Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Wednesday, January 24, 2018

Anak Yang Bandel - Dongeng Brazil

Pada suatu ketika, adalah seorang anak laki-laki yang kasar dan tidak mau taat kepada ibunya. Dia akan pergi jalan-jalan, tanpa makan dulu di rumah. Dia tidak akan kembali sampai larut malam, sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam. Ibunya selama itu terus menunggu dan mengkhawatirkannya.

"Apa yang telah kamu lakukan, Nak?" tanya ibunya. "Ibu menahan tidur menunggumu, kamu tidak memperhatikan apapun yang ibu katakan, ibu akan mengirimmu ke ayah angkatmu. Kamu sama sekali tidak memperhatikan yang ibu katakan." Sang ibu akhirnya menemui pemuka agama di tempatnya yang merupakan ayah angkat si anak.

"Bapak, apa yang bisa dilakukan kepada anak ini? Dia adalah seorang bajingan dan tidak mematuhi saya. Anda adalah seorang imam, dan anda dapat menasihati dan mendisiplinkan anak ini, saya tidak dapat melakukan apapun terhadap dia. Bujuklah dia pak. Biarkan dia datang ke sini bersamamu untuk melihat apakah dia akan belajar untuk bersikap baik."

"Baiklah, mintalah dia kemari, kita lihat apakah dia mau melakukan apa yang saya katakan padanya? Saya akan mengajari anak ini untuk bekerja. Jangan khawatir bu, anak ini akan mematuhi saya." Demikian kata sang ayah.

Advertising: Malang adalah salah satu tempat tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri. Bagi anda yang ingin berkunjung ke Malang, ingin sewa mobil malang murah dengan pelayanan yang oke, jangan ragu untuk menghubungi Bigtravelindo.

Sang Ibu akhirnya mengatakan pada sang anak, "Pergilah dengan ayah angkatmu anakku, dia akan mengajarimu, karena kamu tidak mau mematuhi saya, pergi dan bekerjalah di sana."

"Baiklah, ibu, saya akan pergi ke rumah ayah angkat saya. Karena saya tidak berguna bagi ibu, saya akan pergi dan bekerja dengan ayah angkat saya."

Kemudian tibalah anak itu di tempat ayah angkatnya. "Saya datang, ayah, apa yang bisa saya lakukan untuk anda? Tinggal bersama ayah angkatmu, begitu ibu saya berkata, karena itulah saya datang ke sini untuk ayah."

"Baiklah, anakku," kata ayah angkat itu kepadanya, "Kamu akan bekerja untuk saya."

"Baiklah ayah, saya akan bekerja, saya akan melakukan apapun yang ayah katakan kepada saya; semua yang ayah katakan kepada saya, akan saya lakukan."

"Baiklah, sekarang aku akan memberitahumu sesuatu," kata ayah angkat. "Kamu besok pagi sekali menyapu, jam tiga pagi aku tidak akan membangunkanmu, aku hanya akan memberitahumu sekarang."

"Baiklah," kata anak laki-laki itu. Saat fajar dia pergi dan menyapu. Setelah selesai menyapu, dia pergi menemui ayah angkatnya.

"Ayah, aku sudah selesai menyapu semua tempat, jadi aku datang untuk memberitahumu."

"Baiklah, saya senang kamu sudah menyelesaikannya. Sekarang istirahatlah." Hari lain berlalu dan ayah angkat memberinya tugas berikutnya:

"Sekarang, saya akan memberi tahu kamu apa yang harus kamu lakukan besok pagi, kamu akan membunyikan bel pada pukul enam sebanyak tiga kali dan saat kamu selesai, datang dan beritahu aku."

"Baiklah," kata anak laki-laki itu. Keesokan harinya di pagi hari anak laki-laki itu membunyikan bel. Kemudian dia mendatangi ayahnya.

"Ayah, saya telah membunyikan bel tiga kali," katanya pada sang ayah.

"Baiklah," kata sang ayah. Hari yang lain sudah berakhir dan sang ayah sekali lagi berbicara kepada anaknya:

"Sekarang aku akan memberitahumu sekali lagi apa yang harus kaulakukan besok."

"Baiklah," kata anak laki-laki itu.

"Bunyikan bel lagi pada pukul tiga pagi."

"Baiklah," kata anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu bangkit dan teringat akan membunyikan bel. Dia pergi untuk membunyikan bel, tapi ayah angkatnya akan memberikan ujian kepada anak itu. Dia meninggalkan jerangkong tengkorak di tempat bel berada. Kita anak ini sampai di sana pada pukul tiga pagi, dia menemukan jerangkong kerangka manusia yang menyeramkan berdiri menghalangi jalannya. Dia berkata kepada kerangka itu:

"Pergilah, aku datang untuk membunyikan bel, jangan menghalangiku, jauhi jalanku karena ayahkumenyuruhku membunyikan bel. Pergilah dari jalanku atau aku akan membunuh kamu!"

Kerangka itu tidak menyingkir, dia tidak bergerak dan dia tidak menjawab. "Jawab, atau kau ingin aku membunuhmu?" Anak laki-laki itu berteriak keras pada kerangka itu.

"Jika untuk ketiga kalinya kamu tidak menjawab saya, saya akan menghancurkan kamu hingga berkeping-keping. Itulah yang kamu inginkan, itulah akibat kamu menghalangi saya, jadi sekarang kamu akan mati, saya akan buang kamu jauh-jauh dari sini." Dan dia mendorong kerangka itu. Ketika dia berhasil memecahkan kerangka itu, dia kemudian membunyikan bel. Dia pergi ke kamar ayah angkatnya dan mengetuk pintu untuk membangunkannya. Sang ayah terbangun dan berkata:

"Apa itu?" tanya sang ayah kepada anak laki-laki itu.

"Bangun yah, saya sudah membunyikan bel," kata anak laki-laki itu kepada ayahnya tersebut. Sang ayah mendengar ini dan terkejut.

"Oh, apakah kamu yang membunyikan bel?" tanya sang ayah.

"Ya, saya membunyikan bel ayah," kata anak laki-laki itu.

"Apa kau tidak melihat sesuatu di jalan?" tanya ayah.

"Ya, ayah," jawab anak itu, "saya melihat sesuatu."

"Apa yang kamu lihat?" tanya pendeta ayah kepada anak laki-laki itu.

"Saya melihat seseorang yang menghalangi saya dan mencegah saya untuk membunyikan bel," jawab anak itu.

"Oh, jadi apa yang kamu lakukan?" tanya ayah. "Apa kau tidak takut padanya?

"Tidak ayah."

"Jadi apa yang kamu lakukan?"

"Saya mendorongnya dan dia terjatuh dan pecah di lantai."

Kemudian sang ayah berkata, "Demikianlah nak, itu yang akan terjadi bila kita menjadi anak yang tidak menurut, tidak mau mendengar dan tidak mematuhi perintah orang tua. Itu selayaknya seperti tulang kerangka yang dengan mudah akan hancur sia-sia."

Sumber: Disini
Share:

Tuesday, October 17, 2017

Amero Kopfhi - Dongeng Afrika

Pada jaman dahulu, adalah seorang pria bernama Kofi Amero yang tinggal di sebuah desa bernama Amero Kopfhi. Desa itu dinamai menurut namanya karena pada masa itu dia adalah orang terkaya di seluruh wilayah tersebut. Kofi Amero adalah orang yang sangat pelit, tidak adil, jahat dan egois. Terlepas dari kekayaannya, dia hidup sendiri tanpa istri atau anak karena tidak ada wanita yang bisa menerima tingkah lakunya yang aneh.

Pada suatu hari yang cerah, setelah Kofi Amero sarapan, dia sedang bersantai di teras depan rumahnya ketika tiba-tiba dia melihat seorang asing yang mengenakan pakaian yang sangat compang-camping dan lusuh. Pria itu tampak sangat aneh sehingga Kofi Amero memutuskan bahwa dia pasti orang gila dan berusaha mengabaikannya. Dia sedikit terkejut ketika pria tersebut tiba-tiba memanggilnya dan meminta beberapa makanan darinya. Kofi Amero tidak suka memberi sedekah, dan dia sangat kesal karena harus memberikan sesuatu. Namun dia punya beberapa talas mentah tergeletak di bawah jendela, jadi dia mengambil sepotong kecil kering dan melemparkannya ke pengemis tersebut. Pria itu menggenggam talas itu dan dengan rakus memakannya dalam hitungan detik. Ketika dia makan pada gigitan terakhir kemudian menjilati jarinya, dia tiba-tiba berubah di hadapan Kofi Amero yang tercengang, pengemis itu berubah menjadi malaikat Tuhan.

Kofi menjatuhkan diri ke lantai. Orang asing tersebut menenangkan Kofi bila dia tidak berbahaya. Dia berkata: "Kofi, karena kamu cukup berbaik hati memberikan saya sedikit dari makananmu, walaupun kamu mengira saya adalah pengemis yang bermasalah, sebelum meninggalkan tempat ini, saya akan memberi kamu tiga keinginan yang akan aku penuhi." - iklan- Bila anda yang tertarik menggunakan rental mobil malang surabaya, hubungi Bigtravelindo.

Seperti yang bisa anda bayangkan, Kofi Amero sangat senang saat mendengarnya. "Hahahah, heeheehee, hari ini akan menjadi hari yang baik bagiku!" Dia menggaruk kepalanya, bertanya-tanya apa yang mungkin bisa dia minta kepada malaikat itu, lalu memintanya masuk ke dalam. Dia menunjuk ke kursi tua di sudut kamarnya. "Guru, katanya, anda melihat kursi di sudut sana?" Malaikat itu mengangguk, "Ya, saya bisa melihatnya."

Kofi melanjutkan, "Nah, anda tahu, saya membeli kursi itu untuk diri saya sendiri, dengan biaya mahal, sehingga saya bisa beristirahat setelah seharian bekerja keras. Tapi itu satu-satunya kursi di rumah saya, dan setiap kali saya mendapatkan pengunjung, mereka harus duduk di dalamnya, dan saya harus tetap berdiri atau duduk di lantai. Itu benar-benar mengganggu saya. Saya ingin anda memasang mantra di atasnya, jadi jika ada orang yang berada di atasnya, selain saya sendiri, tentu saja, kursi itu akan melemparkan penghuninya ke udara! Begitu tinggi sehingga saat jatuh ke tanah mereka akan terluka dan tidak akan pernah mau duduk di kursiku lagi!"

Meskipun malaikat mengira ini bukan permintaan yang tidak biasa, dia memenuhinya dan berkata kepada Kofi, "Sudah selesai."

Kofi Amero mengusap kedua tangannya, dan membawa malaikat itu kembali ke depan rumah, di mana dia menunjuk sebuah pohon; "Guru, apakah anda  melihat pohon ini?" Malaikat itu mengangguk, "Ya, saya melihatnya." Kofi menjelaskan, "Saya menanamnya dengan biaya yang mahal untuk memperbaiki lingkungan, membuat tempat ini terlihat bagus dan hijau, tapi tahukah Anda Tuan, saya perhatikan bahwa orang-orang dari desa telah mencuri dedaunan dari pohon saya. Mereka bilang pohon itu bisa dijadikan obat dan menyembuhkan penyakit anak-anak, tapi saya sama sekali tidak senang dengan itu, sama sekali tidak!" Kofi terbatuk, lalu melanjutkan," Jadi, Tuan, saya ingin Anda memberi mantra pada pohon tersebut sehingga siapa pun yang mencoba memetik daun, tersedot ke pohon dan terjebak di dalamnya!"

Sekali lagi, malaikat menganggap ini sebagai permintaan yang agak aneh, tapi bukan tugasnya untuk menilai permintaan orang, jadi dia tidak punya pilihan lain selain memberikannya. Maka dia memberi tahu Kofi, "Baiklah, Kofi, ini sudah selesai. Apa keinginanmu yang ketiga dan terakhir? "

Kofi meminta malaikat untuk mengikutinya ke bagian belakang rumahnya. Di sana ia menunjukkan beberapa cangkul dan alat berkebun lainnya. "Anda lihat alat ini, Guru?" Tanya Kofi. Malaikat itu mengangguk. "Ya, saya bisa melihat mereka, alat yang bagus". "Persis! Saya setuju. Saya membeli alat ini dengan harga yang mahal. Namun orang terus datang setiap saat untuk meminjamnya. Terkadang mereka bertanya, terkadang tidak, mereka hanya datang dan memanfaatkan sifat baik saya. Dan tentu saja saat mereka merusaknya, saya harus membayar untuk perbaikannya. Jadi saya ingin Anda membuat alat tersebut menjadi sangat berat, sehingga setiap kali seseorang mencoba mengambil mereka, selain saya, tentu saja, mereka hanya akan menjatuhkan alat-alat tersebut dan jatuh pada jari kaki mereka! Kemudian mereka akan berpikir dua kali untuk menggunakan alat saya!"

Malaikat itu mengangguk sedih, "Baiklah, Kofi, katanya, ini sudah selesai. Aku meninggalkanmu sekarang." Setelah itu malaikat itu pun menghilang dan Kofi Amero ditinggalkan sendirian lagi.

Beberapa hari kemudian, saat Kofi Amero membersihkan diri setelah makan malamnya, Setan datang mengunjunginya. Tentu saja Kofi Amero tidak mengenali tamunya, dia mengundangnya ke dalam rumah dan menawarinya satu-satunya kursi yang ada untuk diduduki. Pengunjung yang merupakan jelmaan setan mendudukkan dirinya di atas kursi, dan begitu dia menyentuhnya, kursi tersebut melontarkannya ke udara!. Kemudian dia terjatuh dengan bunyi gedebuk hebat, kakinya terluka. Tamu itu bangkit, meluruskan bajunya, menyumpahi Kofi Amero dan tertatih-tatih pergi. Kofi Amero tertawa-tawa, dia senang jebakannya berhasil dan malam itu dia tidur sangat nyenyak.

Pada hari yang lain, Kofi Amero bersiap-siap untuk pergi bekerja saat mendengar keributan keras di bagian belakang rumah. Dia berjalan berkeliling menuju ke sana dan dia kemudian disingkirkan oleh salah satu tetangganya, yang terpincang-pincang dan mengutuk pada kali pertama dia menatap Kofi Amero. Kofi tertawa terbahak dan menyerukan kepada tetangga, "Biarlah itu menjadi pelajaran bagi mu! Kamu harus menabung dan membeli alat sendiri! "Insiden tersebut membuat Kofi Amero dalam suasana hati yang baik sepanjang sisa hari itu.

Kemudian pada hari yang lain, ketika dia kembali dari pekerjaannya seharian di ladang, saat dia melihat seorang wanita dari desa demgam membawa bayi di punggungnya berjalan menuju ke pohon di depan rumahnya. Jelas bahwa sang ibu bermaksud untuk mencabut beberapa daun dari pohon itu, dan Kofi Amero kemudian mengamati bila jebakan ketiganya akan bekerja sebaik dua jebakan yang pertama. Begitu wanita malang itu menyentuh sehelai daun, dia ditarik ke arah pohon dengan kekuatan tak terlihat, dan mendapati dirinya tertancap di sela pohon. Dia meminta bantuan, tapi Kofi Amero hanya menertawakannya.

"Anda pikir Anda bisa mengambil apa yang dimiliki saya tanpa membayar! Anda pikirkan hal tersebut ketika terjebak di sana!", demikian katanya.

Malam itu Kofi Amero sedang makan malam, dia tidak bisa berhenti menertawakan kondisi wanita yang menempel di pohon, dan kedua pria yang terjatuh ke dalam perangkapnya. Semakin dia memikirkannya, semakin dia harus tertawa; tawanya meledak dalam ledakan yang tak terkendali.

Tapi tiba-tiba dia berhenti, rasa sakit yang hebat melanda dadanya, dan Kofi Amero roboh, dia menderita serangan jantung. Beberapa hari kemudian, saudara laki-laki Kofi Amero, yang bekerja di ladang sebelah Kofi, menjadi penasaran kenapa dia belum pernah bertemu dengan saudaranya selama beberapa waktu dan memutuskan untuk menjenguknya. Ia menemukan Kofi telah tewas di lantai kamarnya. Segera dia memberitahukan anggota keluarga lainnya dan membuat pengaturan pemakaman. Tubuh Kofi mulai membusuk dan pemakaman ini harus dilakukan dengan agak terburu-buru. Kofi Amero dimakamkan tanpa banyak upacara, hanya dua saudara laki-lakinya yang menghadiri pemakaman tersebut. Tak satu pun dari penduduk desa tersebut ingin menyia-nyiakan waktu mereka untuk berkabung atas seseorang yang mereka benci.

Kemudian Kofi Amero sampai di gerbang surga untuk diadili. Dia disambut di sana oleh malaikat yang pernah menemuinya beberapa waktu yang lalu, namun Kofi Amero tidak mengenalinya. Malaikat itu mengeluarkan sebuah buku besar dan mengundang Kofi Amero untuk melihat tulisan di sana tentang dia. "Seperti yang bisa Anda lihat, Kofi Amero", kata malaikat itu, "selama hidup Anda, Anda hanya pernah melakukan satu hal yang baik, yaitu saat Anda memberi saya beberapa talas Anda. Tapi semua hal yang lain yang tertulis tentang Anda adalah hal yang buruk dan egois yang Anda lakukan terhadap keluarga dan tetangga Anda. Anda tidak memenuhi syarat untuk masuk ke tempat ini. Anda harus pergi ke neraka."

Kofi Amero berjalan menjauh dari gerbang surga dan berjalan ke gerbang neraka. Ketika sampai di sana ia menemukan Setan yang menunggunya. Setan mengenalinya sebagai orang yang memainkan tipuan jahat padanya dengan sebuah kursi dan dengan tegas menolaknya masuk. Jadi Kofi Amero ditolak masuk ke surga dan neraka. Karena dia telah gagal untuk menyenangkan penjaga surga atau neraka, akhirnya jiwanya ditakdirkan untuk berkeliaran dengan gelisah di antara kedua tempat tersebut selama-lamanya.

sumber: Click disini
Share:

Monday, April 10, 2017

Bahasa Burung - Dongeng Mengharukan dari Rusia

DAD - Dahulu kala di sebuah kota Rusia, hiduplah seorang pedagang kaya dengan istrinya. Dia memiliki anak tunggal yang mereka sayangi, anak yang ceria dan berani yang bernama Ivan. Suatu hari yang indah Ivan duduk di meja makan dengan orang tuanya. Dekat jendela di ruangan yang sama adalah sangkar burung dengan burung bulbul abu-abu manis bersuara di dalamnya. Bulbul manis mulai menyanyikan lagu yang indah dengan nada tinggi. Sang pedagang mendengarkan lagu dari sang burung dan berkata:

"Coba aku bisa memahami arti dari lagu-lagu yang berbeda dari semua burung! Aku akan memberikan setengah kekayaanku kepada orang itu. Coba ada seorang laki-laki tersebut, yang bisa membuat jelas bagiku semua lagu yang berbeda dari burung yang berbeda." Demikian katanya.

Ivan terus mengingat kata-kata ini kemana pun ia pergi, tidak peduli dia ada dimana, tidak peduli apa yang dia lakukan, dia selalu berpikir bagaimana ia bisa belajar bahasa burung.

Suatu ketika Ivan kebetulan berburu di sebuah hutan. Tiba-tiba angin bertiup dan langit menjadi mendung. Petir berkelebat, guntur meraung keras, dan hujan turun dengan deras. Ivan segera berteduh dibawah pohon besar dan melihat sarang besar di cabang-cabang pohon tersebut. Empat burung kecil berada di sarang; dia melihat tidak ada induk di sana untuk melindungi mereka dari dingin dan basah. Ivan yang baik budi merasa kasihan pada mereka, memanjat pohon dan menutupi-anak kecil tersebut dengan "kaftan", sebuah mantel panjang yang biasa dipakai oleh petani dan pedagang Rusia. Badai berlalu dan burung besar terbang datang dan duduk di cabang dekat sarang dan berbicara sangat ramah kepada Ivan. iklan - Ingin jalan-jalan ke Malang kota, jangan lupa untuk rental mobil Malang kota dengan click link disamping ya - iklan

"Ivan, aku berterima kasih kepadamu; engkau dilindungi anak-anak kecilku dari dingin dan hujan dan aku ingin melakukan sesuatu untuk kamu. Katakan apa yang kau inginkan..."

Ivan menjawab, "Aku tidak membutuhkan apa-apa, aku memiliki segalanya untuk kenyamananku. Tapi, ajarilah aku bahasa burung.."

"Tetaplah denganku selama tiga hari dan engkau akan tahu semua hal tentang itu." Demikian kata sang burung besar.

Ivan akhirnya tetap di hutan selama tiga hari. Dia memahami dengan baik ajaran yang diberikan burung besar dan kembali ke rumah lebih pintar dari sebelumnya. Suatu hari yang indah Ivan kembali sedang duduk bersama orang tuanya ketika burung bulbul kembali bernyanyi di kandangnya. Lagunya begitu sedih, bagaimanapun, pedagang dan istrinya juga menjadi sedih, dan putra mereka yang baik yaitu Ivan, mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan lebih terkena dampak dari lagu burung tersebut, air mata mengalir di pipinya.

"Apa masalahnya? Ada apa?" tanya orang tuanya. "Kenapa engkau menangis anak ku sayang?"

"Duhai ayah..." jawab ivan, "Aku menangis karena aku mengerti arti dari lagu burung bulbul, dan karena makna dari lagu ini sangat menyedihkan bagi kita semua."

"Oh?! Kamu bisa tahu? Beritahu kami seluruhnya, jangan sembunyikan sedikutpun dari kami," kata ayah dan ibu.

"Oh, betapa menyedihkan kedengarannya!" jawab Ivan. "Nasib kita akan berakhir dan telah diprediksi lewat nyanyian burung ini untuk sekian lama".

"Jangan menakut-nakuti kami," kata sang ayah, khawatir. "Jika kau memang benar-benar memahami makna dari lagu tersebut, beritahu kami semuanya."

"Apakah ayah tidak mendengar bulbul mengatakan: 'Saatnya akan tiba ketika Ivan, anak pedagang, akan menjadi Ivan, putra raja, dan ayahnya sendiri akan melayani dia sebagai hamba yang sederhana.'"

Pedagang dan istrinya merasa bermasalah dan mulai tidak percaya anak mereka, Ivan mereka yang baik. Jadi satu malam mereka memberinya minuman dengan obat tidur, dan ketika ia tertidur mereka membawanya ke perahu di laut yang luas, mengembangkan layar putih, dan mendorong kapal tersebut dari pantai.

Untuk waktu yang lama perahu menari di atas ombak dan akhirnya datang dekat kapal dagang yang besar, yang menghantam dengan tiba-tiba sehingga Ivan terbangun. Para kru di kapal besar melihat Ivan dan mengasihaninya. Mereka akhirnya memutuskan untuk membawanya bersama mereka. Lalu tiba-tiba, terdengar suara burung tinggi melengking di atas tiang kapal, Ivan lalu berkata:

"Hati-hati, aku mendengar burung-burung memprediksi badai. Mari kita masuk pelabuhan atau kita akan menderita bahaya besar dan kerusakan. Semua layar akan robek dan semua tiang akan rusak..."

Tapi tidak ada yang memberikan perhatian dan mereka pergi lebih jauh. Dalam waktu singkat badai muncul, angin merobek kapal hampir berkeping-keping, dan mereka memiliki waktu yang sangat sulit untuk memperbaiki semua kerusakan. Ketika mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka, mereka mendengar banyak angsa liar terbang di atas mereka dan berbicara sangat keras di antara mereka sendiri.

"Apa yang mereka bicarakan?" bertanya laki-laki, kali ini dengan sedikit memperhatikan Ivan.

"Hati-hati," saran Ivan. "Aku mendengar dan jelas memahami mereka mengatakan bahwa para perompak, perampok laut yang mengerikan, ada berada dekat sini. Jika kita tidak masuk pelabuhan segera, mereka akan memenjarakan dan membunuh kita."

Semua awak kali ini segera mematuhi nasihat ini dan segera setelah kapal memasuki pelabuhan, kapal bajak laut lewat dan para pedagang melihat mereka menangkap beberapa kapal lainnya. Ketika bahaya itu berakhir, para pelaut bersama dengan Ivan pergi sejauh-jauhnya. Akhirnya kapal mereka berlabuh dekat sebuah kota besar dan tidak diketahui oleh para pedagang. Di kota tersebut ada seorang raja yang memerintah yang merasa terganggu oleh ulah tiga gagak hitam. Ketiga gagak selalu bertengger di dekat jendela kamar raja. Tidak ada yang tahu bagaimana menyingkirkan mereka dan tidak ada yang bisa membunuh mereka. Raja memerintahkan pengumuman di semua tempat, mengatakan bahwa siapapun yang mampu meredakan burung gagak yang berisik, akan diberikan penghargaan dinikahkan dengan putri raja, tapi, juga dengan syarat, bila tidak bisa melakukannya, kepalanya harus siap dipotong!

Ivan dengan penuh perhatian membaca pengumuman ini, sekali, dua kali, dan sekali lagi. Akhirnya dia membuat tanda salib dan pergi ke istana. Dia mengatakan kepada para hamba pembantu raja:

"Buka jendela dan biarkan aku mendengarkan burung gagak itu berbunyi."

Para pelayan mematuhi dan Ivan mendengarkan untuk sementara waktu. Lalu ia berkata:

"Pertemukan aku dengan raja berdaulat anda."

Ketika ia mencapai ruang di mana raja duduk pada singgasananya, ia membungkuk dan berkata:

"Ada tiga burung gagak, sang ayah burung gagak, sang ibu, dan anak gagak. Masalahnya adalah bahwa mereka ingin mendapatkan keputusan dari sang raja, apakah anak gagak harus mengikuti ayah gagak atau ibunya."

Raja menjawab: "Anak gagak harus mengikuti ayah gagak."

Begitu raja mengumumkan keputusan kerajaannya, ayah dengan anak gagak pergi ke salah satu arah dan ibu gagak menghilang ke arah lain, dan tidak ada yang mendengar burung bising tersebut kembali. Raja memberi setengah dari kerajaannya dan menikahkan bungsunya kepada Ivan, dan mereka hidup bahagia.

Sementara itu ayah Ivan, sang pedagang kaya, kehilangan istri dan juga kekayaannya. Tidak ada siapapun yang merawatnya, dan orang tua itu pergi mengemis di bawah jendela. Dia pergi dari satu jendela ke jendela lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain, dan suatu hari yang cerah ia datang ke istana di mana Ivan hidup, memohon dengan rendah hati untuk sedikit amal. Ivan melihat dia dan mengenalinya, memerintahkan dia untuk masuk ke dalam, dan memberinya makanan dan juga menyediakan dia pakaian yang bagus, seraya mengajukan pertanyaan:

"Orang tua yang terhormat, apa yang bisa aku lakukan untuk engkau?" dia berkata.

"Jika engkau begitu sangat baik," jawab ayah miskin, tanpa mengetahui bahwa ia berbicara dengan anaknya sendiri, "biarkan aku tetap di sini dan melayani engkau di antara hamba-hamba yang setia-mu."

"Duhai ayah! Duhai ayah!" seru Ivan, "Engkau telah meragukan lagu sebenarnya dari burung bulbul, dan sekarang engkau lihat bahwa nasib kita adalah untuk memenuhi takdir yang telah di prediksi sekian lama."

Orang tua itu ketakutan dan berlutut di depan anaknya, tapi Ivan tetap anaknya yang baik sama seperti sebelumnya, menarik ayahnya dengan penuh kasih ke dalam pelukannya, dan bersama-sama mereka menangisi kesedihan mereka.

Beberapa hari berlalu dan ayah tua mendapatkan keberanian untuk meminta kepada anaknya:

"Katakan padaku, anak ku, bagaimana engkau tidak binasa dalam perahu?"

Ivan tertawa dengan gembira.

"Saya kira," jawabnya, "bahwa itu bukan nasib saya binasa di dasar laut yang luas, tapi nasib saya adalah menikah dengan istri saya yang cantik, dan untuk mempermanis usia tua ayah tersayang."

n3m0
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...