Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sunday, January 3, 2016

Sang Katak Yang Nakal - Dongeng Korea

Courtesy of telltallfolktales.blogspot.com - ilustrasi katak hijau
dongeng anak dunia - Di sebuah empang yang besar hiduplah ibu katak yang sudah di tinggal mati suaminya dan mempunyai anak seekor katak muda yang lincah dan tidak mau diam. Maklumlah dengan jiwanya yang masih muda belia, si katak muda selalu membuat masalah dan keributan. Ibu katak yang sangat sayang kepadanya, selalu dibuat sedih dengan kelakuan anaknya yang nakal ini.

Tidak pernah ada kata-kata atau nasehat sang ibu yang diturut oleh sang anak ini, kalau sang ibu berkata A dia akan melakukan yang sebaliknya yaitu B. Itulah kelakuan sang anak katak yang tidak pernah mau mendengar nasehat dan petuah dari sang ibu katak yang sangat menyayanginya.

"Ada apa dengan anakku yang semata wayang ini?" membatin hatinya, "Mengapa tidak ada satu kata pun, pepatah atau nasehatku yang diturutinya? Tidak bisa aku bayangkan akan jadi apa nanti anak itu kalau sudah besar. Apa yang harus kulakukan untuk merubah sikap anak itu, semua cara sudah aku tempuh untuk mendidik anak tersebut".

Ibu katak ini seperti sudah kehilangan akal untuk merubah kelakuan anaknya yang semakin hari semakin menjadi-jadi saja.
Sang katak muda merasa dirinya bebas melakukan apa saja yang dia inginkan, berpecicilan kesana-kemari, kemana saja yang dia suka, juga tidak pernah peduli dengan waktu, kapan saja yang dia kehendaki dia pergi dan pulang. Begitulah kelakuannya tidak bisa di kontrol lagi oleh sang ibu yang sangat sayang kepada anaknya itu. "Saya tidak ada masalah dengan keadaan saya seperti sekarang ini! Mengapa ibu harus khawatir dengan saya?!" itulah jawaban yang selalu keluar dari mulutnya sang anak katak itu kepada Ibundanya.

"Tetapi sebagai seekor katak kamu harus bisa bahasa katak, anakku." Itulah kata nasehat yang keluar dari ibunya, ketika di suatu pagi anak itu berpapasan sang ibu yang mau mencari makan.

Dan pada suatu malam yang cerah dihiasi bintang-bintang di angkasa raya si ibu katak ini memanggil anaknya untuk mengajari bahasa katak kepadanya. "Inilah bahasa yang selalu di pakai setiap bangsa kita anakku," sang ibu menerangkan kepada anaknya itu, "Kaegul! Kaegul! Kaegul! Sekarang giliranmu, harus sama saat menirukan suara seperti ibu tadi ya."

Dengan membusungkan dada si katak muda itu melakukan apa yang diperintahkan ibunya tersebut, namun apa yang terdengar dari suaranya yang keluar, "Kulgae! Kulgae! Kulgae!", begitulah suara yang terdengar kebalikan dari suara ibunya.

Sang ibu itu berteriak ketika mendengar suara yang keluar tidak mirip dengan apa yang diajarkan dia kepada anaknya itu.
"Apa yang kamu ucapkan tadi, makanya kalau orang tua lagi memberi nasehat yang benar, kamu harus mendengarkannya dengan benar dan baik pula. Nah apa yang terjadi sekarang, kamu tidak bisa bahasa katak".

Tetapi ketika sang Ibunda lagi ngomel-ngomel dia telah pergi meloncat dari tempat itu entah mau kemana. Si katak muda tersebut meninggalkan ibunya yang sedang memberikan nasehat itu.

Sambil meledek ibunya dengan kata-kata yang salah dia ucapkan tadi, "Kulgae! Kulgae!", tidak pamit juga tidak permisi dari sang ibu yang sangat sayang kepadanya, ibunda katak itu hanya bisa mengurut dada.

Dengan tidak ada rasa bosan sang ibu selalu memberi petuah dan nasehat-nasehat yang akan berguna untuk anaknya di kehidupannya kelak nanti. Walaupun tidak satu nasehat yang dia dengarkan tetapi sang ibu kalau bertemu pasti akan memberikan pepatah-pepatah yang berguna. Akhirnya karena selalu tidak tenang memikirkan sang anak, ibu inipun sakit parah, badannya sangat lemas, lesu, dan tidak berdaya terbaring diatas tempat tidurnya.

"Kemanakah Ibundaku sudah beberapa hari ini tidak pernah menasihatiku, apakah dia sakit?" Maka anak muda ini menengok ke kamar ibunya untuk memastikan sang ibu. Alangkah terkejutnya anak muda ini melihat sang ibu tergolek lemas di atas tempat tidurnya. Maka duduklah anak muda ini disamping tempat tidur itu, memeriksa keadaan sang ibunda tercinta yang sakit parah.

"Anakku yang sangat aku sayangi, rasanya umurku sudah tidak akan lama lagi. Kalau nanti aku mati kuburkanlah aku disisi tepi sungai jangan di atas bukit atau gunung tempat kamu bermain di atas sana." Walaupun dalam keadaan sakit yang begitu parah ibunda sang katak masih sempat berpikir bahwa pesannya akan di turuti kebalikannya oleh sang anak.

Tidak berselang lama dari kejadiaan tadi meninggallah sang Ibunda katak tercinta  itu. Betapa malangnya hidupku kini tanpa sanak saudara, hidupku sebatang kara, berkata dalam hatinya katak muda tersebut. Ibuku sakit karena kenakalanku yang tidak pernah berubah walaupun dinasehatinya, "maafkan aku ibu..." Begitulah hatinya membatin menyesalinya tidak pernah menurut kata-kata ibunya yang kini telah tiada.

Teringat akan pesan ibunya untuk menguburkan jasadnya di tepi sungai dan jagan diatas bukit, apakah akan aku turuti permitaan ini. Lama sekali sang katak muda ini berpikir, sebab kalau di kubur di sisi sungai kemungkinan akan terbawa arus. Tetapi ini pesan terakhir yang harus di turutinya, walaupun dengan risiko jenazah akan hanyut terbawa air sungai.
Setelah mempertimbangkan lama jasad Ibunda tercinta itu di kubur ditepi sisi sungai juga.

Ketika hujan turun katak muda itu akan berada di dekat kuburan ibunya untuk menjaga agar jangan sampai jasad sang ibunda tercinta terbawa arus air sungai.

Demikian pula kalau cuaca mendung dan gelap menyelimuti angkasa raya sang katak muda akan cepat-cepat berlari ke tepi sungai untuk menjaga kuburan ibunya tercinta. Dengan tangisan-tangisan sedihnya atau senandung lagu duka untuk sang ibunda tercinta.

Kaegul! Kaegul! Kaegul! Sampai sekarang pun sang katak hijau masih tetap setia di pinggir sungai menunggu kuburan Ibunda tercinta.

Wasalam.
oleh: mamang
edit: n3m0
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...