Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Thursday, March 31, 2016

Legenda Danau Toba - Dongeng Indonesia

Courtesy of bawanatravel.com
dongeng anak dunia - Danau Toba, siapa yang tidak kenal dengan danau satu ini yang mempunyai panorama alam yang begitu mempesona siapa pun yang melihatnya.

Terbentuk ribuan atau ratusan tahun yang lalu dari letusan sebuah gunung berapi kala itu, dan sekarang menjadi okbjek wisata yang sangat terkenal di Sumatera Utara serta merupakan danau terbesar di seluruh Asia Tenggara.

Danau Toba menurut cerita legenda rakyat setempat, merupakan suatu cerita yang menarik manakala terbentuknya dari dongeng cerita rakyat berikut ini.

Tersebutlah seorang petani muda yang begitu rajin dalam bekerja walaupun hidup sendirian. Ladang adalah tempat sang petani muda ini bekerja dan setiap hari dia akan datang ke ladangnya mengolah tanah supaya subur dan baik untuk hasil tanaman yang melimpah ruah.

Berbekal ketekunan dan kerajinan dalam mengarak ladangnya, dia dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya dengan tenang dan tatkala diwaktu senggang dari berladang, dia akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan sebagai lauk teman nasi untuk makannya.

Seperti hari dia sudah siap dengan kail dan umpan serta tempat ikan yang terbuat dari bambu yang dianyam rapih supaya ikan tidak loncat dari tempat tersebut dan tetap hidup mana kala ikan sudah didapat, sebab wadah ikan tersebut akan berada di air selama dia masih memancing ikan.

Sampai dia di pinggir kali yang dimaksud dan dengan cepat dia pun memilih tempat yang terlindung dari sengatan sinar matahari siang dan tempatnya enak serta diperkirakan terdapat banyak ikan didalamnya.

Kail pun sudah terlempar di tengah sungai yang dalam tetapi airnya tenang dan dia lalu berdoa dalam bisiknya, "Ya Tuhan, berikanlah hari ini tangkapan ikan yang besar."

Dan memang Tuhan maha pemurah, tiba-tiba kail itupun bergetar dan bergoyang-goyang tanda ada ikan yang makan umpannya di bawah sungai sana.

Dengan cepat kailpun diangkatnya, tampak satu ekor ikan yang cukup besar dan ikan tersebut terlihat begitu manis, cantik dan lucu, sang ikan pun dengan cepat dimasukkan kedalam wadah tempat ikan yang telah diikat dipingiran tepi sungai.

Karena ikan yang dia dapatkan cukup besar sang petani muda ini pun bermaksud pulang saja dari tempat mancing sungai tersebut ke rumahnya.

Sampailah di rumah dan seterusnya sang ikan yang didapat dari hasil memancing segera disimpan dalam suatu wadah tempat bak yang berisi air yang sengaja dibuatnya khusus tempat wadah ikan, tatkala dia mendapatkan ikan dari hasil memancingnya.

Nasi dan sayur untuk makan siang telah siap di meja makan siang itu tinggal memotong ikan besar sebagai lauk menu makan siang hari itu. Namun ketika dia akan membunuh ikan tersebut, timbul rasa kasihan dan sayang terhadap ikan lucu tersebut.

Sehingga niat untuk memotong ikan tersebut dibatalkan, "ikan yang lucu dan manis ini akan aku biarkan hidup saja dalam bak tersebut" pikirnya dalam hati.

Seperti hari biasanya disiang hari itu pun dia telah pergi ke sungai untuk mencari ikan, namun sampai sore hari dia memancing tidak satu ikan pun berhasil ditangkap dan mau memakan umpannya.

Perut sudah terasa lapar sekali sore itu, dia pun segera membereskan peralatan pancingnya dan segera pulang ke rumahnya untuk memasak nasi dan sayuran yang telah tersedia sebelumnya di rumah.

Namun apa yang terjadi, didalam rumahnya dijumpai seorang gadis cantik yang menyambut kedatangan pulangnya, tentu saja dia bertanya dengan heran sekali.

"Hai siapa engkau gadis cantik?" Bertanya sang petani muda tersebut.

"Saya adalah ikan yang engkau tangkap kemarin siang," jawabnya dengan nada bicara yang lembah lembut.

Petani muda itupun langsung melihat bak yang berisi air tempat dia menaruh ikan, benar saja di dalam bak sudah tidak terdapat lagi ikan yang kemarin dia dapat dari memancing di sungai.

"Kamu kemarin tidak memasakku dan memotongku, tentu saja saya akan sangat berterima kasih dan akan membalas kebaikkanmu itu," katanya.

"Kamu tahu saya yang hidup sendiri dan tidak mempunyai keluarga, seandainya kamu mau jadi istri saya, saya akan sangat berterima kasih sekali," berkata sang petani muda sambil matanya terus memandang wajah cantik gadis yang berada di depannya.

Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sang gadis penjelmaan sang ikan yang kemarin didapatnya dari hasil memancing di sungai.

"Saya terima ajakkan untuk menikah darimu, namun kamu harus berjanji dan jangan lupa dengan janjimu untuk tidak bercerita kepada siapa pun asal muasal saya terutama kepada anak kita, jika nanti setelah menikah kita mempunyai keturunan atau anak."

"Sebab kalau kamu bercerita siapa saya dan dari mana saya berasal, akan terjadi malapetaka besar yang akan menimpahmu."

"Aku berjanji apapun itu aku akan tetap merahasiakan siapa dirimu sebenarnya," katanya mantap sekali.

Maka menikahlah mereka kini menjadi pasangan yang sangat bahagia sekali, sang istri yang cantik dan pintar memasak akan selalu memanjakan sang suami dengan makanan yang lezat-lezat.

Begitupun sang suami petani muda ini, sangat sayang sekali kepada sang istri yang jika ada uang lebih yang didapatnya dari hasil menjual hasil ladangnya, dia akan selalu membelikan baju dan perhiasan yang dijual di pasar tempat dia menjual hasil panennya.

Sang istri yang berwajah cantik akan lebih jelita lagi dibalut baju-baju baru yang dibelikan sang suami tercinta, dan akhrinya sang buah hatipun terlahir sudah, seorang anak lelaki dan diberi nama Samo.

Hari-hari berganti dengan cepat sekali kini Samo telah besar pula, namun dia terlalu nakal untuk ukuran anak seusianya.

Tidak pernah dia membantu pekerjaan orang tua dan kalau disuruh dia tidak pernah mau, kalau pun mau dia harus diupahi terlebih dahulu baru dia berangkat pergi.

Tetapi sang Ibunda Samo tetap saja sangat sayang terhadap anak semata wayangnya yang diurus dari kecil hingga kini sudah besar, demikian Samo menjadi lebih nakal lagi karena merasa sang Ibunda tetap sayang walaupun dia berbuat nakal sekalipun.

Hari itu sang Ibunda tidak sempat mengantarkan makanan untuk sang suami di ladang maka dicarinya sang anak Samo untuk mengantar makanan kepada ayahnya.

"Samo anakku tolonglah Ibumu ini untuk mengantar makanan keladang, untuk Ayahmu nak!" sang Ibunda memerintah.

"Baiklah Bu," sang anak membawa bungkusan makanan untuk sang Ayahnya yang berada di ladang sedang bekerja.

Namun baru saja meninggalkan rumahnya di sebuah lapangan tempat bermain, sang anak bertemu teman-teman mainnya dan dia pun ikut bermain bersama mereka, karena asyik bermain Samo pun lupa untuk mengantarkan makanan tersebut ke ladang.

Sementara di ladang sang Ayahnya hanya bisa menunggu saja makanan tidak kunjung datang sampai hari telah menjelang sore untuk pulang ke rumah.

Sang anak belum menampakkan batang hidungnya, dia pun tahu yang akan mengantar makanan hari itu adalah anaknya karena sang istri telah memberi tahukan pesannya, sebelum berangkat ke ladang tadi pagi.

Hatinya sangat kesal sekali terhadap sang anak yang begitu nakal susah untuk diajari bersikap benar dan tidak mau sama sekali membantu pekerjaan orang tuanya, kerjanya hanya main saja dari hari ke hari.

Dengan hati yang sedikit dongkol, dia akhirnya membereskan peralatan kerja dan memang hari pun telah sore hari waktunya untuk pulang.

Dan ditengah perjalanan pulang dia bertemu dengan sang anak yang sedang asyik bermain walaupun hari telah sore kala itu, Samo masih saja bermain.

"Samo, mengapa kamu tidak mengantarkan makananku ke ladang?" tanya sang Ayah.

"Maaf Ayah, saya tadi lupa karena bermain dulu dengan teman-teman dan saya lapar akhirnya saya memakannya bersama-sama mereka," Samo menjawab pertanyaan sang Ayah.

"Samo! Samo! Mengapa kamu nakal sekali, mulai hari ini kamu tidak usah pulang ke rumah lagi, Ayah sudah tidak tahan lagi melihat kamu yang berkelakuan sangat susah diatur, dasar kamu anak ikan yang nakal, nakal!" teriak sang Ayah penuh emosi.

Dan setelah berteriak anak ikan, langitpun mendengarkan kata-kata tersebut maka langit disekitar itu pun menjadi mendung dan gelap gulita, hujan pun turun serentak dengan lebatnya.

Janji yang telah diikrakan telah dilanggar, diingkari oleh sang petani muda, langit yang menjadi saksi sumpah pun marah seketika itu, hujan tiada henti-henti terus menerus turun terjadi di tempat itu.

Air dengan cepat naik ke permukaan tanah cepat sekali meningginya dan akan menenggelamkan rumah dan pepohonan besar yang ada di desa tersebut.

Sang Ibunda Samo yang tahu kejadian akan seperti ini dengan cepat mencari anaknya dan menyuruh sang anak tercinta untuk berlari naik di atas bukit yang ada di tengah-tengah desa yang mereka huni.

Setelah menyelamatkan sang anak, dia pun kini memjelma kembali ke bentuk semula menjadi ikan dan akan menjadi penguni danau yang menguasai tempat tersebut sebagai ikan yang berukuran sangat besar.

Karena amarah dan emosi memuncak, sang petani lupa akan janjinya untuk tidak berbicara mengenai asal-usul sang istri tercinta, namun nasi telah jadi bubur semua telah terjadi, tidak ada sesal yang datang dahulu namun sesal selalu datang kemudian.

Bukit tersebut menjadi nama Samo dan Sir dan sekarang di kenal dengan sebutaan Pulau Samosir. Mengapa di sebut dengan pulau Samosir, karena bukit yang dikelilingi air seakan-akan menyerupai sebuah pulau.

Desa itu pun telah berubah menjadi danau yang tidak mendapatkan rahmat dari langit karena akibat sumpah yang telah di langgar seorang manusia yang dilanda amarah, maka sekarang dikenal dengan sebutan Danau Toba (tanpa rahmat)

Janji adalah sumpah yang harus dipegang teguh oleh siapapun, janganlan pernah mengingkari janji sebab akan mendapatkan bahaya yang akan datang menjemputmu. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Memperbaiki Postur Tubuh dengan Pilates
Hantu India Yang Paling Banyak - Bhoot
Share:

Sang Pak Tani Dan Pohon Rambutan - Dongeng Yunani

Courtesy of tebetebe2013.wordpress.com
dongeng anak dunia - Betapa luasnya kebun itu dan apabila kita masuk kedalamnya terdapat begitu banyak pohon buah yang selalu berbuah pada musimnya masing-masing.

Pohon apel hijau besar kalau berbuah akan bergelayutan dari dahan-dahannya pohon, begitupun buah jeruk buahnya akan kelihatan kuning dan jingga menggoda dengan rasa manis dan asam dilidah.

Pohon jambu air yang merah manis yang keluar dari airnya, serta buah pisang yang berbuah kuning yang legit manis ketika kita mencicipinya.

Nangka yang buahnya hijau kekuningan dan ketika kita belah akan keluar wangi menggoda dengan daging buahnya berwarna kuning empuk yang begitu manis.

Apalagi tatkala musim durian, buah yang sangat wangi harum semerbak sampai seluruh kebun itu merasakan wanginya dan ketika kita menikmati buah durian yang juga disebut rajanya buah yang terkenal sangat enak sekali.

Dan masih banyak lagi pohon-pohon buah lain yang tumbuh di kebun itu, pohon alpukat yang gurih, pohon sawo yang nikmat dan lain sebagai.

Sang pemilik kebun bapak tani sangat sayang sekali terhadap kebun buah dan selalu merawatnya dengan giat dan rajin.

Namun semua juga tidak mulus dan sempurna seperti yang kita bayangkan, masih ada saja yang mengganjal hati sang bapak tani, "apakah itu?."

Sudah bertahun-tahun sang bapak petani menunggu buah yang menjadi uneg-unegnya, ternyata sebuah pohon rambutan yang tumbuh dipojok kebunnya.

Penantian itu terasa sudah lama sekali sampai sang bapak petani tidak sabar lagi menunggu, diambilnya sebuah kapak siap untuk menebas pohon rambutan yang tidak pernah berbuah itu.

Memang benar pohon rambutan itu tidak pernah berbuah atau berbunga untuk menghasilkan buah yang banyak, namun setiap dahannya dipenuhi sarang-sarang burung yang bersarang dipohon tersebut.

Diantaranya tempat bersarang burung pipit, burung kenari dan burung kecil lainnya yang menjadi pohon rambutan sebagai tempat berteduh.

Semua burung yang tinggal diatas pohon rambutan tahu dengan maksud sang bapak petani membawa kapak datang mendekati pohon rambutan dengan serentak mereka menghalang-halangi sang bapak petani sambil berkata, " janganlah bapak tebang pohon ini, sebab kami sekeluarga bersarang didahan pohon yang akan bapak tebas!" teriak burung pipit.

"Kasihanilah bapak! anak-anakku masih kecil dan tinggal bersarang juga disalah-satu dahan pohon tersebut!" seru burung kenari sambil mengiba kepadanya.

Dan burung lain yang sering kali mencari makan dan berteduh diatas pohon itu meminta bapak tani untuk tidak menebang pohon rambutan tersebut.

Namun bapak tani sudah bulat dengan tujuannya, kapak yang ada ditangan kanan telah berayun menghantam pohon rambutan "duak! duak! duak!" tiga hantaman menggoyangkan pohon rambutan yang dihantam kapak tajamnya, sesuatu terciprat jatuh tepat mengenai tangan kanannya yang sedang memegang kapak.

"Cuih! cuih ! tahi burung, kurang ajar sekali," sang bapak petani jijik melihat apa yang menempel di tangannya lengket sekali benda tersebut.

Namun ketika hidungnya dengan penasaran mencium bau benda yang lengket yang menempel ditangan tersebut tidak ada bau tahi yang tercium seperti ada bau harum madu yang tercium hidungnya.

Dan lagi-lagi ada sesuatu yang jatuh, sekarang malah tepat mengenai kepalanya, namun sekarang seperti tetesan hujan namun ketika tangan memegang tetap saja benda tersebut lengket, "apakah ini?" reflek tangannya yang lengket tersebut dijilat lidahnya, ternyata manis sekali benda lengket tersebut, "madu!" mulutnya berseru.

Sang bapak petani berlari balik ke rumahnya membawa wadah untuk menampung madu yang terdapat didalam celah lubang pohon rambutannya.

Niat untuk menebang pun sudah tidak ada lagi dan mulai saat itu sang bapak petani merawat pohon rambutan tersebut dengan sangat rajinnya.

Semua burung yang melihat kejadian itu menjadi sangat senang bapak petani tidak jadi menebang pohon yang menjadi tempat tinggalnya.

Nyanyian pun dimulai saat itu semua burung bersuka ria, "tralala! trilili! cuit-cuit! Cuit-ciut! ciut-ciutt!

Sering kali orang atau seseorang lupa bahwa diatas kepentingan sendiri atau pribadinya masih ada kepentingan orang lain. Sehingga orang itu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri atau kepentingan pribadinya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Interview Kerja, 15 Tips Melakukannya
Cerita Horor Bulgaria - Bayangan di Waktu Natal
Share:

Wednesday, March 30, 2016

Kisah Nama-Nama Pulau Kecil di Kabupaten Mentawai - Dongeng Indonesia

Courtesy of www.bappeda.mentawaikab.go.id
dongeng anak dunia - Provinsi Sumatera Barat mempunyai Kabupaten Kepulauan Mentawai, empat kelompok kepulauan yang paling utama disebut dengan nama kepulau-pulauan sebagai berikut, pulau Pagai Selatan yang berduduk sebagaian besar adalah suku Mentawai, yang kedua adalah pulau Siberut, yang ketiga pulau Sipora dan yang terakhir adalah pulau Pagai Utara.

Dan diantara empat kelompok pulau yang sudah berpenghuni tersebut terdapat pulau kecil-kecil lagi yang belum berpenghuni.

Dan sebagian dari pulau kecil-kecil yang tersebar telah mempunyai nama-nama tersendiri yang diberi nama oleh sekelompok orang-orang yang berkunjung ke pulau kecil-kecil tersebut.

Berikut ini adalah cerita rakyat yang telah melegenda dari masa ke masa di Kepulauan Mentawai.

Zaman dahulu kala suku Mentawai tinggal di suatu perkampungan yang bernama Simatalu, suatu wilayah yang terdapat di daerah Siberut utara pada zaman sekarang ini.

Hidup rukun dan selalu hidup dengan saling menghormatinya satu sama yang lain, hidup penuh damai dan selalu bergotong - royang dalam menyelesaikan segala sesuatu demi kemajuan kampung yang mereka cintai.

Namun hidup di dunia yang Fana ini tidak selalu langgeng, tentu saja ada penyebab yang menjadi masalah dalam segala tingkah laku kehidupan manusia.

Mereka kini dihadapkan kepada satu masalah yang pelit untuk dihadapinya bersama-sama, satu orang yang serakah dan tamak telah menjadi penyebab dalam kehidupan damai kampung tersebut.

Diawali kisah dari seorang lelaki berumur sudah dewasa sedang melangkahkan kakinya dengan maksud mencari kayu bakar ke dalam hutan, zaman dahulu setiap orang menggunakan kayu bakar untuk memasak makanan sehari-hari.

Dan dikumpulkannya ranting-ranting dan dahan-dahan pohon yang sudah kering yang dapat dipakai untuk kayu bakar dengan rajin sekali.

Satu persatu ranting dahan kecil-kecil itu dikumpulkan lalu diikatnya dengan dengan tali bikinan yang sudah dibawanya dari rumah sang lelaki setengah baya tersebut.

Tatkala sedang asyik-asyik bekerja, matanya melihat sebuah pohon Sipeu yang berbuah banyak sekali buahnya namun buah tersebut masih mentah-mentah mungkin besok atau lusa sudah matang dan akan jatuh dari pohonnya.

Maka untuk memilikinya dia membuat lingkaran bulat dibawah pohon tersebut dengan harapan setiap buah yang jatuh didalam lingkaran bulat tersebut adalah menjadi miliknya.

"Besok aku akan datang kembali ke tempat ini untuk mengambil buah Sipeu," bisik lelaki yang sudah berumur cukup tua tersebut dengan harapan buah yang jatuh didalam lingkaran tersebut akan banyak dan besar-besar.

lalu diapun bergegas meninggalkan tempat tersebut sambil membawa satu ikat kayu bakar dipungdapnya untuk dibawa pulang kembali ke rumahnya.

Selang beberapa saat dari sepeninggalkan lelaki tadi, datang lagi seorang lelaki dan melihat lingkaran dibawah pohon Sipeu.

Dia ingin juga membuat lingkaran yang sama dibawah pohon tersebut siapa tahu diapun akan memndapatkan buah dari pohon Sipeu yang berbuah banyak namun belum pada matang tersebut, lalu sang lelaki inipun membuat lingkaran yang ukuran bulat mungkin lebih besar dari bulatan sang lelaki pertama.

"akan aku buat lingkaran bulat juga disamping lingkaran yang sudah ada, dan mudah-mudahan buah yang besar-besar jatuh didalam lingkaran yang aku bikin," dia berharap buah itu jatuh didalam lingkaran karena lingkaran yang dibuatnya lebih besar.

Lalu diapun berlalu dari tempat tersebut untuk pulang lagi kerumahnya di kampung, sama lelaki inipun membawa satu ikat besar kayu bakar untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Dengan cepat haripun telah berganti kembali, fajar telah menyingsing di ufuk timur menerangi Cakrawala pagi nan indah.

"Mengapa bisa terjadi begini! sementara aku adalah penemu pertama buah pohon Sipeu ini dan yang pertama membuat lingkaran," bisiknya sambil matanya melihat buah Sipeu yang berada di lingkaran lain dan buah tersebut lebih besar adanya.

"Akan cepat aku tukarkan buah itu dengan kepunyaanku buah Sipeu yang kecil, sebelum orang itu datang ke tempat ini," bisiknya lagi, sifat asli tamaknya orang tersebut kelihatan kini.

Dengan cepat buah Sipeu kepunyaannya ditukar dengan buah Sipeu yang berada di tempat lain yang jelas-jelas bukan haknya.

Senyumnya tersungging dibibir orang serakah tersebut puaslah kini dia mendapatkan buah yang lebih besar dari hasil yang tidak benar dengan cara menukarkannya diluar sepengetahuan sang empunya, perbuatan demikian sama dengan mencuri saja.

Tak lama kemudian datang pula lelaki yang kedua ketempat tersebut untuk memeriksa hasil yang didapatnya dari lingkaran yang dibuatnya kemarin siang.

Dan diapun tersenyum tatkala matanya dari kejauhan sudah melihat didalam lingkaran yang dibuatnya telah terdapat satu buah Sipeu walaupun buah itu tidak besar alias kecil saja.

Dengan segera sang lelaki itu memungut buah Sipeu kecil di atas tanah dalam lingkaran yang dibuatnya, namun matanya melihat bekas jatuhan buah tersebut tercetak jelas ditanah lebih besar dari buah yang ada ditangannya sekarang.

Batinnya berpikir ada yang tidak beres dengan semua ini, lalu diapun berdiri mencari tempat jatuhan yang ada dilingkaran orang lain tersebut.

Dan ketika dia mencocokkan cetakan ditanah tempat jatuhnya buah tersebut dan jelas sudah orang yang membuat lingkaran terdahulu telah berbuat curang terhadapnya.

Betapa dia telah ditipu oleh perbuatan orang yang serakah terhadap hak miliknya tersebut dan menjadi beban pikirannya, tak terpikir olehnya mengapa orang berani berbuat tindakkan tidak terpuji demikian.

"Akan aku lihat siapa sih orang yang picik tersebut," gumannya berbisik kecil.

Hari esoknya dia telah datang ditempat itu pagi-pagi buta sekali dan segara naik keatas pohon Sipeu tersebut dan mengambil buah yang kira-kira sudah bisa dilihat matang, lalu mengambil satu buah yang kecil dan satu lagi buah yang ukuran besar.

Seperti rencananya, buah yang besar diletakkan di tempat lingkaran yang dia buat sedangkan yang kecilnya di taruh di tempat orang lain.

Setelah selesai diapun mengawasi tempat tersebut, dibalik semak belukar yang ada disekitar tempat itu untuk mengintai siapa orang picik tersebut.

Tak lama berselang dilihatnya seorang lelaki yang umurnya lebih tua dari dia datang di tempat itu dan diapun mengenali orang tersebut sebagai tetangganya satu kampung dengannya.

Benar saja sang tetangga menukarkan buah yang kecil di tempatnya dengan buah yang lebih besar yang ada di tempat bulatan lingkaran lelaki yang sedang mengintai dari balik semak belukar.

Sang lelaki yang sedang berada disemak belukar menjadi berpikir untuk pergi dari kampungnya Simatalu.

Sudah tidak ada lagi pilihan untuk menjaga perpecahan yang akan terjadi bilamana suatu hari dia akan berselisih dengan orang serakah seperti tetangganya tersebut.

"Aku hanya ingin mencari tempat tinggal di daerah baru yang lebih baik dan bertetangga dengan orang baik-baik pula," pikirnya membatin pikirannya.

Hari yang dipilihpun telah datang semua persiapan yang sudah di bawanya sang lelaki muda tersebut akhirnya bertekad untuk pergi meninggalkan kampung Simatalu mencari tempat tinggal menetap yang baru.

Seluruh sanak keluarga telah siap ikut serta dalam pelayaran mencari tempat yang lebih baik dari Simatalu, maka berkembanglah layar perahu pergi mengikuti kemana angin membawanya, tanpa tujuan yang jelas dan pasti.

Kapal layar itu membawa ke suatu tempat dimana di tempat tersebut ada dua muara sungai yang masuk kelaut, rombonganpun turun di tempat itu dan memeriksa cuaca alam yang baru ditemukan.

Namun cuaca daerah tersebut kurang bagus untuk dijadikan tempat tinggal baru keluarganya, rombonganpun berlalu dari tempat itu tetapi sebelum berangkat sang lelaki yang menjadi ketua rombongan memberikan nama tempat itu dengan sebutan Dua Monga dalam bahasa daerah yang berarti dua muara, dan sampai sekarang tempat itu dikenal dengan nama tersebut.

Dalam pelayaran selanjutnya akhirnya rombongan singgah pula di suatu tempat di pulau. Dan sebelum orang-orang dalam rombongan turun, anjing mereka telah mendahului meloncat dari kapal layar.

Cuaca alampun dengan segera diselidiki untuk memastikan tempat itu cukup baik sebagai tempat tinggal rombongan keluarga yang akan diam menetap di pulau itu.

Namun tempat itupun kayanya belum sesuai dengan harapan rombongan yang mencari tempat untuk tinggal di daerah tersebut.

Akhirnya rombongan keluarga itupun melanjutkan kembali pelayarannya dalam rangka mencari tempat tinggal baru yang layak di tempati seluruh keluarganya.

Pulau yang baru mereka temukan itu mereka beri nama Mojojok karena ketika kejadian menemukan pulau tersebut, sang anjing telah lebih dahulu keluar dari kapal layar dan menginjakkan kaki terlebih dahulu di pulau tersebut.
 
Beberapa hari setelah meninggalkan pulau Mojojok, rombongan keluarga besar yang mencari tempat untuk tinggal menetap sampai di suatu daerah.

Dan kejadian yang terjadi tatkala salah satu keluarga perempuan dari rombongan tersebut menjatuhkan gelang yang sedang dipakai seorang perempuan dari tangannya terjatuh kelantai kapal.

Dan pulau tersebut mendapat nama Bele Raksok yang berati gelang jatuh, dan untuk kesekian kalinya tempat itupun kurang cocok dengan cuaca dan lingkungan alam yang ada di sekitarnya.

Rombongan kembali pergi dari pulau Bele Raksok yang baru saja mendapatkan nama untuk pulau tersebut, kembalilah kapal layar memecah ombak dan berada di tengah lautan yang luas selama berhari-hari.

Dan pada hari berikutnya rombongan itupun sampai di daerah Siberut selatan, Ciri khas daerah tersebut terkenal dengan banyaknya Muntei.

Dengan sendirinya rombongan keluarga tersebut menyebut nama pulau tersebut dengan sebutan pulau Muntei.

Segera saja diteliti kembali tempat daerah itu apakah cocok menjadi tempat tinggal anggota keluarganya ternyata masih belum ada kecocokkan dengan tempat ini juga.

Semua anggota rombongan keluarga besar hatinya sudah mulai tidak tenang saja setelah sekian tempat yang mereka kunjungi tetapi belum satupun yang cocok dengan hati semua rombongan yang ikut dalam pengembaraan ini.

"Banyak sudah tempat yang kita singgahi tetapi tidak ada satu tempatpun yang menjadi pilihan kita semua, dan seandainya kita kembali lagi ke pulau Simatalu, kita sudah terlalu jauh berlayar," berkata salah satu anggota rombongan.

"Makanya kita harus cepat menemukan tempat yang bagus dan cocok untuk kita semua menetap, dan menjadikan kampung tersebut kampung yang makmur," berkata lagi orang yang lain dalam rombongan itu.

"Baiklah kita berlayar lagi dan pasti dengan cepat menemukan tempat yang menjadi cita-cita kita semua," berkata lelaki yang dulu paling pertama mengajak mereka semuanya.

Selang beberapa hari perjalanan mereka pun sampai di daerah yang akan menjadi tempat tinggal mereka semua yaitu pulau Tuapejat masih di wilayah Sipora.

Setelah diteliti tempat tersebut memiliki apa yang menjadi cita-cita semua anggota rombongan keluarga besar tersebut.

Iklim di daerah tersebut begitu cocok untuk pertanian dan yang ahli dalam menangkap ikan sebagai nelayan tentu saja sudah tersedia pantai yang kaya raya akan hasil laut yang melimpah ruah.

Mereka mulai membuka hutan-hutan untuk dibangunkan rumah dan lahan ladang pertanian, semua bekerja dengan giat saling bahu membahu untuk kepentingan bersama mereka.

Sampai sekarang Tuapejat menjadi daerah sebuah Desa yang berada di Kecamatan Sipora Utara sekaligus menjadi Ibu Kota dari Kabupaten kepulauan Mentawai.

Dengan demikian sang rombongan yang mencari tempat untuk menetap telah menemukan tempat yang sesuai dengan harapan hatinya dan akhirnya mereka hidup menetap di tempat tersebut.

Semua cerita di atas menuturkan cerita dari kepulauan yang menjadi cerita rakyat sampai saat ini, dan cerita asal muasalnya nama-nama pulau yang terdapat di Kabupeten kepulauan Mentawai.

Bersyukurlah dalam sebuah usaha menerima dengan tangan baik, mau besar atau kecil hasil rejeki yang kita dapatkan, akan mendapatkan ketenangan batin bagi siapapun yang menerimanya. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Tentang Batuk Pilek
Kutuk dari Selingkuhan Penyihir
Share:

Sang Peniup Terompet - Dongeng Yunani

Courtesy of www.bintang.com
dongeng anak dunia - Negeri sedang dilanda perang hebat besar-besaran, seluruh rakyat tak terkecuali semua harus ikut membela tanah kelahirannya untuk ikut maju ke medan pertempuran.

Semua rakyat yang telah beranjak dewasa dan bisa angkat senjata diwajibkan untuk membela negeri tercinta untuk berperang melawan musuh yang akan merebut negeri tercinta ini.

Tak terkecuali semua perempuan pun siap dibelakang membantu perang dengan menyiapkan perbekalan makanan dan persiapan senjata para prajurit, sungguh semua rakyat tergerak hatinya untuk membela dan mempertahankan tanah kelahiran tercinta sampai titik darah penghabisan.

Musuh dan bala tentera pasukan penjajah telah datang di depan pintu gerbang istana kota kerajaan yang siap untuk mengempur kota.

Seluruh prajuritnya telah siap dengan barisannya yang begitu gagah berani kelihatannya, membuat seluruh penduduk kota gentar dibuatnya.

Ganderang, tambur, dan terompet telah berbunyi bergemuruh bising dan bising sekali, memberi semangat kepada pasukan siap tempur musuh yang berbaris di depan lapangan luas didepan pintu gerbang kerajaan.

Demi mempertahankan negeri tercinta, pasukan kerajaan telah keluar dari pintu gerbang kerajaan dan siap tempur membela tanah air tercinta dari tangan para penjajah.

Dalam beberapa ratus puluh meter pasukan telah saling berhadap-hadap siap bertempur, tinggal menunggu komando sang jenderal.

"Tot.....teretetet.....teretetet.....tereretet!" prajurit sang penjajah berteriak buas. Terompet sang musuh berbunyi sangat keras dan nyaring sekali.

"Tot.....teretetet.....teretetet.....teretetet!" prajurit musuh sudah tidak sabar menunggu komando sang jenderal untuk menyerbu, semakin ganas saja teriak-teriakkan yang keluar dari mulut para prajurit yang panas terbakar semangat.

"Tot.....tereretetet......tereretetet.....tereretetet!" Serang! serang!!! pasukan prajurit musuh berlari kencang siap dengan senjata terhunus tajam siap menebas leher sang lawan yang paling dekat posisinya dengan dirinya.

Gemuruh sorak-sorai diiringi teriakkan-teriakkan bunyi tambur genderang dan suara terompet yang memekakkan telinga, membuat orang yang tidak bernyali besar akan terkencing-kencing dibuatnya.

Namun lain halnya dengan semua pasukan perang ini, mereka adalah pemberani-pemberani yang sudah siap gugur di medan perang sebagai pahlawan yang dikenang bagi negerinya.

Dengan gagah berani pula seluruh pasukan kota kerajaan berlari menyongsong musuh bagaikan banteng mengamuk. Untuk sementara pasukan penjajah bisa memukul mundur pasukan kerajaan sampai batas pintu gerbang kerajaan.

Dan setelah bala bantuan didatangkan lagi, sekarang giliran sang musuh penjajah yang kewalahan menghadapi pukulan tenaga baru dari pasukan bantuan yang masih segar dengan tenaga baru.

Kocar-kacir berhamburan pasukan penjajah kabur berlarian, sorak sorai gemuruh kemenangan terdengar dari pasukan kota kerajaan menyambut kemenangan perang yang begitu gemilang. Berkat bersatunya seluruh rakyat, pertahanan menjadi kokoh dan kekuatan maha dahsyat telah mengusir habis para penjajah dari tanah kota kerajaan.

Seluruh rakyat berkeliling meneliti korban yang jatuh bergelimpangan darah, satu persatu mereka memeriksa pasukan musuh atau pasukan sendiri yang telah gugur dimedan perang.

"Sepertinya tadi aku melihat mayat itu bergerak? dan benar saja orang itu masih hidup dia pura-pura saja mati."

Ternyata orang tersebut adalah sang peniup terompet yang terjebak dan terinjak-rinjak tatkala akan melarikan diri.

"Ampunilah aku, jangan kalian membunuhku, aku hanya seorang peniup terompet tidak pernah bawa senjata dan membunuh siapa pun yang menjadi musuhku!" pintanya sambil menangis seperti anak kecil.

"Hai kawan-kawan lihatlah aku menemukan seorang musuh yang masih hidup dan tugasnya meniup terompet!" teriaknya memanggil kawan-kawan yang juga lagi sibuk memeriksa mayat-mayat yang bergelimpangan.

Mendengar sang kawan menemukan musuh yang masih hidup dengan cepat mereka mengerubuni sang musuh peniup terompet.

"Oh ini orangnya sang peniup terompet itu? kita semua tahu bahwa tugas kamu adalah pemberi semangat, orang-orang akan selalu terpengaruh tatkala kamu meniup terus terompetmu."

"kamu tidak pernah membunuh orang tetapi cara kamu mempengaruhi pasukanmu membuat seluruh pasukanmu dengan semangat yang kamu berikan akan terus bertempur dan terus bertempur karena memiliki semangat tempur."

"Untuk itu jangan salahkan kami semua, kalau hukuman berat telah menantimu!" seru rakyat kota kerajaan yang berada ditempat itu.

Sang peniup terompet terdiam saja dia telah maklum dan mengerti sekali sekarang, bahwa memang pekerjaannya hanyalah mempengaruhi orang untuk tetap semangat terus sampai lupa akan segala-galanya.

Tokoh penghasut dalam tindakkan apapun adalah orang yang selalu lebih pintar dan juga biasanya lebih jahat dalam segala tindakkannya, ketimbang tindak-tanduknya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Model Baju Dalam 4 Dekade Terakhir
Kutukan Ditangkal, Pengirim Tewas
Share:

Tuesday, March 29, 2016

Asal Muasal Nama Simalungun - Dongeng Indonesia

Courtesy of icollecta.blogspot.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala di Sumatera Utara terdapat sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tanah Djawo yang terletak di wilayah kampung Nagur.

Suku batak yang bermarga Sinaga yang memimpin kerajaan Tanah Djawo ini selalu berlaku adil dan bijaksana dalam memerintah kerajaannya.

Disamping Raja adil dan sangat mencintai rakyatnya, Raja juga didampingi beberapa hulubalang pilihan yang gagah dan selalu siap sedia untuk mempertahankan tanah kelahiran tercintanya.

Dengan demikian kerajaan Tanah Djawo menjadi negeri yang aman sentosa dan rakyatnya hidup dengan penuh ketenangan dan kesenangan hidup.

Tersebut pula di luar daerah Nagur masih ada dua kerajaan yang hidup dalam kedamaian, yaitu kerajaan Silou yang bermarga Purba Tambak dan yang terakhir adalah kerajaan Raya marga Saragih Garingging, itulah nama-nama kerajaan yang bertetangga dekat, jaraknya sangat dekat dengan kerajaan Tanah Djawo.

Dan masing-masing kedua kerajaan tersebut selalu menjalin hubungan persaudaraan dengan kerajaan Tanah Djawo.

Mereka hidup damai berdampingan dalam kerja sama antar negeri mereka masing-masing terus terjalin dengan harmonis juga baik.

Kerajaan kecil yang subur makmur ini sangat menarik musuh dari luar untuk menguasai dan ingin pula merebut kekayaan yang dimiliki kerajaan serta menjajahnya.

Dan betul saja tersiar kabar bahwa kerajaan Majapahit akan datang menyerang kerajaan Tanah Djawo, dengan demikian sang Raja dengan cepat meminta bala bantuan pasukan kerajaan negeri tetangga untuk bersiap-siap menghalau datangnya serangan mendadak dari pihak luar.

Tentu saja kerajaan Silou Dan kerajaan Raya siap membantu kerajaan Tanah Djawo tersebut sebagai rasa persaudaraan dan kekerabatan yang terjalin erat.

Maka bersatu tiga kerajaan negeri kecil ini untuk menghadapi serangan dari luar yang akan terjadi kapan saja, dan benar saja ketika pasukan kerajaan Majapahit datang menyerangpun mereka semua dapat mengusirnya dari daerah wilayah Nagur.

Begitupun ketika kerajaan Silou diserang pasukan kerajaan dari Aceh, mereka bersatu dan kerajaan acehpun dihalau dan diusir dari kerajaan Silou.

Namun kemenangan demi kemenangan yang mereka raih dapat pula diporak porandakan ketika keadaan yang secara mendadak datang, musuh menyerang dan musuh yang menyerang secara mendadak ini memakai pola acak dalam berperang menggempur kerajaan kecil ini.

Yang pertama mereka serang kerajaan Tanah Djawo yang ketika itu belum siap karena serangan mendadak dan kebetulan musuh telah membaca setrategi kekuatan yang bersatu.

Serangan ribuan pasukan telah menghancurkan kerajaan, semua rakyat dibuat menderita pergi entah kemana membawa diri bersama anak istri tercintanya menyelamatkan diri.

Serangan berikutnya terhadap kerajaan Silou sama setrategi yang mereka terapkan dalam menggempur kerajaan Tanah Djawo, negeri kecil inipun dapat ditaklukan dengan segera, seluruh rakyat menjadi tumbal dalam peperangan yang terjadi dan sebagian dari mereka hidup menderita sekali.

Dan yang terakhir adalah kerajaan Raya yang tidak luput dari serangan yang membabi buta dari pasukan yang tidak dikenal ini, demikian pula rakyat dan seluruh pemimpin negeri lari tungang langang menyelamatkan diri, masing-masing mengungsi ketanah yang lebih aman dari mata musuh yang menjajah negeri tercinta.

Musuh yang mengejar dengan ganasnya selalu membuat semua rakyat yang mengungsi dalam ketakutan dan kesengsaraan hidupnya.

Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain ketika musuh mencium tempat mereka mengungsi, banyak sudah yang mati kelaparan dan sakit dalam pelarian tersebut, inilah korban dari kekejaman zaman perang.

Dan dalam pengungsian itu, satu kelompok orang-orang dari negeri Nagur menemukan tanah subur serta jauh dari jangkauan musuh.

Tanah ini bernama Sahili Misir yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Samosir, Pulau yang terletak di tengah-tengah sebuah danau yang sangat terkenal yaitu Danau Toba kini.

Lama kelamaan kelompok orang-orang dari daerah Nagur yang tinggal di tanah Sahili Milir yang subur tersebut menjadi tempat menetap yang sangat ideal bagi mereka.

Dan dikehidupan tanah baru ini pun, mereka atur dan metata sedemikian rumah dengan dibangunnya tempat tinggal yang layak serta dibukanya hutan untuk dijadikan lahan pertanian yang baik.

Sampai hidup merekapun menjadi merasa kerasan dan betah tinggal di daerah tersebut bertahun-tahun kemudian sampai mempunyai anak cucu yang terlahir dari anak-anak istri mereka.

Jadilah tanah baru ini sebuah perkampungan kecil dengan penduduknya yang setiap tahunnya bertambah saja, dengan faktor alam yang bagus, cocok untuk sebuah perkampungan yang subur makmur.

Namun kecintaan terhadap kampung halaman yang telah melahirkan mereka tetap saja menjadi kerinduan yang mereka rasakan pada saat tertentu.

Dan dalam suatu pertemuan yang membahas tentang hal apa yang perlu mereka bangun untuk kemajuan kampung kecil mereka tercinta, maka tercetuslah pembicaraan dari seseorang diantara mereka yang rindu terhadap kampung halamannya sendiri.

"Apakah diantara kalian ada yang rindu terhadap kampung kita di Nagur?" sesepuh dari tetua kampung angkat bicara dan bertanya kepada peserta musyawarah.

Semua orang yang hadir ditempat itu pastilah rindu terhadap kampung halaman sendiri, namun kebanyakkan dari mereka sudah kerasan tinggal di tanah Sahili Milir tersebut.

"Mengapa banyak dari bapak-bapak yang hadir disini tidak mau ikut pulang ke tanah Nagur, tentunya bapak-bapak rindu terhadap kampung halaman sendiri?" Sang tetua atau sesepuh bertanya kepada semua orang yang hadir di tempat tersebut.

"Kami sekeluarga bukan tidak ingin ikut, namun kami atas nama keluarga mohon maaf sekali karena sudah betah hidup dengan nyaman di tempat ini!"

"Betul Tuan tetua yang kami hormati, kalau masalah rindu kampung halaman jangan ditanya lagi kami semua sangat rindu dan ingin kembali, namun pastinya kami harus memulai lagi hidup dari awal," keluarga yang lain yang tidak ikut pulang kampungpun menjawab.

"Yang penting bagi keluarga kami adalah tidak kurang sandang dan pangan serta hidup nyaman serta segala kebutuhan terpenuhi sudah cukup tuan Tetua yang terhormat!" seru peserta musyawarah lain yang hadir di tempat itu.

"Baiklah untuk semua yang hadir di sini, saya sangat mengerti sekali keinginan dari kalian, dan untuk yang ikut pulang kampung saya mohon untuk segera mempersiapkan diri dari sekarang," Sang Tetua sesepuh yang memimpin rapat memutuskan rapat ditutup dan mereka semua boleh pulang ke rumah masing-masing.

Dan keesokkan harinya bagi yang ikut pulang kampung telah siap dengan segala perbekalan dan persiapan yang akan dibawa dalam perjalanan yang cukup jauh menuju kampung Nagur.

Dari hari ke hari mereka berjalan dengan semangat sekali dengan angan-angan telah sampai di rumah yang dulu mereka tempati sebelum penjajah datang menguasai negeri tercinta ini.

Akhirnya tiba juga rombongan ini di kampung halaman yang kini sangat berbeda sekali, rumah-rumah yang dulu berdiri kini tinggal puing-puing kayu saja yang tertinggal.

Hati orang-orang ini sangat sedih sekali melihat semua itu, bahkan ada sebagian yang menangis tersedu-sedu mengapa tidak, bayangan angan-angan yang tadinya telah sampai lebih dahulu di kampung halaman adalah angan-angan indah tetapi apa yang terjadi kini.

Sambil menangis orang-orang tersebut berkata-kata dengan histeris, "sima-sima nalungun," mereka semua berkata hampir serentak.

Dan kampung Nagur yang sunyi itupun berubah nama menjadi Sima-Sima Nalungun atau daerah yang sunyi dan sepi tidak ada seorang keluargapun kala itu yang tinggal di sana.

Akhirnya nama kampung itupun lama kelamaan berubah menjadi Simalungun, dan nama Simalungun dipakai juga untuk nama sebuah Kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Itulah sekilas tentang asal muasal kata atau nama Simalungun yang terkenal sampai sekarang.

Cermin kehidupan manusia yang hidup di alam nyata ini adalah dinamika yang harus dijalani apapun adanya, berjuanglah semampu yang kalian bisa.

Namun saling membantu dalam segala hal yang positif akan menghasilkan hal yang lebih baik lagi atau persatuan yang erat dan kuat akan menjadi kekuatan yang susah dikalahkan. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Facelift Tanpa Operasi : Untuk Rekan Sekretaris
Suriah Dengan Dukungan Rusia Lanjutkan Serangan Lawan IS
Share:

Sang Keledai dan Sang Perampok - Dongeng Yunani

Cortesy of openclipart.org
dongeng anak dunia - Zaman dahula kala tersebutlah seorang saudagar gandum yang selalu berkeliling membeli gandum ke ladang-ladang bapak petani dan menjualnya ke pasar yang berada di kota raja.

Bapak petani sedang menunggu sang saudagar datang untuk membeli hasil panen raya gandum yang melimpah ruah, tak lama kemudian sang saudagarpun telah datang dengan membawa dua keledai dan dua kantung besar untuk wadahnya.

Dau kantong besar telah terisi bulir gandum dan sudah siap berada diatas pundak keledai, sang saudagarpun segera pergi dari tempat sang bapak petani.

Memang pagi-pagi buta sekali sang saudagar telah dia siapkan seluruh persiapan termasuk memberikan makan dulu dua keledainya sampai persiapan kantong besar yang akan memuat bulir gandum.

Kini dia bersama dua keledai telah berjalan menuju pasar yang terletak di kota besar kerajaan, sang keledai terkenal akan kekuatan tenaganya.

Waktu terus berjalan tidak terasa sang saudagar telah sampai di kota raja dan menjual dagangannya kepada pembeli di pasar besar tersebut, kini satu kantong besar bulir gandum telah berganti menjadi beberapa kantong kecil uang emas.

Dengan segera sang saudagar memasukkan kantong-kantung uang emas tersebut serta menyelipkan kedalam kantong besar yang ada dipunggung sang keledai yang kantong gandumnya telah habis terjual.

"Untuk hari ini cukup sudah aku mendapatkan hasil yang lumayan" pikirnya dalam hati segera saja sang saudagar mengajak pulang dua keledainya. "Hari ini aku berdagang cukup sudah mendapatkan hasil yang lumayan banyak."

Namun sang saudagar tidak tahu dan tidak mengetahui semenjak dia datang dan masuk kedalam pasar beberapa pasang mata penjahat sang perampok terus mengawasinya, mereka terus mengincarnya.

Dengan pongahnya sang keledai sangat bangga sekali sang tuannya telah percaya kepadanya untuk membawa kantong emas.

Ringkikkan sombong terdengar sang kawan yang masih mengakut bulir gandum yang sangat berat, namun dia diam saja tidak bersuara sedikitpun.

"Hai kawan lihatlah aku kini, kamu harus tahu siapa aku sekarang. Sang tuan telah percaya penuh terhadapku untuk membawa kantung-kantung emas ini kepadaku," berkata sambil membusungkan dadanya, sombong sekali dia kini.

Tidak seperti tadi ketika dia membawa satu kantong besar gandum dia menjadi teman perjalanan yang senasib dan sependeritaan tetapi kini, setelah diberi kepercayaan sang tuan dia menjadi keledai yang sangat angkuh sekali.
 
Kota besarpun telah mereka tinggalkan kini mereka bertiga berjalan melewati tempat yang sangat sepi dipersimpangan antara jalan yang masuk kehutan belantara dan perkampung jalan desa.

Tiba-tiba saja dari semak belukar telah keluar beberapa orang dengan menodongkan senjata tajam mengancam mereka.

Secara reflek sang saudagar mengela sang keledai yang membawa kantung-kantung emas untuk kabur meninggalkan tempat tersebut, namun komplotan perampok telah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Segera saja satu jeratan tambang yang sangat kuat telah dipersiapkan sebelumnya, sang keledai pembawa kantong emaspun terjerembab jatuh tetapi sang keledai terus meronta berusaha melepaskan diri.

Sang perampok yang bertugas melumpuhkan sang keledai pembawa kantong emas dengan sigap menghajarnya supaya dia diam dan berhenti meronta, tentu saja sang keledai kepalanya pada benjol-benjol terkena pukulan sang perampok.

Secepat kilat para perampok itupun mengambil kantung-kantung emas yang berada diselipan kantung besar tempat menyimpan gandum.

Setelah berhasil merampas kantung-kantung emas, mereka segera meninggalkan tempat tersebut, sang perampok berhasil menggondol kantung-kantung emas milik sang saudagar.

Setelah sang perampok pergi, sang saudagar segera menghampiri sang keledai yang terjatuh tergeletak dipinggir jalan tadi, dengan cepat dia membantu sang keledai berdiri.

"Betapa sakitnya pukulan-pukulan sang perampok itu, kepalaku pada bengkak-bengkak begini!" serunya menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.

"He-he-he-heh!" sang keledai yang masih membawa gandum menjawab. "Mengapa sang perampok tidak mengambil barang bawaanku saja biar aku tidak berat-berat membawa gandum ini!" he-heh ringkiknya.

Ledekkan halus terlontar dari mulut sang keledai yang masih membawa gandum, tetapi kini sang keledai yang tadi sombong terdiam tertunduk malu oleh sang sahabatnya.

"Seluruh perampok yang ditempat sepi didaerah persimpangan hutan ini terkenal dengan kekejamannya, untunglah kita semua sekarang masih selamat! "Mengenai emas yang diambil perampok itu kita tidak usah berkecil hati memikirkannya masih ada satu kantung besar gandum! kita masih bisa menjualnya nanti," sang saudagar berkata.

Walaupu harta bendanya emas telah diambil komplotan perampok namun sang saudagar adalah orang yang selalu tabah dalam menghadapi setiap masalah, dia tidak menyesali apa yang telah menimpanya, sungguh berjiwa besar sekali.

Jabatan dan pangkat yang tinggi juga mempunyai resiko tanggung jawab yang lebih tinggi lagi dan tentu saja dengan taruhan yang lebih besar untuk mempertahankannya. Janganlah sombong dengan apa yang bukan menjadi milik kita sendiri, sebab suatu waktu semuanya akan kembali kepada pemiliknya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Cara Hidup Sehat, 9 Tips Melakukannya
Erdogan: 5.359 Militan Kurdi Tewas Sejak Juli
Share:

Monday, March 28, 2016

Legenda Sangkuriang - Dongeng Indonesia

Courtesy of www.anneahira.com
dongeng anak dunia - Tersebutlah sorang putri Raja bernama Dayang Sumbi yang berasal dari daerah Jawa Barat. Sang putri mempunyai seorang anak lelaki yang bernama Sangkuriang.

Sangkuriang adalah anak lelaki yang punya kesenangan berburu ke dalam hutan, dan selalu ditemani seekor anjing yang setia kala pergi berburu yang bernama si Tumang.

Tumang adalah anjing titisan sang Dewa, dan juga merupakan Ayahanda dari Sangkuriang, hanya saja sang anak tidak tahu akan semua hal tersebut.

Sang Ibunda sangat merahasiakan masalah ini kepada sang anak Sangkuriang tercinta.

Seperti hari-hari yang biasa, Sangkuriang yang ahli berburu pergi ke hutan untuk berburu hewan apa saja yang di jumpainya.

Dalam perjalanan di hutan itu, Sangkuriang melihat seekor burung yang sedang bertengger di suatu dahan pohon di tengah hutan.

Tanpa berpikir panjang busurpun telah siap dengan anak panah mencari tempat sasaran dan anak panahpun melesat mengenainya.

Sangkuriang sangat girang sekali, lalu perintahpun keluar kepada sang Tumang anjing yang menjadi temannya.

Namun aneh sekali sang Tumang tidak menurut perintah Sangkuriang kali ini, dia diam saja tidak pergi dari tempat duduknya.

Sikap si Tumang tidak biasanya ini membuat Sangkuriang marah besar lalu diusirnya anjing tersebut dan tidak diizinkan pulang lagi ke rumah bersamanya.

Setelah sampai di rumah, Sangkuriang bercerita terhadap sang Ibunda tercinta tentang si Tumang yang telah diusir olehnya.

Namun apa yang terjadi selanjutnya, sang Ibunda pun marah besar kepada Sangkuriang, sang Ibunda Dayang Sumbi mengambil sendok nasi dan dipukullah kepala Sangkuriang.

Dari kejadaian itu Sangkuriangpun marah, lalu pergi meninggalkan Ibunda dan rumahnya untuk berkelana, karena hatinya merasa sangat sedih dan kecewa tarhadap sang Ibunda tercintanya.

Dayang Sumbi merasa sangat menyesali atas perbuatan yang telah menimbulkan sang anak satu-satu telah pergi meninggalkan rumah kini dia hidup seorang diri.

Setiap harinya Dayang Sumbi selalu berdoa untuk bisa dapat bertemu lagi dengan sang anak tercinta Sangkuriang dengan doanya yang sangat tulus sekali.

Doa tulus inilah yang membuat dia selalu awet muda dan cantik selalu walaupun telah berumur, dia terlihat seperti anak gadis saja.

Terlihat seorang pemuda tampan sedang berjalan dengan santainya, sedikit senyuman tersungging dari bibirnya, matanya tajam mengamati tempat yang dilaluinya.

Perasaan menjadi aneh melihat kampung yang dilaluinya, sudah berubah total sekarang semenjak dia pergi meninggalkan kampung tersebut beberapa tahun lalu.

Siapakah dia?, ternyata dia adalah Sangkuriang yang telah lama pergi berkelana mencari pengalaman hidup diluar sana, kini dia rindu kampung halaman tercinta dan merasa kangen terhadap sang Ibunda tercinta.

Rasa senangpun bertambah tatkala ditengah perjalanan ke rumahnya dia bertemu seseorang yang sangat memikat hatinya.

Perempuan cantik yang mempesona dan menawan hatinya tidak lain dari Ibunda tercinta Dayang Sumbi, namun dia tidak mengetahuinya.

Dan dayung pun bersambut, sang Dayang Sumbi pun menerima lamaran sang pemuda yang tampan dan gagah perkasa ini untuk dijadikan istrinya, hari pernikahanpun telah ditentukan.

Pada suatu hari seperti biasanya Sangkuriang yang suka sekali berburu akan pergi ke salah satu hutan yang menjadi tempat tujuan berburunya.

Karena rambutnya yang tidak rapih diapun meminta sang kekasih tercinta untuk merapihkan rambut di kepalanya untuk diikat keatas, yang biasa dilakukan pemuda-pemuda pendekar zaman dahulu kala.

Namun apa yang dilihat dia tatkala Dayang Sumbi melihat luka diatas kepala sang kekasih, diapun bertanya kepada suaminya yang tak lain adalah Sangkuriang mengenai kepalanya.

Ternyata benar dugaannya selama ini tentang sang pemuda yang tampan gagah perkasa ini tidak lain dari anaknya sendiri yang telah pergi dari rumahnya.

Bagaimana mungkin aku menikah dengan anakku sendiri, dicarinya akal agar pernikahan ini tidak terjadi antara aku dan dia.

Dan sepulangnya sang anak dari berburu diceritakannya niat untuk tidak jadi atau membatalkan pernikahan ini, namun Sangkuriang dengan tegas menjawab.

"Mana mungkin kamu adalah Ibundaku, sebab umurmu dan aku kini tidak jauh berbeda!" serunya tegas sekali sedikit marah.

Setelah berhari-hari berpikir akhirnya sang Dayang Sumbi pun menemukan jalan keluar dari masalah ini, dia punya dua syarat yang harus dipenuhi pemuda ini.

"syarat pertama ialah harus membendung sungai Citarum dan juga membuatkan perahu atau sampan untuk dapat menyeberangi sungai tersebut dan semua persyaratan itu harus selesai sebelum Fajar menyingsing di ufuk timur."

Dan yang lebih hebat lagi sang pemuda tampan yang sakti inipun sanggup saja dengan syarat yang diajukan sang pujaan hatinya tersebut.

Setelah waktu yang ditentukan datang, maka Sangkuriang yang memiliki banyak ilmu kesaktiannya telah siap dengan pekerjaannya, diundangnya bala bantuan teman-temannya dari bangsa jin.

Tenaga pikiran telah tercurah dengan sigap membangun sebuah bendungan yang luas dan membuat sampan yang besar untuk sang calon istri yang cantik mempesona hatinya.

Sediki demi sedikit pekerjaan yang dia kerjakan dan dibantu bala bantuan dari bangsa Jin ini telah hampir rampung sudah.

Dayang Sumbi pun menjadi penasaran dengan pekerjaan yang dilakukan Sangkuriang maka dia melihat juga dari kejauhan.

Dan alangkah terkejutnya Dayang Sumbi kala itu, pekerjaan itu seluruhnya hampir selasai dikerjakan Sangkuriang yang sakti.

Karena khawatir tentang semua ini, maka sang Dayang Sumbi mengajak seluruh masyarakat yang menjadi tetangga di lingkugan tempat tinggal untuk menggelar kain sutera yang berwarna merah di ufuk timur sebagai pertanda fajar telah menyising.

Sangkuriang terkejut sekali melihat waktu cahaya merah di ufuk timur sebagai pertanda datang pagi, fajar telah menyising kala itu. Rasa jengkel marah dan lain sebagainya menguasai pikiran Sangkuriang kala waktu itu.

Maka dibendungan air sungai Citarum besar yang telah terisi air dijebolkan pula dan disebelah bawah tempat itu telah terjadi banjir kota yang terendam banjir dahsyat dan kota kini telah tenggelam.

Dan sampan besar atau perahupun ditendangnya dan jauh melayang tertelungkup, perahu itu kini terkenal dengan nama gunung Tangkuban Perahu yang terletak dikawasan daerah Bandung Utara Jawa Barat.

Ukurlah kemampuan kita untuk selalu sesuai dengan yang kita harapkan janganlah memaksakan kehendak kepada siapa saja, apalagi terhadap orang tua kita. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Cara Menenangkan Hati, Tips Melakukannya
Aliansi Islam Bertujuan Mengeringkan Sumber Daya IS
Share:

Sang Pengelana dan Sang Pohon Ek - Dongeng Yunani

Courtesy cyberfrogteam.blogspot.com
dongeng anak dunia - Terlihat dua orang manusia yang sedang mengadakan perjalanan di sebuah padang rumput yang terbentang sangat luas.

Siapakah gerangan mereka berdua itu?, ternyata mereka adalah dua orang pengelana yang sedang melakukan perjalanan.

Terik matahari siang itu begitu menyengat tubuh mereka berdua, peluh bercucuran dari sekujur tubuhnya telah membasahi seluruh bajun mereka bagaikan mandi keringat saja.

Perjalanan dari desa yang telah mereka singgahi sampai sekarang mereka berjalan sudah begitu jauh namun belum juga menjumpai desa berikutnya walaupun jalannya sudah begitu lelah hampir tidak sanggup lagi kaki mereka untuk melangkah.

Tongkat yang mereka pegang untuk membantu berjalan telah terantuk-antuk tanah berumput dan pasir jalan yang mereka lalui.

Berjalan gontai bagaikan seorang kakek-kakek atau nenek-nenek saja, berbungkuk-bungkuk mereka sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan cepat.

Padang rumput yang begitu luas seperti tidak ada ujungnya membentang dari utara ke selatan dari barat ketimur, betapa luasnya alam ini yang terlihat hanyalah hijau sepanjang mata memandang.

Dan terlihat, mereka mencari tempat berteduh untuk istirahat kala itu, pandangan mata mereka sudah nanar kuning tidak mungkin mereka melanjutkan perjalanan dalam kondisi seperti itu.

"Hai kawan lihatlah itu!" seru seseorang kepada teman seperjalanannya. "Di atas bukit kecil itu didepan kita ada sebuah pohon ek yang cukup rimbun!"

"Yah memang itu satu-satunya pohon yang ada disini!" sahut temannya yang satu lagi, memang ditempat yang sangat luas di padang rumput itu hanya ada satu pohon ek yang tumbuh tinggi terletak di atas bukit kecil di depan mereka.

Dengan sisa tenaganya yang ada, mereka berdua berusaha naik keatas bukit kecil tersebut untuk beristirahat di bawah pohon ek tersebut.

Sampailah mereka berdua dan langsung merebahkan diri mereka di bawah pohon ek, angin yang ketika itu berhembus seperti belaian yang membuat tubuh mereka sedikit segar.

Setelah istirahat sebentar merekapun membuka bekal makanan seadanya yang mereka bawah, lumayan perut telah terisi walaupun hanya sekedarnya saja.

Betapa enaknya berbaring di bawah naungan pohon ek yang rimbun dengan kipas dari angin yang berhembus, mata mereka menatap langit biru yang cerah siang di bawah sana pandangan yang membentang luas, pemandangan alam yang sungguh indah luar biasa.

"Hai kawan kamu lihat pohon ek ini!" serunya tiba-tiba.

"Ya, memang kenapa dengan pohon ek ini?" bertanya kawan yang satunya lagi.

"Tidak berbuah, tidak menghasilkan apapun dan tidak berguna, untuk apa pohon ini!" serunya lagi.

"Sehingga orang-orang tidak suka untuk menanam pohon yang satu ini karena tidak bermanfaat sama sekali," katanya kemudian sambil mencibirkan bibirnya.

Sang pohon ek tadinya tidak peduli dengan percakapan mereka dan tidak akan ikut campur dengan urusan mereka berdua namun ketika dirinya di sebut-sebut sang pohon menjadi penasaran.

Apalagi ketika dua orang ini menjelek-jelekkan dirinya langsung saja sang pohon ek membuka mulutnya dan berkata.

"Kalian berdua adalah manusia yang tidak tahu berterima kasih, sudah enak-enak bernaung dalam teduhnya daun-daun rindangku masih saja mengatai aku tidak berguna," bentak sang pohon ek menggema keras sekali suaranya.

Dua orang pengelana melompat dari tidurnya langsung berdiri, mereka sangat kaget bukankepalang mendengar bentakkan tadi dan ternyata yang membentak adalah sang pohon ek tersebut.

Tanpa komando mereka berdua lari terpelanting-pelanting berguling-guling turun dari atas bukit kecil tempat tumbuhnya sang pohon ek.

Terkadang orang akan berterima kasih dengan pemberian langsung yang ada manfaatnya, dari pada dengan pemberian yang tidak terasa atau tidak disadari langsung manfaat, padahal itu sangat-sangat berguna sekali.
Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Sayangi Mata Anda
Suriah Merebut Palmyra dari IS - Video Pertempuran
Share:

Wednesday, March 23, 2016

Sang Jagoan Dari Betawi - Dongeng Indonesia


Courtesy of www.appszoom.com
dongeng anak dunia - Jakarta adalah sebutan sekarang, dulu dikenal dengan nama betawi dan di daerah betawi barat ini terdapat kampung yang namanya rawa belong. Mengapa kampung rawa belong sangat terkenal?, waktu itu karena di kampung tersebut terdapat seorang pendekar yang sudah pasti tidak asing lagi namanya di telinga kita semua, dialah Pitung.

Bang Pitung pendekar yang selalu membela kebenaran dan ketidak adilan, penguasa penjajah zaman itu yang selalu membuat kekejaman yang semena-mena terhadap rakyat gelata yang hidup serba kekurangan di tanahnya air sendiri yang subur dan makmur
.
Masjid lama dan rumah tua yang terdapat di daerah Marunda adalah saksi bisu perjuangan sang pedekar betawi si Pitung yang gagah berani membela tanah air dari tindak kekejaman penguasa Hindia Belanda sang penjajah.

Di daerah rawa belong inilah tinggal sepasang suami istri yang telah di karunia seorang anak lelaki yang tampan dan mempunyai sifat kesatria jantan dan mereka memberi nama anak tersebut dengan nama Pitung.

Sang ayah dan ibu mereka sangat sayang terhadap sang anak semata wayangnya dan mereka mendidik anak tersebut dengan menyekolahkan sang anak di pesantren yang di pimpin guru ngaji terkenal bernama Bapak Haji Naipin.

Pitung tidak saja belajar membaca serta menulis saja, melainkan belajar mengaji juga dan yang paling menjadi hobi sang Pitung adalah tatkala sang guru memberikan pelajaran bela diri silat, dan sang Pitung sangat berbakat sekali dalam belajar Ilmu ini. Namun pelajaran yang lainnya pun Pitung sangat pandai dan pintar serta rajin sekali.

Dan ketika Pitung sedang ada di rumah anak yang rajin dan pandai senang sekali membantu keluarga dalam pekerjaan rumahnya. Setiap pagi hari dia akan pergi ke daerah yang di tumbuhi rumput-rumput hijau untuk mengembala kambing-kambing milik ayahnya tercinta.

Dan ketika sore hari tiba setelah seluruh kambing makan dan perutnya buncit barulah dia pulang membawa kambing-kambing tersebut pulang kembali ke rumahnya.

Keluarga yang sederhana dari kehidupan yang dijalani keluarga si Pitung, sang Babe adalah seorang pemborong ladang yang sengaja datang ke ladang-ladang bapak petani untuk memberi buah-buahan yang belum matang dengan harga yang tidak terlalu tinggi.

Dan buah-buahan yang sudah di petik dan belum matang tersebut lalu di peram dan akan di jual kemudian setelah matang akan dijual dengan harga yang cukup lumayan tinggi.

Itulah pekerjaan yang kerap kali Babe kerjakan tatkala musim buah-buahan.

Hari itu sang pemuda yang baru beranjak besar itu menjual dua ekor kambing peliharaannya ke pasar tanah abang yang cukup jauh jaraknya dari tempat tinggalnya.

"Anakku Pitung, Babe mau nyuruh lo," walaupun merasa tidak enak juga.

"Bantuin Babe lo, jualan kambing yang kite pelihara ke pasar?" sang ayah Pitung menyuruh anak semata wayang menjual kambing-kambing ternaknya.

"Pastilah Babe, Pitung akan bantu," sang anak yang rajin ini siap membantu sang ayah tercinta dengan senang hati.

"Elo pastiin harganye yang bagus ye, jangan mau lo tertipu orang di pasar sana," Sang ayah menasihati sang anak agar berhati-hati dengan harga kambingnya jangan terlalu murah ketika akan di jualnya.

Setelah dapat nasihat dari sang Babe, Pitung pun beranjak pergi dengan dua ekor kambing yang akan di jualnya. Dua kambing yang gemuk dan sehat ini pun dengan cepat sudah laku terjual dengan harga yang cukup lumayan tinggi.

Dengan cepat uang hasil penjualan dua ekor kambing tersebut di masukkan kedalam kantong celana, dan sang Pitung berlalu dari tempat itu untuk pulang ke rumahnya. Tetapi tingkah laku sang Pitung sudah diawasi oleh preman-preman pasar sejak dari tadi ketika masuk kepasar yang sudah siap untuk mengambil uang hasil penjualan kambingnya, dan ketika keluar dari pasar orang-orang tersebut menghampirinya.

"Maaf, lo mau pergi kemana buru-buru sekali?" Bertanya-tanya salah satu dari orang-orang tersebut.

"Ane mau balik pulang kerumah, bang" Pitung menjawab dengan tenang saja.

"Emang lo anak mana?" Bertanya orang yang lainnya sambil mendekat dan tangan dengan cepat merogoh uang yang berada di kantong celana si Pitung, dalam sekejap uang tersebut telah berpindah tangan.

"Ane anak rawa belong, bang! Menjawab kembali dengan sikap tenang sekali.

"Oh, ya sudah pulang sana," Sang preman sudah berhasil mendapatkan uang yang cukup banyak.

Singkat cerita sampailah sang pemunda betawi ini di depan halaman rumah, tatkala tangannya mau mengambil uang yang disimpan dikantong celana untuk di serahkan kepada sang Babe, "Celaka orang-orang di pasar tadi telah mengambil uang dari kantong celanaku," bisiknya.

"Oh ternyata preman-preman itu tadi ngakalin gue," bisiknya kemudian.

"Untung gue belum sampai rumah kalau udeh, malu deh gue," bisiknya terus bicara setengah menggerutu.

Tanpa pikir panjang Pitung balik lagi ketempat dimana tadi dia bertemu para preman itu. "Kebetulan lo, masih pade di sini, cepat kembalikan uang gue!" serunya dengan nada bicara yang sedikit keras Pitung minta uangnya dikembalikan.

Tentu saja preman-preman itu pun pada tertawa terbahak-bahak, mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa saat ini
"Punya nyali juge lo, berani dateng lagi kemari?" kata salah satu dari preman-preman itu.

Dalam hati Pitung orang-orang seperti ini tidak bisa di ajak kompromi, lebih baik tinjuku yang bicara dulu baru mereka mau di ajak bicara.

Ilmu yang selama ini dia pelajari pun akhirnya di gunakan juga untuk menghajar preman-preman pasar yang telah mengambil uangnya. Akhirnya mereka semua pada menyerah sama si Pitung dan uang pun kembali lagi di tangan sang pemuda yang ahli bela diri itu.

Dan kemudian mereka pada mengambil langkah seribu, berlari dari tempat itu, si Pitung hanya diam saja melihat tingkah laku preman yang berwajah seram dan menakutkan.

Namun di antara preman itu ada yang penasaran dengan kehebatan si Pitung dalam ilmu bela dirinya, dia pun akhirnya mencari tahu keberadaan sang anak muda yang gagah tersebut.

Dan akhirnya dia pun bertemu juga dengan sang jagoan muda yang gagah dan tidak kenal takut di rumahnya. Setelah sampai di rumah si Pitung, orang itu yang ternyata bernama Rais mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah anak muda tersebut.

Rais adalah pimpinan dari para preman yang ada di pasar tanah abang, mengajak bergabung dengan si Pitung untuk menjadi copet juga.

Sang pemuda pemberani ini sangat terkejut juga dengan kedatangan bang Rais, dan setelah mendapat ajakkan untuk menjadi copet, Pitung lebih terkejut lagi.

"Maaf bang, ilmu yang ane pelajari bukan untuk di pakai berbuat kejahatan," singkat saja Pitung menjawab. Dan malah Pitung memberi nasihat kapada sang gembong copet itu untuk tidak berbuat jahat lagi, serta mengajak untuk insyaf saja dari dunia kejahatan yang selama ini menjadi mata pencahariannya.

"Dunia yang mereka geluti selama ini sudah menjadi ke ahliannya bagi mereka, bagaimana mereka mau berhenti. Sedangkan untuk mencari pekerjaan lain kala itu tidak mudah apalagi mereka semua tidak ada yang punya keahlian yang lain. Sedangkan mereka semua sudah punya anak dan istri, dari mana mereka bisa mendapatkan uang untuk makan anak istrinya kalau sekarang berhenti menjadi copet," Panjang lebar Bang Rais menerangkan kepada si Pitung.

Pitung sejenak berpikir untuk mencari solusi yang sedang di hadapi bang Rais yang menjadi gembong pencopet tanah abang yang datang ke rumahnya untuk bergabung menjadi copet.

"Bagaimana kalau begini bang! Abang bersama anak buah komplotannya merampok orang-orang kaya-raya yang congkak dan tidak pernah membantu rakyat kite yang kebanyakkan hidupnya dalam kemiskinan."

Dari pertemuan itu akhirnya Pitung bergabung pula dengan komplotan bang Rais dan dia sendiri yang mengatur mangsa yang akan menjadi sasaran untuk di rampok. Yang menjadi sasaran adalah orang kaya yang menjadi lintah darat dan juragan kaya-raya yang hidupnya kikir dan tidak pernah membantu rakyat yang pada waktu itu hidup dalam keadaan miskin, zaman penjajahan Belanda.

Banyak sudah rakyat miskin yang telah di bantu perekonomian dari hasil penjarahan komplotan Pitung dan kawan-kawannya.
Akhirnya sepak terjang Pitung yang meresahkan orang-orang kaya kikir pun tercium oleh Kompeni yang berkuasa kala itu, Pitung pun menjadi sasaran penangkapan.

Namun sepandai-pandai tupai meloncat pasti jatuh juga, dalam aksi yang kesekian kalinya Pitung tertangkap pula.
Akhirnya Pitung di masukkan ke penjara kota. Namun setelah di sel penjara, Pitung dapat meloloskan diri dengan menjebol atap penjara.

Beberapa peluru penjaga penjara berhamburan menghujani badan si Pitung, namun Pitung kebal dan terus saja berlari kabur dari penjara kota tersebut. Jimat yang berada di dalam tubuhnya menjadikan dia tidak mempan di tembus peluru senjata api.

Kini Pitung menjadi buronan nomor satu dari penguasa belanda di Betawi, polisi kala itu terus menyelidiki keberadaan sang Pitung.

Semua keluarga si Pitung menjadi sasaran polisi dalam menyelidik kasus tersebut dan pada akhirnya polisi kembali kepada seorang guru sang pendekar betawi untuk di tanyai kelemahan sang anak muda yang menjadi muridnya.

Karena didesak setiap hari dan dengan terus menerus ditanya juga dengan ancaman, akhirnya sang guru Pitung Bapak Haji Naipin memberitahukan kelemahan Pitung adalah dilempar telur busuk.
   
Akhirnya dalam pelarian sang Pitung ditemukan Polisi di rumah seorang perempuan yang menjadi pacarnya, Pitung pun dengan gagah melawan semua polisi yang mengepungnya.

Namun karena sudah tahu kelemahan sang Pitung akhirnya dilempari telur busuk, tubuh Pitung pun menjadi lemas beberapa peluru menembus badannya.

Sang pemuda yang selalu menjadi penolong kaum miskin dan lemah dan selalu menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang kaya yang pelit dan kikir, kini telah wafat sebagai pahlawan kaum miskin dari rakyat jelata betawi zaman itu dan menjadi penjahat bagi golongan kaya raya dan para penguasa Belanda.

Kini tinggal kenangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun apalagi bagi orang betawi.

Keahlian atau Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang harus dipergunakan untuk kepentingan orang banyak, bukan saja untuk diri sendiri.

Janganlah bosan untuk berbuat baik terhadap siapapun di dunia ini dengan Ilmu keahlianmu. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Gaya Ke Kantor Untuk Yang Berhijab
ISIS Klaim Serangan Di Brussels, Polisi Mulai Berburu
Share:

Sang Anjing Pemburu Tua - Dongeng Yunani

Courtesy of olx.co.id
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala tersebutlah seekor anjing pemburu yang sudah malang melintang pengalamannya, namun sayang dia kini sudah tua tidak selincah dan setangkas dulu lagi. Dia berlari dengan semangatnya yang masih menggebu-gebu mengejar mangsa buruannya seekor babi hutan muda. Begitu cepat dia berlari menguras semua tenaga dan pikiran untuk dapat mengejar sang babi hutan yang menjadi target buruannya kali ini.

Namun sang babi hutan pun dengan cepat berlari, tidak lagi menghiraukan keadaan sekelilingnya dia berlari dan terus berlari tidak ada yang bisa menghalanginya, bak sebuah peluru yang keluar dari muncung senjata melesat lurus, semua yang ada didepannya ditabraknya tidak ampun lagi.

Melihat sang buruan berlari membabi buta, sang anjing tua pun dengan sisa tenaganya menambahkan kecepatan lari, dan akhirnya usahanya membuahkan hasil yang tepat sekali. Walaupun dibayar dengan nafas yang tersengal-sengal dan hampir habis semua tenaganya, maklum sudah tua tidak mampu lagi berlari seperti dulu ketika masih muda.

Dengan sekali lompat sang anjing telah menerjang sang babi hutan. Sang babi pun terpelanting berguling-guling diatas tanah segera saja sang anjing tua menerkam digigitlah kuping sang babi hutan dari atas badannya.

Tetapi apa yang terjadi selanjutnya sang babi hutan bukannya berteriak kesakitan malah tertawa-tawa cekakak-cekikik dan berkata, "lepaslah hai sang anjing tua! aku geli! geli sekali dengan gigitan mulut ompongmu."

"Huah!huahahahahahaha! berhentilah! berhentilah!!" sang buruan tertawa-tertawa terus tidak berhenti selama sang anjing tua itu masih mengigitnya.

Benar saja apa yang dikatakan sang babi hutan sang anjing pemburu tua sudah tidak mempunyai gigi-gigi tajam dan taring tajamnya.

Semuanya telah tanggal dari mulutnya, yang ada sang babi buruannya menjadi tertawa kegelian ketika sang anjing tua mengigitnya, lucu sekali bukan kejadian ini.

Sang babi hutan terus meronta dan meronta dan akhirnya sang anjing tua pun tidak dapat melawan tenaga muda yang dimiliki sang buruan babi hutan. Lepaslah sudah sang buruan dari cengkramannya, segera saja sang babi hutan itu kabur berlari meninggalkan tempat itu kembali kehutan.

Dan tidak lama kemudian sang tuan pemburu pun datang serta melihat sang anjing tua miliknya sedang asyik-asyik tiduran istirahat diatas tanah berumput tidak jauh dari tempat tadi dia bergulat dengan sang babi hutan buruan.

Meledaklah amarah sang tuan pemburu, caci-maki keluar dari mulutnya dengan ujung jarinya dia tunjuk-tunjuk ke muka sang anjing tua yang sudah tidak berdaya lagi.

Si anjing tua hanya bisa berkata, "Maafkan saya yang sudah tua ini! namun tuan jangan terlalu menyalahkan saya sedemikian rupa, saya masih punya semangat seperti ketika saya masih muda, namun siapa yang bisa melawan umur tua dan waktu." anjing tua berkata sambil matanya menatap sang tuan pemburu dengan haru.

"Mungkin tuan juga melihat betapa aku bekerja keras dan berpikir keras untuk semua ini, tetapi janganlah tuan hanya bisa mencela keadaanku sekarang ini."

Hargailah kerja keras seseorang ketimbang menghina keadaannya saat ini. Hargailah usaha dan kerja keras orang lain. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Liburan Anak, Bagaimana Acara yang Mendidik?
Pertempuran Sengit di Daraa, Komandan Nusra Front Tewas oleh ISIS
Share:

Tuesday, March 22, 2016

Patung Sigale-Gale - Dongeng Indonesia

Courtesy of www.goodnewsfromindonesia.org
dongeng anak dunia - Kisah ini dimulai dari Sumetera Utara, zaman dahulu di daerah Toba terdapat sebuah kerajaan yang di pimpin seorang raja yang arif dan sangat bijaksana dalam mengatur roda pimpinan kerajaan.

Sang raja sangat dicintai seluruh rakyat kerajaan karena kebijakannya, namun sang raja hanya mempunyai satu anak saja yang bernama Pangeran Manggale.

Zaman yang di lalui kala itu masih sering terjadi adu kekuatan atau perang antar satu suku kerajaan dengan satu suku kerajaan yang lainnya. 

Saat peperangan sedang terjadi antar suku kerajaan inilah sang anak yang hanya semata wayang ini ikut dalam bertempur melawan satu suku kerajaan lainnya.

Malang sudah nasib sang anak raja tersebut, Manggale gugur dalam peperangan melawan musuh suku kerajaan yang menyerang daerah negerinya tercinta.

Hari demi hari sang raja selalu diliputi rasa sesal yang tiada taranya mengapa dulu beliau mengajak sang anak bertempur melawan musuh dan mengakibatkan sang anak meninggal dunia.

Dan pada akhirnya kerinduan yang terus berkepanjangan itu membuat sang raja kini menjadi sakit dan kerinduannya tidak dapat terobati, selain rasa bersalah yang selalu terbayang dalam ingatannya.

Seluruh abdi kerajaan yang menjadi kepercayaan istana saat itu telah kemana-man mencarikan obat yang mujarab untuk kesembuhan raja yang mereka cintai, namum penyakitnya masih belum bisa di sembuhkan.

Pada akhirnya jatuhlah pilihan untuk mengobati sang raja dengan cara memanggil orang sakti atau orang pintar atau tabib sakti.

Dan dari hasil pengobatan yang dilakukan orang pintar tersebut barulah seluruh abdi penasehat kerajaan tahu bahwa sang raja mereka sakit karena memendam rindu dan penyesalan terhadap anaknya yang gugur di medan perang melawan musuh dari kerajaan lain.

Untuk itu orang pintar atau tabib sakti itu pun menyarankan untuk membuatkan patung dari kayu yang kuat lalu dipahat menyerupai wajah sang anak raja tersebut.

Seluruh abdi penasehat kepercayaan kerajaan akhirnya setuju atas saran yang dianjurkan sang tabib sakti, dipilihlah sebuah pohon kayu yang besar di sebuah hutan untuk dijadikan patung sang Manggale anak raja yang tewas gugur dalam perang melawan suku dari kerajaan lain.

http://robust-chemical.com/lemari-asam-fume-hood-based-on-wooden-structure/ .adv - Dan di hutan pilihan itu pula kini sedang dibuatkan sebuah patung dalam sebuah rumah gubuk oleh ahli seni pahat yang telah mahir dan berpengalaman dalam memahat patung yang berbentuk manusia.

Selang beberapa minggu kemudian, selesailah patung Manggale di buatkan persis seperti mirip wajah yang sang anak raja.

Dan upacara pun kini sedang dipersiapkan untuk digelar membawa patung tersebut menuju istana kerajaan saat itu.

Upacara ritual berupa meniup Sordam dan pemanggilan roh sang anak raja untuk mengisi patung dipimpin langsung oleh tabib sakti.

Patung pun akhirnya diarak dari gubuk yang ada di hutan menuju istana, di iringi tetabuhan Gondang Sabangunan dan iringan Sordam berbunyi santer bagaikan sebuah karnaval rakyat.

Puji-pujian dan mantra pemanggilan roh terus dikumandangkan sang tabib sakti serta di iringi belasan pengiring dan pembawa patung yang jumlahnya cukup banyak.

Jadi ramailah acara tersebut dan menjadi tontonan rakyat sepajang perjalanan menuju istana.

Dan benar saja apa yang dikatakan sang tabib sakti tersebut, ketika rombongan pembawa patung sang Manggale tiba di istana kerajaan dan raja melihat patung tersebut, secara ajaib raja sembuh dari sakitnya yang selama ini menderanya.

Demikianlah cerita singkat yang melegenda dari daerah Toba sampai sekarang, serta asal mulanya sang patung Sigale-gale, yaitu patung dari seseorang anak raja yang gugur ketika ikut bertemput bersama ayahandanya.

Kesedihan yang sangat berlebihan hendaknya jangan terjadi kepada siapa pun, sebab segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya atau solusinya.

Sekian. 

oleh: mamang
edit: n3m0
Share:

Sang Anjing Yang Nakal - Dongeng Yunani

Courtesy of goresanhati-ku.blogspot.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala di sebuah kota menetaplah seorang pedagang yang memiliki tempat tinggal di dalam pasar.  Sang pedagang memiliki peliharaan seekor anjing, dia sangat memanjakan sang anjing kesayangannya itu. Namun tidak dinyana sang anjing menjadi sangat nakal, tidak mau mengikuti aturan dan sering bertingkah konyol terhadap orang yang berbelanja dipasar tersebut.

Tidak sedikit orang yang berbelanja digigit tumit kakinya dari belakang, sehingga semua orang membeci yang anjing muda yang nakal tersebut. Banyak laporan yang datang kepadanya tentang anjingnya yang telah melakukan tindakkan buruk itu, sang pedagang menjadi malu adanya.

Sang pedagang pun bertindak cepat, diikatlah leher sang anjing muda peliharaan dengan seutas tali dan di ujung tali tersebut sang pedagang mengikatkan pada sebatang kayu bulat.

Maka tak kala sang anjing muda berjalan, akan terdengar suara keras yang berbunyi, "klotak! klotak! klotak!" Itulah tanda bunyi kalau sang anjing sedang berjalan.

"Mulai sekarang kamu tidak akan bisa sembunyi-sembunyi mengendap untuk menggigit tumit orang-orang yang sedang berbelanja, semua akan tahu kedatanganmu kini,"  kata sang pedagang kepada sang anjing peliharaannya.

Namun apa yang terjadi dengan sang anjing muda yang berkelakuan buruk ini, dia malah merasa lebih bangga dengan ikatan kayu di leher tersebut, dia menjadi semakin gila saja melakukan tindakkan konyol.

Dianggapnya kayu yang menempel dilehernya itu sebagai tanda lambang kebanggaan sang tuan majikan kepadanya, masih saja dia menggigit sang pembeli yang berjalan lalu-lalang di dalam pasar.

"Klotak! klotak! klotak!" Dia berlari memutari seluruh tempat di pasar, rasa bangga terlihat dari cara berlarinya yang sangat bersemangat sekali, tidak sebentar pun diam beristirahat, bangga sekali dia dengan bunyi klotaknya.

Kelakuannya tersebut tidak luput dari perhatian seekor anjing tua yang sedari tadi memperhatikannya, namun sang anjing muda yang sombong itu menyadari ada yang melihat kelakuannya.

Sejenak dia berhenti dan menghampiri sang anjing tua yang mengawasinya, "Hai bapak tua yang jelek! mengapa kamu melihatku dari tadi, apa maksudnya?"

Sang anjing tua tertawa lalu menjawab dengan santun, "oh tidak anak muda untuk apa aku memperhatikanmu. Namun dirimu itulah yang ingin jadi perhatian orang."

"Apakah kamu tidak malu dengan keadaanmu sekarang! jangan bangga dengan kelakuan burukmu anak muda! Benda berisik yang tergantung dilehermu itu adalah tanda kenakalanmu supaya orang tahu ada anjing nakal yang berkelakuan tidak baik datang mendekatinya."

Tentu saja anjing muda ini sangat marah terhadap sang anjing tua yang menasehatinya, matanya terlihat sudah merah menyala tanda amarah menguasainya, namun sang anjing muda masih tetap mendengarkan sang anjing tua bicara.

"Jangan marah dulu, aku yang lebih tua lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu saat ini! Ingat tanda kehormatan yang kamu banggakan itu sebenarnya adalah tanda peringatan saja dari tuanmu yang telah memanjakanmu terlalu berlebih, sehingga kamu menjadi sombong! Dan lebih-lebih kamu sekarang menjadi berkelakuan buruk! Aku berkata demikian karena aku merasa terpanggil memberi nasehat kepada yang lebih muda, sebab masa depanmu masih panjang terbentang, jadilah sang anjing yang baik dan berkelakuan baik pula."

Panjang lebar sang anjing tua memberikan petuah kepada sang najing muda dengan nada bicara yang lembah lembut penuh kata-kata yang bijak.

Sang anjing muda terdiam dia merasa malu dengan petuah yang telontar dari mulut sang anjing tua yang bijak itu, dia pun berbalik jalan pulang kerumahnya tidak berlari seperti biasa memperdengarkan suara klotaknya.

Sering kali orang salah arti dengan tenar atau terkenal, sebab bangga dengan kelakuan yang tidak baik atau buruk akan dikenang orang sebagai orang yang jahat. Tetapi kenangan yang sebaik-baiknya adalah kenangan kepada orang bijak.

Sekian.
oleh: mamang
edit: n3m0
Share:

Monday, March 21, 2016

Asal Usul Sang Burung Cendrawasih - Dongeng Indonesia

Courtesy of sp.beritasatu.com
dongeng anak dunia - Perempuan tua itu hidup bersama seekor anjing betina yang selalu setia menemaninya mencari makanan ke hutan tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya, tumbuh berupa buah-buah dan kuskus. Di kaki pegunungan Bumberi daerah Fak-fak itulah tepatnya rumah tempat tinggal sang nenek tua. Dan hutan itulah sumber makanan bagi mereka yang telah disediakan alam tersaji begitu banyak makanan yang melimpah ruah.

Kehidupan yang mereka jalani setiap harinya selalu bahagia dan hidup dengan bebas di alam yang subur dan kaya raya ini.

Seperti hari-hari yang lain mereka akan pergi ke hutan mencari makanan, berangkatlah mereka walaupun hari masih pagi sekali. Dan sampai hari telah beranjak siang, mereka belum dapatkan hasil yang mereka harapkan, seperti buah-buahan yang segar-segar atau seekor kuskus yang menjadi makanan faforitnya.

Habislah sudah tenaga mereka berdua kini, seluruh tenaganya telah digunakan untuk berjalan dan merekapun akhirnya mencari tempat yang teduh untuk duduk-duduk beristirahat melepaskan lelah.

Sang sahabat setia anjing betina itu pun ikut duduk dan tidak lama kemudian dia pun tertidur pulas di bawah naungan pohon tempat mereka berdua berteduh dari panasnya sengatan sinar sang matahari siang itu.

Setelah cukup lama duduk bersandarkan pohon, sang nenek memperhatikan sekeliling tempat tersebut, serta merta pandangan matanya melihat banyak buah-buah pandan yang sudah matang dan ranum sekali buahnya.

Sang nenek melangkahkan kakinya mendekati pohon pandan dan memetik buah-buah yang matang itu beberapa buah, dan kembali lagi ke tempat duduknya, lalu memberikan buah-buah tersebut kepada sang anjing.

Tanpa menunggu untuk di persilahkan lagi oleh sang nenek sahabatnya, sang anjing itu langsung saja memakan buah pandan yang enak dan segar itu maka hilanglah sudah rasa haus yang menyiksanya.

Namun selang beberapa lama kemudian apa yang terjadi didalam perut sang anjing betina itu sepertinya perut itu membesar dan kelihatan sedang bunting mengandung anak.

Dan melihat kejadian tersebut sang nenek tua cepat-cepat saja berjalan mendekati pohon pandan dan mengambil beberapa buah yang sudah matang.

Lantas saja dia memakannya juga dan benar saja dia pun merasakan kejadian aneh seperti yang di alami sang anjing betina, dia pun kini mendadak hamil mengandung anak pula.

Dari masing-masing kedua sahabat itu, sang anjing pun melahirkan seekor anak anjing yang berjenis kelamin jantan dan disusulnya sang nenek melahirkan seorang bayi lelaki.

Sang wanita tua menggendong anak bayi lelakinya dan sahabat setianya sang anjing betina itu pun membimbing anak anjing jantannya pulang kembali kerumahnya.

Dan dari mulai saat itu sang wanita tua sibuk mengurus anak lelakinya begitu pun sang anjing betina itu pun sibuk mengasuh anak anjing jantannya.

Sang Wanita tua itu memilihkan nama untuk anak bayi lelakinya dengan nama Kweiya.

Hari pun berganti minggu dan seterusnya tidak terasa sang anak lelaki itupun telah tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa  dan memulai membuat lahan-lahan perkebunan untuk menanam bermacam-macam bahan makanan dan juga menanam beberapa sayur mayur untuk kebutuhan hidup makan mereka sehari-hari.

Dengan peralatan yang sangat sederhana sekali kapak batu sang Kweiya membuka hutan menebangi pohon-pohon kayu di sekitar tempat tinggalnya yang mendiami rumah adat yang sangat sederhana kala itu. Segerahlah sang pemuda ini menebangi pohon-pohon itu untuk memperluas lahan ladang pertaniannya.

Kapak batu itu hanya mampu menebang satu pohon kayu setiap harinya, sang ibu pun tidak berpangku tangan dan ikut membantu sang anak dengan mengumpulkan ranting-ranting kecil dan daun-daun pepohonan yang berserakan untuk di bakar dan abunya akan bermanfaat untuk pupuk-pupuk tanaman nantinya.

Namun dari perbuatan sang Ibunda yang setiap harinya membakar daun-daun pepohonan tersebut telah menarik perhatian seorang lelaki tua yang melihatnya.

Bagaimana tidak asap yang mengepul itu begitu besar membumbung tinggi dari pucuk-pucuk pohon yang besar-besar, terlihatnya dari kejauhan seperti terhubung kelangit biru yang tinggi di angkasa.

Seperti tersambung saja antara hutan dan langit diatas dengan asap sebagai tali penghubungnya.

Dan peristiwa tersebut tidak luput dari perhatian seorang lelaki tua yang sedang memancing ikan di tengah lautan tidak jauh dari tempat sang Kweiya yang sedang bekerja membuka hutan untuk lahan pertaniannya.

Rasa penasaran inilah yang mendorong sang lelaki tua itu untuk pergi melihat misteri asap yang tebal yang membumbung tinggi seperti menghubungkan hutan dan langit tersebut.

Dengan segala persiapan yang ada sang lelaki tua itu berangkat, kapak besi untuk membuka jalan dan sedikit bekal makanan telah dibawanya dalam perjalanan itu.

Dengan arah yang menjadi patokan jalan adalah asap tebal itu setapak demi setapak jalan yang memang sulit di laluinya. Cukup susah sekali, walaupun akhirnya dapat juga sampai ke tempat tujuan, waktu yang di tempuh pun hampir sekitar satu minggu perjalan.

Dan apa yang dilihatnya hanyalah seorang pemuda yang berbadan gagah dengan wajah yang cukup tampan sedang membuka hutan dengan kapak batu di tangannya.

Di temuinya sang pemuda gagah tersebut dan salam pun terlontar dari mulutnya dalam bahasa daerah, "Weing weinggiha pohi" dan lalu sang lelaki tua itu pun memberikan kapak besi kepada sang pemuda tampan tersebut.

Weing weinggiha pohi (selamt siang)

Dan tentu saja sekarang pohon-pohon yang ditebang sang pemuda menjadi sangat cepat tumbang saja, sudah banyak pohon yang rubuh setelah di tebas kapak besi yang tajam pemberian sang lelaki tua tersebut.

Kejadian ini membuat sang Ibunda menjadi heran dan penasaran dengan hasil yang begitu cepat di lakukan sang anak tercinta.

"Hai anakku kamu bekerja dengan cepat sekali hari ini? apakah yang mebuatmu begitu kuat?" Bertanya sang Ibunda dengan mimik muka yang merasakan heran sekali.

"Oh itu ibu, tidak ada apa-apa! hanya saja hari ini tangan kananku sepertinya sangat ringan untuk diayunkan," katanya sedikit berbohong.

Sengaja dia merahasiakan dulu pertemuan dengan sang lelaki tua yang memberi kapak besi yang tajam dan katanya kemudian kepada sang Ibunda, "tolonglah saya buatkan makanan yang banyak dan enak pula ya, bu."

Sang ibu pun memasak makanan yang cukup banyak untuk sang anak tercinta yang telah bekerja keras untuk membuat lahan ladang pertanian mereka.

Dan Tatkala waktu makan siang tiba, sang pemuda tampan ini pun mengajak tamunya ke rumahnya untuk makan bersama ibunya dan sekaligus memperkenalkan kepada sang Ibunda tercinta.

Mereka berdua pun lalu pulang berjalan menuju rumah untuk makan siang, perutnya rasanya sudah menagih untuk di isi makanan.

Namun sebentar lagi mau sampai dalam perjalanan pulang ke rumahnya sang pemuda berhenti dan memotong beberapa batang tebu berserta daun, tetapi tebu yang di potong ukurannya itu di samakan dengan tiggi sang lelaki tua tersebut.

Kemudian lelaki tua dan tebu itu pun di bungkusnya dengan cukup rapih kemudian dia memikulnya di atas pungdapnya, ini akan menjadi kejutan buat sang Ibunda tercinta di rumah pikirnya.

Sampailah sang anak di rumahnya dan bungkusan itu pun di taruhnya di samping rumahnya, dan seterusnya sang anak berbicara terhadap sang Ibunda tercinta.

"Ibu tolanglah saya sebelum makan di buatkan dulu minuman yang segar dari tebu, dan batang tebunya telah saya bawakan ada di samping rumah kita," katanya.

Sang Ibunda pun beranjak mengambil batang tebu yang masih terbungkus rapih di samping rumahnya, namun tatkala bungkusan terbuka sang wanita tua ini pun berteriak-teriak sangat kaget.

Dilihatnya seorang lelaki tua berada dalam bungkusan tebu tersebut dan tersenyum kepadanya, dan sang anak pun segera memberi penjelasan kepada sang Ibunda tercinta mengenai ini semua sambil tersenyum.

Dan selanjutnya sang anak menjelaskan agar sang Ibunda mau hidup bersama lelaki tua itu untuk menjadi teman hidupnya, karena sang anak yakin lelaki tua itu orang baik sekali terbukti dia telah memberinya sebuah kapak besi yang begitu tajam kepadanya.

Atas bujukkan sang anak tercinta akhirnya sang Ibu pun setuju saja di jodohkan dengan lelaki tua tersebut, dan dari hasil perjodohn ini lahirlah beberapa orang anak yang menjadi adik-adik sang Kweiya.

Tetapi semua kehidupan tidak selalu berjalan dengan baik-baik saja, seperti hubungan saudara di keluarga sang Kweiya yang tidak baik, persaudara mereka pecah karena rasa iri yang membuat mereka bertengkar.

Kala itu kedua orang tua mereka sedang pergi ke laut hendak mencari ikan, kesempatan ini di pergunakan kedua adik lelaki sang Kweiya untuk mengeroyok sang kakaknya.

Tubuh sang kakak mereka iris-iris sampai terluka parah namun sang kweiya tidak melawan perbuatan sang adik-adiknya, dia pergi lari bersembunyi di sudut atas wuwungan rumah mereka.

Namun sambil berlari untuk bersembunyi sang Kweiya masih sempat membawa kulit pohon kayu yang cukup banyak untuk di pintalnya. "pogak nggein atau genemo."

Waktu sore hari tatkala kedua orang tua mereka pulang dari mencari ikan, mereka pun bertanya kepada sang adik-adiknya Kweiya tentang keberadaan abangnya.

Namun kedua adik lelakinya tidak ada yang tahu keberadaan abangnya yang sedang bersembunyi dan tidak pula bercerita tentang kejadian yang sedang menimpa abangnya yang terluka akibat di keroyok mereka berdua, karena merasa takut terhadap kedua orang tua mereka itu.

Tetapi kejadian yang terjadi tadi siang itu telah di lihat sang adik perempuan yang lainnya, berceritalah adik perempuan itu apa yang telah dilihatnya tadi siang tentang pengeroyokkan yang dilakukan kedua abangnya terhadap kweiya kakak yang paling besar di keluarga itu.

Sang ibunda sangat khawatir sekali terhadap anak tercintanya dan berteriak-teriaklah dengan suara yang mengharu biru betapa sedihnya beliau kala itu.

Teriakkan sedih itu pun di dengar sang anak yang sedang bersembunyi di sudut wuwungan rumahnya, namun bukan sahutan yang terdengar yang keluar dari mulutnya.

Sang Kweiya yang telah mengikat dan disisipkan pintalan benang di kakinya itu menjawab dengan suara yang berbunyi suara aneh seperti suara burung.

Eek,..ek, ek, ek, sahutnya sambil meloncat dari sudut wuwungan rumah ke dahan-dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lainnya, dia kini telah berubah menjadi seekor burung yang besar dan indah sekali warnanya.

Sambil menangis sejadi-jadinya melihat sang anaknya telah berubah menjadi burung, sang Ibunda bertanya apakah masih tersisa untuknya pintala benang dari kulit kayu.

"Ada ibu lihat saja di koba-koba yang terletak di sudut rumah kita," katanya sambil berloncat-loncat saja dengan lincahnya.

Sang Ibunda pun melakukan hal sama seperti sang anak tercinta dan berubahlah kini dia menjelma kembali menjadi burung dan terbang serta bertengger diatas dahan pohon didepan rumahnya matanya sedih melihat suami dan anak-anak tercinta untuk yang terakhir kalinya. Dia pun menloncat ke atas dahan lain lalu mengejar sang Kweiya telah menjadi burung jantan duluan, ajaib sekali kejadian ini terjadi.

Sang burung betina marah dan mereka berdua pun bertengkar dengan kicaunya yang begitu ramai ribut sekali.

Sang jantan, "Siangga" berbulu panjang dan sang betina "Hanggam tombor" semua nama-nama ini di dapat dari daerak Onin, Fak-fak.

Terlihat dari mulai zaman itu, burung-burung besar cendrawasih yang menjadi kebanggaan daerah Fak-fak khususnya daerah Papua pada umumnya.

Dan melihat kejadian tersebut semua adiknya yang di tinggalkan kakak dan Ibundanya menjadi sangat marah, mereka saling tuduh-menuduh dan saling menyalahkan satu sama yang lainnya.

Dan peretangkaran ini membawa pada perkelahian antara mereka, diambilnya tungku perapian dan dilemparkan keatas tubuhnya yang satu dan tubuh itu pun menjadi hitam legam terkena debu panas dari tungku.

Kemudian sang adik yang lainnya pun tidak mau kalah diambil pula bara api yang masih menyala dan dilemparkan pula terhadap kakaknya, bara itu pun kena muka dan kepala sang kakak dan wajah dan tubuhnya berubah menjadi merah-merah seperti terbakar.

Dan tidak luput pula sang adik perempuan yang mengadukan peristiwa kena lemparkan tungku wajahnya menjadi hitam kelabu dan mereka semua pun kini berubah menjadi burung dengan beraneka warna dan segera terbang masuk ke dalam hutan yang sangat luas dan hidup menjadi burung dengan warna dan jenis-jenis yang berlainan, tetapi tidak seindah Sang burung Cendrawasih dalam kenyataannya.

Sang ayahanda kini hanya tinggal sendiran, hanya saja sang ayah menjadi khawatir terhadap sang Kweiya yang berbulu indah untuk segera merubah bulunya agar tidak mencolok dan akan mengundang berbagai masalah nantinya.

Namun sang anak dan istrinya tidak mau merubah warna indah mereka dan mereka telah bangga dengan apa yang telah mereka miliki kini.

Sepi sedih hidup yang indah tatkala berkumpul dengan anak-anaknya kini hanya tinggal kenangan, akhirnya sang ayah pun pergi kelautan lagi, lelaki tua ini melipat kedua kakinya dan masuk kedalam lautan dan menjadi penguasa laut yang abadi, "Katdundur"

Demikianlah dari sifat-sifat yang tidak terpuji dari kedua adik-adik sang Kweiya ini akhirnya menjadi malapetaka yang sangat merugikan banyak orang, juga terhadap diri orang yang berbuat tindakkan yang tidak terpuji itu sendiri. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Tantangan Sekretaris Di Era Global
3 Warga Israel, 1 Iran Tewas oleh ISIS di Istanbul
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...