Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Tuesday, August 4, 2015

Kimamanauze dan Putri Matahari - Dongeng Afrika

rachma-desires.tumblr.com
Pada zaman dahulu kala ada sebuah desa yang bernama Tumbandala di Nigeria, hiduplah seorang pemuda tampan yang bernama Kimamanauze. Kimamanauze tinggal bersama kedua orang tuanya yang memiliki kehidupan yang sederhana. Kimamanauze itu sendiri ialah seorang pemuda yang gagah berani dan pantang menyerah, setiap keinginannya harus dia dapatkan.

Di saat usianya yang sudah matang untuk berumah tangga, desakan-desakan dari orang tuanya yang menginginkan dirinya untuk segera menikah.

Suatu ketika sang ayah memanggil dirinya dan berkata, “Heii anakku, sudah saatnya kamu menikah. Carilah pendamping yang cocok denganmu, Nak."

“Baiklah ayah, sebelumnya aku memang sekali ingin menikah tetapi aku tidak ingin mengecawakan ayah dan ibu untuk mencari seorang pendamping yang sembarangan. Dan saat ini aku hanya ingin menikahi seorang Putri Matahari dari langit,” Kimamanauze menjawab dengan penuh semangat dan keyakinan akan keinginannya itu.

Mendengar jawaban Kimamanauze, si ayah sangat kaget. Sebuah harapan dan keinginan yang sangat mustahil bagi sang ayah. Namun Kimamanauze sangatlah yakin kalau dirinya suatu hari nanti bisa mendapat menikahi Putri Matahari.

Hari terus berjalan, Kimamanauze terus memikirkan dan mencari bagaimana agar dirinya dapat bertemu dengan Putri Matahari. Sayangnya tidak ada satu cara yang ada dibenak pikiran kepalanya.

Suatu ketika Kimamanauze menulis sebuah surat yang ada diberikan kepada Dewi Matahari. Kemudian Kimamanauze berjalan menuju ke sebuah hutan dan tidak lupa membawa surat tersebut.

Sampainya di pertengahan jalan, Kimamanauze bertemu dengan seekor kijang gunung dan dia menyapanya :
“Wahaii kijang gunung yang baik hati, maukah dirimu membantuku? Maukah kau membawakan surat ku ini untuk Dewi Matahari di langit sana?” tanya Kimamanauze.

“Oh.. langit itu kan tinggi dan aku tidak bisa kalau harus kesana meskipun aku bisa naik ke puncak gunung yang sangat tinggi.” jawab kijang gunung.

Dengan rasa kecewa Kimamanauze langsung meninggalkan kijang gunung.

Waktu terus berjalan, sore pun telah datang. Kemudian, Kimamanauze bertemu dengan seekor burung elang yang sedang hinggap di atas pohon.
“Wahai burung yang baik hati, maukah dirimu membantuku untuk membawakan suratku untuk Dewi Matahari yang berada di langit sana?” tanya Kimamanauze.

“Heii anak muda, maafkan aku!! Aku tidak bisa membantumu untuk membawakan surat itu sampai ke langit. Walaupun aku bisa terbang sampai ke awan tetap saja aku tidak bisa terbang mencapai langit!” kata si burung elang.

Lagi-lagi Kimamanauze sangat kecewa, kemudian ia memutuska untuk kembali kerumahnya. Dan ia berjanji untuk tetap melanjutkan usahanya lagi besok.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari dalam rumah. Kemudian Kimamanauze berjalan menuju pintu dan membukakan pintu, seketika ada seekor katak yang melompat dari balik pintu untuk masuk ke dalam rumah Kimamanauze.

“Hei anak muda, ku dengar kalau kamu sedang berusaha mencari cara bagaimana caranya untuk memberikan surat untuk dewi matahari. Bagaimana kalau sekarang aku yang mengantarkan suratmu?” tanya katak tersebut.

Terdiam Kimamanauze mendengar perkataan katak itu dan dirinya merasa sedang diolok oleh katak itu. Akhirnya Kimamanauze menyuruh sang katak untuk pergi dari rumahnya, tetapi sang katak tetap tidak ingin beranjak pergi.

“Mustahil, mana mungkin seekor katak dapat pergi ke langit? Bahkan yang seekor kijang dan burung elang saja tidak mampu, padahalkan mereka bisa pergi sampai ketempat yang tinggi,” kata Kimamanauze.

“Aku tidak pernah berbohong, anak muda! Kalau aku sudah mengatakan sanggup dan mampu mengantarkan suratmu kepada dewi matahari, pasti aku bisa! Sekarang berikan saja suratmu kepada ku dan kamu tunggu sajalah hasilnya!” kata katak sungguh-sungguh.

Meski masih ragu dengan sang katak, Kimamanauze akhirnya menyerahkan surat tersebut.

Kemudian katak membawa surat itu dan pergi ke pinggir telaga dimana tempat tersebut para dayang-dayang dari langit mengambil air. Di saat pancaran sinar matahari muncul di atas telaga, disitulah para dayang turun dari langit sambil membawa guci-guci. Pada saat mereka mencelupkan guci tersebut ke telaga, dengan cepat sang katak melompat masuk ke dalamnya. Setelah semua guci penuh dengan air, para dayang langsung kembali pergi ke langit dan sang katak pun ikut pergi bersama mereka.

Di dalam ruangan tempat penyimpanan guci-guci yang berisi air, sang katak memperhatikan setiap sudut-sudut sekitar. Terlihatlah sebuah meja yang berada di tengah ruangan. Kemudian sang katak meletakan surat dari Kimamanauze di atas meja tersebut lalu dia kembali sembunyi.

Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka dengan di terangi sinar yang terang dan hangat. Setelah dilihat oleh sang katak, ternyata yang datang dengan membawa sinar yang terang dan hangat ialah dewi matahari yang ingin memeriksa guci-guci air itu. Terdapatlah sepucuk surat yang berada di atas meja, dengan rasa penasaran kemudian dewi matahari membuka dan membacanya :

Dewi Matahari yang terhormat,
Perkenalkan saya Kimamanauze dari desa Tumbandala di bumi.
Bersama datangnya surat ini, saya ingin mengajukan lamaran kepada puteri anda.
Saya mohon dengan sangat anda bisa menerima lamaran ini.
Terima kasih.

Setelah membaca surat tersebut, dewi matahari memanggil semua para dayang pengambil air dan bertanya siapa yang membawa surat tersebut. Tetapi tak ada satu dayang pun yang mengetahuinya. Kemudian dewi matahari memutuskan untuk membalas surat itu dan setelah selesai menulisnya, dewi matahari kembali meletakanya di atas meja.

Tuan Kimamanauze di bumi,
Kami sudah menerima surat lamaran anda. Namun kami belum mengenal anda,
jadi bagaimana untuk kami bisa mengambil keputusan.
Alangkah baiknya jika anda bisa datang ke langit dan membawakan mas kawinnya.
Salam
Dewi Matahari.

Setelah dewi Matahari pergi, sang katak mengambil surat itu dan langsung kembali bersembunyi di dalam guci kosong yang akan dibawa turun ke bumi oleh para dayang.

Dengan gembira sang katak membawa surat dari dewi matahari kepada Kimamanauze. Kemudian Kimamanauze langsung membungkus uang tabungannya dan memberikan kepada katak dengan sepucuk surat lagi untuk diberikan kepada dewi matahari.

Sang katak pun kembali ke langit dan meletakan uang dan surat Kimamanauze di atas meja yang sama.

Dewi Matahari yang membaca surat tersebut, langsung memanggil suaminya dewa Bulan dan menceritakan masalah tersebut. Dengan berundinng, akhirnya mereka berdua sepakat untuk menerima lamaran Kimamanauze dan meminta untuk datang ke langit menjemput puteri matahari.

Kimamanauze yang menerima kabar tersebut dari katak masih merasa bingung. Bagaimana caranya agar dirinya bisa menjemput calon isterinya yang berada di langit? Namun dengan percaya dirinya sang katak yang cerdik berjanji akan membuat puteri Matahari sendiri yang turun ke bumi.

Keesokan harinya, sang katak kembali pergi ke langit. Tapi kini dia bersembunyi di dalam kamar puteri Matahari. Saat malam tiba dan puteri Matahari pun sudah tertidur. Dengan hati-hati katak mendekati sang puteri, lalu mengambil hati sang puteri kemudian dengan cepat katak kembali bersembunyi di pojok kamar.

Pada pagi harinya seluruh isi istana gempar dengan keadaan puteri matahari tiba-tiba mendadak sakit keras. Dan tak ada satupun yang tahu penyebab sakitnya sang puteri. Dan seorang peramal yang di panggil oleh dewi matahari menyimpulkan bahwa hati sang puteri telah dicuri oleh pemuda yang mencintainya, hanya ada satu obat yang dapat menyembuhkan sang puteri ialah segera mempertemukan sang puteri kepada pemuda itu atau sang puteri akan meninggal dunia.

Dewi Matahari segera memanggil ribuan laba-laba surga dan menyuruhnya memintal benangnya untuk dijadikan tangga ke bumi. Langsung dibuat sebuah tangga yang lembut bagai sutera terjalin dengan indah dan bagusnya, menggantung dari langit menuju bumi. Kemudian para dayang menghamparkan permadani dari beludru sebagai alasnya. Dan dengan dipapah oleh para dayang, sang puteri Matahari mulai menuruni satu persatu tangga yang diiringi lambaian tangan dewi Matahari dan dewa Bulan.

Sementara itu katak terlebih dahulu sampai di bumi. Dia langsung berlari menemui Kimamanauze dan menyuruhnya agar bersiap-siap untuk menyambut calon pengantinnya di tepi telaga.

Dengan mengenakan pakaiannya yang paling bagus yang ia miliki, Kimamanauze berlari ke pinggir telaga. Dan di sana sudah berkumpul para penduduk desa yang kagum dengan barisan para dayang yang turun dari langit. Ketika sang puteri Matahari bertemu pandang dengan Kimamanauze, seketika sembuhlah sakitnya.

Akhirnya, pernikahan pun dirayakan dengan meriah. Kimamanauze senang karena usahanya untuk menikahi puteri matahari tercapai, dengan bantuan katak yang cerdik. Kimamanauze dan Puteri Matahari pun hidup bahagia selamanya.

Sumber : Afrika
Share:

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...