Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Thursday, September 19, 2019

Androcles dan Singa - Dongeng Yunani

courtesy of storiestogrowby.org
Dongeng Anak DuniaB - Cerita ini terjadi di Roma, di mana seorang budak Yunani bernama Androcles melarikan diri dari tuannya ke arah hutan. Di sana dia mengembara cukup lama sampai dia lelah dan hampir mati karena kelaparan dan rasa putus asa. Saat itu dia mendengar seekor singa di dekatnya mengerang dan kadang-kadang mengaum dengan sangat keras. Androcles bangkit dan bergegas pergi, tetapi ketika dia berjalan melalui semak-semak, dia tersandung akar pohon dan jatuh yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Ketika dia mencoba untuk bangkit, dia melihat seekor singa datang ke arahnya sambil tertatih-tatih dengan tiga kaki karena kaki satunya lagi terangkat agak kedepan seperti sedang kesakitan.

Androcles yang malang dan sudah putus asa itu tidak memiliki kekuatan untuk bangkit dan melarikan diri dari seekor singa yang menghampirinya. Tetapi ketika binatang buas itu menghampirinya yang Androcles kira akan menyerangnya, singa tersebut hanya mengerang dan mengerang sambil menatap Androcles dan singa mengulurkan kaki kanannya yang berlumuran darah dan banyak bengkak. Androcles mencoba untuk melihat lebih dekat dan dia melihat ada duri besar yang menusuk ke kaki si singa yang merupakan penyebab singa mengerang kesakitan. androcles memberanikan diri untuk mencabut duri itu, ia menangkap duri itu dan menariknya keluar dari kaki singa, si singa mengerang dengan keras saat duri itu dicabut keluar tetapi setelah si singa menyadari kalau kaki nya sudah membaik, ia menjilat Androcles dan sebagai tanda ucapan terima kasihnya. Androcles mengira singa itu akan memakannya, tetapi singa itu malah membawa rusa muda yang telah dia bunuh dan Androcles membuat makanan dari rusa muda yang diberikan oleh singa.

Tiba-tiba di suatu hari ada sejumlah tentara datang berbaris melewati hutan dan menemukan Androcles. Karena dia tidak dapat menjelaskan apa yang dia lakukan, mereka menangkapnya dan membawanya kembali ke kota tempat dia melarikan diri. Di sini tuannya segera menemukannya dan membawanya ke hadapan penguasa. Kemudian Androcles dihukum mati karena melarikan diri dari tuannya. Di tempatnya Androcles sudah menjadi kebiasaan melempar pembunuh dan penjahat lain ke kandang singa dalam sirkus besar, sehingga banyak orang-orang yang dapat menikmati tontonan pertempuran antara mereka dan binatang buas.

Jadi Androcles dihukum untuk dilemparkan ke dalam kandang singa dan pada hari yang ditentukan dia dibawa ke Arena dan dibiarkan di sana sendirian dengan hanya tombak untuk melindunginya dari singa. Sang Kaisar yang berada di dalam kerajaan hari itu memberi sinyal kepada pengawalnya agar singa keluar dan menyerang Androcles. Tetapi ketika ia keluar dari sangkar dan mendekati Androcles, menurut kamu apa yang terjadi?

Orang-orang yang menontonnya akan mengira si singa melompat atau menerjang Androcles, tetapi si singa malah memeluk Androcles dan membelainya dengan kaki-kakinya dan tidak berusaha melukainya.

Mengapa bisa begitu?, karena singa tersebut adalah singa yang ditemui Androcles di hutan.

Sang Kaisar pun terkejut melihat perilaku aneh pada singa yang begitu kejam itu, sang Kaisar memanggil Androcles dan bertanya kepadanya "bagaimana hal itu bisa terjadi dan kenapa singa itu seperti kehilangan watak buasnya saat bertemu denganmu?".

Maka Androcles memberi tahu kepada Kaisar tentang semua yang terjadi padanya dan bagaimana si singa itu menunjukkan rasa terima kasihnya karena telah membebaskannya dari duri. Setelah itu sang Kaisar memaafkan Androcles dan memerintahkan tuan dari Androcles untuk membebaskannya, sementara si singa dibawa kembali ke hutan dan dilepaskan untuk menikmati kebebasan hidupnya lagi.

Source: click disini
Share:

Wednesday, September 18, 2019

Putra yang Tidak Taat - Dongeng Amerika Selatan

courtesy of rosediana.net
Dongeng Anak Dunia - Ada seorang anak lelaki yang memiliki sifat kasar dan tidak mau menuruti ibunya. Anak lelaki itu akan berjalan-jalan dan tidak akan kembali sampai larut malam, sekitar jam sepuluh atau sebelas malam. Pada jam sepuluh malam ibunya masih menunggu dan mengkhawatirkannya.

"Apa yang kamu lakukan, Nak?" ibunya bertanya. "Ibu mau tidur karena sudah larut malam dan aku masih menunggumu. Kamu tidak memperhatikan apa pun yang Ibu katakan. Ibu akan mengirimmu ke ayah baptismu jika kamu masih saja tidak mendengarkan perkataan Ibu". Kemudian sang Ibu dari anak laki-laki itu pergi untuk menemui pendeta pendampingnya.

"Compadre (Ayah Baptis), apa yang bisa dilakukan untuk putra baptismu? Dia benar-benar nakal dan tidak menaatiku. Anda adalah seorang imam dan Anda dapat menasihati dan mendisiplinkan putra baptis Anda ini; Aku sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk merubah sifatnya. Ini anak baptismu yang nakal Compadre. Biarkan dia tinggal di sini bersamamu untuk melihat apakah dia akan belajar berperilaku dengan baik. "

"Baiklah, kawan, suruh dia datang ke sini. Kenapa dia tidak melakukan apa yang kukatakan padanya? Aku memang seorang pendeta. Aku akan mengajari anak baptisku untuk bekerja. Jangan khawatir, kawan, anak baptisku akan patuh terhadap perintahku."

Wanita itu berkata kepada putranya: "Nak, pergilah dengan Ayah baptismu. Dia akan mengajarimu berperilaku dengan baik karena kamu tidak pernah mematuhiku, pergi dan bekerjalah di sana."

"Baiklah ibu, aku akan pergi ke rumah ayah baptisku. Karena aku tidak ada gunanya bagimu, aku akan pergi dan bekerja dengan ayah baptisku."

"Aku datang, ayah baptis. Apa yang bisa kulakukan untukmu? 'Tetaplah bersama ayah baptismu,' kata ibuku. Itulah sebabnya aku datang ke sini untukmu. Ibuku yang menyuruh aku untuk pergi ke ayah baptisku,"

"Baiklah, anak baptisku," kata pendeta itu kepadanya, "Kau akan bekerja untukku."

"Baiklah, ayah baptis, aku akan bekerja. Aku akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan kepadaku; semua yang kamu katakan padaku, akan kulakukan, ayah baptis."

"Baiklah. Sekarang aku akan memberitahumu sesuatu," kata sang pendeta. "Anak baptis, besok sekitar jam 3 pagi kamu akan menyapu. Aku tidak akan membangunkanmu, aku hanya memberitahumu sekarang."

"Baiklah," kata anak itu. Saat fajar dia pergi dan menyapu. Setelah selesai menyapu, dia pergi untuk memberi tahu Ayah baptisnya sang pendeta.

"Ayah baptis, aku sudah selesai menyapu semua gereja. Jadi aku ke sini untuk memberitahumu."

"Baiklah, anak baptis, aku senang kamu sudah selesai. Sekarang istirahatlah." Satu hari berlalu dan ayah baptis memberinya tugas berikutnya:

"Sekarang anak baptisku, aku akan memberitahumu apa yang harus kamu lakukan besok pagi. Kamu akan membunyikan bel pada pukul enam pagi. Aku ingin kamu bunyikan tiga kali dan ketika kamu selesai, datang dan katakan kepadaku dan aku akan pergi untuk mengucapkan Misa. "

"Baiklah," kata anak itu. Ketika hari berikutnya usai, anak itu pergi untuk membunyikan bel. Dia pergi untuk memberi tahu ayah baptisnya:

"Ayah baptis, aku membunyikan bel tiga kali. Sudah waktunya untuk bangun dan pergi mengucapkan Misa," katanya kepada ayah baptisnya.

"Baiklah," kata ayah baptis itu. Satu hari lagi berakhir dan sang pendeta berbicara sekali lagi kepada putra baptisnya:

"Sekarang aku akan memberitahumu sekali lagi apa yang harus kamu lakukan besok."

"Baiklah," kata anak itu.

"Bunyikan bel itu lagi jam tiga pagi."

"Baiklah," kata anak itu. Anak itu bangun dan teringat untuk membunyikan bel. Dia pergi untuk membunyikan bel di menara tempat lonceng bergantung, tetapi sang pendeta yaitu ayah baptisnya, telah memberikan anak itu ujian. Dia telah meninggalkan kerangka di menara tempat lonceng bergantung. Anak itu tiba di sana pada pukul tiga pagi dan menemukan kerangka berdiri di depannya. Dia berkata kepada kerangka:

"Pergilah dari hadapanku! Aku datang untuk membunyikan bel. Jangan menghalangi jalanku. Pergi dari hadapanku, karena ayah baptisku mengirimku untuk membunyikan bel. Pergi dari hadapanku atau aku akan membunuhmu!" Kerangka itu tetap tidak menyingkir dari hadapan anak itu, dia tidak bergerak dan tidak menjawab. "Jawab, atau kamu ingin aku membunuhmu?" anak itu bertanya pada kerangka itu. "Jika untuk ketiga kalinya kamu tidak menjawabku, aku akan menghancurkanmu berkeping-keping. Apakah itu yang kamu inginkan. Aku akan melemparmu jauh-jauh dari sini. " Dan anak itu mendorong kerangka tersebut keluar dari menara tempat lonceng bergantung. Ketika dia telah menghancurkan kerangka itu, dia membunyikan bel dan turun dari menara tempat lonceng bergantung. Dia pergi ke kamar ayah baptisnya dan mengetuk pintu untuk membangunkannya. Ayah baptis itu bangun dan menjawab:

"Apa itu?" tanya sang pendeta kepada anak itu.

"Bangun ayah baptis, aku sudah membunyikan bel," kata anak itu kepada sang pendeta. Mendengar hal tersebut, sang pendeta terkejut.

"Oh, apakah kamu membunyikan bel itu?" tanya sang pendeta itu.

"Ya, aku membunyikan bel itu, ayah baptisku," kata anak itu.

"Apakah kamu tidak melihat sesuatu di menara tempat lonceng bergantung?" tanya sang pendeta itu.

"Ya, ayah baptis," jawab anak itu, "Aku melihat sesuatu di menara tempat lonceng itu bergantung."

"Apa yang kamu lihat?" tanya sang pendeta kepada anak itu.

"Aku melihat seseorang menghalangi jalanku yang tidak mau membiarkan aku membunyikan bel," jawab anak itu.

"Oh, jadi apa yang kamu lakukan?" tanya sang pendeta itu. "Apakah kamu tidak takut padanya?

"Tidak, ayah baptisku."

"Jadi apa yang kamu lakukan?"

"Aku mendorongnya dan dia jatuh lalu pecah berkeping-keping di lantai."
Selesai.

Source: click disini
Share:

Tuesday, September 17, 2019

Jaguar dan Sigung Kecil - Dongeng Amerika Selatan

courtesy of binatang.mewarnaigambar.web.id
Dongeng Anak Dunia - Di sebuah tempat tinggallah seekor Jaguar jantan dan Sigung betina. Sang Sigung memiliki seorang putra yang dibaptis oleh sang Jaguar, maka sang Sigung menjadi comadre-nya (ibu baptis) dan sebaliknya sang Jaguar telah membaptis Sigung kecil, maka ia adalah kompadre (ayah baptis) sang Sigung.

Sang Jaguar memutuskan untuk mencari makanan dan datang ke rumah sang Sigung untuk mengajak anaknya berburu.

"Apa yang kamu cari kompadre? Apa yang membuatmu datang ke sini?" sang Sigung itu bertanya pada sang Jaguar.

"Comadre, aku datang untuk mencari makanan," kata sang Jaguar.

"Oh begitu," kata sang Sigung.

"Aku ingin anakmu ikut bersamaku supaya dia bisa belajar berburu," kata sang Jaguar.

"Anakku tidak boleh ikut pergi karena dia masih sangat kecil dan sesuatu bisa terjadi padanya. Sebaiknya dia tidak pergi" kata sang Sigung. Tapi Sigung kecil memprotes:

"Tidak ibu, aku sebaiknya ikut pergi. Apa yang dikatakan paman Jaguar itu benar. Aku perlu latihan untuk belajar berburu," kata sang Sigung kecil.

"Tetapi jika kamu pergi, kamu akan begitu jauh dari ibu," kata sang Sigung.

"Aku pergi, aku pergi. Ayo, ayo pergi." Akhirnya sang Jaguar dan sang Sigung kecil pergi untuk berburu.

"Kita menuju ke arah sungai. Di situlah kita akan pergi," kata sang Jaguar menjelaskan kepada Sigung kecil, anak baptisnya.

"Kapan kita akan sampai di sana?" tanya si Sigung kecil.

"Kita sudah semakin dekat. Ikuti aku supaya kamu tidak tersesat," kata sang Jaguar.

"Baiklah," jawab sang Sigung kecil itu. Mereka akhirnya telah sampai di sungai.

"Di sinilah kita akan makan," kata sang Jaguar kepada Sigung kecil.

"Baiklah," kata si Sigung kecil.

"Ayo ke sini. Aku akan menajamkan pisauku dulu," kata sang Jaguar.

"Baiklah," kata si sigung kecil sambil memandang sang Jaguar.

Sang Jaguar mengasah cakarnya yang disebutnya "pisau."

"Aku menajamkan pisauku. Sekarang kamu berjaga-jaga, karena aku akan tidur dulu. Ketika kamu melihat mangsa datang, bangunkan aku," kata sang Jaguar.

"Baiklah paman Jaguar," kata si sigung kecil.

Kemudian sang Jaguar mengatakan kepadanya: "Bangunkan aku dengan cara mencolek perutku, jadi aku tidak akan membuat mangsa kita curiga. Tetapi jangan bangunkan aku jika ada hewan kecil tanpa tanduk yang ikut. Hanya saat ada mangsa dengan tanduk besar tiba di sini. Saat itulah kamu bangunkan aku. "

"Baiklah," kata si Sigung kecil. Kemudian ada mangsa dengan tanduk besar yang datang dan Sigung kecil itu membangunkan sang Jaguar. Dia menggaruk atau mencolek perutnya dan menunjukkan rusa kepada sang Jaguar, kemudian dengan sekejap sang Jaguar menyerang mangsanya yang memiliki tanduk besar. Dia mengejarnya dan menangkapnya.

"Baiklah, anak Sigung, ayo makan. Kita akan makan daging," kata sang Jaguar.

"Baiklah," kata si Sigung kecil. Maka mereka makan dan makan.

"Sekarang kita akan mengambil apa pun yang tersisa untuk ibumu," kata sang Jaguar itu.

"Karena kita sudah kenyang, kita bisa mengambil sesuatu untuk ibumu. Ibumu akan punya daging untuk dimakan, sama seperti yang kita makan. Kita akan mengambil beberapa untuk ibumu," kata sang Jaguar. Ketika mereka kembali ke rumah ibu sang Sigung, sang Jaguar berkata kepada ibu sang Sigung.

"Lihatlah makanan ini. Kami membawakannya untukmu, ini adalah makanan yang kami buru. Makanlah isi daging ini ibu Sigung," kata sang Jaguar kepada sang Sigung.

"Baiklah," kata Sigung, dan memakan daging hasil buruan sang Jaguar.

"Aku kenyang," katanya.

"Bagus, kau puas. Aku sudah melihatmu, jadi aku akan pamit pergi sekarang," kata sang Jaguar kepada sang Sigung.

Setelah sang Jaguar pergi, sang Sigung kecil tinggal bersama ibunya.

Ketika mereka kehabisan daging, sang Ibu Sigung berkata kepada putranya, "Sayang, daging kita semua habis."

"Ya, dagingnya sudah habis. Sebaiknya aku pergi berburu dan mengambilkan makanan lagi," kata si sigung kecil.

"Bagaimana kamu, Nak? Apakah kamu pikir kamu cukup besar? Kamu sangat kecil. Tidakkah kamu pikir kamu akan dibunuh?" tanya sang Ibu Sigung.

"Tidak, ibu, aku sudah tahu cara berburu, paman Jaguar telah mengajari aku bagaimana cara berburu," jawab sang Sigung kecil itu.

"Aku pergi sekarang ya bu." Dia pergi, dan ibu sang Sigung sebenarnya sangat khawatir terhadap anaknya.

Sang Sigung kecil kembali pergi ke sungai, tempat dia datang bersama pamannya untuk mengambil daging.

"Beginilah paman Jaguar melakukannya. Kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama?" kata si Sigung kecil.

"Beginilah caramu mengasah pisau," kata Sigung kecil itu. Dia menajamkan "pisaunya".

"Ini adalah cara yang dilakukan paman Jaguar. Aku tidak akan memburu hewan-hewan kecil, aku hanya akan berburu satu dengan tanduk yang besar. Aku akan berburu satu untuk diriku sendiri seperti yang aku makan dengan paman Jaguar. Aku punya pisau di sini dan aku akan tidur sebentar. " Si Sigung kecil berbaring untuk tidur, tetapi kemudian dia bangun. Dia sedang menunggu buruannya dengan tanduk besar, dan ketika dia datang, dia menyerangnya, dia berpikir kalau dia sekuat paman Jaguar. Tapi dia hanya menggantung di leher buruannya yang memiliki tanduk besar. Cakar-cakarnya telah menggali kulitnya. Dia tergantung di lehernya dan dibawa jauh dan jatuh di punggungnya. Dia ditinggalkan dengan mulut terbuka lebar.

Karena sang Sigung kecil belum pulang ke rumah ibunya, dia bertanya-tanya, "Apa yang terjadi pada putraku? Kenapa dia belum kembali juga? Sesuatu pasti telah terjadi padanya. Lebih baik aku pergi dan mencarinya."

Akhirnya ibu Sigung pergi ke tepi sungai. Dia mencari putranya ke mana-mana, tetapi tidak dapat menemukannya. Dia mulai menangis ketika dia menemukan si pemilik jejak tanduk besar yang datang dengan berlari.

"Mereka pasti jalan ke sini," kata ibu Sigung, dan mulai mengikuti jejak itu.

Ibu Sigung datang ke tempat di mana putranya dibiarkan berbaring telentang. Ketika sang ibu melihat anaknya, sang ibu Sigung memperhatikan mulutnya terbuka lebar dan menunjukkan giginya, "Nak, apa yang kamu tertawakan? Semua gigimu terlihat," Ibu Sigung berkata kepada anaknya dari kejauhan. Ketika sang Ibu Sigung benar-benar dekat, dia berkata, "Berikan tanganmu Nak. Aku datang untuk menjemputmu, tetapi kenapa kamu cuma tertawa saja." Dia meletakkan tangannya di atas tangan anaknya, sang ibu Sigung berpikir bahwa dia masih hidup, tetapi ketika dia menyadari bahwa anaknya sudah mati, sang Ibu Sigung mulai menangis histeris.

Source: click disini
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...