yang bisa kamu temukan!" kata yang lain.

"Ambil topi saya!"

"Syal saya!"

"Saya wol kaus kaki!"

"Sepatu saya!" mengatakan anak-anak satu demi satu!

Segera, gadis kecil sudah siap untuk pergi. Semua laki-laki dari desa menggali terowongan panjang dan luas sampai ke bukit terdekat, dimana salju jauh lebih tipis, dan mudah untuk menyeberang.

Semua orang pergi untuk melihat kepergiannya, memperingatkan dia untuk berhati-hati, dan berharap dia mendapatkan yang terbaik dari keberuntungan.

Courtesy of google image
Gadis itu balas melambai pada mereka: "Terima kasih semua, dan saya akan segera bertemu anda semua lagi!" ...

Hari hampir gelap ketika ia menaiki bukit pertama ...

Bulan mulai terlihat di langit dan salju putih di sekitar membuatnya bersinar, membuat segala sesuatu di sekitar seperti terlihat di siang hari. Gadis itu melanjutkan perjalanan, tak pernah memikirkan istirahat. Hatinya tidak hanya hangat dan itu sangat kuat.

Dia berjalan sepanjang malam, melewati beberapa bukit gunung yang tinggi satu demi satu. Dia hanya harus mengatasi satu demi satu, dan tibalah di kaki puncak tertinggi, di mana Istana Es berdiri...

Tapi saat itu, angin puyuh musim dingin berhembus dan melihat sosok kecil ini. Mereka berteriak liar:

"Siapa yang berani melakukan perjalanan kesana?", "Menjauhlah engkau dari sana!" "Mari kita tiup, mari kita melemparkan dia sampai dia lupa kemana dia menuju!"

Dan mereka mulai berputar keras.

Courtesy of google image
Tapi gadis itu hanya meringkuk dalam mantel hangat, dan terus memberanikan diri pergi.

Para angin puyuh menjadi gila karena marah. Mereka meniup dan meniup, tapi gadis itu tak memedulikan. Pada akhirnya mereka begitu lelah sehingga mereka jatuh di tanah tidak dapat bergerak lagi.

"Hanya oleh seorang gadis!" salah satu dari mereka berkata. "Kami kelelahan, dan dia bahkan tidak lelah ..."

"Kita tidak harus meninggalkan hal-hal seperti ini!" satu lagi yang lain mengatakan terengah-engah. "Tidak ada orang yang pernah bisa mengatasi kita, apalagi seperti seorang gadis kecil yang rapuh... Mari kita menyerang lagi!"

"Kamu dapat mencoba jika kamu ingin," kata yang lain, "Tapi saya tidak memiliki setetes kekuatan pun yang tersisa. Aku merasa harus istirahat yang baik untuk memulihkan tenaga..."

"Betul, kita pun sama," beberapa angin puyuh lain menyetujui. "Tapi kita tidak bisa membiarkan dia pergi tanpa dihukum. Mari kita panggil saudara-saudara kita Badai salju untuk memberikan bantuan. Mereka lebih kuat dari kita."

Jadi, angin puyuh memanggil Badai salju untuk datang dan menghukum gadis itu. Segera, Badai salju mendengar mereka dan bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Mereka menjadi marah ketika mereka mengetahui apa yang telah terjadi, dan bahkan menjadi lebih marah ketika mereka melihat gadis itu sudah jauh di lereng terakhir menuju puncak.

Courtesy of google image
"Dia akan membayar kita untuk itu!" Mereka meraung dan melemparkan diri menghempas gadis itu. Itu adalah sebuah perjuangan panjang yang tidak adil, tapi gadis itu mengalahkan Badai salju juga, berkat hati hangat yang kuat, yang tidak pernah membiarkan dia merasa takut, atau kelelahan. Badai salju jatuh satu demi satu, terengah-engah dan lelah.

"Ini... shh... shh... sangat memalukan!" kata salah satu dari mereka mendesis.

"Sepertinya, dia tak tersentuh untuk marah dan benci. Mari kita coba sebaliknya." kata Badai Salju yang satu.

"Apa maksudmu? Membelai nya? Atau apakah Anda mengusulkan untuk membawa ke atas lereng?" satu lagi mendesis.

"Tidak ada yang seperti itu." kata yang pertama. "Mari kita panggil saudari kita, Kematian Membekukan (Death Freezing). Dia begitu sopan dan baik, tidak ada yang bahkan berpikir melawan dia, atau bahkan mencurigai dirinya mempunyai pikiran jahat."

Jadi, Badai salju memanggil kakak jahat mereka.

Mereka datang sekaligus. Tak terlihat, dan tidak memiliki wajah sendiri, ia bisa tampil dengan wajah seseorang yang sangat sayang untuk korban pilihannya. Sekarang, ia muncul di depan gadis dengan wajah sayang, mendiang ibunya. Kemudian ia mulai menyanyikan lagu pengantar tidur lembut...

Gadis itu memperlambat langkahnya dan mendengarkan...

"Apa ini?" gadis itu berpikir. "Apakah aku bermimpi, atau ini beberapa keajaiban yang baik? Aku melihat wajah ibuku tersayang, dan aku mendengar suaranya! Seperti manis seperti pada malam-malam bahagia, ketika dia menyanyikan lagu pengantar tidur ini bagi saya sebelum tidur. Oh, betapa aku ingin mendengar lagi!" Dia berhenti untuk sementara waktu...

"Betapa manis suara ibuku... aku mendengarnya dengan baik ketika aku tidak bergerak. Aku akan duduk hanya untuk sementara waktu..." katanya pada dirinya sendiri. "Aku sangat dekat dengan Istana. Tidak lebih dari satu jam berjalan lagi. Aku hanya akan mendengar lagu sampai akhir saja dan aku akan melanjutkan perjalanan lagi."

Gadis itu duduk. Dia kagum bagaimana jelas ia bisa melihat wajah ibunya sambil menutup matanya...

"Kematian Membekukan" tersenyum dengan gembira dan terbang untuk memberitahu saudara-saudaranya seberapa hebatnya ia berhasil menipu gadis, yang dia tinggalkan mati kedinginan di lereng...

Gadis kecil itu tertidur, tersenyum gembira. Namun warna wajahnya berubah seiring waktu berlalu. Pipi merah mudanya menjadi biru ,kemudian menjadi pucat pasi menguning. Dia kedinginan perlahan...

Tampaknya tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan dirinya dari cengkeraman jahat Kematian Membekukan...

Tapi pada saat bersamaan, salju seperti bergerak-gerak. Suara mencicit terdengar, kemudian tikus kecil mengintip melalui lubang. Mata mengkilap hitam melihat pada tubuh kaku gadis itu.

Courtesy of google image
"Seseorang dalam kesulitan!" tikus mencicit. Dan pada saat yang sama sejumlah lubang kecil terbuka di salju, dan sejumlah tikus mengintip keluar. Kemudian mereka semua berlari ke gadis itu, dan menjadi sibuk memijat kakinya dan tangan. Tapi tikus itu begitu sedikit dan tenaga mereka sangat kecil sehingga tidak efisien. Akhirnya mereka memutuskan untuk meminta bantuan. Kali ini lubang besar terbuka di salju, dan sejumlah kelinci putih mengintip keluar dan berlari untuk menyelamatkan. Dari pohon pinus yang tertutup salju, sejumlah tupai melompat, dan segera gadis itu ditutupi dengan bulu putih dan coklat di seluruh tubuhnya. Hewan-hewan kecil menghangatkan tubuhnya dengan tubuh berbulu mereka sendiri. Mereka sangat senang, melihat pipinya menjadi merah muda lagi. Mata gadis itu berkedip, tapi dua air mata beku membuat matanya beku. Seekor tupai menyapu air mata pergi dengan ekor berbulu, dan gadis itu membuka matanya...

Dia mengucapkan terima kasih kepada teman-teman barunya untuk menyelamatkan hidupnya, dan mengatakan kepada mereka mengapa ia ada di sini dan kemana dia pergi.

"Kami akan pergi bersama kamu!" hewan bersorak. "Kami juga menderita sangat banyak dari cuaca ini, musim dingin seperti tidak mau berakhir.

Berkelompok di sekitar gadis itu, hewan menemaninya ke Istana Es.


Courtesy of google image
Di sana, dia mengetuk di pintu gerbang, pada awalnya dengan pelan-pelan, lalu keras, dan kemudian dengan seluruh kekuatannya. Tapi tidak ada yang menjawab...

"Apa yang mungkin terjadi pada Kakek Frost?" binatang bertanya-tanya.

"Mari kita melihat dengan diri kita sendiri," kata gadis itu sembari sedikit takut.

Tupai melompat pada pilar, kemudian pada kaca jendela, dan menjelajahi setiap jendela, sampai mereka menemukan satu jendela yang sedikit terbuka. Mereka diselundupkan, dan segera mampu membuka gerbang berat dari dalam. Gadis itu melangkah masuk, diikuti oleh teman-temannya. Mereka melewati koridor es berkilauan yang menuntun mereka dalam ruang kristal besar. Di sana, di atas takhta cantik diukir es, Kakek Frost sedang duduk dengan mata tertutup. Dia memperlihatkan pemandangan yang megah, mengenakan pakaian bordir perak, dengan surai putih cantik yang dibentuk oleh rambutnya yang panjang, alis lebat dan jenggot baik sekali.

Hewan-hewan mengelilingi tahta, beberapa dari mereka memanjat atau melompat di pangkuan orang tua itu. Seekor tupai melompat tepat di bahunya dan berani menggelitik hidungnya dengan ekor itu.

Suara bersin perkasa membuat mereka semua membeku ketakutan. Tapi seperti Kakek Frost membuka mata biru dan tersenyum, mereka semua lupa tentang rasa takut.

"Halo, Kakek Frost", mereka terdengar seperti paduan suara ceria.

"Selamat datang, anak-anak kecil!" ia menjawab dengan suara yang mendalam. "Apa acara yang luar biasa telah membawa kalian semua di sini?

Gadis itu mengatakan kepadanya semua cerita seperti tadi.

"Maksudmu, saya telah tidur di seluruh musim dingin?" Kakek Frost bertanya heran.

"Sepertinya begitu." kata gadis itu.

"Saya lihat." nada pria tua itu menjadi serius. "Hmm. anak buahku elementals musim dingin! Itu perbuatan mereka. Aku tidak pernah ketiduran selama ribuan tahun. Saya selalu mengumpulkan mereka ketika waktu musim semi datang, dan mengunci mereka di kamar tidur mereka sampai daun terakhir musim gugur jatuh. Kali ini, saya kira , mereka memutuskan untuk mengakali saya dan memerintah atas dunia selamanya. Itulah sebabnya mereka memberikan saya dengan teh aromatik khusus mereka, sebelum saya duduk di sini untuk tidur siang saya biasa. Terima kasih anak-anak kecil untuk membangunkan saya! Sekarang, tinggal di sini dan menonton. Saya akan mengembalikan tatanan alam dan memberikan semua orang apa yang dia layak mendapatkannya.

Kakek Frost meniup peluit peraknya. Dalam waktu kurang dari sekejap, semua rakyatnya muncul gemetar dengan horor di ruang kristal besar. Dia memberi orang-orang yang tidak melakukan kesalahan sikat gigi untuk masing-masing, dan mengirim mereka ke kamar tidur mereka berharap mereka "malam yang baik". Tetapi untuk orang-orang yang ingin mengambil kekuasaan atas hukum alam, dan memerintah atas dunia selamanya, dia tidak begitu baik sama sekali. Dia memberi mereka masing-masing minuman teh yang sebelumnya dia minum, yang menyebabkan mereka tidur berdiri seperti patung untuk sekian lama sampai kemarahannya sirna. Lalu ia mengucapkan terima kasih kepada tamunya sekali lagi, dan memberikan lollypop es untuk setiap tamu. Gadis kecil mendapat hadiah berharga khusus untuk keberaniannya yaitu hati kristal kecil, tergantung pada rantai perak. Hati kecil ini akan membantunya mengenali antara kebenaran dan kebohongan.

Kemudian gerbang besar terbuka lebar, dan mereka semua melihat hari yang indah Musim semi di luar: Matahari bersinar, rumput tumbuh, bunga-bunga mekar, burung berkicau riang...

Jalan kembali adalah jauh lebih mudah. Teman-teman baru berpisah, berjanji untuk tidak pernah melupakan satu sama lain, dan siap untuk membantu bila diperlukan.

Semua orang di desa bersorak bertemu kembali dengan gadis kecil pemberani. Perayaan menyambut Musim Semi berlangsung selama lebih dari seminggu...

sumber: Bulgaria
oleh: n3m0
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...