Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sunday, January 10, 2016

Tujuh Anak Lelaki Bersaudara - Dongeng Indonesia (Aceh)

Courtesy of youtube
dongeng anak dunia - Dahulu kala adalah tujuh anak lelaki bersaudara, abangnya yang sulung sudah berumur sepuluh tahun dan paling bungsu baru berumur dua tahun. Ketujuh anak ini berasal dari pasangan suami istri petani sayur-mayur. Dari semua hasil pertanian sayur-sayuran itulah mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Namun semua kehidupan manusia sudah ada yang mengatur. Alam berbicara lain, ketika manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, yang di Ataslah yang menentukan semuanya. Kampung yang mereka tempati dilanda musim kering atau kemarau yang panjang. Semua tumbuhan mati, tidak terkecuali sayuran yang mereka tanampun pada layu dan mati.

Semua penduduk kampung mulai kekurangan makanan, begitupun keluarga petani sayuran ini. Persediaan makanan yang mereka simpan telah mau habis, sementara kebutuhan hidup setiap harinya harus ada. Apalagi dengan ketujuh anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu. Pada akhirnya hampir seluruh penduduk kampung dilanda kekeringan dan kelaparan.

Dampaknya sangat luar biasa bagi keluarga petani sayuran ini, suami istri ini telah berpikir keras untuk mengatasi masalah ini tetapi sangat susah sekali. Tidak bisa menemukan jalan keluar yang baik, mereka akhirnya nekat akan membuang ketujuh anaknya didalam hutan yang sangat jauh. 

Malam itu keadaannya sangat sepi sekali, dilihatnya ketujuh anak mereka sudah tidur mendengkur, suami istri inipun mengatur siasat. "Bagaimana rencana kita besok agar ketujuh anak kita tidak curiga?" bertanya sang istri petani itu.

"Pagi-pagi sekali anak-anak kita ajak pergi ke hutan yang jauh dari kampung kita, bawa bekal secukupnya. Dan ketika kita istirahat membuka bekal makanan, aku akan pergi mencari air ke sungai kamu ikut menyusul." Sang suami itu menjelaskan.

"Barulah kita kabur, tinggalkan mereka semua di hutan itu. Pasti mereka semua tidak akan curiga dengan apa yang kita lakukan." Itulah rencana suami istri tersebut untuk membuang ketujuh anak-anak mereka besok di hutan yang jauh dari kampung tempat tinggalnya.

Namun pembicaraan mereka berdua suami istri ini didengar juga oleh anaknya yang ketiga yang pura-pura tidur waktu itu.

Esok harinya, masih pagi sekali suami istri dan ketujuh anak-anaknya pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Mereka berjalan terus mencari hutan yang menurut perkiraan sang ayah mereka sangat jauh dari kampung tempat tinggalnya.

Sampailah di sebuah hutan yang sangat luas sekali. Itulah hutan yang sangat angker yang banyak dihuni raksasa jahat.

Akhirnya perjalanan itu  berhenti disebuah hutan yang amat luas sekali, dihutan tersebut mereka mendapatkan kayu bakar yang sangat banyak sekali.

"Wahai anak-anak semua istirahat dulu!" Seru sang ibu.

"Baiklah, Ibu!" Ketujuh anak lelaki itu menjawab hampir bersamaan.

Mereka beristirahat dan membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Seperti yang telah direncanakan, sepasang suami istripun menjalankan niat jahat membuang ketujuh anak-anak mereka. "Sepertinya kita kehabisan air minum," berkata sang ayah."Aku dan Ibumu akan mencari air untuk minum di sebuah sungai. Tunggulah kalian semua disini sambil istiharahat." Berkata lagi sang ayah mereka menegaskan.

"Iya, Ayah !" menjawab anak-anak itu serentak.

"tetapi jangan lama-lama ya, bu! Aku takut kalau tidak ada Ibu." Berkata si bungsu.

"Iya, Ibu akan kembali dengan cepat," Ibu itu menjawab dan terus pergi setengah berlari menyusul sang suami yang telah duluan beranjak dari tempat itu.

Mereka tujuh kakak beradik itu menunggu sudah lama sekali. Yang pergi mencari air tidak kunjung datang kembali.

"Aku Sangat khawatir kepada Ayah dan Ibuku! Apakah mereka tidak apa-apa?" Setengah berbisik sang anak yang nomor kedua bertanya, entah kepada siapa.

"Baiklah kita siap-siap untuk menyusul mereka." Berkata sang abang sulung kepada adik-adiknya.

"Percuma saja kita menyusul mereka! Ayah dan Ibu kita telah pergi dan tidak akan kembali untuk kita semua." Berkata sang adik ketiga.

"malam tadi mereka sudah berencana untuk membuang kita semua dihutan ini, karena mereka sudah tidak mampu lagi untuk memberi makan dan mengurus kita semua. Itulah pembicaraan mereka yang saya dengar malam tadi." Berkata lagi sang anak nomor tiga itu kepada saudara-saudaranya.

Karena hari sudah menjelang malam, ketujuh anak itupun mencari perlindungan dan mereka semua mendapatkan sebuah celah kayu yang cukup besar untuk mereka berlindung. Akhirnya meraka bersaudara bisa tidur dicelah pohon kayu tersebut menunggu sang fajar datang.

Keesokkan harinya...
"Bagaimana sekarang, bang? Kemana kita sekarang? Dan bagaimana dengan nasib adik-adik kita yang masih kecil-kecil ini?"

Itulah pertanyaan yang keluar terus-menerus  dari adik yang nomor dua itu, mengenai nasib mereka selanjutnya kepada abangnya yang paling besar.

"Mulai sekarang kita harus tetap berkumpul jangan ada yang terpisah dihutan yang angker ini. Aku akan mencari tahu kampung mana yang terdekat dari sini." Dan sang abang sulung itupun memanjat pohon raksasa yang paling tinggi, maka dari puncak pohon tersebut dapat melihat kepulan asap dari rumah penduduk kampung terdekat.

Sang abang sulung itupun mengajak keenam adiknya menuju kearah asap yang dilihat dari puncak pohon raksasa tersebut.
Dia emang sangat sayang kepada adik-adiknya dan berusaha membimbing semua adiknya. Sampailah mereka pada suatu tempat dataran dekat hutan tersebut dan berdirilah sebuah rumah yang sangat besar sekali.

"Rumah apakah gerangan?" sangat besar sekali!" berseru anak keempat dari tujuh bersaudara itu.

"Awas hati-hati, jangan-jangan rumah tersebut adalah kediaman raksasa yang jahat." Anak yang nomor enam memperingati semua saudaranya agar berhati-hati.

Ketika mereka ribut-ribut mempersoalkan rumah tersebut dari dalam rumah ada sebuah suara perempuan yang memanggil tetapi suaranya sangat mengelegar sekali. Itulah suara raksasa betina yang sedang memanggil.

"Wahai anak-anak manusia, mau apa kalian semua lewat kemari?" tanya raksasa betina itu.

"Saya bersama keenam adik-adik saya ini tersesat dan sampai disini! Kami tujuh saudara yang sengaja ditinggalkan oleh kedua orang tua kami di tengah hutan!" dan siabang sulung menceritakan apa yang menimpa mereka bertujuh saudara ini.

Semua keterangan itu membuat hati si raksasa betina menjadi kasihan dan iba. Akhirnya diajaklah ketujuh anak itu masuk kedalam ruangan rumah  yang sangat besar itu. Mereka semua dipersilahkan makan dan minum sepuasnya, dan tanpa pikir panjang anak-anak yang kelaparan itu makan-makanan yang dihidangkan sang raksasa betina itu sampai kenyang.

"Cepatlah kalian makan dan minum yang kenyang, setelah itu kalian cepat naik keatas loteng rumah ini!" perintah sang raksasa betina itu.

"Sebentar lagi suamiku pulang dan kalau kalian ada disini nanti kalian dimakan olehnya." begitulah  sang raksasa betina  berkata, sambil membawa mereka naik ke loteng rumah tersebut.

"Alangkah sedapnya aroma makanan hari ini, bu! Menu makanan hari ini tentu lauknya ada daging manusianya, ya bu.?" bertanya sang raksasa jantan itu kepada sang istri tercinta.

"Iya, memang ada anak manusia di atas sini tetapi bukan untuk dimakan sekarang mereka masih terlalu kecil-kecil!"

"Kita tunggu setahun atau dua tahun lagi biar cukup besar dan kita akan enak sekali memakannya." Sang raksasa betina itu menjawab.

Setiap perkataan sang raksasa betina yang menjadi istrinya itu selalu dituruti sang raksasa jantan yang sangat sayang kepada istrinya. Sang raksasa jantan harus bersabar menunggu anak-anak manusia itu cukup besar untuk disantap.

Selamtlah ketujuh anak lelaki tersebut dari santapan raksasa jantan yang jahat.

Keesokan paginya sang raksasa betina itu menyuruh ketujuh anak-anak itu untuk bersiap-siap pergi dari tempat itu.

Makanan untuk bekalpun telah dipersiapkan sang raksasa betina yang baik hati itu, dan tidak lupa sang raksasa betina inipun memberikan beberapa uang emas dan permata yang  mungkin nanti dapat berguana untuk kehidupan masa depan anak-anak tersebut.

Walaupun berjalan dengan perhalan menyusuri lebatnya hutan yang sangat luas itu, dan turun naik gunung yang sangat terjal. Sampailah tujuh saudara yang saling sayang menyayangi ini ditepi pantai lautan yang sangat luas.

Mereka bertujuhpun akhirnya bahu membahu membuat perahu layar yang sangat sederhana, siang dan malam mereka dibawa arus lautan yang sangat besar itu. Maka sampailah ketujuh anak-anak ini disebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana.

Semua emas dan intan berlian pemberian raksasa betina, dijual dan hasil penjualan itu meraka belikan tanah ladang yang sangat luas dan mereka membagi rata menjadi tujuh bagian yang sama.

Waktu terus berjalan dengan cepatnya dan tidak terasa sudah lima belas tahun berjalan dari kejadian tujuh saudara itu di buang orang tuanya dihutan yang angker itu.

Tujuh saudara yang saling sayang itupun telah tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang tampan dan sukses dalam usaha perkebunannya.
Si bungsu yang sampai sekarang masih terkenang akan ibunya, selalu merasakan rindu dan kangen. Diapun segera memanggil keenam kakaknya untuk datang kerumahnya, dan mengajak semua saudara itu untuk mencari orang yang telah melahirkannya.

Dari kampung, ke kampung yang lainnya. Dari desa kedesa yang satu nya lagi mereka terus mencari orang tua mereka yang telah melahirkan mereka kedunia ini. Sampai disebuah kampung yang sangat miskin disuatu desa yang sangat terpencil pula, hiduplah orang tua mereka dengan penuh kesengsaraan. Dibawalah orang tuanya itu pulang, mereka berkumpul kembali dan hidup bahagia.

Mulai sejak saat itulah kedua orang tua itu menyadari perbuatannya, dan sekarang mereka berdua menjadi orang yang sangat taat beribadah. Dan untuk segala kebutuhan hidupnya mereka telah dijamin ketujuh anak-anaknya yang baik budi pekertinya ini.

Salam,
oleh: mamang
edit: n3m0
Share:

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...