Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Monday, February 29, 2016

Sang Singa Dan Sang Babi Hutan - Dongeng Yunani

Courtesy of fasabbih.blogspot.com
dongeng anak dunia - Hanya sumur itulah satu-satunya sumber mata air yang masih sanggup mengeluarkan air didaerah tersebut. Musim panas kali ini begitu panjang sehingga begitu berat kehidupan yang harus dijalani. Semua binatang dibelantara hutan sudah banyak yang mati kehausan dan kelaparan, alam tidak bersahabat musim panas yang kering kala ini.

Padang rumput yang biasa terlihat hijau kini tinggal gundul dengan debu yang beterbangan menjadi lautan tanah yang gersang dan tandus. Pohon-pohon sudah banyak yang mati kekeringan dan sebagian lagi masih bertahan hidup dengan daunnya yang hampir layu menguning. Sang bumi menanti sang hujan turun membasahi seluruh alam yang kering kerontang.

Terlihat seekor singa sang raja hutan telah sampai disumur yang menjadi sumber mata air, tatkala bersama dengan itu datang juga sang babi hutan ditempat tersebut.

"Baiklah karena akulah yang pertama datang ditempat ini, jadi akulah yang berhak atas sumur itu!" sang raja hutan mengaum, sambil berjalan mendekati sumur air. Seperti bergetar tempat itu ketika sang raja hutan mengaum.

"Tidak bisa begitulah, hai sang singa! aku pun telah dari tadi sampai ditempat ini, jadi akulah yang berhak atas sumur itu!" sang babi hutan tidak kalah garangnya ketika berbicara dengan teriakkannya.

Meraka berdua akhirnya bertengkar adu mulut tidak ada yang mau mengalah dan sampai pada titik klimaks-nya mereka siap untuk berkelahi.

Mengalah bukanlah satu-satunya dari sikap mereka, sang singa harus mempertahankan harga dirinya dan sang babi hutan adalah seekor binatang yang sangat tangguh dia pun tidak akan mengalah kepada siapa pun.

Mereka berdua sekarang sudah terpancing amarah emosi yang meluap-luap, harga diri akan dipertaruhkan untuk saat ini, berkelahi adalah jalan satu-satunya.

Masalah air dan haus, mereka kesampingkan dulu untuk sementara, siapa nanti yang berhak minum pertama dari sumur itu dialah sang pemenang yang telah membunuh lawannya.

Perkelahian sampai mati pun kini akan terjadi antara sang raja hutan singa melawan sang babi hutan yang telah siap mati demi harga diri.

Namun disaat perkalahian tidak akan terelakkan lagi, ketika itu terdengar dari kejauhan sayup-sayup lagu kematian dari para burung bangkai. Makin lama makin jelas saja nyanyian itu terdengar dan semankin dekat saja suara itu terdengar berkelebat puluhan burung bangkai hinggap didahan-dahan pohon tempat acara duel satu lawan satu akan berlangsung.

Gerombolan burung bangkai ini telah tahu akan ada perkelahian yang akan memakan korban.

Sang raja hutan singa telah siap dengan ancang-ancangnya menekuk kaki depannya dan dari jari-jari kaki itu telah keluar kuku-kuku tajamnya siap mengoyak badan musuh yang menjadi lawannya.

Sang babi hutan yang gagah berani pun telah siap dengan kepalanya telah menunduk, siap menyeruduk dengan taringnya yang panjang dan tajam siap mengoyak perut sang raja hutan singa yang menjadi lawannya.

"Sebentar sang babi hutan, aku punya firasat yang kurang baik!, jangan kita teruskan perkelahian ini!

"Baiklah aku pun mengerti dengan semua ini, kalau kita berkelahi sampai mati hanya kita yang rugi saja!" sambil matanya melihat keatas dahan-dahan yang telah penuh dengan kehadiran sang burung bangkai yang sedang bertengger.

Mereka berdua sadar bahwa sebaiknya berbagi air saja dari pada menjadi santapan sang burung bangkai yang akan memakan bangkai siapa saja yang kalah dalam perkelahian ini.

Saling menghancurkan satu sama yang lainnya belum tentu bagus, malah akan dimanfaatkan orang ketiga yang tidak berniat baik terhadap kita. Berdamai satu-satunya jalan terbaik. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Berpikir Positif, Bagaimana Hal Itu Membantu Anda?
Oposisi Suriah: Pemerintah Merusak Kesepakatan Gencatan Senjata
Share:

Sang Singa Jatuh Cinta - Dongeng Yunani

Courtesy of oalamagz.blogspot.com
dongeng anak dunia - Tersebutlah pada zaman dahulu kala ketika semua binatang masih bisa bicara, sang raja hutan singa yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Gadis cantik seorang anak penebang kayu yang tinggal dipinggir hutan, tatkala waktu itu sang gadis sedang ikut bersama ayahnya menebang kayu dihutan. Sang raja hutan melihat gadis tersebut, sang raja hutan jatuh cinta pada pandangan pertamanya.

Waktu itu sang raja hutan terus mengawasi kegiatan sang penebang kayu yang sedang bekerja ditemani sang gadis cantik anaknya.

Dan ketika sang ayah dan anak gadisnya itu pulang kerumahnya, sang raja hutan singa mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh, agar tidak dapat di ketahui kedua orang tersebut.

Sampai pada suatu kesempatan berikutnya sang raja hutan singa datang bertandang kerumah sang gadis cantik jelita pujaan hatinya. Maka sampailah sang raja hutan singa didepan pintu masuk rumah sang anak gadis penebang kayu.

"Bapak penebang kayu!" sang raja hutan singa bertanya dengan suaranya yang memgelegar. Sang penebang kayu terdiam tatkala sang singa dihadapanya berbicara. Sang raja hutan berkata kembali melanjutkan pembicaraannya.

"Sengaja aku datang kemari hendak melamar putri cantikmu untuk kujadikan istri!" serunya kembali tanpa basa-basi lagi kepada sang bapak penebang kayu. "Dan tentu saja aku akan membawa gadis cantikku kehutan sebagai istriku!" sang raja hutan menyambung pembicaraan dengan kalimat yang tegas untuk dituruti sang bapak penebang kayu.

Sang penebang kayu kaget bukan kepalang dengan kemauan sang singa yang begitu memaksa anak gadisnya untuk dijadikan istrinya. Hatinya berfikir kata-kata apa yang tidak akan menyinggung perasaan sang raja hutan yang buas dan sangat berangas ini.

"Sang raja hutan singa terima kasih telah sudi kiranya datang dirumahku yang sangat sederhana ini! dan aku pun sangat senang dengan permintaan baikmu untuk melamar putriku."

"Namun aku sangat khawatir dengan keselamatan putriku yang lemah dan lenmbut, sang tuan raja hutan silahkan datang kembali dengan catatan gigi-gigi dan taring tuan telah dicopot dan juga kedua kuku kaki tuan yang tajam-tajam telah dipotong!, sebab aku hanya khawatir dengan kondisi anak gadisku yang lemah dan sang tuan raja hutan malah akan melukainya."

Cinta memang membuat semuanya jadi buta dan sang raja hutan pun setuju saja dengan permintaan sang bapak penebang kayu.

Selang beberapa hari sang raja hutan singa telah datang kembali kerumah sang bapak penebang kayu dengan penampilannya lain dari sebelumnya.

Tanpa gigi-gigi tajamnya, tanpa taringnya yang panjang, dan tanpa kuku-kuku tajam setajam belati untuk mengoyak perut mangsanya.

Maka sampailah sang raja hutan singa didepan pintu, pintu pun terbuka lebar tatkala sang bapak penebang kayu telah berdiri bersama sang anak gadisnya yang cantik jelita.

Sang penebang kayu melihat penampilan sang singa dengan kuku-kuku yang telah rapih terpotong serta tanpa gigi serta taring dimulutnya.

Meledaklah tawa sang panebang kayu sampai terkikih saking lucunya melihat sang raja hutan singa ompong didepan matanya.

"Tidak ada dalam sejarahnya anak manusia menikah dengan seekor binatang!" serunya. "Sekarang kamu mau apa? aku tidak akan takut terhadap singa ompong sepertimu!" Siapa yang akan takut terhadap singa ompong, apa lagi dengan cakarnya yang telah terpotong, kuku tumpul tidak akan membuat luka musuhnya.

Orang biasanya takut kepada pangkat dan jabatan kekuasaan tetapi ketika pangkat dan jabatan kekuasaan itu sudah tidak ada, orang akan berani kembali.

Maka jadilah orang yang dihormati dari pada menjadi orang yang ditakuti. Jadilah seorang penyayang yang tulus dan baik sebab kasih sayang dan cinta yang tulus akan membuat orang yang kasar pun akan menjadi lembut dan penurut. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Negosiasi, Tips Bagaimana Melakukannya
Bom ISIS Serang Irak Timur, 27 Tewas
Share:

Sang Pemburu dan Penunggang Kuda - Dongeng Yunani

Courtesy of id.aliexpress.com
dongeng anak dunia - Disebuah padang rumput yang sangat luas sekali terlihat seorang pemburu yang sedang memeriksa perangkap yang dipasangnya tadi pagi. Waktu itu matahari telah menunjukkan sinarnya merahnya diufuk barat hari telah menjelang sore yang menandakan siang akan berganti kepada malam hari.

Senyuman bahagia terukir dari bibir sang pemburu, "anak-anak dan istriku dirumah pasti akan senang dengan hasil buruan yang kudapat!" serunya dalam hati.

Seekor kelinci yang sangat gemuk sudah terjebak alat perangkap yang dia pasangnya tadi pagi, sang kelinci yang berusaha lepas merontak-rontak kesana-kemari.

Dengan cekatan sang pemburu mengikat kedua kaki kelinci dengan tali yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan sang pemburu pun beranjak dari tempat itu untuk pulang kerumahnya.

Sudah terbayang dalam hati sang pemburu, sang istrinya dirumah akan masak sup kelinci atau panggang kelinci yang sungguh lezat, dimakan ramai-ramai bersama sekeluarga tercinta.

Langkah kakinya terus berjalan dijalan setapak menuju rumahnya, didalam kampung dekat pinggir padang rumput yang kini tandus tempat sang pemburu mencari buruannya.

Namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti tatkala seorang penunggang kuda yang berlari cepat dan mendadak berhenti didepan sang pemburu yang sedang aysik dengan lamunannay.

Sang penunggang pun menyapanya, "sore yang indah bapak pemburu, apa kabar?, apakah hasil tangkapanmu itu akan dijual kepadaku? Sudah lama sekali aku tidak makan daging kelinci!"

Sang bapak pemburu menjawab pertanyaan sang penunggang kuda, "kabar baik tuan, namun sangat menyesal sekali aku tidak bisa menjual kelinci ini! anak dan istriku dirumah sedang menungguku mencari makanan! dan memang dirumahku malam ini tidak tersedia apa-apa, kelinci ini tentunya akan dijadikan makan malam keluargaku."

"Jangan khawatir bapak pemburu aku akan kasih harga kelinci itu dengan uang yang cukup banyak!" sahutnya lagi.

"Kelincimu itu akan aku bayar dengan harga lima ekor ayam yang besar-besar, cukup untuk makan keluargamu satu minggu!"

Sang pemburu memikirkan tawaran sang tuan penunggang kuda, dan setelah beberapa saat berfikir sang bapak pemburu pun setuju atas tawaran yang diberikan.

"Baiklah!" kelinci hasil buruan itu pun diberikan kepada sang tuan penunggang kuda. Sang tuan penunggang kuda mengambil kelinci dan mengikat disamping pelana kudanya.

Sang pemburu mengulurkan tangannya meminta bayaran uang yang telah dijanjikan sang tuan penunggang, sang tuan penunggang kuda menyusukkan tangannya dibalik baju meraih sesuatu dari baliknya.

Ternyata hanyalah debu putih yang dilempar tepat diatas muka sang pemburu. Sang tuan penunggang kuda menyentak tali kekang kudanya dan kuda pun berlari dari tempat itu.

Dengan mata yang perih penuh debu putih yang halus, sang pemburu mengejar sang tuan penunggang kuda yang telah menipu hasil buruannya.

Cepat juga sang pemburu larinya mengejar sang penipu, namun tatkala mau sampai, sang tuan penunggang kuda menyentak tali kekangnya dan kuda pun berlari lagi dengan cepat.

Terus saja sang pemburu berusaha mengejar sang tuan penipu dengan gigihnya, kejadian tadi pun terulang beberapa kali, kembali sang pemburu hampir meraih sang penunggang kuda namun seperti tadi sang penipu menyentak tali kekang kuda.

Ternyata sang tuan penunggang kuda bukan saja menipu, dia pun mempermainkan sang pemburu yang bodoh dan dapat ditipunya.

Setelah merasa dipermainkan dan sang pemburu pun tahu tidak mungkin dirinya mengejar kuda yang berlari dengan cepat dia pun menyerah.

"Oh ternyata kamu bukan saja menipuku tetapi kamu juga mempermainkan aku!" teriakntya. "Baik-baiklah, kamu ambil saja kelinci itu sebagai oleh-oleh dari keluargaku!" teriaknya kepada sang penunggang kuda yang sudah pergi jauh dari tempat itu.

Sang pemburu pun membalikkan badannya kembali menuju tempat tinggalnya. Kelinci hasil buruan kini telah berpindah tangan kepada Sang tuan penunggang kuda penipu yang telah tega mengambil makan malam keluarganya. Hatinya sudah rela dengan kelinci yang memang bukan milik rejeki keluarganya.

Musibah, bencana, nasib sial, apes, naas, sebaiknya kita menerimanya dengan ikhlas dan berbuatlah yang baik, sebab nasib buruk yang menimpa kita jangan dibalas perbutan buruk karena itu bukan jalan keluar atau solusi yang baik.

Semuanya harus dijadikan pacuan untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi kehidupan dunia yang sangat kejam ini. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Tips Awet Muda, Ini Triknya Biar Terlihat Muda
Saudi: Rusia dan Rezim Assad Langgar Gencatan Senjata
Share:

Para Kelinci dan Sang Singa - Dongeng Yunani

Courtesy of plus.google.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala ketita semua binatang masih bisa bicara satu sama lain, disuatu hutan yang lebat akan diadakan pertemuan besar-besaran bangsa-bangsa kelinci yang hidup dihutan. Persiapan dan tempat pertemuan rapat besar itu adalah sebuah lapangan tandus tidak berumput belantara, dengan sebatang kayu besar ditengah lapangan sebagai mimbar para tetua berpidato.

Langkah-langkah kaki ribuan kelinci terdengar bergema diseluruh rimba hutan belantara kala rombongan-rombongan kelinci itu berdatangan satu kelompok. Mereka terdengar berkelakar dengan sahabat handai tolan dan kawan lama yang berjumpa disaat itu.

Bercanda melepas rindu, inilah suatu satu kesempatan yang jarang terjadi.

Lapangan tandus tengah rimba belantara telah padat terkumpul, dan salah satu tetua naik diatas batang kayu yang tinggi.

"Salam hormat kami kepada seluruh bangsa kelinci yang telah sudi datang pada kesempatan yang jarang ini!" sang tetua memulai pembiraannya.

"Kepada ketua kelompak yang terhomat!. Kepada ibu-bapak yang terhomat!. Kepada pemuda-pemudi yang terhomat dan anak cucu cicit yang saya cintai dan kepada seluruh hadirin yang hadir disini!"

"Rapatkan barisan, kita akan berjuang mulai saat ini, sudah waktunya sekarang kita tidak takut kepada siapa pun yang hidup rukun di hutan yang kita cintai ini!"

"Dari zaman nenek moyang kita terdahulu kita selalu di rundung ketakutan dan curiga kepada siapa saja bangsa lain yang hidup di hutan ini, kita mulai hari ini harus merdeka, jangan selalu berlari dan berlari kelubang karena ketakutan dimangsa banngsa lain, kita harus melawan!."

"Kita sudah layak hidup berdampingan dengan semua bangsa yang ada dihutan ini jangan menjadi bangsa yang lemah yang selalu ditindas, jangan menjadi bangsa yang selalu bersembunyi dilubang gelap dengan ketakutan."

"Jumlah bangsa kita telah banyak dan bangsa kita akan besar kalau bersatu, kita pasti menang!." Disambut sorak sorai riuh rendah saat itu memenuhi lapangan, mereka semua terbakar emosinya oleh sang tetua yang berpidato.

"Setuju-setuju! Siap-Siap! Merdeka kita harus merdeka-merdeka!" itulah teriakkan histeris bangsa kelinci yang mendengar pidato dari sang tetua mereka.

Namun masih ditempat sekitar lapangan, didalam gua yang menjadi tempat tinggal atau rumah sang raja hutan singa.

Semenjak dari tadi sebelum acara rapat dilapangan itu dimulai, sang singa telah mengawasi tempat itu dari lubang lorong gua tempat tinggalnya. Walaupun dari tadi perut telah memanggil-manggil melihat sarapan pagi yang banyak tersaji didepan mata. Ketika rombomgan demi rombongan berdatangan, sang raja hutan semakin penasaran ada apa gerangan yang akan dilakukan ribuan kelinci ditempat lapangan tandus kawasan kekuasaan.

Sang singa telah mendegar apa yang diucapakan tetua yang naik diatas batang kayu besar yang ada ditengah lapangan. Ditengah gemuruh sorak dari ribuan kelinci sang raja hutan mengaum, suaranya mengalahkan ribuan kelinci yang sedang bersorak.

Bagaikan guntur menggelegar suaranya membuat ribuan bangsa kelinci ciut nyalinya dan lari berhamburan kesegala arah dari tempat itu.

Mereka ada yang bertabrakkan sesama teman, ada yang berguling-guling karena terseruduk dari belakang, ada yang terinjak-injak, ada yang berlari tetapi tidak bisa cepat karena berdesak-desakkan tidak beraturan.

Rapat bubar dengan kacau balau tidak beraturan, masa menghilang dalam sekejap saja mereka mencari perlindungan diliang atau lubang-lubang untuk bersembunyi.

Bangsa kelinci tetap dilubang-lubang persembunyian tidak keluar dalam beberapa hari ini, mereka menjadi lebih berhati-hati dalam setiap langkah dan tindakkannya.

Maksud baik saja harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh atau kerja keras. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Hari Senin, Bagaimana Menghadapi Dengan Senyum?
Ledakan di Baghdad, 70 Orang Tewas
Share:

Thursday, February 25, 2016

Sang Rusa Dan Semak Belukar - Dongeng Yunani

Courtesy of vicilucytagoblog.wordpress.com
dongeng anak dunia - Kabut tebal turun dari atas gunung hutan menjadi gelap, udara begitu dingin menusuk tulang belulang, cuaca begitu mencekam kala itu.

Namun apa yang terjadi dengan sang rusa yang bercucuran keringat, ada apakah gerangan yang terjadi nafasnya tersengal-sengal uap putih keluar dari kedua lubang hidungnya yang menghembus-hembus.

Sang rusa berlari tunggang-langgang sementara dibelakangnya seekor kuda dan pemburu diatas punggung telah siap menembakkan busur dengan anak panahnya yang tajam.

Sang rusa masih terus berusaha lari walaupun tenaganya sudah tidak kuat lagi dengan sisa nafasnya yang tersengal-sengal hampir terjatuh tatkala kaki belakang sang rusa tersandung akar dari semak belukar.

Dengan keadaan antara sadar dan tidak sadar serta mata yang kabur berkunang-kunang sang rusa terus masuk kedalam hutan yang rimbun dan gelap dengan semak belukar yang tinggi menutupi jalan.

Makin lama semak belukar itu makin tinggi sampai melebihi badannya, dengan keadaan fisiknya yang sudah tidak kuat lagi berjalan akhirnya sang rusa hanya bisa berdiri mematung dibalik semak belukar yang tinggi menutupi tubuhnya.

Sementara derap kaki kuda sang pemburu sudah semakin mendekat saja, semakin terdengar jelas saja didepan mungkin tinggal beberapa langkah lagi, "ajalku kini telah tiba" pikirnya.

Sang rusa yang sudah tidak kuat berlari hanya pasrah saja dibalik semak belukar yang menutupinya.

Dan sang pemburu berkuda telah ada dihadapannya hanya terhalang dengan semak belukar saja, kepalanya ditundukkan dan kedua matanya ditutup.

Dia tidak mau melihat, "tatkala pemburu menembakkan busur dengan anak panahnya yang tajam menghujam  bagian tubuhku, biarlah aku mati sekarang tetapi aku tidak mau melihat sang pembunuhnya." pikirnya dalam hati.

Namun sudah beberapa lama, tidak terjadi gerakkan apa-apa dan suara kaki kuda terdengar lagi, hati sang rusa semakin berdebar matanya semakin ditutup rapat-rapat.

Tetapi suara itu semakin menjauh dan akhirnya tidak terdengar sama sekali.

"Kucoba membuka mataku!" pikir sang rusa dalam hati dan dia pun menggeser tampat berdirinya untuk sekedar mengintip dari balik sela-sela semak belukar.

"Aman, mungkin sang pemburu dan kudanya tidak melihat aku yang terlindung rerumputan semak belukar ini," hati sang rusa kembali tenang saat itu.

Hatinya kini dapat berpikir dengan tenang namun tetap hati-hati sekali, semak belukar inilah yang telah menyelamatkanku dari maut dan rumput ini pulalah yang selalu menjadi makanan kesukaanku.

Perutnya yang lapar tidak dapat berpikir panjang lagi, rumput hijau yang tinggi serta gurih dan manis itu langsung disikatnya, hampir habis sang rumput belukar yang tadi telah berjasa melindungi dirinya.

Sambil makan sang rusa berpikir dalam hatinya. "Alangkah hebatnya diriku kini, sang kuda tidak dapat mengalahkanku dalam berlari!, Aku terhindar dari kejaran sipemburu yang bodoh dan sekarang aku makan rumput lezat!"

Dada sang rusa sedikit diangkat membusung, terlihatlah kini sifat aslinya yang jelek dan sombong.

Sang pemburu masih penasaran dengan buruannya yang mendadak hilang dari pandangannya, dia pun balik lagi kembali menyusuri jalan tadi, tetapi kini dia berjalan dengan mengendap-endap dan sang kuda yang sudah terlatih itu mengikutinya dari belakang sang pemburu supaya tidak membuat suara gaduh.

Dari kejauhan kini dia dapat dengan jelas melihat bayangan sang rusa buruannya, berada dibalik rumput semak belukar yang kini telah tipis karena sebagian telah dimakan sang rusa.

Dibidikkan busurnya dengan anak panah yang sangat tajam itu kearah jantung sang rusa, sang rusa terjungkal seketika, tidak menyangka sedikit pun akan apa yang terjadi barusan.

Sang pemburu berhasil membawa hasil buruan seekor rusa dewasa, sang rusa diikat dan naiklah hasil buruan itu diatas punggung kuda untuk dibawa pulang, sebagai hadiah untuk makan keluarga tercinta dirumah.

Janganlah berkhianat kepada orang yang telah menolong kita, sayangilah dia seperti engkau telah disayangnya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Tips Sekretaris: Mengenal Tugas Pertama Anda
Milisi Libya Klaim Tangkap Pemimpin ISIS, Jet Saudi Ke Turki Lawan ISIS
Share:

Sang Kelinci Dan Sang Anjing Pemburu - Dongeng Yunani

Courtesy of ardydii.wordpress.com
dongeng anak dunia - Pagi cerah nan damai dengan udara yang sejuk dipadang rumput yang terhampar hijau. Sekoyong-koyong menjadi berisik oleh suara kaki-kaki binatang yang berlarian dengan cepatnya, ada apa gerangan yang sedang terjadi.

Ternyata dari sebelah utara padang rumput itu sedang terjadi balap-balapan, kejar-kejaran antara sang anjing pemburu dengan seekor kelinci dewasa yang menjadi buruannya.

Sang kelinci berlari dengan sangat ketakutan sekali, sehingga berlari seperti tidak menghiraukan apa saja yang didepan dia terjang.

Kecepatan larinya seperti angin berkelabat dengan cepat, sedikit saja dia lambat berlari dia akan menjadi makanan empuk sang anjing pemburu.

Untuk itu sang kelinci berlari dengan segala kemampuan yang dia miliki, tenaganya terkuras habis dan keringat bercucuran keluar dari sekujur tubuhnya namun tetap dia berlari dan tidak pernah berhenti.

Sang anjing pemburu pun berlari sangat cepat dengan langkah kakinya yang panjang-panjang menyusul dari belakang.

Sebentar saja sang anjing pemburu sudah dapat, mau menyusul sang kelinci buruannya namun apa boleh buat tenaganya sudah hampir terkuras habis.

Dan dia pun berhenti dengan nafasnya yang tersengal-sengal, habis sudah daya tahan dan tenaga yang telah terforsil. Sang anjing akhirnya berjalan pelan, sempoyongan terkuras habis sudah tenaga yang dimiliki.

Dia pun menghampiri anak gembala yang sedang mengembala domba-domba lalu merebahkan dirinya diatas rerumputan hijau, lemas sudah seluruh badannya.

"Kecepatan lariku memang dapat diandalkan tetapi sang kelinci tidak mau menyerah" pikirnya dalam hati. "Hilanglah menu makan pagiku hari ini."

Sang anak gembala yang sejak dari awal tadi melihat kejadian tersebut menghampirinya.

Senyumnya tersunging dari bibirnya, "bagaimana ini bisa terjadi, kamu yang besar dan kuat bisa kalah sama kelinci yang kecil dan lemah?"

Senyuman meledeknya berkembang kembali dengan suara. "Ha ha ha,....ha ha hah."

Dengan dibarengi senyuman kecil dan kecut, sang anjing pemburu menjawab pertanyaan sang anak gembala, "tentu saja sang kelinci tidak akan berhenti berlari sebab kalau berhenti matilah dia menjadi sarapan pagiku!" serunya.

"Namun aku berhenti tidak memaksakan tenagaku habis, sebab aku hanya ingin makan sarapan pagi saja."

Semua tenaga dan kemampuan akan dikeluarkan sekuat tenaganya apabila seseorang terdesak dan terancam nyawanya.

Sebab biasanya penonton, pemainan akan merasa lebih pintar dari pemain yang sedang berlaga atau bermain. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Public Speaking atau Berbicara di Depan Umum
Rusia, Suriah Bombardir Posisi Oposisi Menjelang Gencatan Senjata
Share:

Wednesday, February 24, 2016

Sang Rubah Dan Sang Monyet - Dongeng Yunani

Courtesy of google images
dongeng anak dunia - Dari ufuk timur terlihat sinar merah menyala, sang mentari pagi baru mau menampakkan diri. Terlihat dua sahabat erat, sang monyet dan sang rubah sedang berjalan dijalanan hutan yang masih lenggang sepi dipagi buta. Jalan setapak yang menuju keladang pertanian masih sepi namun suara dua kawan karib ini sangat berisik, mereka bercakap-cakap dengan canda riang penuh dengan kegembiraan.

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ .adv - Sang monyet ini adalah satu sosok binatang periang, sambil bercerita dia akan tertawa dengan girangnya dia pendongeng yang handal. Perjalanan mereka jadi tidak terasa capai tatkala mendengar cerita sang monyet, walaupun dongeng yang dia ceritakan tidak ada yang benar atau bohong.

Ceritanya hanya menyangkut nama besarnya yang berhubungan dengan cerita membesarkan namanya yang tidak begitu berarti bagi sang rubah, namun tetap saja sang rubah menjadi terhibur dengan cerita kebohongan ini.

Dan akhirnya mereka berdua telah sampai diujung hutan, berarti sudah dekat dengan ladang pertanian yang menjadi tujuannya.

Mengendap-ngedap dua sahabat ini dipinggiran ladang pertanian mereka akan selalu waspada jangan sampai ketahuan oleh bapak tani yang sedang sibuk bekerja.

Terlihat jelas dari pinggir hutan berdiri tugu-tugu dari batu marmer sebagai tugu peringatan.

"Kamu lihat tugu yang berdiri tegak dengan gagahnya itu!" sang monyet kembali mau membual dengan cerita bohongnya.

"Itu adalah monumen-monumen peringatan, penghargaan terhadap kehebatan nenek moyangku!" sambil tangannya tidak lepas menunjuk-nunjuk bangunan yang berdiri ditengah latar pemakaman ditepi ladang.

"Ha ha hah," sang rubah kali ini tidak bisa menahan tertawanya ketika sahabatnya berbohong dengan cerita nisan-nisan kuburan.

"Kamu memang sahabatku yang paling hebat dari seluruh sahabatku yang pernah aku kenal sepanjang hidupku!" sang rubah berkata sambil tertawa-tertawa tidak bisa berhenti.

"Aku sangat kagum kepadamu wahai sahabatku yang paling baik dan pandai bercerita, kamu pendongeng yang handal!" sang rubah berkata lagi sekarang tertawanya menjadi terkekeh-kekeh.

"Sayang ceritamu tidak ada yang benar, namun kamu pembual yang sangat menghibur sekali!" seru sang rubah mengakhiri celotehnya.

Omongan kosong atau berbohong lambat laun akan ketahuan juga. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Nyamuk Dan Sang Singa - Dongeng Yunani

Courtesy of dongengceritarakyat.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala tersebutlah seekor singa yang perkasa, sang raja hutan ini sedang tertidur pulas digua tempat tinggalnya. Ceruk gua yang terdalam menjadi kamar tidurnya adalah sebuah gua yang penuh bekas sisa makanan yang berantakkan sekali, tulang belulang binatang bekas mangsa makanan tertumpuk tidak beraturan dimana-mana. Sama sekali tidak ada kerapihannya tempat yang menjadi rumah sang raja hutan yang terkenal dengan keganasannya ini.

Siapa yang tidak kenal dengan raja hutan yang sangat ditakuti oleh semua binatang di hutan, pengunungan, padang  rumput, dan seluruh daerah yang berada di kawasan itu, semua binatang tunduk, takut akan betapa buasnya sang raja hutan singa.

Namun disudut lain dari kehidupan ini ada saja yang terlihat janggal, seekor nyamuk muda sedang mencari tempat dimana sang raja hutan itu berada.

"Aku tahu harus terbang kemana sekarang, kabarnya sang raja hutan itu punya tempat tinggal didalam gua yang sangat gelap, ditengah hutan!"

Maka berangkatlah sang nyamuk muda itu terbang dengan gagahnya, darah mudanya yang masih pemberani tidak takut akan berhadapan dengan siapa dia sekarang.

Lubang gua telah terlihat didepan mata sang nyamuk muda pemberani, masuklah sang nyamuk dengan tidak ada sedikit pun rasa takut yang tersirat dibenaknya.

Masuk terus kedalam gua yang gelap itu, dan sayup-sayup terdengar dengkuran singa yang sedang asyik tertidur pulas. Terlihat banyak sekali tumpukkan tulang-belulang putih bekas mangsa makanan sang singa namun tidak ada sedikit pun rasa ngeri yang terlihat dari mimik wajah sang nyamuk muda ini, sungguh mental pemberani.

Makin lama makin jelas suara dengkuran itu, disebuah ceruk terlihat sang raja hutan sedang tidur dengan tenang sekali. Sang nyamuk muda terbang dekat telinga sang singa sengaja dengung terbangnya diperkeras untuk membangunkan sang singa malas.

Sang singa terbangun sambil berkata dengan bentakkan kerasnya, "suara apakah ini? berisik sekali!, dan siapa pula yang berani mengganggu tidurku?" sang raja hutan mengaum dengan dahsyat, seluruh dinding gua bergetar seakan mau runtuh saja.

Nyamuk muda mendekat dan berkata, "akulah yang berisik tadi mau apa kamu sang raja hutan!" tantang nyamuk kepada sang singa.

Tentu saja sang singa marah dan dengan segera cakar kukunya yang tajam menghajar sang nyamuk didepannya, namun sang nyamuk dapat berkelit dari situ.

"Baiklah kita berkelahi sekarang kita tentukan siapa diantara kita yang paling kuat" sang nyamuk menantang sang singa.

"Aku telah tahu siapa kamu, berkelahi saja menggunakan cakar persis seperti perempuan, juga kamu kalau berkelahi salalu main gigit persis kaya anak-anak saja," ledek sang nyamuk.

Sang raja hutan terpancing meledaklah amarahnya, mata besarnya terlihat merah, kuku-kuku jari tangannya telah keluar terlihat sangat tajam dan runcing sekali. Badan bergetar hebat menahan marah yang tidak terbendung.

Sang nyamuk muda cepat melesat terbang kearah hidung sang singa, sang singa pun dengan sigap memukul tempat dimana sang nyamuk hinggap. Tentu saja hidung itu terpukul dengan keras sekali, sampai keluar air mata sang singa menahan kerasnya pukulan tersebut.

Kemudian sang nyamuk muda hinggap di perut dan perut itupun menjadi sasaran pukulan dan cakaran kuku singa yang tajam, sementara sang nyamuk muda telah pindah ditempat lain dibadan sang singa yang terbebas dari bulunya.

Sang raja hutan yang terkenal dengan keganasan dan kebuasan babak belur dibuatnya dengan cakaran dan pukulannya sendiri. Dan akhirnya sang raja hutan itu pun menyerah kalah oleh sang nyamuk muda, badan yang besar ambruk dilantai gua tempat tinggalnya, sang raja hutan singa kecapaian.
 
Sang nyamuk berteriak, "Aku pemenang pertarungan ini, sang raja hutan singa jatuh ditanganku!" seru sang nyamuk muda setelah melihat singa jatuh ambruk dilantai gua.

"Aku harus pulang dan memberitakan kemenangan besar ini kepada bangsaku diluar sana!" sang nyamuk muda bergegas terbang melesat cepat kegirangan atas kemenangannya.

Sang nyamuk muda tidak hati-hati dengan jebakkan gua, sarang laba-laba banyak sekali terdapat diatas langit-langit gua.
Dan tiba-tiba sayap dan badannya menabrak sesuatu yang lembut namun lengket, sang nyamuk terjebak ditengah sarang laba-laba yang kokoh.

Sekuat apa pun sang nyamuk meronta, jaring laba-laba sungguh kuat mengikatnya, tidak bisa dia lepasi jebakkan sarang laba-laba.

"Aku yang perkasa yang telah dengan gagah mengalahkan sang raja hutan singa harus mati disini dimakan sang laba-laba!" sang nyamuk muda hanya bisa menyesali apa yang menimpa dirinya kini.

Diatas gunung masih ada gunung dan diatas langit masih ada langit. Janganlah buta dengan apa yang telah kita capai, belum tentu kita selalu ada diatas.

Maka berhati-hatilah dan pertahankanlah. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Banteng Dan Sang Nyamuk - Dongeng Yunani

Courtesy of 365ceritarakyatindonesia.blogspot.com
dongeng anak dunia - Tersebut pada zaman dahulu kala disebuah peternakan, ketika waktu menunjukkan sore hari nan indah. Terlihat seekor nyamuk yang sedari tadi terbang hilir-mudik tidak ada tujuan yang pasti. Namun sang nyamuk tidak pernah pergi jauh meninggalkan tempat itu, hanya berkeliling ditempat itu-itu saja.

Dan disudut halaman peternakan terlihat pula seekor banteng yang sedang asyik menikmati sang surya sore. Sinar merah kekuningan emas terpancar indah sekali. Sejak masih menjadi anak banteng kecil hobby menikmati hangatnya mentari sore menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan sang banteng. Ditempat yang sama disudut halaman peternakkan itulah yang menjadi tempat favorit sang banteng berdiri.

Akhirnya sang nyamuk memutuskan untuk hinggap diatas tanduk sang banteng yang sedang diam terpaku. Lama sekali sang nyamuk berada diatas tanduk sang banteng yang hobby menikmati hangatnya mentari sore hari. Diufuk barat sinar matahari telah condong kebarat akan tenggelam, tanda siang akan berganti malam.

Namun sang banteng masih berada disana, dia masih terlena sore temaran, merah kekuningan emas seakan mau masuk kebumi di ujung belahan dunia sana.

Sang nyamuk akhirnya mau pamit pergi dari tempat itu kepada sang banteng, dia pun lalu mendengung. "Sang banteng yang terhormat!" dengan seru sang nyamuk berteriak keras. "Bolehkah saya pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga?"

"Hai! siapakah itu? yang berbicara?" sang banteng sangat kaget sekali. "Ternyata kamu, aku tidak tahui ada kamu disekitar sini atau hingap diatas tandukku, Silahkan saja kalau kamu mau pergi dari sini."

Sang nyamuk pun berlalu pergi dari tempat itu, meninggalkan sang banteng yang hanya diam tidak peduli dengan kepergiaan sang nyamuk, baginya nyamuk tidak berarti apa-apa.

Bila kita menilai diri kita berarti, belum tentu bagi orang lain diri kita berarti, berbuat baiklah biar orang lain menilai kita menjadi berarti. Sekian.

Wasalam
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Rekan Kerja Malas Kerja, Gimana Nih?
10 Teori Konspirasi Aneh Dari Perang Teluk Pertama
Share:

Sang Gembala Dan Sang Kambing Liar - Dongeng Yunani

Courtesy of fasabbih.blogspot.com\
dongen anak dunia - Berduyun-duyun kambing-kambing naik keatas perbukitan dimana seorang bapak gembala berada dibelakangnya mengiringi.

Dipagi buta bapak gembala berangkat membawa kambing-kambing menaiki bukit-bukit kecil jalan menuju kepadang rumput yang terhampar luas dikaki gunung yang tinggi menjulang diangkasa.

Sepanjang mata memandang hanyalah hamparan hijau yang terbentang luas sampai kita susah menemukan titik ujungnya, karena sangat luas sekali padang rumput yang mengeliling kaki gunung tersebut.

Sudah pas dan jelas inilah tempat yang tepat untuk mengembala segala jenis hewan ternak, mau sapi, kerbau, atau kambing.

Pagi sekali bapak gembala bangun membuat sarapan makan pagi dan langsung menggiring kambing-kambing dan nanti pulang ketika hari sudah menjelang malam atau sore. Begitulah sang bapak gembala kambing ini bekerja setiap harinya.

Namun hari ini setelah pulang dari mengembala kambing sang bapak gembala menjadi kaget, dengan jumlah kambing yang bertambah.

Diperhatikan kembali satu persatu kambingnya dan juga menghitung kembali jumlahnya, ternyata kambingnya bertambah lima ekor, dan kambing liar itu tidak sengaja ikut rombongan.

Musim salju telah tiba, besok paginya sang bapak gembala tidak bisa membawa kambing-kambing untuk digembala, dia pun berusaha untuk memberikan makan kambing dengan makanan seadanya saja. Dan kambing liar yang ikut rombongan dia sengaja dipisahkan dengan yang lain serta diberi makan lebih. Ini untuk membuat lima ekor kambing liar itu betah tinggal dikandang dan menjadi miliknya.

Menjelang hari berikutnya cuaca kembali cerah dengan demikian sang bapak gembala telah siap menggiring kambing keluar dari kandang untuk digembala dipadang rumput.

Seperti biasanya kambing-kambing akan berjalan melewati bukit-bukit kecil kaki gunung dan setibanya diatas sana, sang kambing-kambimg dengan cepatnya berlari kabur menghilang dari pandangan bapak gembala.

Bapak gembala berteriak memanggil kambing-kanbing yang kabur melarikan diri, namun mereka tidak akan kembali ketempat itu.

Umpatnya, "kambing-kambing macam apa kamu semua, setelah mendapatkan makanan tempat berteduh malah mereka kabur berlari."

"Bukannya berterima kasih atas semua yang telah aku berikan!" serunya kembali.

Satu dari kelima ekor kambing yang sedang bersembunyi dibalik pepohonan mendengar umpatan sang bapak gembala, dia pun  mengembik menjawab umpatan itu dengan teriakkannya.

"Mengapa kami pergi dan lari dari rombonganmu sang bapak gembala, karena kami berlima curiga dengan kamu yang memberi makan lebih banyak kepada kami dari pada kambingmu sendiri!, Nantipun kami berlima akan mengalami hal yang sama tatkala kamu mempunyai kambing baru lagi, kami berlima akan diperlakukan demikian pula. Kami sudah muak diperlakukan tidak adil oleh siapa pun. lebih baik kami hidup bebas dialam luas." jawabnya dari balik pohon.

Kawan yang sudah menjadi sahabat lama janganlah dikorbankan hanya karena untuk menyenangkan kawan-kawan yang baru kamu kenal seharian atau baru bertemu. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Monday, February 22, 2016

Sang Rubah Dan Topeng - Dongeng Yunani

Courtesy of 365ceritarakyatindonesia.blogspot.com
dongeng anak dunia - "Tidak sepotong pun makanan yang sudah masuk keperutku padahal hari sudah menjelang siang!" gerutu sang rubah dengan kesalnya.

Sang rubah telah lama berkeliling didalam hutan sekedar untuk mencari sarapan pagi, mendapatkan tikus atau anak kelinci saja, namun semua itu tidak dia dapatkan. Terpaksa aku akan berburu di dalam kampung desa bawah kaki gunung hutan ini, walaupun resikonya sangat berat sekali.

Jika bertemu orang kampung tentu saja aku akan dikejar-kejar ramai-ramai dan akan dibunuh, habislah aku oleh mereka semua.

Tetapi perut ini tidak bisa diajak kompromi apapun resikonya aku harus mencari makan kekampung didesa bawah tersebut. Baiklah aku akan mencoba peruntungan didalam desa itu dari pada mati kelaparan, sang rubah akhirnya berangkat juga kekampung desa setelah menghitung-hitung untung dan ruginya.

Siang-siang begini biasanya penduduk kampung sedang sibuk-sibuknya bekerja diladang, dan jalanan menuju kampung pun sangat lenggang sepi saat itu.

Melalui pinggiran jalan kampung yang sepi sang rubah berlari cepat menuju sebuah rumah yang tidak begitu besar, berkeliling melihat-lihat sisi mana dari rumah itu yang bisa dimasuki. Kebetulan jendela dari rumah itu terbuka lebar dan ukuran tidak telalu tinggi, maka melompatlah sang rubah setelah berada diatas jendela dia pun mengamati seisi rumah kemudian masuk kedalam rumah.

Kebetulan rumah yang sepi dan kosong mungkin penghuninya lagi sibuk diladang pikirnya, kesempatan itu dimanfaatkan untuk mencari makanan apa saja yang terdapat didalam dirumah. Semua ruangan dalam rumah dimasuki dari dapur dulu dia beroperasi, dibukanya lemari tempat makan didapur namun tidak ada yang bisa dimakan lemari kosong tidak isinya.

Kemudian dia mencoba masuk dikamar tidur rumah tersebut semua lemari dibuka dan memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa dimakan ternyata tidak ada pula. Tinggal satu kesempatan lagi ruang tengah dari ruamh itu belum diperiksa, sang rubah naik diatas meja, memeriksa dibawah kursi-kursi tetap saja tidak menemukan apa yang dicarinya. Dan matanya tertuju pada tirai disudut ruangan itu, dia membukanya namun apa yang terjadi selanjutnya, sang rubah melompat mundur dari temapt dia berdiri.

"Celaka, ternyata dari tadi kelakuanku telah diawasi orang itu!" pikirnya setelah melihat ada kepala seorang manusia sedang melotot mengawasinya.

Mata orang tersebut tidak berkedip, melotot terus menatapnya "matilah kini aku", pikirnya sambil tersungkur dipojok ruangan rumah karena tadi dia melompat mundur dan terjerebag disudut ruangan tidak berdaya.

Namun setelah lama menunggu tidak ada reaksi dari orang yang diam dibalik tirai diatas meja pojok itu, sang rubah memicingkan matanya, melihat apa yang sedang dilakukan orang tersebut.

"Sial, ternyata orang palsu dan hanya kepala saja tidak mempunyai badan, lengan, dan kaki!" serunya.

Sang rubah pun bangun dan melompat keatas meja tersebut, tangan depan sang rubah mengetok kepala itu dengan tidak sopan sekali.

"Kepala yang empuk dan tidak bisa berpikir karena tidak punya otak!" katanya meneliti topeng kepala yang sangat mirip dengan kepala asli manusia.

Dengan sendirinya orang pintar akan dihargai dari pada orang yang tampan tapi tidak punya otak. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Cara Memuji Bos, Bagaimana Caranya?
Pejuang SDF Menjarah Desa Aleppo
Share:

Sang Rubah Dan Sang Kucing - Dongeng Yunani

Courtesy of kucinggue.blogspot.com
dongeng anak dunia - Matahari hangat menyambut pagi yang cerah dengan kilauan sinar merah kekuning emasan. Pagi yang indah untuk berjemur, semua binatang ditempat itu keluar rumah untuk menghangatkan tubuh. Dan tidak jauh dari tempat itu seekor rubah dan kucing hutan tidak ketinggalan dengan acara berjemur dipagi nan cerah ini.

Ditepi hutan itu ada sebuah pohon beringin, ternyata ditempat itulah mereka sering bertemu, sang kucing sedang menjilati bulu-bulunya sambil asyik memandang padang rumput yang membentang luas dihadapannya. Sementara sang rubah tidur-tiduran diatas sebuah batu sambil meregangkan kaki-kakinya, santai sekali kedua kawan akrab ini sambil bercerita pengalaman hidup masing-masing.

Sang rubah bercerita tentang keahlian menghindar dari musuh-musuhnya. "Dengan keahlianku, aku punya seratus macam kecerdikkan, dengan mudah aku akan menghilang dan lari dari semua musuh-musuhku," sang rubah bangga dengan keahliannya.

"Oh, begitu! namun aku hanya punya satu keahlian saja," sang kucing hutan menjawab. "Namun cara itu sungguh sangat jitu dan selalu menjadi andalanku sampai sekarang."

Sang kucing menjadi pendengar yang setia ketika sang rubah bercerita lagi berbagai macam pengalaman cerdik yang merupakan keahliannya.

Namun cerita mereka terganggu dengan suara ribut-ribut dari arah depan, makin lama suara ribut itu makin mendekat saja. Ternyata suara ribut-ribut itu adalah sang pemburu dan anjing-anjing pemburu yang menuju tempat dimana mereka berdua sekarang berada.

Dengan sangat cekatan sang kucing melompat naik keatas pohon beringin dimana dia hanya tahu satu cara menghindar dari musuh yang memburunya.

Sang kucing hutan telah berada diatas pohon beringin dan mencari dahan yang paling rimbun untuk bersembunyi dibalik dedaunan didalamnya.

"Inilah satu cara keahlianku untuk menghindar dari musuh," bisiknya kepada sang rubah, setelah berada diatas pohon beringin.

"Coba kamu tunjukkan satu cara dari seribu keahlianmu?" sang kucing hutan bertanya.

Sang rubah berpikir satu cara untuk menghindar dari musuh, namun dia pun berpikir cara yang lain juga untuk menghindar.

"Lebih baik cara ini atau cara itu kah yang lebih baik atau begini atau begitulah." Begitulah cara dia berpikir, menjadi lambat dalam bergerak karena terlalu banyak cara untuk menghindar dari musuh.

Terlambat sudah, musuh telah berada dekat sekali dengannya. Sang rubah hanya bisa berlari berputar-putar ditempat itu dan anjing-anjing pemburu dengan mudah menangkapnya.

Sang rubah akhirnya dimasukkan kedalam karung serta diikat dengan kuat oleh sang pemburu, kemudian sang pemburu dan anjing-anjing itu pun berlalu dari tempat itu.

Sang kucing hutan hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut dari pohon tempatnya bersembunyi dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap teman akrabnya yang butuh pertolongan.

"Terlalu banyak cara untuk menghindar dari musuh sehingga dia banyak berpikir untuk memakai cara yang mana!"

"Lebih baik aku yang hanya punya satu cara tetapi selamat dari musuh dari pada sang rubah yang punya seratus cara tetapi tertangkap musuh!" serunya dalam hati sang kucing hutan.

Terlalu banyak bicara tetapi hanya diam saja itu pun tidak baik, maka berusahalah semoga anda berhasil dan selamat. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Rubah Dan Penebang Kayu - Dongeng Yunani

Courtesy of batasinfo.blogspot.com
dongeng anak dunia - Sang rubah berlari sekencang-kencangnya apapun yang ada depan diterjangnya, pontang panting menyelamatkan diri. Sementara dibelakangnya anjing-anjing pemburu dan sang pemburu berkuda mengejarnya. Didepan sana ada sebuah gubuk dan didepan gubuk ada seorang penebang kayu yang sedang istirahat dari pekerjaan.

"Bapak penebang kayu yang budiman tolonglah saya!" sang rubah berkata, "tolonglah selamatkan saya dari kejaran anjing-anjing pemburu yang kejam-kejam!, berilah saya tempat bersembunyi yang aman." Nafasnya tersengal-sengal kecapaian.

"Kamu masuklah cepat, masuk ke pondokkanku dan sembunyilah kamu disana," sambil menuju letak pondok yang tidak jauh dari tempat itu.

Sang rubah pun berlari lalu masuklah kedalam pondok yang ditunjuk sang penebang kayu tadi, pondok yang begitu gelap.

Berselang saat dari situ, anjing-anjing pemburu yang diiringi sang pemburu dari belakang sudah tiba ditempat dimana yang sang penebang kayu sedang duduk-duduk istirahat.

"Permisi bapak penebang!" sapa sang pemburu sopan sekali. "Apakah tadi ketika anda sedang berada disini melihat seekor rubah yang berlari kearah sini?"

"Maaf saya dari tadi ada disini sedang istirahat, tetapi tidak melihat siapa pun," menjawab sang penebang kayu, namun tangannya memberikan isyarat beberapa kali sambil menunjuk kearah pondokkan kepada sang pemburu.

Namun sang pemburu tidak mengerti tanda isyarat dari sang penebang kayu, sang pemburu hanya percaya pada kata-kata yang diucapkan sang penebang kayu.

Maka sang pemburu dan anjing-anjingnya itu segera berlalu meninggalkan tempat itu, selamatlah kini sang rubah dari malapetaka yang akan mengancam nyawanya.

Sang rubah pun keluar dari pondok tempat persembunyiannya, dia telah siap meninggalkan tempat itu untuk berlari kearah yang berlawanan dari sang pemburu dan anjing-anjingnya.

"Dasar tidak tahu adat! setelah diselamatkan kamu akan pergi begitu saja, mana rasa terima kasihmu!" seru sang penebang kayu sambil bertolak pinggang membentak sang rubah.

Sang rubah terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan sang penebang kayu, "sebenarnya aku harus berterima kasih kepadamu, namun mengapa ucapanmu tidak sesuai dengan kelakuan tanganmu?"

Tetapkan perkataanmu dengan apa yang dikerjakan tanganmu. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Relaksasi: 8 Tips Terbaik Setelah Lelah Bekerja
Symbols: Crow's Foot, Crucifix, Crux Dissimulata, Crystal Ball and Cube
Share:

Botol Madu Dan Sang Lalat - Dongeng Yunani

Courtesy of larisashops.blogspot.com
dongeng anak dunia - Tercium bau harum yang menyengat hidung dengan aroma manis merangsang selera makan, bau harum apakah ini begitu menggoda selera. Inilah bau harum madu, dari sebuah guci yang pecah berhamburan didapur sebuah rumah besar. Dan didekat tempat itu, segerombolan lalat sedang mencari makan. Ternyata seorang perempuan pembantu rumah tangga dirumah besar itu telah menjatuhkan sebuah guci besar yang berisikan madu murni yang sangat sedap mengundang sang lalat-lalat untuk menikmatinya.

Gerombolan lalat itu pun menyerbu sumber bau harum didapur rumah besar, mereka saling mendahului kejar-kejaran ingin cepat sampai disumber bau harum tersebut. Berhamburan sang lalat masuk dari pintu depan rumah, pintu belakang rumah dan dari jendela-jendela rumah yang terbuka.

Kerena gerombolan lalat yang terbang begitu banyak sehingga menimbulkan suara dengung gaduh, namun secara tiba-tiba dengung suara itu menghilang secara mendadak. Ternyata sang lalat-lalat sedang asyik hinggap diatas botol guci madu yang manis. Semua lalat-lalat dengan serakahnya dan rakusnya menyatap makanan lezat. Madu yang sangat manis dengan bau harumnya yang sangat segar tercium lalat-lalat yang kelaparan.

Namun mereka semua tidak sadar dengan keadaan kaki-kaki mereka yang menginjak madu manis yang lengket dikaki masing-masing.

Madu yang lengket telah mengikat kaki-kaki lalat dan setelah acara makan selesai mereka tidak bisa mengangkat kaki-kakinya yang telah melekat dengan madu.

Semakin dipaksa madu menyebar sampai kena sayap mereka, akhirnya sang lalat-lalat tenggelam dalam lautan genangan madu yang harum.

Terjebak pesta makanan yang harum, nikmat dan lezat namun mereka terjerat dalam kenikmatan sesaat yang mematikan. Kesenangan mereka dibayar dengan jebakkan penderitaan seumur hidup. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Wednesday, February 17, 2016

Bapak Tani dan Sang Kutu - Dongeng Yunani

Courtesy of www.kompasiana.com
dongeng anak dunia - Alangkah tidak menyenangkannya dengan kondisi tubuh yang bentol-bentol dan gatal-gatal seperti ini. Tangannya tidak bisa diam terus-menerus menggaruk gatal-gatal diselruh badannya. Mata terus melihat-lihat mencari disekitar daerah yang terserang gatal-gatal dan penuh bentol-bentol. Dialah sang bapak petani. Yang kakinya dan seluruh badannya digigit-gigit kutu pengisap darah, sudah beberapa hari ini sang bapak mencari penyebab gatal yang susah ditemukannya.

"Awas kalau ketemu hai sang kutu, akan aku pencet badanmu!" gerutunya sambil matanya terus mencari keberadaan sang kutu busuk pengisap darah.

"Pencarianku kali ini tidak sia-sia!" katanya. Sambil terus matanya melihat, tidak lepas dari sang kutu busuk yang sedang asyik menghisap darah dibagian betis kakinya."

virtual office jakarta utara .adv - Tangannya pun digerakkan secara pelan-pelan mendekati sang kutu busuk dan siap untuk menangkapnya, "hap! akhirnya kena juga kamu sang kutu busuk pengisap darah." sang bapak petani hatinya sangat girang sekali.

Kutu pengisap darah tertangkap, dengan jepitan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya, sang kutu tidak bisa berkutik lagi.

"Beberapa hari ini kamu selalu mengisap darahku dan aku dibuat tidak nyaman oleh tingkahmu!" dengan gemes sang bapak petani berteriak kepada sang kutu.

"maaf-maafkanlah aku tuan yang baik hati! aku mengaku salah atas apa yang aku perbuat terhadapmu!" sang kutu busuk mengemis-ngemis meminta ampunan kepada sang bapak petani.

"Aku tidak berbuat kesalahan besar terhadap tuan, sebab makananku adalah darah!" sang kutu busuk berkata lagi.

"Namun hukuman akan tetap berjalan atas perbuatan yang telah kamu lakukan terhadapku, sekecil apapun tindak kejahatanmu."
Sang bapak peteni berkata dengan tegas.

Itu pasti akan terjadi kepada siapa pun dan dimana pun. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Pohon Jati yang Congkak - Dongeng Yunani

Courtesy of tangkaiputih.blogspot.com
dongeng anak dunia - Hutan yang lebat terdapat bermacam-macam pohon disana itulah hutan dengan keindahan alamnya karunia tuhan sang pencipta alam semesta ini.

Tidak jauh dari pinggiran hutan itu tumbuh sebuah pohon kayu jati yang batangnya besar tumbuh sampai kelangit. Tinggi sekali sang pohon jati ini, sementara dibawah tempat akarnya, tumbuh semak belukar yang mengelilinginya menyembul dari dalam tanah.

"Kasihan sekali kamu, hai belukar yang pendek!" berkata sang pohon jati dengan sombong. "Lihatlah kamu kepadaku, setiap batangku yang besar dan kuat ini akan menjadi bahan yang bagus untuk rumah manusia dibawah sana!, Aku selalu bangga dengan diriku yang besar dan tinggi di bandingkan pohon lainnya akulah yang menjulang, namun buat apalah hidupmu sang belukar, kamu sepertinya sangat tidak berguna sekali hidupmu itu!" sang pohon jati berkata panjang lebar mengenai dirinya dan sang pohon belukar, yang menurutnya tidak berguna dimata sang pohon jati yang sombong itu. Sang pohon jati sangat menghina sekali belukar yang tidak berguna dimatanya.

Sang belukar tidak marah dicaci-maki oleh sang pohon jati yang congkak, sang belukar terkenal dengan kesabarannya dia tidak akan marah walaupun diinjak-injak oleh siapapun.

Namun hanya tersenyum sambil menjawab, "baiklah sang pohon jati yang tinggi dan kuat sekali! betapa akan bangganya kamu dengan batangmu yang besar, namun nanti ketika kapak sang penebang kayu menghantam dirimu yang besar itu, batangmu yang menjulang tinggi dilangit akan tumbang dan yang tertinggal hanyalah batang bawahmu yang pada akhirnya akan membusuk. Saat itulah kamu akan mengharap menjadi aku yang tidak berguna."

Sang pohon jati hanya diam mendengar jawaban yang dikemukakan sang pohon belukar dia sangat malu dengan kebenaran yang diucapkan sang pohon belukar.

Kemewahan tidak menjamin ketenangan, lebih baik hidup sederhana dengan ketenangan. Hidup akan lebih tentram dan damai.
Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Ayam Dan Sang Elang - Dongeng Yunani

Courtesy of penulisdongeng.blogspot.com
dongeng anak dunia - Kampung pertanian yang damai dan tenteram dengan suasana yang hening sejuk, pagi yang indah. Semua penduduk kala itu sedang sibuk dengan kegiatannya mengolah tanah ladangnya masing-masing. Namun keheningan yang damai itu tiba-tiba dipecahkan dengan teriakkan dua ayam jago yang saling menantang.

Satu sama yang lainnya sedang saling menatap tajam tidak lepas mata mereka melihat gerakkan sang lawan. Mereka menerjang lawannya dengan taji dikakinya, kemudian terhunus tajam dan taji menancap mengenai tubuh sang lawan.
Dibantu kepakannya tendangan mereka pun meluncur, patukkannya mengarah kekepala membuat sang lawan berdarah-darah hebat.

Debu-debu dan bulu-bulu mereka beterbangan terhempas amukkan mereka yang saling bernafsu untuk segera menjatuhkan sang lawan.

Perkelahian seru tanpa ada yang mau mengalah, adu pukulan, adu patokkan, adu tendangan yang kadang-kadang mengarah kejengger dikepala membuat pusing sang lawan yang terkena tendangan atau patokkan dikepala. Mata pun menjadi berkunang-kunang, jalan menjadi limbung mau jatuh karena perkelahian tersebut dan kesempatan ini dimanfaatkan sang lawan dengan memukul habis-habisan.
Dua lawan yang bertarung habis-habisan menguras tenaga dan pikiran mereka bagaimana cara menjatuhkan sang lawan, dan akhirnya terlihat sudah sang lawan yang kelelahan.

Akhirnya sang ayam yang terpepet itu meloncat meninggalkan arena perkelahian, dia berlari menghindar dari tempat itu karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi lawan yang tangguh. Dicarinya tempat untuk bersembunyi dipojokkan lahan pertanian yang teduh dari bayangan pohon, jauh dari keramaian.

Telah terpilih pemenang juara perkelahian tersebut sang ayam jago yang gagah berani menjadi pemenangnya. Maka dikibas-kibaskan badannya membuang kotaran dan debu yang menempel dibulunya, terlihat kembali bulu merah kehitaman yang mengkilat tertimpah sinar matahari.

Dia pun berjalan dengan gagahnya seakan dialah sang juara yang tak terkalahkan saat ini. Lalu sang juara melompat terbang dan bertengger diatas pagar paling tinggi yang ada didaerah pertanian tersebut.

Dadanya dibusungkan biar terlihat gagah, nafasnya pun ditarik dalam-dalam dan setelah itu, berteriaklah sang juara dengan kokoknya yang panjang.

"Kukukuruyuk! kukukukuruyuk! sambutlah aku sebagai penguasa baru pertanian ini!" teriaknya mengelegar.      

Namun dengan tidak disangka dan tidak diduga sang juara ada yang menyambarnya, sang elang dengan kuku cakarnya yang kuat dan tajam telah membawanya terbang tinggi kelangit.

Semua gerak-gerik ayam yang sedang berkelahi itu telah diawasi semenjak dari tadi oleh sang elang yang kelaparan, dan kesempatan emas telah datang dengan sendirinya.

lemari asam murah adv. - Saat sang juara, ayam yang sombong berada diatas pagar yang paling tinggi, dengan mudah sang elang menyambar makanan empuk itu. Dan membawa sang ayam jago sombong dari tempat itu terbang menuju sarangnya ditempatnya nan jauh disana.

Sang ayam yang kalah itulah yang akhirnya menjadi pemimpin ayam di daerah pertanian tersebut.

Jagalah sikapmu jangan sampai congkak apalagi saat kita sedang berjaya jaganlah bertingkah sombong, kesombongan hanya akan balik menyerang kita dan akan menjadi bumerang. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Bapak Tani Dan Sang Bangau - Dongeng Yunani

Courtesy of awalnya.blogspot.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala dikampung sebuah pertanian menjelang awal musim hujan. Awal musim hujan disambut dengan gembira oleh seluruh penduduk desa. Pertanian yang mereka usahakan adalah menanam benih jagung, mereka sudah mempersiapkan benih sebelumnya. Lahan telah disiapkan untuk ditanami bibit, dan bibit pun sudah siap di tabur dilahan pertanian tersebut. Namun tidak jauh dari lahan pertanian tersebut burung-burung bangau telah siap menanti bapak tani lengah untuk mencuri bibit yang telah ditabur tersebut.

Bapak tani dibuat pusing oleh ulah yang dilakukan para burung-burung bangau pencuri benih jagung. Maka para petani pun mengejar-mengejar burung itu sambil membawa batang kayu. Diacung-acungkan batang kayu sambil mengejarnya, sang bangau pun berlari ketakutan terbang dari tempat tersebut jauh kepadang rumput di pinggir hutan. Begitulah sang bapak petani kalau mengusir rombongan bangau pencuri diladang pertanian mereka.

Namun itu semua tidak membuat jera atau takut sang burung bangau, sebab mereka semua lapar dan membuat sang bangau menjadi nekad dan berani mendekat ketika sang bapak tani lagi lengah menjaga ladangnya. Mereka hanya berputar disekitar daerah tersebut tatkala sang bapak tani mengejar mereka dan sang bangau akan balik kembali sesaat kemudian.

"Bapak petani tidak bisa berlari cepat untuk menangkap kita, yang membuat takut kita hanyalah teriakkannya saja."

"Kayu yang ada ditangannya tidak bisa melukai kita!" berkata sang bangau kepada temannya.

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ adv. - Rombongan bangau semakin berani saja mencuri benih jagung diladang pertanian, mereka sudah tidak takut lagi oleh bapak tani. Dan bapak petani dibikin repot oleh tingkah laku gerombolan bangau yang merajalela tersebut. Maka bapak petani tidak kehilangan akal, dibuatnya katapel untuk menembak sang burung bangau dari jarak jauh.

Dikumpulkan sebanyak-banyaknya batu sebesar kelereng sebagai peluru untuk katapelnya, dan mereka membidik sasaran dengan tepat mengenainya. Desiran peluru batu sebesar kelereng membuat jatuh sang burung bangau, mereka merasa sangat kesakitan sekali.

"Rasakanlah pembalasanku, hai sang burung bangau yang nakal!" sambil membidik sang burung bangau dari jarak tembak yang cukup jauh.

Mendesir terlontar peluru batu dari katapel bapak petani dan seketika sang burung bangau terkapar terkena tembakkan. Mereka jerih berada dekat ladang pertanian jagung bapak petani dikampung desa tersebut.

Mungkin teguran atau nasehat tidak akan membuatnya berubah, maka tidak salah kalau kita melakukan sedikit tamparan sebagai nasehat lainnya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Nelayan - Dongeng Yunani

Courtesy of www.hatikupercaya.com
dongeng anak dunia - Sang neyalan sedang sibuk menyiapkan peralatan yang mau dibawa untuk menangkap ikan disungai hari ini.

Namun tidak seperti biasanya sang nelayan ini selain membawa pancingan, dia pun membawa jala yang sangat besar dan yang lebih mengherankan lagi sang nelayan membawa sebuah alat musik tabuh rebana. Apa yang akan diperbuatnya dengan jaring besar dan rebana tersebut.

Sampailah sang nelayan disungai yang akan dijadikan tempat menangkap ikan, lalu dia pun memilih tempat yang menurutnya cocok dan ikannya banyak. Tepian lubuk sungailah bagian paling terdalam dari sungai itu, dimana pasti sang ikan akan berada banyak sekali didalamnya. Itulah yang terlintas dalam pikiran sang nelayan.

Setelah sampai ditempat yang dituju sang nelayan merapihkan tempatnya untuk duduk ditepi sungai dan langsung rebananya ditabuh dimainkan sambil bernyanyikan lagu-lagu merdu.

Ketipak ketipung ketipak ketipuuuung......ketipak ketipung ketipak ketipuuuung......pak pak pak pak suara rebana bertalu-talu berirama menurut tepukkan tangan sang nelayan. Dan tidak lupa beberapa senandung telah dia nyanyikan dengan suara yang cukup lumayan merdu.

"Aku kan mencoba menarik perhatian ikan-ikan dengan irama rebana yang kutabuh dan suara nyanyianku ini!" katanya dalam
hati sang nelayan.
 
Nyanyian merdu sang nelayan terus diperdengarkan dengan tangannya yang terus tidak berhenti-henti menatuh rebana. Namun apa yang diharapkan sang nelayan tidak menjadi kenyataan, sang ikan yang berada didasar sungai tidak muncul ke permukaan sungai untuk menari.

Lalu sang nelayan pun melemparkan jaring besarnya yang hampir menutupi lubuk sungai tersebut dan diangkatlah pelan-pelan jala tersebut.

Ikan sangat banyak sekali didalam jaring besar itu ikan yang beraneka jenis dan dengan ukuran yang terkecil hingga yang paling besar, hati sang nelayan sangat puas sekali melihat hasil tangkapan tersebut.

Namun jaring besar itu tidak diangkatnya kedarat untuk diambil ikan-ikannya, tetapi sengaja jaring itu diikatkan pada pepohonan yang ada ditepian sungai.

virtual office jakarta selatan adv. - Kemudian sang nelayan kembali duduk dan menabuh rebana sambil bernyanyi kembali, aneh bin ajaib semua ikan yang ada didalam jaring berloncat-loncatan menari mengikuti hentakkan rebana dan merdunya suara sang nelayan.

"Nah! begitu, mengapa tidak dari tadi kalian pada menari, hai sang ikan!" sang nelyan berseru girang.

"Tentu saja kami baru menari sekarang, sebab tadi kami masih bebas dialam sana, namun sekarang kami telah dibawah pengawasanmu kami tidak bebas." sahut sang ikan yang sudah berumur tua dan berbadan sangat besar sekali.

Kemauan seorang bos adalah perintah dan kita harus menuruti perintahnya apa adanya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Sang Penebang Kayu Dan Sang Pemburu - Dongeng Yunani

Courtesy of gadis2sma.blogspot.com
dongeng anak dunia - Pada zaman dahulu kala terdapat sebuah desa terpencil yang letaknya tidak jauh dari sebuah hutan yang lebat dan sangat luas. Karena desa tersebut berada dekat pinggiran hutan sehingga banyak binatang pemangsa buas seperti singa yang sangat ditakuti masuk kekampung tersebut untuk mencuri ternak penduduk.

Desa yang dahulu begitu tentram kini dikejutkan dengan kehadiran seekor singa buas kelaparan yang merajalela dikampung. Telah banyak ternak penduduk desa yang dimangsa sang singa kelaparan, sapi, domba, biri-biri, kambing, banteng dan masih banyak yang lainnya.

Sang raja hutan singa dengan mudah menelan semua ternak yang dijumpainya dikampung desa tersebut. Demikianlah sang raja hutan singa menjadi momok menakutkan bagi seluruh penduduk kampung.

Tersebutlah didesa tetangga sebelah, tinggal seorang pemburu yang cukup terkenal di kampung itu, namun sang pemburu ini tidak terlalu pemberani. Maka datanglah utusan dari desa yang sedang dirundung musibah merajalelanya sang hutan singa kelaparan, kepada sang pemburu untuk minta pertolongan bantuan.

Utusan dari desa yang meminta bantuan, "Sang pemburu, aku sengaja datang kemari untuk meminta bantuan menangkap seekor singa yang sering masuk kampung dan memakan ternak-ternak kami!"

Sang pemburu menjawab, "baiklah, aku pergi kehutan dan menangkap singa kelaparan itu!"

Sang pemburupun berangkat kehutan namun hatinya tidak merasa nyaman seperti dengan malas-malasan sang pemburu mengemasi senjata berburunya.

Sang pemburu memasuki hutan lebat dimana diperkirakan sang raja hutan singa itu berada, dan tidak terasa dia telah cukup lama berjalan. Terdengar dari kejauhan suara orang yang sedang menebang pohon kayu. Sang pemburu mencari sumber suara tersebut. Ternyata seorang penebang kayu sedang mengayunkan kapak besarnya memhantam sebuah pohon kayu.

"Maaf kawan aku menganggu pekerjaanmu!" teriak sang pemburu dengan sikap yang angkuh dan gagah sekali.

"Apakah akhir-akhir ini kamu suka melihat bekas kaki seekor singa?"

"Bukan saja jejaknya yang aku lihat namun sarangnya aku pun tahu, kamu tunggu saja disini akan aku bawakan singa itu kepadamu!" menjawab penebang kayu.

Mendengar jawaban dari sang penebang kayu, sang pemburu menjadi ketakutan setengah mati. "Oh tidak usah tidak, terima kasih sang penebang kayu, aku hanya mencari jejak sang singa bukan mencari sang singanya!"

Dengan langkah cepat-cepat sang pemburu berlalu dari tempat itu.

Ucapan bukan tolak ukur seseorang itu pemberani, namun keberanian itu diukur oleh perbuatan. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Tuesday, February 16, 2016

Sang Merak dan Burung Bangau - Dongeng Yunani Kuno

Courtesy of fasabbih.blogspot.com
dongeng anak dunia - Pagi nan cerah dengan matahari yang hangat menyinari bumi, embun pagi yang berkilau terpantul diujung daun, pagi yang indah sekali. Dimana ditempat itu terdapat sebuah danau yang cukup luas dengan pemandangan alam yang membentang sungguh mempesona. Terlihat seekor burung merak yang sedang asyik memandangi dirinya yang begitu cantik dengan bulu-bulunya yang begitu cantik. Sang merak yang sangat sombong sedang bercermin di air danau yang airnya sangat jernih. "Oh! oh! betapa indahnya pakaian yang aku miliki, dengan pakaian ini betapa anggunnya aku!" pikirnya dalam hati sang merak.

Dan dihari yang cerah itu burung merak berjumpa dengan burung bangau yang kebetulan lagi mencari minum air danau tersebut. Tidak tendeng aling-aling sang burung merak meledek bangau dengan kata-kata yang tidak perlu dikatakan kepada siapapun.

"Hai bangau lihatlah diriku, kini aku begitu anggun mempesona bagaikan raja dengan mahkota dan pakaianku yang mewah ini. Tidak sepertimu pucat dan lusuh begitu!" cerocosnya dengan bangga kepada dirinya sendiri sang merak itu.

"Memang kamu cantik dan mewah dengan baju kebesaranmu itu, namun kamu hanya bisa bangga dengan pakaianmu saja!, Tidak bisa seperti aku yang bangga dengan bisa terbang tinggi, aku bisa melihat keindahan alam dari atas sana!, tetapi kamu tidak bisa terbang, apa bedanya dengan seekor ayam!" sang bangau pun berlalu dari tempat itu.

Tidak ada gunanya bercakap-cakap dengan binatang yang sombong. Walaupun sang bangau mengakui bahwa memang sang merak adalah burung yang sangat indah dengan bulunya, apalagi dibagian ekornya bagaikan pelangi saja.

Indah dan tidak indahnya itulah hidup, ada yang indah seperti burung merak tetapi tidak bisa terbang, walaupun tidak indah bulu sang bangau tetapi dia burung yang bisa melihat keindahan dari atas sana.

Janganlah mencela satu sama lain, dibalik kelebihan yang lain pasti ada kekurangan yang lain. Penampilan yang bagus atau baik belum tentu orang tersebut baik atau bagus pula. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca juga:
Sang Kodok dan Sang Kelinci - Dongeng Yunani
10 Most Cruel People of the World
Share:

Sang Kodok Dan Sang Kelinci - Dongeng Yunani Kuno

Courtesy of angsateluremas.blogspot.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala disebuah hutan yang terhampar padang rumnput atau padang savana yang indah hiduplah keluarga kelinci. Kelinci adalah menu makanan yang cukup istimewa bagi sebagian pemangsa binatang, sang raja hutan selalu makan daging empuk dari bangsa kelinci. Sang serigala dan sang rubah akan senang hatinya bila mereka makan daging kelinci yang gurih dan lezat menurut pendapat mereka.

Hidup seperti dalam ketakutan yang amat sangat, hidup selalu terancam bahaya yang mengintai setiap saat. Untuk itu sang keluarga kelinci membuat lubang ditanah sebagai tempat tinggal yang aman dari gangguan pemangsa yang garang dan buas. Sepertinya hidup sang kelinci dalam ketakutan semata, tidak pernah ada ketenangan dalam hidupnya, betapa teraniayanya hidup keluarga sang kelinci didunia ini. Sehingga bila ada suara yang mencurigakan yang datang mendekat kelubang rumahnya sang keluarga kelinci akan masuk kelubang persembunyian yang cukup jauh didalam tanah.

Betapa tersiksa hidup sang keluarga kelinci dalam kegelisahan yang mencekam. Begitulah cerita keluarga sang kelinci yang tidak ada ketenangan dalam menjalani kehidupan ini.

Seluruh keluarga sang kelinci sedang makan rumput. Ketika tiba-tiba dari kejauhan terlihat asap debu yang tebal terbang diangkasa, makin lama asap debu itupun makin dekat dengan suara gemuruh yang begitu keras, sang kepala keluarga kelinci memerintahkan seluruh keluarganya untuk berlari kepinggiran hutan yang terdapat sebuah danau yang cukup dalam dan luas.

Sementara dibelakang keluarga kelinci itu ribuan kuda sedang berpacu dibelakang mereka, telat sedikit saja keluarga sang kelinci akan terinjak-injak pacuan kuda dan pasti tidak akan terbayangankan oleh mereka akan hancur lebur menjadi berkeping-keping dan tidak akan berbentuk lagi seperti kelinci.

Didepan mereka telah terbentang danau yang cukup dalam, sang kepala keluarga kelinci tidak memerintahkan untuk berhenti,

"terjunlah kedanau, hidup kita selalu dalam ketakutan, mengapa kita takut untuk mati tengelam!" perintah kepala keluarga sang kelinci.

Namun derap kaki keluarga sang kelinci itu telah mengagetkan belasan ekor kodok yang sedang mencari makan dipinggir danau tersebut. Semua keluarga sang kodok dengan tangkasnya berloncat-loncat kedalam danau dan mereka menyelam semakin jauh, betapa ketakutan sekali mereka kala itu.

Sang kepala keluarga kelinci berhenti dan berkata kepada rombongannya untuk berhenti juga. "Hai! hai! berhenti semuanya!" serunya.

"Lihatlah mereka itu begitu ketakutan sekali kepada rombongan keluarga kita, dengan demikian ada yang lebih menderita lagi dari keluarga kita dalam masalah ketakutan hidup!"

Kita menderita disini tetapi mungkin disana, diluar sana, dimana kita tidak tahu masih ada lagi yang lebih menderita dari pada keluarga kita. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca juga:
Perekrut ISIS Ditangkap di Nigeria Utara
Sang Merak dan Burung Bangau - Dongeng Yunani
Share:

Monday, February 15, 2016

Sang Ayam Dan Permata - Dongeng Yunani

Courtesy of dody94.wordpress.com
dongeng anak dunia - Sang mentari masih enggan menampak dirinya, diufuk timur masih jauh diperaduannya. Kala masih pagi-pagi sekali waktu itu namun bagi yang biasa bangun pagi seperti seekor ayam jantan. Setelah merenggangkan badan sebentar sang ayam jantan itupun berteriak membangunkan seluruh penduduk desa. Kokoknya yang menandakan bahwa malam telah menjelang siang, itulah tugas yang biasa dia lakukan sudah sejak dahulu kala. Seluruh penduduk desa pertanian telah dibangunkan sang ayam jantan.

Sang tuan terbangun dipagi buta yang dingin mencekam. Masih diliputi rasa kantuk, sang bapak tani bangun dia berjalan menuju sumur, dibasuh mukanya dan kantuknya pun hilang. Bergegas sang bapak tani menuju kandang ayam dibukalah palang pintu kandang ayam.

Sang ayam pun tahu tuannya telah membuka pintu itu, pintu terbuka pertanda dimulainya hari untuk mencari makan. Yang pertama keluar adalah induk ayam yang diikuti anak-anaknya yang ribut berbunyi. Meraka pergi berangkat mengais makan didalam tanah yang terhampar didepan rumah pertanian tersebut.

Kok kok sang induk memanggil anak-anak mereka yang ribut dengan suara, "ciap! Ciap! Ciap" mereka berlari diatas tanah dan tumpukan jerami yang masih tersisa dari sisa bulir padi atau cacing tanah yang hidup dibawah tumpukkan jerami basah.

Sang ayam jantan yang keluar belakangan memilih tempat mengais makanan ditempat yang rimbun tempat dimana banyak ayam betina yang tidak mengasuh anak. Sang jantan yang berjalan dengan tegak gagahnya membusungkan dadanya, dialah satu-satunya ayam jantan dewasa yang paling ganteng.

Kokok pejantan yang selalu berwibawa dengan jengernya merah melepat dikepalanya seperti sebuah mahkota, dia berjalan dengan gagah berani.

Ditempat rimbun dibawah pohon pojokkan rumah pertanian itu sang jantan memulai mengais jerami yang menumpuk, terdapat jerami basah dan kering. Sengaja sang jantan memilih tumpukkan jerami yang basah yang sudah berhari-hari ada tempat pojokkan rumah itu. Cacing tanah adalah protein yang bermanfaat untuk gizi sang sang pejantan yang perkasa ini, dia pun telah mendapatkannya. Maka seterusnya sang jantan berpindah tempat diatas tumpukkan jerami yang kering untuk memuaskan perut dengan bulir padi yang nikmat.

Kaki mulai mengais lagi ditempat itu namun alangkah terkejutnya sang ayam ketika ada sebulir padi yang besar berwarna berkilauan. "Wah wah! bulir padi besar dan berkilau itulah yang aku dapat." Dengan hati yang berbunga dan penuh rasa genbira sang jantan mematuk benda berkilau itu. Ditelan sang bulir padi berkilau itu masuk ketenggorokkan namun selang beberapa detik kemudian sang jantan memuntahkan bulir padi permata itu dan berkata, "berkilau indah nian, tetapi tidak ada rasa enak sedikit pun, buat apa!" gumannya. Walau tidak berkilau namun sebulir padi aku akan cukup puas untuk memakannya."

Sang ayam hanya memerlukan sebutir padi dari pada permata yang mahal nilainya, sebab sang ayam jantan tidak tahu untuk apa permata mahal tersebut.
Sekian.
   
Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca juga:
- Rusa Jantan dan Pemburu Berkuda - Dongeng Yunani
Eugenics, Hitler's dream in Creating the Perfect Race
Share:

Rusa Jantan Dan Pemburu Berkuda - Dongeng Yunani Kuno

Courtesy of fasabbih.blogspot.com
dongeng anak dunia - Dahulu kala dizaman semua binatang masih bisa bicara. Disuatu hutan yang masih banyak terdapat padang rumput yang hijau membentang. Hiduplah bermacan-macam binatang yang saling berdampingan satu sama lain. Maka tempat itu bila kita lihat dari kejauhan dan dari ketinggian puncak gunung akan terlihat seperti sebuah hamparan hijau yang menyejukkan mata yang memandangnya.

Namun apa yang terjadi dengan seekor kuda dan seekor rusa jantan dibawah sana, ternyata mereka sedang bertengkar hebat. Pertengkaran yang tidak ada yang mau mengalah, mereka saling ejek, mereka saling memaki, mereka saling memfitnah dan pada akhirnya mereka berhenti bertengkar karena kacapaian, tidak ada yang mau mengalah. Mereka berpisah ketempat kelompoknya mereka masing-masing.

Namun sang kuda yang pedendam membawa sakit hatinya pada dendam yang membakar jiwa raganya, sang kuda kini sakit hati.

"Akan kubalaskan sakit hati ini, tunggu saja waktunya!" berkata sang kuda dalam hatinya.

Sang kuda pergi berlalu tetapi bukan untuk pulang kekelompoknya melainkan pergi mencari pemburu yang biasanya berada di pinggiran hutan tersebut.

Usahanya mencari sang pemburu pun berhasil ditemui sang kuda, walaupun sangat bersusah payah dalam mencarinya. Setelah sampai dihadapan sang pemburu, sang kuda pun menyampaikan maksud kedatangannya, "aku sangat sakit hati dengan sang rusa jantan yang telah memaki-makiku, juga telah menghinaku! Maksud kedatanganku kemari hanya ingin meminta bantuan darimu!" sang kuda bertutur.

"Tentu saja aku akan membantumu, sang kuda," jawab sang pemburu. "Namun kamu juga harus menuruti, yang akan aku lakukan terhadap kamu!"

"Apakah itu, hai sang pemburu?" sang kuda bertanya.

"Aku harus bersamamu setiap saat, maka untuk itu aku akan memasang sadel tempat duduk diatas punggungmu!, kemudian Aku akan menyimpan besi ini dikedua rahangmu, sehingga aku dengan mudah bisa mengendalikanmu dari atas punggungmu. Itulah syarat yang harus kamu patuhi,"" kata sang pemburu.

"Asalkan semua dendam sakit hatiku terbalaskan aku akan suka rela membawamu dipundakku setiap saat" jawab sang kuda.

Maka alat-alat itu kemudian dipasang ditubuh sang kuda, kemudian sang pemburu naik diatas pungungnya terlihat sangat gagah sekali sang pemburu ketika itu.

Mereka berdua berangkat mencari sang rusa jantan untuk membalas dendam sang kuda yang sakit hatinya. Waktu berganti sang pemburu yang berada diatas punggung kuda akhirnya menemukan sang rusa jantan dan dapat dilumpuhkan dengan panahnya sang pemburu, selesailah dendam sang kuda kini telah terbalaskan.

"Baiklah sang pemburu kamu boleh turun dari pungungku!" berseru sang kuda kepada sang pemburu.

"Jangan lupa kamu juga harus melepaskan barang yang ada dimulut dan dipungungku!" sang kuda menyambung pembicaraanya.

"Tentu-tentu aku akan melepaskan semua ini, namun tidak sekarang!" sang pemburu menjawabnya dengan tenang.

"Mungkin nanti, ketika aku sudah tidak membutuhkanmu lagi sang kuda, entah kapan itu waktunya!" jawabnya.

Ketika kita membutuhan orang lain, orang lain pun akan mengikat kita dengan kebutuhannya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca juga:
- Jenderal Iran Terbunuh Oleh ISIS Di Suriah

- Sang Ayam dan Permata - Dongeng Yunani
Share:

Bocah Nakal dan Lelaki Bodoh - Dongeng Yunani

Courtesy of www.dreamstime.com
dongeng anak dunia - Terik matahari hari itu sungguh sangat panas sekali, musim kering yang sangat menyiksa dan sang angin jarang bertiup dimusim itu.

Pucuk-pucuk pohon dihutan seperti kaku saja tidak bergoyang sama sekali, sang angin sedang malas untuk bercanda dengan sang daun-daun pepohonan. Sepi sunyi hutan tanpa ada berisiknya sang burung yang sedang bernyanyi riang, bahkan sang burung telah berlindung di balik pohon-pohon rindang. Dan binatang hutan lainnya hanya berlindung di lubang masing-masing.

Adalah yang berlari-lari kecil di jalan setapak di pinggir ladang dekat hutan yang sunyi karena semua binatang bersembunyi dari panas terik matahari. Ternyata dia seorang bocah laki-laki kecil. Dari jalan setapak itu sang bocah terus berlari dan berbelok menuju pinggiran hutan. Di bawah rindang pohan-pohon hutan sang bocah masih terus berjalan menembus tengah hutan.

Maka sang bocah itu pun sampailah di tempat terbuka di pinggir sebuah sungai yang cukup besar dengan air jernih serta sejuk.

Tempat itulah sebenarnya yang menjadi tujuan dari sang bocah lelaki kecil ini.

Tanpa membuang waktu lagi sang bocah langsung terjun kedalam air sungai, badan yang tadinya panas dan gerah kini sudah segar kembali.

Karena asyiknya berenang, sang bocah tidak sadar telah sampai di tempat yang dalam dan cukup jauh dari pinggiran sungai.

Kakinya mengalami kram atau kebas serta tangannya kecapaian melawan arus sungai yang cukup kuat, sang bocah lelaki kecil ini hampir tenggelam di sungai itu.

Sang anak kecil itu berteriak-teriak minta pertolongan. Hatinya sangat ciut sekali sebab dia tahu sendiri jarang ada orang lewat di sungai yang berada di pinggir hutan ini. "Celakalah aku kini," demikian batinnya berkata.

Namun sang bocah tetap berusaha minta pertolongan dengan teriakkan-teriakkannya.
   
"Tolonglah! Tolonglah! Tolong! Tolong! Siapa pun yang lewat di pinggir sungai ini, tolong! Tolonglah!" Begitulah teriakkan sang bocah lelaki yang mau tenggelam hampir mati di sungai pinggir hutan.

Kebetulan sekali tidak jauh dari tempat kejadian tersebut seorang lelaki dewasa sedang berjalan-jalan dan mendengar teriak sang anak.

Lelaki dewasa tersebut mencari sumber suara dari orang yang minta pertolongan, dan akhirnya dia melihat sang bocah yang sudah lemas mau tenggelam sedang berteriak-teriak meminta pertolongan.

"Dasar anak bandel dan tidak berhati-hati, kamu berenang begitu jauh dari pinggir sungai!" Berteriak sang lelaki dewasa ini dari pinggir sungai.

"Harusnya kamu tahu sungai ini begitu dalam dan arusnya sangat kuat, bocah macam apa kamu ini?!" Lanjutnya memarahi sang anak yang mau tenggelam itu, masih berdiri dari pinggir sungai.

"Bapak tolong selamatkan aku dulu, setelah itu bapak boleh memaki atau memukulku samapai puas!" Teriak sang bocah.

Namun si lelaki dewasa ini terus saja memarahi bocah nakal hingga si bocah nakal ini pun akhirnya lenyap di telan air sungai. Sang lelaki dewasa terkaget dan menyesal, namun penyesalan di akhir tidak ada gunanya. Akhirnya dia sadari bila dirinya hanyalah seorang lelaki yang bodoh saja.

Intisari dari cerita ini adalah, jadilah anak yang baik dan jangan gegabah dan juga ingatlah bila bicara saja tidak akan bisa menyelamatkan orang.

Salam,
oleh: mamang
edit: n3m0
Advertising - Baca juga:
- Sang Banteng dan Kambing - Dongeng Inggris

- Sexopedia Series: Learned Sex Role Differences
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...