Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Monday, January 18, 2016

Asal Muasal Hari Cheng Beng - Dongeng Cina

Courtesy of visitpenang.gov.my
dongeng anak dunia - Sudah menjadi tradisi untuk adat Tionghoa jatuhnya tanggal empat dan lima April, diperingati sebagai hari Cheng Beng dan bagi orang Mandarin disebut Qinming. Pada hari itu menurut tradisi, setiap orang Tionghoa akan datang ke tempat pemakaman para leluhurnya untuk melakukan upacara penghormatan.

Pertama-tama setiap orang Tionghoa akan membersihkan kuburan leluhurnya dan mennyebar-nyebarkan kertas Gincau atau kalau orang Mandarin menyebutnya Yinzhi atau kertas perak.

Cheng mengadung arti cerah dan beng mempunyai arti terang. Dan apabila digabungan dua kalimat ini akan menjadi cerah dan terang dan kalau dibalik menjadi terang dan cerah.

Cheng Beng adalah perhitungan 24 posisi bumi terhadap Matahari di tata surya ini yang disebut Jiegi.

Cheng beng atau dimana cuaca yang sangat cerah dan langit akan bersinar sangat terang. Itulah dimana hari yang sangat tepat untuk berjiarah dan membersihkan makam para leluhurnya. Dan mungkin ada sebagaian orang yang leluhurnya dimakamkan dikampung halamannya. Sementara keluarganya tinggal di perantauan, mereka akan pulang kampung khusus untuk berjiarah sebagai tanda hormat kepada leluhurnya dan sekalian bertemu keluarga besarnya di kampung halaman tercinta.

Kapankan tradisi cheng beng dimulai? Adat yang sudah membudaya ini sangat susah untuk ditelusuri dan kapan mulai dilaksanakan pertama oleh orang Tionghoa atau Mandarin. Kita lihat pada zaman dinasti Zhou, tradisi cheng beng adalah upacara musim pertanian dan akhir dari hawa dingin serta menjelang hawa panas. Dan gambaran dari sebuah syair kala itu, "Sehari sebelum cheng beng tidak ada api". Waktu ini juga disebut dengan Hanshijie, Han sama dengan dingin, Shi adalah makanan, sementara Jie adalah perayaan.

Hanshijie atau hari perayaan makanan dingin, adalah suatu hari untuk menghormati seorang Jie Zitui yang meninggal di gunung Miansahan. Sang Jie Zitui meninggal dikarenakan terbakar. Untuk itu Jin Wong, sang Raja Muda dari kerajaan Jin dan keturunan terakhir dari Dinasti Zhou memerintahkan seluruh rakyatnya untuk tidak menyalakan api. Dengan demikian seluruh rakyat negeri pada hari itu hanya bisa memakan makanan dingin saja. Maka tersebutlah hari itu dengan sebutan hari perayaan makanan dingin.

Hari Cheng beng ditetapkan sebagai hari menghormati leluhur yang telah tiada. Pada Dinasti Tang merayakan hari Cheng beng menjadi wajib bagi seluruh pejabat kerajaan untuk menghormati jasa-jasa para leluhurnya. Dengan upacara sembahyangan, membersihankan makam atau merawat makam dan lain sabagainya.

Penerapan hari Cheng beng telah lama berlangsung dari semenjak jaman dinasti Tang, hanya perakteknya ada sedikit perubahan. Seperti membakar uang-uangan kertas, sembahyang, membersihkan dan menggantung kertas di pohon Liu diganti dengan lembaran kertas diatas makam tersebut. Kebiasaan yang masih ramai adalah lomba melukis di dalam telur yang masih tetap bertahan sampai saat ini. Dan lainnya yang masih bertahan adalah bermain layang-layang. 

Sedangkan pohon Liu erat hubungannya dengan riwayat peristiwa terbakarnya Jie Zitui dibawah pohon Liu tersebut. Maka pada Zaman dinasti Song dari tahun {960 - 1279} membuat burung-burungan walet yang terbuat dari terigu, dan buah dari pohon Liu di gantung di depan pintu masuk rumah. Penerapan yang satu ini disebut dengan Walet Zitui.

Demikian pula kebiasaan menaruh kertas diatas nisan, dan menaruh untai panjang kertas panjang di atas kuburan leluhur ini penerapannya telah berlangsung sejak Zaman dinasti Ming. Dan menurut legenda kebiasan itu atas perintah Zhu Yuanzhang seorang Kaisar yang berkuasa pada kekaisaran dinasti Ming.

Di hari Cheng beng orang Tionghoa membersihkan kuburan, ini berkaitan dengan rumput yang tumbuh akan merusak lahan pekuburan dan akan menjadi semak belukar yang merusak areal makam tersebut bila tidak dibersihkan. Ada pula tradisi yang masih bertahan sampai sekarang adalah ketika pulang kampung, orang Tionghoa akan membawa tanah tempat kelahirannya. Dan ketika ada ditempat perantauan, orang tersebut akan menyetuhkan tanah tersebut kapada kakinya sebagai ingatan bahwa mereka masih berpijak selalu di kampung halamannya

Menurut cerita lain tentang hari Cheng beng. Tersebutlah cerita tentang seorang Pangeran Pu Conger yang pergi keluar dari negerinya tempat beliau tinggal untuk menghidari sebuah penindasan. Maka sampailah sang raja yang mengasikan diri itu di suatu tempat yang jauh dari penduduk yang menghuni tempat itu. Sampai akhirnya keadaan yang sangat sulit sekali terjadi di tempat yang tak berpenghuni itu. Semua serba susah, untuk makanpun pengawal tidak dapat menemukannya. Pengawal setia yaitu Jie Zitui pergi ketempat sunyi untuk mengiris daging pahanya dan membuatkan satu mangkok sup dari daging itu. Sang pangeran yang kondisinya saat itu sedang sakit, sedikit demi sedikit tenaganya mulai pulih. Dan yang terjadi berikutnya, setelah mengetahui sup yang dimakannya adalah irisan daging paha Jie Zitui, Sang Raja sampai menangis mengeluarkan air matanya. 

Belasan tahun berlalu Pu Cunger menjadi Raja Pu Wengong. Sang Rajapun memanggil seluruh pengawal yang ikut dalam pelariannya dan memberinya hadiah serta menjadikan pejabat kerajaan. Tetapi sang Jie Zutui tidak datang serta meminta hadiah dari sang raja. Beliau tidak mau dipandang sang Raja sebagai orang sangat rendah dan meminta-minta sesuatu atas apa yang telah dia lakukan. Dan beliaupun pergi meninggalkan rumahnya ke Mian Shan di pegunungan Mian serta berdiam diri di tempat tersebut.

Sang Raja Pu Wengong yang merasa berhutang budi lupa akan jasa Jie Zitui. Dan ketika sang baginda ingat serentak sang baginda memanggil utusan untuk mencari sang Jie Zitui. Tetapi sang Jie Zitui telah pergi ke gunung Mian, tidak ada di rumahnya. Tetapi tidak sampai disitu, sang rajapun memerintahkan untuk mencari sampai di gunung Mian. Tetapi mencari orang disebuah gunung yang sangat luas bukanlah hal yang mudah. Sang Jie Zitui tidak dapat ditemukan.

Atas beberapa saran dari beberapa pengawal setianya, diusulkan supaya membakar gunung Mian dari tiga sisi, sehingga orang yang dicari bisa keluar dari persembunyiannya. Maka berkobarlah sang api yang membakar gunung Mian, tetapi yang diharapkan tidak muncul dipermukaan.  

Dan pencarianpun dilakukan dengan menyelusuri puing-puing bekas kebakaran gunung itu. Ditemukanlah jenazah Jie Zitui yang sedang menggendong ibunya di bawah sebuah pohon willow tua. Sang Raja Pu Wegongpun sampai menangis melihat kejadian tragis itu.
Dan di dalam lubang pohon tua tersebut terdapat secarik kertas yang ditulis oleh darah Jie Zitui, "Kusasat dagingku dan kupersembahkan dengan penuh segenap kesetiaan, selamat dan selalu sentosa." Itulah tulisan darah yang ditulis sang Jie Zitui dan Rajapun bertitah untuk berpuasa pada hari itu, dan metetapkannya untuk seluruh rakyat.

Suatu saat sang Raja Pu Wegong setelah hampir dua tahun sejak kejadiaan diatas, memimpin seluruh Menteri pembesar negeri naik ke puncak gunung Mian ke tempat sang Jie Zitui ditemukan untuk memperingatinya.

Mereka menjumpai pohon willow yang sudah tua dan mati telah hidup kembali, maka pohon itupun dinamai dengan sebutan. "Willow sentosa".
Juga ditetapkan hari itu sebagai hari berakhirnya berpuasa dan hari Cheng Beng sebagai hari ziarah makam. inilah versi lain terjadinya hari Cheng Beng yang selalu diperingati orang-orang Tionghoa diseluruh dunia. 

Salam,
oleh: mamang
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...