Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Cari sewa mobil murah di Malang? Langsung saja ke https://www.bigtravelindo.com/sewa-mobil-malang/ kepuasan dijamin!

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Tuesday, May 31, 2016

Sang Ayam Jago Dan Jarum Emas Sang Elang - Dongeng Yunani

Courtesy of ceritadongeng-indonesia.blogspot.com
dongeng anak dunia - Tersebutlah dua sahabat yang selalu hidup rukun satu sama yang lain, mereka begitu erat menjalin tali persahabatanya, dialah sang Ayam Jago dan sang Elang.

Meraka selalu saling membantu dalam semua kesulitan kehidupan, tidak pernah menghitung-hitung bantuan yang mereka berikan masing-masing, itulah nilai persahabatan sejati mereka yang tulus.

Seperti biasanya sang ayam Jago akan pergi ke hutan untuk mencari makanan, Si Ayam Jago sedang asyik mengais-ngais tanah tatkala seekor harimau lapar sedang mengintainya dari semak belukar yang tidak jauh dari tempatnya mencari rejeki.

Secara tiba-tiba harimau pun muncul, sudah tidak tahan menahan lapar untuk memangsa si Ayam Jago, maklum saja sang Harimau sudah dua hari tidak makan-makan.

Dengan terbirit-birit si Ayam Jago pun berlari secepatnya untuk menyelamatkan diri dari sang pemangsa yang sudah terkenal kekejaman sang harimau siRaja hutan.

Namun sang harimau pun dengan segala kemampuan mengejar mangsanya tanpa berhenti untuk segera menangkap dan memakannya.

Sang Ayam Jago tidak bisa terbang, sehingga dia hanyalah berlari di tanah dengan segala usahanya untuk selamat dari kejaran sang pemangsa harimau.

Sia-sia saja usaha sang Ayam Jago untuk lari dari kejaran sang Raja hutan, harimau bukanlah tandingannya dalam berlari si AyamJago telah terpepet disela pojokkan sebuah pohon besar.

Tinggal beberapa langkah lagi sang Harimau meloncat untuk menerkam, maka tamatlah sudah riwayat sang Ayam Jago untuk hidup didunia ini, keadaan sudah sedemikian gawat rupanya saat itu.

Namun Tuhan sang pencipta rupanya masih sayang terhadap sang Ayam Jago, sang penyelamat secara tiba-tiba datang dengan beberapa kali patukkan dan cakaran yang membuat sang harimau si Raja Hutan ketakutan dan lari menghindar masuk ke dalam hutan dengan bekas luka patukkan dan cakaran yang mengeluarkan banyak darah.

Pertolongan yang begitu tepat waktu telah dilakukan sang Elang untuk sang Ayam Jago sahabat karibnya, tentu saja sang Ayam Jago sangat berterima kasih kapada sang Elang sahabatnya tercinta.

"Terima kasih kawan! engkau telah datang tepat waktu untuk menolongku, kalau tidak ada engkau, aku telah berada diperut sang harimau," kata sang Ayam Jago dengan nafasnya yang tersenggal-senggal.

"Aku sahabatmu, sepantasnya aku menolomngmu kawan, bukankah kita harus saling tolong menolong dalam setiap kesusahan yang kita alami kawan," kata sang Elang sambil tersenyum lebar.

Hari itu sang Ayam Jago sangat beruntung sekali nasibnya bisa selamat dari kejaran sang Harimau yang sangat gesit dan lincah berkat pertolongan sang Elang yang memang sahabat karibnya.

Sang Ayam Jago sahabat sang Elang terdiam murung memikirkan nasibnya, seandainya tadi tertangkap tentu saja dia tidak akan lagi bertemu sang sahabat yang baik seperti sang Elang yang baik hati.

"Sudahlah kawan, jangan bersedih serta murung begitu, engkau sekarang sudah selamat, walaupun mungkin engkau masih shok,"sahut sang elang dengan sangat tegas.

"Ya,! apa daya nasib seekor ayam yang hanya bisa berjalan di tanah tidak bisa terbang sepertimu, andai saja aku bisa terbang sepertimu sahabat tentu aku akan dengan mudah selamat dari siapa pun yang mengejar serta mengincarku," sang ayam Jago berkeluh kesah kepada sang Elang.

"Akan aku coba membantu keinginanmu, namun itu pun kalau saja bangsa burung yang mempunyai sebuah pusaka memberi pinjam kepadaku," kata sang Elang.

"Pusaka! pusaka apakah yang engkau maksudkan?" tanya sang Ayam Jago.

"Begini! bangsa burung mempunyai satu buah pusaka yang namanya Jarum Emas, alat tersebut dapat digunakan bangsaku untuk menyulam sayap-sayap kami sehingga kami bisa terbang." jawab sang Elang. "Untuk itu berdoalah kawan semoga aku diberi pinjam Jarum Emas tersebut untuk menolongmu." lalu sang Elang pun terbang membungbung tinggi berusaha untuk meminjam Jarum Emas kepada Raja pimpinan burung Elang.

Karena hari sudah sore sang Ayam Jago pun akhirnya pulang kerumahnya untuk istirahat, besok dia akan menunggu kedatangan sang sahabatnya burung Elang.

Esok harinya sang Ayam Jago telah berada di depan rumahnya menunggu sang burung Elang sahabatnya yang akan meminjamkan Jarum Emas untuk menyulam sayapnya agar bisa terbang layaknya seekor burung.

Yang ditunggu pun akhirnya datang juga tepat waktu, setelah istirahat sebentar dan mimun air yang disuguhkan sang ayam Jago burung Elang membuka pembicaraan.

"Begini sahabatku! aku telah diberikan pinjam Jarum Emas oleh sang Raja burung, namun dengan satu catatan bahwa engkau harus berjanji untuk menjaganya dengan baik dan jangan sampai menghilangkan benda pusaka ini," kata sang Elang.

"Engkau tidak usah khawatir masalah ini, aku sahabatmu tidak mungkin aku mengecewakanmu," tegas sang Ayam Jago.

"Baiklah pergunakan dengan bijak jangan engkau pinjamkan kepada siapa pun tanpa ada izin dariku, engkau mengerti!" sang Elang pun berkata dengan sangat tegas.

"Baiklah siap, aku akan selalu menjaga serta bertindak bijak dengan barang pusaka ini," sang Ayam Jago pun kembali menjawab.

"Sekarang hatiku tenang dan percaya kepadamu Jarum itu aku pinjamkan selama tiga hari saja dan aku akan kembali," berkata sang Elang lalu terbang keangkasa raya nan luas.

Ayam Jago dengan segera menyulam sayapnya mengunakan benda pusaka Jarum Emas, tetapi baru setengah sayap yang disulamnya dia sudah tidak sabar untuk mencoba terbang dan dengan sembarangan dia menaruh benda pusaka di atas batu.

Benar saja ketika itu dia sudah bisa terbang naik keatas pagar yang terdapat ditempat itu, "Alaa mak.......aku bisa terbang akhirnya !!!" teriak si Ayam Jago dengan sangat bahagia dan bangga sekali.

Walaupun untuk saat ini dia hanya bisa terbang setinggi pagar rumah saja tetapi si Ayam Jago sudah sangat senang dan bangganya setengah mati, tiba-tiba sang Ayam Betina datang menghampirinya.

Sang Betina sangat takjub melihat si Ayam Jago yang sedang bertengger dengan bangga di atas pagar yang cukup tinggi, "Jago, Jago! bagaimana engkau bisa di atas pagar?" tanya sang ayam Betina.

"Tentu saja aku terbang," jawab sang Ayam Jago dengan congkak di depan sang Ayam Betina merasa bangga.

"Apakah bisa?" Tanya sang ayam Betina hatinya dibikin sangat penasaran sekali dengan sikap sang Ayam Jago tersebut.

"Mudah saja, aku telah meminjam benda pusaka Jarum Emas untuk menyulam sayapku makanya aku bisa terbang," si Ayam Jago menerangkan kepada sang Ayam Betina.

"Jarum Emas benda pusaka maksudmu apa?" tanya sang Ayam Betina.

"Engkau lihat saja di atas batu, disitu ada Jarum Emas, sulamlah sayapmu nanti engkau pun akan seperti aku bisa terbang," si Ayam Jago menunjukkan Jarum Emas yang tergeletak di atas batu.

Sang Ayam Jago telah lupa akan janjinya untuk tidak sembarangan meminjamkan benda pusaka Jarum Emas terhadap siapa saja tanpa seizin dari sang burung Elang sahabatnya.

Tidak menunggu lama lagi sang Ayam Betina lalu menyulam sayapnya dengan terburu-buru dan baru selesai sebagian dia sudah tidak sabar untuk mencoba terbang persis seperti si Ayam Jago tatkala tadi sedang menyulam.

Baru saja sebentar menyulam si Ayam Betina langsung mencoba terbang, demikan dia ulangi terus menerus tidak sabar sama sekali dan akhirnya dia dapat juga terbang naik ke atas bersama sang Ayam Jago bertengger di atas pagar.

Mereka berdua begitu bahagia dapat bertengger ditempat tinggi lalu mereka bercengkrama penuh dengan kegembiraan dan setelah lama bertengger mereka terbang kembali turun untuk menyelesaikan menyulamnya.

Tetapi apa yang terjadi, Jarum Emas yang tadi dipakai sang Ayam Betina telah raib hilang entah kemana, mereka berdua lalu mencarinya disela-sela bebatuan ditanah juga dirumput-rumput sekitar tempat itu namun Jarum Emas nya tetap saja tidak ditemukan.

Kemudia sang Ayam Jago berpikir apa yang menyebabkan benda pusaka itu hilang, "Mungkin tadi tatkala engkau mengibaskan sayap-sayapmu mencoba untuk terbang Jarum Emas terhempas dari batu ini," kata sang Jago kepada sang Betina.

"Baiklah kita cari terus sampai ketemu aku tidak ingin dimarahi sang burung Elang sahabatku," kata sang ayam Jago.

Meraka berdua panik setelah hari menjelang sore benda pusaka masih tetap raib tidak tentu rimbanya, kerena paniknya sang Ayam Jago dan sang Ayam Betina sampai-sampai mencakar tanah guna mencari benda pusaka yang menurutnya masuk ketanah terkubur.

"Bisa saja Jarum Emas terselip juga tertimbun tanah yang kita injak-injak dari semenjak tadi," kata mereka berdua sambil terus mengais-ngais tanah dengan cakarnya berharap menemukannya.

Sampai hari mau menjelang gelap mereka baru berhenti mencari sambil berjanji besok harinya pencarian akan dilanjutkan kembali.

Besok harinya mereka berdua mencari benda pusaka yang hilang, namun Jarum Emas tersebut tetap tidak dapat ditemukan kembali, semakin panik saja sang ayam Jago.

Satu hari lagi kesempatan untuk dapat menemukan Jarum Emas yaitu hari ketiga yang dijanjikan sang burung Elang untuk datang mengambil kembali Jarum Emas.

Sang Ayam Jago dan temannya sang Ayam Betina sudah sejak dari pagi-pagi buta telah berada ditempat dimana Jarum Emas itu hilang, mereka mengais-ngais tanah dengan mencakar-cakarnya hampir seluruh areal tempat tersebut namun tetap saja Jarum Emas tersebut tidak ditemukan mereka berdua.

Sang Ayam Jago sekarang sudah pasrah saja, dia akan kena marah besar dari sang sahabat setianya burung Elang yang sangat baik hati kepadanya.

Dan betul saja sang burung Elang sangat marah sekali mendengar sang Ayam Jago telah menghilangkan Jarum Emas milik Raja bangsa burung, kepercayaan penuh yang diberikan kepada sang Ayam Jago sahabatnya telah dihianatinya.

Janji untuk tidak meminjamkan Jarum Emas kepada siapa pun tanpa seizin darinya telah dilanggarnya sehingga benda pusaka milik sang Raja burung Jarum emas menjadi hilang.

"Sungguh engkau seorang sahabat yang tidak tahu diuntung!! kurang bagaimana aku terhadapmu selama ini, ketika engakau dalam kesulitan aku selalu menolongmu tetapi kepercayaan yang diberikan selama ini sungguh telah engkau sia-siakan," sang burung Elang kini sudah tidak percaya lagi terhadap bangsa ayam.

Lalu keluarlah kata-kata sang burung Elang yang mengancam, "Mulai saat ini dan seterusnya jangan harap anak cucumu aman dari ancaman bangsaku yang akan terus memburu anak cucumu dan keturunanmu sebelum engkau menemukan Jarum Emas milik Raja bangsa Burung," ucap sang Elang lalu terbang membungbung tinggi keangkasa.

Semenjak saat itu sampai sekarang bangsa ayam masih terus mencari Jarum Emas disetiap tempat yang dijumpai dengan cara mengais-ngais tanah, dia sang ayam berharap dapat menemukan benda pusaka milik sang Raja burung.

Jangan engkau menghianati janji kepada siapa pun sebab janji adalah hutang yang harus dibayar dan pertahankanlah setiap kepercayaan yang diberikan seseorang biar engkau tetap dipercaya siapa pun serta jadilah orang yang amanah untuk tetap selalu jadi pedoman dalam hidupmu. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Monday, May 30, 2016

Sang Putri Pandan Berduri - Dongeng Indonesia

Courtesy of suhaimiewi.blogspot.com
dongeng anak dunia - Dalam tatanan kehidupan suatu daerah selalu ada yang dikatakan tradisi atau adat istiadat yang berlaku dari penduduk yang sudah lama menempati suatu daerah tertentu.

Riau dengan pulau-pulaunya dan kehidupan penduduk asli suku laut yang akan menjadi cikal bakal tersebarnya nama-nama suku sebagai penghuni pulau Bintan. Putri Pandan Berduri adalah cerita rakyat kepulauan suku laut dari pulau Bintan.

Tersebutlah pada zaman dahulu kala perkumpulan suku laut yang mempunyai ketua yang adil dan bijaksana dan selalu santun dalam bertutur kata, dialah seorang yang bernama Batin Lagoi.

Contoh teladan pemimpin yang mencintai rakyaknya dan juga sangat dicintai penduduk masyarakat di kepulauan suku laut tersebut.

Semak-semak pandan yang tumbuh di sepanjang pantai sangatlah rapat sekali, terlihat sang Batin Lagoi sedang berjalan tenang menikmati alam yang tersaji kala itu.

Asik benar dia seorang diri menikmati indahnya panorama yang disuguhkan alam bagi umat manusia yang ada dimuka bumi ini.

Namun sejenak langkah kaki sang Batin Lagoi terhenti, ada apakah gerangan yang membuat langkah sang pemimpin ini tiba-tiba berhenti?.

Telinganya mendengar suara tangisan seorang bayi, "tapi apakah mungkin di tengah hutan pandan yang luas ini ada seorang ibu yang tega meninggalkan bayinya?" pikirnya lagi dalam hatinya membatin.

"Aku tahu sekarang sumber suara tangisan tersebut dari sebuah gerombolan pohon pandan berduri di sebelah sini!" serunya.

Terlihat seorang bayi perempuan yang sangat lucu dan cantik sekali sedang menangis tergeletak di bawah semak pandan berduri.

Sang Batin Lagoi sangat kaget, cepat-cepat sang bayi tersebut diangkatnya dan digendong dalam pelukkannya, "tega sekali sang ibu bayi ini meninggalkan sang bayi cantik ini," pikirnya.

Sang Batin Lagoi pun akhirnya membawa sang bayi malang itu, dan akhirnya merawat dang mengurusnya seperti anaknya sendiri.

Sang Batin Lagoi sangat bahagia setelah kehadiran sang bayi cantik itu, hati sang pemimpin suku laut ini yang memang hidupnya hanya seorang diri saja.

Waktu pun berjalan terus tanpa terasa kini sang bayi perempuan cantik tersebut telah berubah menjadi seorang gadis cantik jelita.

Sang putri terkenal mempunyai sifat yang sangat terpuji sekali selalu hormat dalam tata krama tutur bahasanya sangat sopan dan selalu anggun bak layaknya seorang putri saja.

Semua penduduk suku laut sangat sayang kepadanya, dialah sang putri pujaan hati mereka.

Tak heran banyak sekali pemuda yang tergila-gila akan kecantikkan dan keanggunan sang putri pandan berduri ini. Dan harapan Sang ayah Batin Lagoi sang putrinya dapat dipersunting seorang pangeran anak Raja atau pemimpin yang akan membahagiakan sang anak tercinta.

Walaupun sudah banyak dari pemuda yang tinggal di daerahnya yang tertarik namun sampai sekarang masih belum ada yang berani meminta sang putri untuk dijadikan istrinya.

Kita tinggalkan dulu sang putri cantik dan sang ayah Batin Lagoi, kita jumpai dulu kehidupan yang terpisah di pulau galang.

Tersebutlah Julela dan Jenang Perkasa dua orang saudara kakak dan adik yang selalu hidup rukun bagaikan dua orang sahabat yang selalu setia kemana pun mereka pergi, mereka adalah putra anak dari pemimpin pulau Galang tersebut.

Namun ketika sang ayah berkata bahwa sang Julela sebagai kakak tertua yang akan menjadi penerus keturunan, dan akan menjadi pemimpin untuk menggantikan sang ayah yang sudah mulai tua, sikap sang kakak menjadi sombong dan selalu bertindak semena-mena terhadap sang adiknya.

Seluruh perkataan sang Julela katakan harus selalu dituruti walaupun dia berbuat kurang baik, sebab merasa dirinya yang berkuasa dan nanti akan menjadi seorang pemimpin.

Melihat peragai sang kakak tercinta yang berubah menjadi sombong, sang adik pun hatinya sangat khawatir sekali, bagaimana nantinya negeri pulau Galang tercinta mempunyai seorang pemimpin yang sombong.

Yang pada akhirnya sang Jenang Perkasa pun pergi meninggalkan negeri tercinta berlayar mengikuti kaki melangkah yang pada akhirnya terdampar di pulau Bintan.

Jenang Perkasa memilih menjadi pekerja sebagai pedagang layaknya rakyat jelata yang hidup sederhana tidak pernah mengaku seorang anak dari pemimpin pulau Galang.

Tentu saja seorang pendatang yang baru tinggal di negeri Bintan sang Jenang Perkasa yang bertabiat halus dan selalu santun dalam bertutur kata dengan cepat dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Dan seluruh penduduk pun dengan cepat mengenalnya sebagai sang pemuda ganteng yang berbudi pekerti baik dan sopan dalam bertindak tanduk sehari-hari.

Kabar angin pun sampai juga kepada sang pemimpin pulau Batin Lagoi, dia sangat ingin mengenal siapa pemuda yang menjadi pembicaraan penduduk yang selalu bertingkah baik dan terkenal santun.

Maka dibuatlah acara makam malam yang akan dihadiri seluruh warga tokoh masyarakat dan tidak lupa undangan khusus buat sang pemuda terkenal Jenang Perkasa.

Undangan yang sampai ditangannya membuat sang Jenang Perkasa heran. "Apakah mungkin aku seorang pendatang yang belum lama tinggal di negeri Bintan telah diundang sang pemimpin negeri pulau tersebut."

Namun sang Jenang Perkasa dengan segala hormat datang ke tempat perjamuan makan tersebut dengan sikap seorang tamu biasa yang sangat sopan dan tahu adat, layaknya seorang pangeran yang terpelajar.

Tentu saja sikap dan gerak-gerik tidak luput dari perhatian sang Batin Lagoi yang kagum akan cara bertindak sang Jenang Perkasa.

Terbersitlah niat didalam hatinya untuk menjadikan sang pemuda ini menjadi suami dari sang anak tercinta putri Pandan Berduri.

Batin Lagoi pun sudah tidak ingat lagi akan cita-citanya mencarikan suami sang anak seorang pemimpin yang berkuasa.

Dihampirinya sang pemuda pilihannya itu serta berkata, "hai kamu anak muda! sudah lama aku mendengar siapa dirimu dan sekarang aku bertemu dengan dirimu disini."

Sang Jenang Perkasa hanya tersenyum saja mendengar teguran sang pemimpin pulau Bintan yang datang dan menyapanya.

"Kamu seoarang pemuda yang mempunyai budi perkerti baik dan selalu berlaku sopan terhadap siapa pun!" katanya.

"Aku pemimpin pulau Bintan meminta dirimu untuk menjadi suami dari anakku Putri Pandan Berduri, bersediakah engkau, Hai anak muda?" katanya mengejutkan hati sang pemuda ini.

Tentu saja sang Jenang Perkasa bersedia sekali, siapa sih orang yang tidak akan bersedia dijodohkan seorang putri cantik nan jelita dan berhati sangat mulia.

"Hamba bersedia tuanku," jawabnya tegas.

Senyumannya tersungging penuh kegembiraan yang amat sangat, sambil matanya menatap tajam kepada sang pemimpin pulau bintan Batin Lagoi dengan penuh rasa hormat dan tanggung jawab akan ucapannya.

Sang Batin lagoi pun merasa puas terhadap sikap jantan seorang pemuda pilihan hatinya yang akan menjadi mantunya dan menjadi suami dari putri tercintanya.

Selang beberapa hari kemudian pesta akbar pun berlangsung dengan meriahnya. Seluruh penduduk tidak terkecuali dari anak-anak sampai orang tua kakek-nenek ikut hadir diundang dalam pesta meriah penikahan sang putri tercinta.

Sepasang mempelai yang sangat serasi sekali dipandang mata, sang pengantin lelaki dengan gagah dan gantengnya bersanding dengan seorang putri yang sangat cantik jelita.

Seluruh rakyak penduduk pulau bintan suku laut sangat senang sekali melihat pasangan tersebut demikian pula sang ayah pimimpin negeri tersebut.

Hari-hari mereka berdua diisi dengan kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, Putri Pandan Berduri hidup bahagia disamping sang suami Jenang Perkasa.

Dan sang pemimpin pulau Bintan pun tahu mantunya memiliki jiwa dan bakat yang berani untuk menjadi seorang pemimpin maka setelah usia tidak muda lagi, Bintan Lagoi pun menyerahkan kursi kepimpinannya kepada sang Jenang Perkasa.

Mulai saat itu pulau Bintan mempunyai seorang pemimpin yang masih muda yang berjiwa pemberani namun selalu berlaku adil dan bijaksana, seluruh rakyat penduduk pulau Bintan pun sangat menghormatinya.

Dan termasyurnya sang Jenang Perkasa sampai ke negeri pulau Galang tempat kelahirannya serta seluruh rakyat meminta sang Jenang Perkasa utnuk menjadi pemimpin di pulau Galang. Namun secara halus sang Jenang Perkasa menolak keinginan rakyatnya di pulau Galang tersebut.

Putri Pandan Berduri melahirkan tiga orang putra yang kesemuanya mempunyai nama adat tradisi kesukuan Pulau Bintan.

Anak yang pertama bernama Batin Mantang dia sang kepala suku pulau Bintan bagian utara, anak yang kedua bernama Batin Mapoi dia menjadi kelapa suku pulau Bintan bagian barat, dan anak yang ketiga bernama Kelong menjadi kepala suku pulau Bintan bagian timur.

Ketiga anaknya menjadi pemimpin yang arif bijaksana.

Demikianlah cerita dari kepulauan Riau ini yang telah menjadi cerita rakyat yang telah berkembang dari zaman ke zaman.

Namun nama mereka sampai kini menjadi cerita yang dikenang selalu dan tetap hidup menjadi kenangan indah suku laut di sepanjang pantai pulau Bintan.

Sikap yang baik dan bertabiat baik tentu saja akan membuat semua orang senang terhadapnya dan akan menjadi modal dalam pergaulan hidup yang baik pula. Jagalah sikap yang kurang baik dan rubahlah menjadi tindakkan yang baik dan benar. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Thursday, May 26, 2016

Sang Bunga Dan Sang Kupu-Kupu - Dongeng Yunani

Courtesy of id.aliexpress.com
dongeng anak dunia - Tersebutlah pada zaman dahalu kala tentang sebuah hutan belantara yang banyak ditumbuhi pepohonan buah-buahan hutan yang segar-segar serta manis-manis pada musimnya.

Pada musim buah, dibulan tersebut pohon-pohon telah berbunga, cikal bakal buah yang akan menjadi pusat rebutan semua hewan-hewan yang menyukai buah-buahan dihutan belantara tempat tersebut.

Hutan tersebut menjadi tempat kesukaan dari berbagai binatang seperti rusa, panda, beruang, burung-burung serta serangga-serangga lainnya yang membuat sarang dipohon-pohon tersebut.

Oh betapa banyak hewan-hewan yang selalu ingin tinggal serta lama-lama dihutan tersebut karena makanan yang tersedia begitu melimpah-ruah tidak akan ada habis-habisnya, Tuhan sungguh maha penyayang kepada makhluk hidup ciptaannya.

Hari itu hutan yang asri dan ramah tersebut kedatangan seorang tamu yang sangat terkenal dengan kerakusannya, dialah sang Lili ulat sipemakan daun pepohonan yang sangat rakus.

Selera makan sang Lili ulat yang begitu besar tidak pernah mengenal kenyang membuat daun-daun pohon yang ditinggalinya menjadi habis dilalap masuk kedalam perutnya.

Sehingga banyak sekali pohon-pohon yang tidak mau ditinggali olehnya yang bersifat sangat rakus dan juga tamak dalam urusan selera makannya.

Untuk itu dia selalu berpindah-pindah tempat dari satu pohon yang mengusirnya ke pohon lain untuk mencari tempat tinggal selama hidupnya di hutan tersebut.

"Tuan pohon apel hutan yang sangat baik hati!!! bisakah saya tinggal didahanmu barang beberapa hari saja?" bertanya sang Lili ulat kepada pohon Apel hutan yang kala itu sedang berbunga.

"Maaf sekali, engkau kali ini tidak bisa tinggal didahanku karena aku sedang berbunga,  nanti aku tidak bisa berbuah dengan baik musim ini, kalau daun-daunku engkau makan habis," jawab pohon apel hutan.

"Mungkin engkau bisa mencari pohon lain yang bisa engkau tempati saat ini, pikiranku sedang fokus untuk menjaga dan membesarkan buah-buahku," jawab pohon apel hutan kemudian.

"Jangan takut Tuan pohon Apel, suatu hari nanti aku akan membalas semua budi baik yang engkau berikan hari ini untukku, aku sudah tidak lagi memiliki tempat tinggal sekarang," kata sang Lili ulat memohon dengan sangat memelas sekali.

"Sekali lagi aku katakan tidak boleh, mengapa engkau memaksaku!!! kamu pun tahu semua binatang yang tinggal dipohonku, mereka pasti akan marah jika engkau ikut tinggal didahanku." bentak sang Pohon Apel hutan tetap tidak setuju Lili ulat untuk tinggal didahan pohonnya.

"Selain makan banyak, engkau makhluk jelek yang sangat tidak berguna untukku yang kerjanya hanya makan serta makan dan tidak ada pekerjaan lain yang bermanfaat untukku, pergi saja sana cari pohon lain yang mau engkau tinggali," pohon Apel hutan sudah hilang kesabarannya, dia pun membentak dengan suara sangat keras dan nyaring.

Dengan perasaan yang begitu sedih, dia pun berangkat meninggalkan tempat tinggal Apel hutan yang tidak mau berbagi tempat dengannya saat ini.

Namun apa boleh buat setiap pohon yang berada ditempat tersebut menolak untuk berbagi tempat dengan Lili ulat, dengan alasan yang sama seperti yang dikemukakan sang pohon Apel hutan, dia terus berjalan dengan langkah kaki gontai keluar menuju pinggiran hutan.

Setelah sampai dipinggiran hutan, dia menangis sejadi-jadi meratapi nasib badan yang sedang menimpahnya, namun tanpa dia sadari pohon bunga matahari sedari tadi memperhatikan tingkah laku sang Lili ulat yang sedang manangis memilukan hati.

Setelah sekian lama suara tangisan dari sang Lili ulat pun berhenti lalu pohon bunga matahari memanggilnya, "Hai Lili ulat mengapa engkau menangis terus?, Kesinilah aku ingin tahu apa penyebab engkau menangis sedemikian rupa!" seru panggilan pohon matahari mengagetkannya.

"Apakah ada yang memanggilku? siapakah yang tadi bicara?" Lili Ulat bertanya melihat sekeliling tempat tersebut.

"Aku bunga matahari, maka tengoklah engkau keatas, siapa yang tidak kenal denganku ratu dari segala bunga yang terdapat dihutan ini," jawabannya yang sangat tegas dari sang pohon bunga matahari.

Lili ulat menghampiri pohon bunga matahari, lalu dia pun bercerita tentang nasib yang kini sedang dia alaminya, pohon bunga matahari sungguh sangat iba mendengar cerita yang mengharukan tersebut.

"Aku mengerti sekarang mengapa engkau tadi menangis mulai sekarang engkau tidak usah menangis lagi, Lili ulat engkau boleh tinggal disini dimana pun engkau suka," kata sang pohon bunga matahari.

"Benarkah itu? apa yang engkau katakan barusan?" tanya sang Lili ulat sambil matanya menatap sang bunga matahari menyelidiki kebenaran ucapannya dari sorat matanya.

"Untuk apa aku berbohong terhadapmu, dan lagi tidak ada satu hewan pun yang sudi tinggal karena aku tidak bisa berbuah besar hanya biji-biji kecil tidak seperti pohon-pohon yang lain" kata sang pohon bunga matahari.

"Jika engkau memang suka dan mau tinggal disini bersamaku atau ditempat lain sekitar sini silahkan saja aku jamin mereka pun mau engkau tempati, semuanya pohon dan pohon-pohon bunga matahari yang ada disekitar sini adalah rakyatku dan aku sangatlah senang bila engkau mau tinggal disini sebab aku akan mempunyai teman," jawab sang pohon bunga matahari menerangkan panjang lebar.

"Namun kawan jangan salah, aku adalah hewan yang makannya banyak sekali, kata mereka daun-daun akan habis aku makan bila aku tinggal dipohonnya," jawab Lili ulat pun menerangkan kebiasaannya.

"Daunku akan habis bila engkau tinggal dipohonku, tidak apa-apa aku rela daunku habis tetapi aku tidak rela bila tidak punya kawan dan hidup sendiri rasanya dunia akan sepi bila hidup tanpa ada seorang kawan apalah artinya sehelai daun dari pada kehilangan kawan," sang pohon bunga matahari berkata lagi menerangkan kembali.

Lili ulat pun sangat senang sekali hatinya betapa jawaban yang keluar dari kata-kata pohon bunga matahari begitu bijak dan sangat menghargai seorang kawan dari pada sehelai daun pohonnya.

Dan semenjak saat itu Lili ulat serta bunga matahari menjadi sahabat yang tidak pernah saling berselisih, mereka berdua akan bercerita sambil tertawa-tawa setiap harinya penuh dengan rasa bahagia, itulah awal terindah yang dialami dua sahabat yang setia tersebut setiap harinya.

Dan pada suatu saat ketika itu............"Sahabatku pohon bunga matahari yang baik hati,......mungkin ini hari dimana kita bisa bercanda dan bersenda gurau untuk yang terakhir kalinya dengan engkau yang telah berbaik hati padaku," kata Lili ulat dengan nada bicaranya yang begitu sedih tidak rela hatinya harus berpisah dengan sahabat terbaiknya.

Tentu saja sang pohon bunga matahari sangat terkejut, "Kenapa kawan apakah engkau sudah tidak betah tinggal disini, mengapa engkau tega meninggalkanku sebagai teman terbaikmu?" bertanya sang pohon bunga matahari.

"Bukan-bukan itu maksudku, aku tidak mungkin meninggalkan sahabat terbaikku yang telah berjasa banyak terhadap hidupku, aku hanya akan pamit untuk berpuasa serta mengurung diri dengan tidur panjang, sudah saatnya bagi diriku untuk membalas budi baik yang selama ini telah engkau berikan terhadapku," Jawab Lili ulat.

"Mengurung diri, berpuasa serta tidur panjang aku sama sekali tidak mengerti akan ucapan yang barusan engkau katakan padaku...." pohon bunga matahari pun menjadi sangat kebingungan dengan kata-kata yang di ucapkan sahabatnya.

"Jangan takut pada suatu saat nanti engkau akan mengerti semua yang aku ucapkan tadi kawanku, aku mau pinjam dahan pohonmu untuk membangun sebuah rumah tempat aku berpuasa selama tidur panjangku, aku berharap engkau memberikan izin kepadaku," kata Lili ulat.

"Silahkan saja kawanku, asalkan menurutmu itu jalan yang memang sangat baik untuk kehidupanmu aku sebagai sahabatmu hanya bisa berdoa untuk keselamatanmu," jawab sang pohon matahari memberikan semangat.

Esok harinya sang Lili ulat mencari dahan yang cocok untuk membangun rumah serta puasa yang akan dijalaninya, lalu dirinya dibungkus benang-benang halus maka terbentuklah sebuah kantong kepompong yang didalamnya terdapat dirinya.

Hari-hari pun berlalu sang pohon matahari menunggu serta merawat sahabat baiknya dari tidur panjangnya, dia melindunginya dari panasnya sinar matahari dan dari air hujan yang mengguyurnya, maka tibalah saat yang ditunggu-tunggu lili ulat pun bangun dari tidurnya.

Namun apa yang didapat bukanlah sahabat yang ditunggu-tunggu dengan setiap harinya yang keluar dari dalam rumah kepompong tersebut, melainkan seekor makhluk asing yang tidak dia kenal sebelumnya tentu saja sang pohon bunga matahari sangat kecewa sekali hatinya.

Makhluk asing tersebut sangatlah cantik bersayap indah sekali, "Siapakah engkau? mengapa engkau yang keluar dari rumah itu bukan sahabatku si Lili ulat?" Tanya bunga matahari.

"Sebentar kawan mungkin engkau tidak mengerti masalah ini, aku adalah Lili ulat sahabatmu yang dulu karena aku telah masuk rumah kepompong aku akan keluar menjadi seekor kupu-kupu, makanya ketika aku menjadi ulat aku selalu makan banyak untuk bekal selama aku puasa untuk menjadi seekor kupu-kupu, sekarang saatnya aku membalas budi baikmu," kata lili ulat sang kupu-kupu cantik.

Mendengar keterangan yang diucapkan Lili ulat sang kupu-kupu cantik barulah sang pohon bunga matahari menjadi sangat gembira hatinya kini dia dapat bertemu lagi sahabat karibnya yang sangat setia.

Kupu-kupu itupun membantu penyerbukan putik bunga matahari menjadi biji untuk dapat berkembang biak menjadi biji yang kalau jatuh ketanah menjadi bakal tanaman kecil yang tumbuh baru, seluruh rakyat pohon bunga matahari pun sangat berterima kasih terhadap kupu-kupu yang telah berjasa dalam penyerbukan.

Semenjak saat itu pohon bunga matahari dan kupu-kupu selalu hidup bersama bagaikan dua sahabat yang tidak akan terpisahkan dengan waktu, mereka semakin saling sayang dan menghargai semua kebersamaan mereka sahabat sejati yang terus berlanjut sampai keturunan mereka melanjutkannya. Sampai sekarang anak cucu dari kupu-kupu dan pohon bunga matahari terus bersahabat dan selalu menjadi sahabat, teman sejati yang sangat setia.

Hargailah semua yang ada pada sahabatmu, nanti pun sahabatmu akan membalas semua penghargaan yang telah kita berikan atau dikorbankan untuknya. Suatu saat balas budi dari semua jasa yang telah engkau korbankan akan mendapat imbalannya. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Tisna Wati Ratu Gunung Padi - Dongeng Indonesia

Courtesy of muhamir-jozz.blogspot.com
dongeng anak dunia - Pada zaman dahulu kala tinggallah di Surganya para Dewa, Batara guru yang mempunyai Dewi Tisna Wati. Sang Dewi Kecil yang paling indah cantik nan menawan hati. Namun sang dewi tidak senang tinggal di surga para Dewa.

Dan ketika sang Dewi menatap jauh kebumi nan jauh di bawah sana,  serta melihat orang-orang yang sibuk melakukan aktifitas sehari-hari hatinya merasa iri. Ingin rasanya turun ke bumi dan menjadi manusia biasa yang bisa hidup bebas melakukan apa saja tidak seperti dirinya yang harus taat akan peraturan sebagai Dewa dewi.

Demikian pula ketika sang ayah pergi berperang menghadapi pengacau langit dan udara, dia tinggal sendirian tidak bisa ikut serta menemani sang ayah.

Dan sekembalinya dari perang menumpas sang pengacau, sang ayah akan salalu cemberut tidak akan ada keluar rasa canda tawa sebagai penghibur lara hati, nampak saja wajah yang selalu serius.

Suatu saat ketika sang ayah melihat sang putrinya selalu bermuram durja, sang ayah menjadi marah maka di panggillah sang putri.

"Kemari anakku! apa yang membuatmu selalu bermuka murung?" bertanya sang Batara Guru kepada putrinya.

"Saya ingin menjadi manusia biasa dan turun ke bumi!" seru sang putri Tisna Wati.

"Oh tidak bisa anakku, kamu telah meminum air abadi dan akan menjadi kekal hidup selamanya di surga Tujuh Dewa, saya tidak bisa mengabulkan permintaanmu anakku!" seru sang Dewa Batara Guru kepada putri dengan nada bicara yang cukup keras.

"Dan aku akan memilih seorang Dewa muda untuk pendamping hidupmu dan akan menjadi suamimu!" katanya lagi tandas sekali.

"Supaya bisa mengajarkanmu adat yang baik dan sempurna sebagai anak dari seorang Dewa Batara Guru!" lanjutnya lagi.

"Namun ayah, saya telah memilih seorang yang akan menjadi suami hamba!" sang Dewi menangis terharu, tatkala sang ayah akan memilihkan jodoh buatnya.

"Tidak! tidak bisa, siapa  pun yang akan menjadi suamimu apa lagi dia anak dari keturunan musuh-musuhku raksasa udara yang sangat mengerikkan sekali, itu tidak mungkin terjadi anakku," serunya dengan bentakkan yang nyaringnya.

"Bukan ayah, dia tidak hidup di udara tidak juga tinggal di surga tujuh melainkan dia tinggal di bawah sana." "Lihatlah ayah di kaki gunung itu seorang pemuda yang begitu tampan sedang membajak sawahnya," katanya.

"Namun dia seorang anak lelaki dari bangsa manusia!" sang ayah sangat marah sekali. "Seorang manusia tidak bisa hidup berdampingan dengan seorang putri Dewa Dewi, itu tidak mungkin terjadi dan saya tidak akan merestuinya."

"Tetapi aku akan menikah dengannya," sambil menghentak-hentakkan kakinya sang Dewi saking kesalnya berteriak.
"Dan aku tidak akan pernah mau menikah dengan siapa pun, walaupun harus pergi meninggalkan surga ini untuk selama-lamanya."

Sang ayah pun sangat marah sekali, "Aku tidak akan memberimu restu menjadi istri dari seorang manusia biasa, yang berada di kaki gunung itu sebagai petani, kecuali engkau akan aku jadikan tangkainya padi mengertilah kamu!"     serunya.

Sang Dewi Tisna Wati sangat pahit sekali menerima kenyataan ini, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia takut nasibnya akan sama seperti Dewi Sri yang tidak taat pada suaminya dan dibunuh sang ayah dan menjadikannya batang padi, serta rohnya tetap abadi menjadi Dewi yang melindungi di sawah-sawah di alam bumi.

Namun kekerasan hatinya telah mengalahkan semuanya, dia tetap saja akan nekad turun ke bumi menjumpai kekasih hatinya.

Hatinya sudah terlanjur terfana oleh ketampanan sang pemuda idamannya, dia akan menikah dan hidup bahagia bersamanya.

Sang pembajak sawah di kaki gunung nan jauh disana di alam bumi.

Pada suatu hari sang ayah mendapat panggilan perang melawan sang raksasa yang akan mengacau para Dewa langit, sang ayah pun berangkat perang untuk mengusir sang roh-roh jahat dari surga para Dewa yang telah menjadi tugasnya.

Sebelum berangkat sang ayah berkata, "nanti ketika aku pulang dari medan perang akan aku bawakan seorang Dewa muda tampan yang akan menjadi suamimu."

Sang anak pura-pura taat kepada sang ayahanda, Namun ketika sang ayah berangkat sang Dewi pun dengan cepat meninggalkan tempat tersebut untuk pergi menuju kaki gunung yang terdapat seorang pemuda tampan yang akan menjadi kekasihnya. Dengan menumpang angin sang Dewi sampai di dekat lereng gunung tempat sang pemuda tampan yang sedang bekerja membajak sawahnya.

"Sekarang sudah dekat dan dapat melihat langsung sang pujaan hatinya dengan dekat sekali dan sang Dewi terus saja memperhatikan sang pemuda itu."

Dia pun duduk tidak jauh dari tempat sang pemuda itu bekerja, dan ketika sang pemuda itu melihatnya dia pun tersenyum kepadanya.

"Sedang apa wahai gadis cantik, berada di tempat seperti ini?" tanya sang pemuda dengan santun sekali.

Akhirnya mereka berdua pun berkenalan dan bercakap-cakap dengan tertawa-tawa dengan riang gembira, api cinta telah datang membakar dua hati yang saling jatuh cinta. Sang pemuda jatuh hati pada pendangan pertama kepada sang Dewi Tisna Wati yang cantik jelita.

"Saya datang kesini mencari pujaan hati yang dapat di jadikan suamiku seumur hidupku!" serunya berterus terang tentang kedatangannya ke tempat itu.

Jawaban yang keluar dari mulut sang Dewi membuat pemuda itu sangat bahagia dan mereka pun tertawa-tawa penuh rasa bahagia yang tidak terkira. Mereka duduk berdampingan saling tatap mata penuh dengan kemesraan.

Dan di atas sana, sang Dewa Batara guru yang sedang berperang melawan angkara murka mendengar suara sang putrinya dengan bersenda gurau dengan suara asing tidak pernah dia dengar sebelumnya.

Ketika sang Dewa Batara guru menenggok ke bawah nun jauh di sana di bumi, terlihat sang putri sedang duduk berdampingan dengan seorang pemuda pembajak sawah dengan suara tawa nan mesra, maka murkalah sang Dewa Batara guru.

Suara tawa mesra yang terdengar dari kedua orang yang sedang dilanda cinta tersebut, bagaikan suara menggelagar lebih dahsyat dari suara perang melawan musuh-musuhnya.

Sejenak sang Dewa Batara guru meninggalkan perang dan turun ke bumi untuk menjemput sang putri Dewi Tisna Wati.

"Cepatlah anakku, kembali ke surga bersamaku, dan tinggalkan pemuda bumi itu!" perintahnya dengan nada yang sangat garang sekali.

Tetapi sang Dewi Tisana Wati sudah mantap dengan keinginannya untuk tetap tinggal di bumi dan hidup bahagia dengan sang pemuda pilihannya.

"Maafkan hamba tidak bisa kembali lagi ke surga sesuai dengan keinginan ayah, hamba telah memilih untuk tinggal dan menetap disini dan menikah dengan pemuda pilihan hati hamba," jawabannya tegas sekali.

Sang Dewa Batara Guru pun marah sekali dan berkata, "Kamu bukanlah menjadi putri Dewa dan kamu sekarang bukanlah menjadi manusia yang hidup di bumi, tetapi kamu sekarang menjadi tangkai padi yang akan menjadi semangat padi yang tumbuh di gunung."

Dan sekita sang Dewi Tisna Wati pun kini menjelma menjadi tangkai padi yang ramping dan akan tunduk kepada sang pemuda pujaan hatinya.

Sang pemuda pembajak sawah membelai batang padi yang ramping itu, yang telah terisi beras dan membungkuk kepadanya, dengan mata seolah tidak percaya sang Dewi cantik yang barusan bercinta dengannya menjadi tangkai padi yang ramping.

Tangkai itu pun seolah-olah memberi hormat dengan tunduk kepadanya.

Sang Dewa Batara guru untuk sejenak menatap sang tangkai ramping sang Dewi anaknya yang telah menjelma menjadi tangkai padi untuk sesaat sebelum kembali ke langit meneruskan peperangannya melawan angkara murka.

Dewi Tisna Wati kini menjadi semangat padi di gunung-gunung, tidak ubahnya seperti Dewi Sri yang menjadi semangat padi di sawah-sawah.

Namun semangat sang pemuda tampan tidak dapat dicari lagi dia telah hilang tidak tahu kemana.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Wednesday, May 25, 2016

Sang Kancil, Sang Buaya Dan Sang Tupai - Dongeng Inggris

Courtesy of kumbercer.blogspot.com
dongeng anak dunia - Dua sahabat itu sedang asyik berjalan-jalan dipagi hari yang cerah, siapakah mereka? tidak lain dan tidak salah mereka adalah sang kancil serta sang tupai, mereka begitu ceria menyambut sinar mentari pagi hari itu.

Namun ditengah asyiknya mereka berdua berjalan, mereka melihat sang induk sapi yang sedang menangis, ada apakah gerangan yang membuat sang induk sapi itu bersedih, mari kita temui dan tanya beliau.

"Ada apakah sehingga kelihatan begitu sedih, hai! Ibu sapi?" tanya sang kancil sambil mendekati tempat sang induk sapi itu berada.

"Oh kancil! begini cil, anakku sedang sakit keras dan seekor tabib yang mengobati anakku bilang obatnya adalah,,,,,,,,," sang induk sapi tidak bisa meneruskan kata-katanya.

"Ada apa dengan obatnya, Bu?" kali ini yang bertanya adalah sang tupai.

"Sangatlah berat, kalian berdua juga mungkin tidak akan bisa menolongnya!" serunya lagi sambil menagis kembali.

"Katakanlah Ibu sapi, siapa tahu kita berdua bisa memberikan saran walaupun tidak bisa membantu mencarikan obatnya?" tanya sang kacil.

"Tabib yang berusaha ngobatin anakklu bilang, hanya hati buayalah yang bisa membuatnya sembuh!" kata sang Ibu sapi.

Air matanya keluar menetes membasahi pipinya rasa sedih hatinya kini bertambah dengan membayangkan betapa sulitnya obat yang harus dicarikan untuk sang anak tercinta.

Bagaimana mungkin dia akan mendapatkan hati buaya binatang pemangsa yang begitu ganas, sedangkan dia sendiri tidak berani berhadapan dengan sang buaya.

Sang kancil sejenak berpikir mencari ide dalam masalah pelik yang sedang dihadapi sang induk sapi untuk masalah anaknya yang memang sedikit beresiko cara mengambil hati dari sekor buaya.

Namun bukanlah kancil yang cerdik, dia kini telah mendapatkan satu ide cemerlang, tinggal pelaksanaan saja berjalan mulus atau tidak.

"Baiklah, aku sudah dapat satu ide cemerlang!" kata sang kancil berseru.

"aku akan membantu sekuat tenaga dengan ide cemerlangmu, sahabatku Kancil," kata sang tupai.

"Kalau begitu kita berangkat sekarang saja, jangan sampai terlambat untuk mendapatkan obat buat anakmu, Bu!" seru kancil dan tupai hampir serentak mereka berdua berkata.

Tupai perlu membalas budi kepada sang induk sapi yang dahulu pernah berjasa menolongnya ketika dia sedang dalam kesusahan mau ditelan ular piton.

Akhirnya sang kancil dan sang tupai berangkat dari tempat itu menuju danau, namun sang induk sapi pun memutuskan untuk ikut serta juga.

"Tidak apa-apa kalau memang Ibu mau ikut bersama kami, namun Ibu jangan terlalu dekat dengan jarak kami berdua takutnya sang buaya menjadi curiga kalau kita datang bertiga secara bersamaan," sang kancil berkata memberikan pendapatnya.

"Baiklah aku akan mengawasi kalian dari kejauhan saja," jawab sang induk sapi.

Meraka bertiga berjalan kearah danau tempat tinggal sang buaya dan setelah sampai ditempat tersebut sang kancil berkata kepada sang tupai sahabatnya.

"Apakah engkau bisa menyelam sahabatku, tupai?" tanya kancil kepada tupai.

"Tentu saja bisa, karena aku sering latihan," Tupai berkata dengan tenang.

"Begini sahabatku, engkau sekarang harus mencari kelapa tua yang ukurannya kecil namun bisa masuk badanmu, lalu engkau pun harus melubanginya," kata kancil.

Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kali, tupai langsung naik pohon kelapa yang banyak terdapat di tempat tersebut dang mengambil satu buah kelapa tua kecil yang diperintahkan sang kancil.

Setelah semua siap lalu sang tupai masuk kedalam kelapa tua yang sudah dilubangi tidak lupa sang kancil memberikan kantong yang berisi daun kecubung, "ingat jangan lupa sahabatku setelah sampai di air danau keluarkan ekormu dari lubang kelapa dan engkau goyang-goyangkan!" seru kancil kepada sang tupai.

"Baiklah doakan aku dalam keadaan selamat," kata sang tupai.

Kelapa yang berisi tupai pun dengan cepat digelindingkan sang kancil masuk kedalam air danau, dan tidak lama setelah ada di air danau, tupai pun mengoyang-goyangkan ekornya.

Tidak selang beberapa lama seekor buaya besar datang dan langsung saja menyambar serta menelan kelapa tua yang berisi sang tupai didalamnya.

Setelah berada dalam perut buaya, tupai pun dengan cepat mengeluarkan isi kantong yang berisi daun kecubung yang mengandung racun, memabukkan, lalu mengerat sedikit hati dari sang buaya tersebut.

Tentu saja sang buaya merasa mual dan kesakitan perutnya karena tidak tahan akan rasa perih dan mual dalam perutnya seketika itu pula sang buaya naik kepermukaan danau dan memuntahkan kelapa tersebut, matanya berkunang-kunang dan kemudian pingsan di pinggir danau.

Setelah keluar dari perut buaya, sang tupai berlari menuju sang kancil lalu sang induk sapi pun yang melihat kejadian tersebut dari tempat yang lain menghampiri tempat tersebut dan bertanya.

"Bagaimana tupai berhasil tidak?" tanya sang induk sapi waswas dalam hatinya.

"Saya sudah mendapatkannya sambil membuka kantong tempat menyimpan hati buaya," jawab sang tupai.

Meraka bertiga pun akhirnya cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut menuju tempat tinggal sang tabib untuk memberikan secuil hati buaya.

"Untung saja kalian tepat waktu, terlambat sedikit saja, anak sapi ini tidak akan tertolong lagi," kata sang tabib.

Dan betul saja setelah memakan hati buaya sang anak sapi berangsur-angsur membaik dan sekarang sudah bisa tersenyum kembali.

Sang induk sapi sangat berterima kasih kepada kedua sahabatnya yang telah bersusah payah menolongnya.

Kebaikkan dan keburukkan dua-duanya akan selalu diingat oleh oarang yang menerimanya, maka berbuat baiklah biar selalu diingat baik oleh setiap orang yang mengenal kita.

Budi baik yang ditanam seseorang akan tumbuh menjadi sesuatu kebaikkan pula pada akhirnya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Monday, May 23, 2016

Sang Bunga Cengkeh Dan Kerajaan Napas Bau - Dongeng Yunani

Courtesy of www.produknaturalnusantara.com
dongeng anak dunia - Pada zaman dahulu kala tersebutlah sebuah Kerajaan besar yang begitu makmur, kehidupan seluruh rakyatnya begitu kaya raya, mereka selalu berhasil dalam setiap panen yang selalu berlimpah-limpah.

Tuhan yang maha pemurah mencoba umatnya dengan rejeki yang besar kepada seluruh rakyat kerajaan besar tersebut dengan anugerah begitu banyak. Namun apakah mampu Raja dan rakyat negeri tersebut telah bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan?.

Tetapi ada apa dibalik semua kesuksesan yang mereka telah raih selama ini, sungguh diluar dari apa yang diharapkan ternyata mereka telah semena-mena merusak alam yang dianugerahkan sang pencipta yang selayaknya dijaga dan dipelihara kelestariannya.

Tuhan pun mengutuk negeri Kerajaan besar itu dengan wabah penyakit kepada seluruh penduduknya sampai seluruh isi istana pun kena dampak dari wabah penyakit yang merajalera.

Dengan demikian seluruh orang yang tinggal diseluruh negeri menjadi malu untuk saling bertutur kata, mereka kini tidak lagi saling bicara karena bau napas yang ditimbulkan begitu bau menyengat sekali.

Hiruk pikuk kota senda gurau yang biasa mereka lakukan saat berkumpul dengan anak istri, tidak lagi mereka lakukan. Negeri kini begitu sepi dengan semua rakyatnya yang tidak lagi saling bertegur sapa.

Keramaian yang senantiasa mengisi seluruh Kerajaan negeri yang kaya raya ini menjadi tidak lagi terdengar, seluruh negeri seperti dihuni orang-orang bisu yang tidak bisa berbicara satu sama yang lainnya.

Dengan serentak sang Raja pun memanggil seluruh orang pintar yang terdapat diseluruh pelosok Kerajaan untuk mencari jalan keluar atau solusi yang melanda negerinya.

Namun tetap masalah tidak dapat diselesaikan dengan mudah sebab semua yang hadir itu pun tidak ada yang berani angkat bicara karena bau mulut mereka yang mengganggu.

Sang Raja kini menyadari bahwa wabah bencana penyakit yang melanda negeri tercintanya disebabkan ulah dari semua penduduk negeri beserta seluruh abdi Kerajaan yang tidak pernah menghargai anugerah pemberian Tuhan yang seharusnya mereka jaga dan pelihara kelestarian alamnya, malah sebaliknya mereka dengan semena-mena telah bertindak merusaknya.

Itulah murka Tuhan terhadap umat manusia yang tidak bersyukur telah diberi anugerahnya.

Maka pada suatu malam sang Raja membuat surat undangan kepada seluruh tokoh-tokoh masyarakat dan sesepuh-sesepuh negeri untuk mengadakan doa bersama memohon ampunan Tuhan supaya negeri tercinta dibebaskan dari wabah penyakit yang melanda seluruh Kerajaan.

Selang beberapa hari setelah seluruh rakyat seantero negeri Kerajaan berdoa, Tuhan yang maha pengasih serta pemurah berkenan atas doa tulus yang dipanjatkan seluruh rakyat.

Berawal dari sutau pagi sang Putri Raja yang sedang berjalan-jalan di taman istana menikmati indahnya bunga-bunga yang bermekaran dihanyatkan sang mentari pagi yang menyapa ramah.

Sang putri sangatlah senang berada di taman istana yang begitu indah, hingga pandangan matanya tertuju pada seekor burung yang hinggap di dahan sebuah pohon yang ada di taman.

Sang burung berkicau dengan suara merdunya menambah indahnya suasana pagi nan cerah, sang putri mendengarkan dengan hati yang begitu senang terhibur, begitu pun juga para dayang-dayang yang mengawalnya.

Lama juga sang putri dan para dayang-dayang yang menemaninya mendengarkan sang burung tersebut berkicau hingga akhirnya sang burung itu pun terbang pergi meninggalkan taman, dia terbang keangkasa dengan begitu bebasnya kemana pun dia suka.

Namun sebelum terbang jauh sang burung menjatuhan sesuatu yang membuat hati sang putri penasaran untuk mengambilnya, "Tolong ambilkan apa yang barusan dijatuhkan sang burung!" seru sang putri kepada dayang pengawalnya.

Sang putri berbicara dengan mulutnya ditutup kain dari sutra, dia sengaja membawanya untuk menutup bau yang keluar dari napas mulutnya.

Begitu sang bunga mungil ada ditangannya sang putri memperhatikannya, "Bunga ini begitu harum aromanya, serta begitu segar kelihatannya," gumamnya dalam hati.

Sambil terus mencium aroma dari bunga mungil tersebut sekian lama dan akhirnya sang putri tertarik juga untuk memakannya, ada rasa hangat yang dirasa ditenggorokkanya tatkala menelannya.

Dan suatu mujizat terjadi, selang beberapa hari setelah memakan bunga mungil tersebut, bau napasnya tidak lagi berbau busuk yang menusuk hidung melainkan napas segar dan harum.    

Lalu sang putri pun menemui sang Ayahanda Raja, dia pun bercerita tentang apa yang telah dialaminya tatkala sedang berjalan-jalan di taman istana dan sampai napasnya kini telah kembali tidak berbau.

Raja sangat bahagia mendengar cerita sang putri, lalu sang Raja memberikan perintah kepada seluruh pengawal negeri untuk mencari bunga tersebut dengan ciri-ciri yang sama seperti keterangan dari sang putri.

Dari seluruh pelosok-pelosok negeri Kerajaan bunga-bunga tersebut dicari dan dikumpulkan para pengawal Kerajaan. Lalu dibagikan kembali kepada seluruh rakyat negeri untuk dimakannya.

Benar saja seluruh penduduk rakyat Kerajaan telah kembali sembuh dari penyakit yang selama ini menderanya, negeri telah terbebas kembali dari wabah penyakit.

Seluruh Kerajaan kini telah bebas dari wabah penyakit yang melanda, Raja pun sangatlah bersyukur. Lalu memerintahkan seluruh penduduk untuk menanam bunga tersebut.

Tidak lain dan tidak bukan bunga tersebut adalah bunga CENGKEH yang memiliki nilai jual yang cukup bagus serta dapat dijual keluar dari negeri Kerajaan tersebut, seluruh penduduk sangatlah gembira dan hidup kembali dengan tenang, aman, serta makmur sejahtera.

Janganlah engkau bertindak serakah, sebab keserakahan hanya akan membuat Tuhan murka, tetapi bertindaklah bijak agar semua dapat terjaga dengan aman dan bertanggung jawab. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Thursday, May 19, 2016

Sang Kancil, Kerbau dan Ular - Dongeng Malaysia

Courtesy of www.educastudio.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala bapak kerbau sudah pulang dari mencari makan dipadang rumput yang luas, sang kerbau tua ini mau pulang ketempat tinggalnya di hutan melintasi sebuah bukit kecil yang banyak ditumbuhi pohon-pohon kayu yang besar-besar.

Ditengah perjalanan sore itu dia mendengar suara minta pertolongan dari samping jalan sebuah pohon besar yang akan dilewatinya, "tolong,,,,,,tolong,,,,,,tolonglah aku siapapun yang lewat jalan ini!" seru suara itu.

"Siapakah engkau dan dimana sekarang engkau berada?" bertanya sang bapak kerbau sambil matanya memandang kiri dan kanan jalan yang sedang dilaluinya.

"Aku ular, aku ada disamping pohon yang paling besar disekitar sini, tolong aku siapa pun engkau Tuan!" serunya kembali.

Dan ketika bapak kerbau sampai disumber suara, benar saja seekor ular piton yang sangat besar sedang tertindih sebuah dahan pohon yang sangat besar diatas badannya, dia terhimpit dahan pohon ketika dahan itu patah dihantam amukkan puting beliung yang baru saja terjadi dihutan tersebut.

Melihat kejadian tersebut sang kerbau tidak langsung menolongnya, dia lalu berpikir sang ular sangat membutuhkan pertolongan namun hatinya menjadi ragu sebab ular adalah binatang yang terkenal dengan kelicikkannya.

Melihat sang kerbau yang hanya diam tidak langsung menolongnya, sang ular lalu berkata kembali, "tolong dan kasihanilah aku bapak kerbau, tulang-tulangku sangatlah kesakitan seperti mau remuk saja rasanya," kata sang ular.

Sang bapak kerbau masih saja diam, dia bingung antara mau berbuat baik menolong ular dan rasa ketakutan kebaikkan yang akan dilakukannya hanya akan dibalas dengan kejahatan sang ular yang memang sudah terkenal.

Seandainya sang ular telah terlepas dari himpitan kayu yang menindihnya, pasti akulah akan menjadi mangsanya, sebab ular tidaklah mengenal yang namanya terima kasih.

"Tolonglah aku bapak kerbau, kita dari dulu sudah berteman lama, masa engkau tega membiarkan temanmu sendiri menderita," rengeknya tatkala dia meminta pertolong sang bapak kerbau.

"Baiklah akan aku tolong engkau," sang bapak kerbau akhirnya memutuskan untuk menolong temannya sang ular.

Dengan sekuat tenaganya dia pun mendorong dahan kayu yang sangat berat tersebut, sedikit demi sedikit bergeser dari badan sang ular dan akhirnya sang ular pun terlepas dari himpitan dahan kayu yang menindihnya.

Benar juga ketika badan terlepas dari himpitan kayu dengan seketika sang ular telah melilit leher kerbau dengan cepatnya.

"Hai! mengapa sekarang engkau malah melilit leherku, bukannya berterima kasih?" tanya bapak kerbau sedikit kaget dengan tingkah laku ular binatang yang telah ditolongnya.

"Tentu saja aku akan berterima kasih sekali bapak kerbau yang baik hati yang telah menolongku, namun perutku saat ini sangatlah lapar, untuk itu sekali lagi aku minta tolong kepadamu supaya rela menjadi mangsaku," kata sang ular lurus-lurus saja ucapan kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti tidak ada beban dosa sedikitpun.

Hatinya selalu diliputi kejahatan yang selalu dia manfaatkan ketika ada satu kesempatan untuk berbuat jahat, tidak perduli terhadap orang yang telah susah payah menolongnya, itulah sifat dari sang ular yang sangat tidak terpuji sama sekali sampai saat ini.

Sang ular siap menjulurkan lidah mau mengigit bapak kerbau dengan gigi taringnya yang sangat tajam siap menghujam leher sang bapak kerbau, namun dari tempat tersebut sang kancil langsung saja berteriak tanda tidak setuju dengan sikap sang ular.

"Hai tunggu dulu ular, kamu jangan berbuat seenaknya terhadap bapak kerbau yang telah menolongmu," bentak sang kancil mendekat tempat tersebut.

Sang ular yang hendak mengigit bapak kerbau menjadi kaget setelah mendengar bentakkan sang kancil, dia tidak jadi mengigit leher kerbau untuk sementara.

"Ada apakah ini yang sedang terjadi, kalian dari tadi terdengar sangat ribut-ribut sekali?" sang kancil bertanya kepada sang ular dan bapak kerbau.

"Begini cil, tadi ketika aku lewat aku melihat sang ular yang terhimpit dahan pohon yang jatuh menghimpitnya serta aku lantas saja menolongnya namun setelah aku tolong, malah dia sekarang akan memakanku bukannya berterima kasih," ujar sang bapak kerbau menyahuti pertanyaan dari sang kancil.

"Tidak, kejadiannya bukan seperti itu kancil. Masa aku yang terkenal dengan kepintarannya bisa terhimpit dahan kayu yang sangat besar," elak sang ular kala menjawab pertanyaan dari sang kancil.

Sang kancil tahu siapa sang ular yang selalu bertindak tidak jujur dalam berkata-kata, maka dia pun langsung menyarankan kejadian yang sebenarnya dari sang bapak kerbau, asal muasal, sang ular, sampai mereka bertengkar biar semua tahu mana yang benar dan mana yang salah.

"Baiklah aku ingin tahu kejadian dari awalnya," sahut sang kancil kepada mereka berdua.

Lalu sang kerbau pun dengan cepat dan menggunakan tenaga sekuat-kuat untuk kembali mengeser dahan kayu yang tadi menindih badan sang ular kembali ditaruh diatas tubuh ular.

"Lho! mengapa badanku di himpit kembali?" tanya sang ular.

"Jangan takut ular, hanya sebentar saja biar aku tahu kejadian yang sebenarnya," sahut sang kancil.

lalu bapak kerbau berkata kepada sang kancil, "Nah ketika aku datang, badan dia seperti itu terhimpit dahan kayu yang besar terus dia sendiri meminta tolong kepadaku, lalu aku pun mau dong menolongnya tetapi setelah bebas dia sendiri mau memangsaku," jawab sang bapak kerbau.

"Benarkah apa yang dikatakan sang bapak kerbau barusan?," kata sang kancil kepada sang ular.

"Tapi tolong lepaskan dulu aku dari himpitan kayu ini nanti aku akan menjawab semua pertanyaan darimu, badanku benar-benar pada sakit," pinta sang ular dengan suara sangat menghiba, akal bulus dari seorang penjahat.

"Oh begitu baiklah bapak kerbau sekarang aku sudah tahu siapa yang harus ditolong serta tahu berterima kasih dan siapakah yang mau ditolong namun tidak tahu terima kasih malah sebaliknya dia mau membunuh yang menolongnya." kata sang kancil sangat kesal sekali kepada sang ular yang selalu jahat walaupun terhadap temannya sendiri.

"Mari kita pergi dari tempat ini dan jangan lagi menolong binatang yang berhati sangat jahat," sang kancil berkata mengajak temannya untuk pergi dari tempat tersebut.

Mereka berdua meninggalkan sang ular yang masih terhimpit dahan pohon kayu yang sangatlah besar, sang ular pun melihat dua temannya meninggalkan tempat tersebut dia kini sendirian.

Sang ular tinggal sendirian dengan kondisi badan masih terhimpit dahan kayu besar, dia hanya diam menanti siapa saja yang lewat tempat tersebut.

Akhirnya sebuah kejahatan dapat mudah ditumpas dengan akal dan kecerdikkan dari sang kancil. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Wednesday, May 18, 2016

Balas Budi Sang Ikan - Dongeng Indonesia

Courtesy of sikpas.blogspot.co.id
dongeng anak dunia - Zaman dahulu hiduplah seorang Lelaki yang sudah punya anak istri bernama Tigran, dia bekerja sebagai pembantu dari bapak neyalan dengan upah dua ekor ikan setiap harinya.

Dengan dua ekor ikan tersebut dia harus sanggup menghidupi anak istrinya, betapa miskinnya kehidupan keluarga Tigran, namun apa boleh buat itu semua harus dijalanin dari pada tidak bekerja sama sekali.

Dan pada suatu hari ketika dia sedang menangkap ikan, sang Tigran melihat ikan yang terjebak dijaringnya seekor ikan kecil yang sangat lucu dan cantik warnanya.

Lalu dia pun mengambil dan memegang sang ikan yang sangat lucu itu ditangannya, hampir saja dia melemparkannya kembali karena rasa kaget yang bukan kepalang, sang ikan dapat berbicara layaknya seorang manusia.

"Jangan!, jangan engkau lemparkan aku ke dalam bak penyimpanan ikan!" serunya memohon kepada sang Tigran.

"Lemparkan saja aku ke dalam air biar aku selamat," sang ikan berkata kembali.

Tentu saja sang Tigran saat itu sangatlah bingung menghadapi kejadian yang tengah berlangsung, namun hatinya sangat iba melihat dan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang ikan.

"Baiklah pulanglah engkau kepada keluargamu jangan sampai terjebak jaring lagi," kata sang lelaki Tigran.

Namun kejadian tersebut tidak lepas dari pengamatan sang bapak nelayan sehingga dia sangat marah kepada sang Tigran lalu berkata memarahinya.

"Apa yang engkau kerjakan Hai, Tigran! aku membayarmu untuk menangkap ikan bukan untuk melepaskan ikan yang telah terjebak dijaring-jaringku," Katanya membentak keras sekali.

Atas kejadian tersebut sang Tigran akhirnya dipecat, dia tidak boleh ikut bekerja lagi kepada bapak nelayan.

"Pulanglah engkau!, aku sudah tidak memerlukan tenagamu lagi," kata sang bapak nelayan tidak memberi kesempatan lagi atas kesalahan yang telah diperbuat anak buahnya.

Sang lelaki Tigran pulang kerumahnya dengan hati sedih, dia pun sangat binggung sekali setelah dipecat dari pekerjaannya membantu bapak nelayan.

Namun ditengah perjalanan ketika pikirannya menerawang jauh meratapi nasib hidupnya yang penuh dengan kesengsaraan, satu sosok bayangan monster yang menunggangi sapi menghadang ditengah jalan.

"Hai Tigran! apa yang membuat hatimu bersedih?" tanya bayangan monster tersebut dari atas punggung sapi.

"Janganlah engkau bersedih hati aku siap menolongmu, tetapi ada satu syarat yang harus engkau patuhi," kata bayangan monster yang menunggangi sapi.

"Menolongku! pertolongan macam apa yang akan kau berikan? Serta syarat apa yang harus aku patuhi?" tanya sang lelaki Tigran.

"Bawalah sapiku selama tiga tahun, engkau boleh mengambil susunya serta menjualnya, dan tenaganya dapat engkau gunakan untuk membajak ladang sehingga engkau bisa mendapatkan upah, namun nanti aku akan datang kembali dengan memberimu beberapa pertanyaan engkau harus bisa menjawabnya," kata sang bayangan monster.

"Maksudmu, pertanyaan apa?" Tanya sang lelaki Tigran.

"Pertanyaan saja, kalau engkau bisa menjawabnya engkau bebas, namun bila engkau tidak bisa menjawabnya engkau akan menjadi budakku selamanya," katanya dengan persyaratan menjebak sang Tigran.

Setelah berpikir lama serta tidak ada lagi jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup anak istrinya, akhirnya sang lelaki Tigran setuju saja dengan persyaratan yang diajukan sang bayangan monster tersebut dari pada anak istrinya mati kelaparan.

Semenjak saat itu sang Tigran dengan sangat rajinnya mengurus sapi, susunya dapat dia jual serta tenaga sapinya dia pergunakan untuk membajak ladang bapak petani yang membutuhkan bantuannya dengan upah yang cukup lumayan.

Kehidupan sang lelaki Tigran berserta anak istri tidak kekurangan lagi, hidupnya cukup nyaman dengan penghasilan yang dia dapati dari mengurus sapi milik sang bayangan monster.

Waktu tiga tahun dengan cepat telah berlalu, sang lelaki Tigran sangat binggung menanti datangnya sang bayangan monster yang akan datang kerumahnya menagih janjinya dengan beberapa pertanyaan.

Seandainya dia bisa menjawab tentu saja dia akan selamat serta tidak akan menjadi budak sang bayangan monster namun bila tidak bisa menjawab alangkah apesnya nanti dia bila harus menjadi seorang budak.

Dalam kebingungannya sore itu sang lelaki Tigran kedatangan seorang pemuda, tamu muda itu memintanya untuk menginap dirumahnya dengan alasan kecapaian dan hari telah menjelang sore, besok pagi harinya dia akan pamit melanjutkan perjalanan.

"Silahkan saja anak muda kalau engkau akan menginap dirumahku ini," sang lelaki Tigran mempersilahkan pemuda tersebut untuk menginap dirumahnya.

Malam menjelang, sunyi dan sepi telah menjadi ciri khas kampung desa dengan udara yang sangat dingin mencekam semua orang desa sudah terlelap dalam tidurnya, namun tidak dengan sang lelaki Tigran dia kelihatan berkeringat serta kegerahan didinginnya udara malam.

"Tigran aku telah datang kerumahmu menagih janji yang telah engkau sepakati, keluarlah cepat hai manusia!" seru sang bayangan monster dari luar rumahnya.

Dengan langkah kaki yang sangat gemetar sang Tigran telah siap menemui sang bayangan monster keluar dari rumahnya, dia telah siap serta pasrah akan nasib yang akan dilaluinya.

Tatkala sang Tigran akan keluar, tamu muda yang menginap dirumahnya telah datang dan berkata, "Bapak tidak usah keluar, biar saja saya yang akan menjawab semua pertanyaan yang diajukkannya," Kata sang pemuda tamu yang menginap dirumahnya.

"Baiklah aku sudah siap dengan pertanyaan yang akan engkau ajukkan," berkata sang pemuda tamu yang menginap dari dalam rumahnya berteriak menirukan suara Tuan rumah.

"Pertanyaan pertama. Dari manakah asalmu, Hai Tigran?" tanya sang bayangan monster.

"Jauh sekali dari seberang lautan," menjawab sang tamu dengan suara yang dibuat sama dengan sang Tuan rumah lelaki Tigran.

"Dengan cara apa atau bagaimana engkau bisa sampai ketempat ini yang telah menjadi rumahmu?" Tanya bayangan monster.

"Tentu saja dengan naik seekor kutu yang pincang sehingga aku sampai di sini dulu," Jawab sang tamu muda tetap dengan menirukan suara sang lelaki Tigran.

"Apakah lautannya sangat kecil sehingga kutu pincang bisa engkau naiki untuk menyeberang?" Tanya bayangan monster lagi.

"Tentu saja tidak kecil bahkan sang elang yang jago terbang pun tidak akan sanggup untuk menyeberangi lautan tersebut karena jauh," menjawab lagi sang tamu muda.

"Aku mengerti sekarang, mungkin elang muda yang belum dewasa sehingga tidak berpengalaman?" Tanya sang bayangan monster.

"Tentu saja tidak, elang tersebut sangatlah dewasa dan sayapnya pun bisa menutupi setengah dari negeri ini," menjawab kembali dengan cepat sang tamu muda.

Bayangan monster sangatlah binggung dengan jawaban yang selalu tepat dan cepat dari dalam rumah yang disangkanya sang lelaki Tigran yang telah bersepakat dengannya, dia sama sekali tidak tahu siapa yang menjawab sebenarnya.

Dia pun lalu berlalu pergi dari tempat tersebut karena kehabisan pertanyaan, sang bayangan monster sangat binggung dengan jawaban-jawaban yang diterima dari lelaki Tigran.

Setelah sang bayangan monster pergi berlalu dari tempat tersebut, sang tamu muda itu pun langsung pamit meninggalkan rumah sang lelaki Tigran walaupun waktu masih malam.

"Sekarang waktunya aku pulang dari tempat ini," kata sang tamu muda dan dia pun langsung menghilang dari pandangan mata sang lelaki Tigran.

Sang lelaki Tigran tentu saja heran dengan kejadian tersebut, dia tidak tahu siapa tamu muda yang menginap dirumahnya. Tidak lain dan tidak bukan dialah sang ikan yang pernah ditolongnya, dia menjelma menjadi seorang pemuda untuk membalas budi terhadapnya.

Jika engkau menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan, suatu saat engkau pun akan ditolong seseorang jika mendapatkan sesuatu kesusahan. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih

Advertising - Baca Juga : Alabama - The Heart of Confederate States of America
Share:

Tuesday, May 17, 2016

Ucapan Ajaib Sang Peri Cantik - Dongeng Belanda

Courtesy archive.kaskus.co.id
dongeng anak dunia - Pada zaman dahulu kala tersebutlah sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang Ibu dan dua anak perempuannya. Sang Ibu telah menjadi sorang janda yang telah lama ditinggal mati suaminya.

Namun ada satu sifat jelek yang dimiliki sang janda yaitu sangatlah pemarah serta angkuh sekali sehingga sifatnya menurun kepada anak sulung yang berwatak sama seperti sang Ibunya.

Lain halnya dengan anak bungsunya yang bersifat sangat manis serta selalu lemah lembut dalam semua tutur katanya dan selalu sopan dalam semua tindakkan sehari-harinya.

Dua sifat kakak beradik ini sungguh jauh berbeda sekali dalam menjalani kehidupannya sehari-hari didalam keluarga tersebut, namun sang Ibu sangat sayang sekali kepada anak sulungnya yang mempunyai sifat yang sama dengan perlakuannya.

Rasa sayang yang diberikan sang Ibu terhadap anak sulungnya sangatlah mencolok sekali apa pun yang diinginkan sang anak sulung tentu saja akan dituruti atau diberikannya.

Sehingga membuat sang anak sulung selalu ingin dimanja dan tidak pernah mau membantu pekerjaan dirumahnya seperti mencuci piring apalagi mengambil air bersih yang jaraknya sangat lumayan jauh dari rumahnya.

Sementara sang anak bungsu diperlakukan sangatlah buruk sekali hampir dari seluruh pekerjaan yang ada dirumah tersebut sang anak bungsulah yang melakukannya.

Mulai dari memasak menyediakan makanan untuk mereka bertiga sampai mencuci dan yang paling lelah adalah ketika sang anak bungsu harus mengambil air bersih untuk minum yang tempatnya cukuplah jauh.

Sang anak bungsu harus berjalan jauh mengambil air bersih dengan sebuah ember besar yang harus ditentengnya tentu saja sangat menguras tenaganya.

Tatkala pada suatu hari saat sang anak bungsu sedang mengambil air, seorang nenek tua menghampirinya dan meminta air untuk minum karena rasa haus disiang hari itu .

"Hai! anak manis tolonglah nenek yang sedang kehausan ini, nenek minta setenguk air untuk aku minum," sang nenek tua meminta air minum.

"Baiklah nek! tunggu sebentar akan saya ambilkan air bersih untuk nenek minum," berkata sang anak bungsu kepada wanita tua itu dengan sangat sopan sekali, dia merasa kasihan melihatnya.

Lalu sang anak bungsu mengambilkan air dari sebuah teko yang biasa dia bawa untuk mengisi embar besar dari sumber mata air, sengaja dia memilih air yang paling jernih untuknya.

Dengan demikian sang nenek pun dapat dengan mudah minum air jernih dari teko yang menyegarkan tenggorokkannya serta menghilangkan rasa hausnya kala waktu itu.

Ternyata nenek tua itu adalah jelmaan dari seorang Peri yang baik hati, "Kesopananmu dan kepedulianmu terhadap sesama manusia membuatku ingin memberikan keajaiban, maka setiap ucapan yang engkau keluarkan akan disertai dengan keluarnya sekuntum bunga, batu permata dan mutiara dari mulutmu."

Sang anak bungsu hanya diam saja mendengarkan sang nenek-nenek tua berkata-kata dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan sang nenek tua tersebut, dia lalu berpamitan sambil tersenyum manis kepada sang nenek.

Sang anak bungsu dengan terburu-buru pulang menuju rumahnya, dia pasti akan dimarahi sang Ibu karena membawa air terlalu lama. Benar saja, baru saja sampai diambang pintu sang Ibu telah memaki-maki dengan keras dan keluarlah kata-kata kasarnya.

"Maaf Ibu tadi saya menolong seorang nenek tua yang sedang kehausan ingin minum dan nenek tua tersebut memberiku keajaiban," dan selama sang anak bungsu menerangkan mengapa dia terlambat pulang kapada sang Ibu, dari mulutnya keluar bunga-bunga, batu permata dan mutiara yang berjatuhan.

Tentu saja sang Ibu sangat girang sekali hatinya lalu batu-bata permata dan mutiara-mutiara tersebut dipungutinya dikumpulkan untuk dijualnya nanti kepasar.

"Baiklah kalau begitu, aku akan menyuruh kakakmu pergi sekarang juga kesana mengambil air," kata sang Ibu.

Lalu sang Ibu menyuruh sang anak sulungnya untuk mengambil air, lalu dia pun menasihati sang anak sulung untuk bersikap baik dan menolong seorang nenek tua bila bertemu serta meminta air untuk minum karena kehausan.

Namun sang anak sulung tidak mau pergi mengambil air karena tempatnya terlalu jauh dari rumahnya, tetapi dengan nada keras sang Ibu menyuruhnya pergi dengan nada bicara sangat tegas dari ucapannya.

"Mau tidak mau, kamu harus pergi sekarang jangan sampai Ibumu ini marah," bentaknya sambil menyelipkan tempat wadah air dari perak disela-sela ketiak sang anak sulung.

Dengan sangat terpaksa sang anak sulung berangkat juga menuju tempat mata air dan tibalah dia ditempat tersebut serta berjumpa dengan seorang nenek yang berpakaian sangat mewah serta sangat indah, bagus sekali.

Lalu nenek tua tersebut meminta air minum kepada sang anak sulung, "Oh jadi nenek ini mau minum mengapa tidak mengambil sendiri ditempatnya," si anak sulung berkata kasar dan sangat judes.

"Oh betapa engkau berkata sangat kasar kepada orang yang lebih tua darimu, maka mulai saat ini setiap engkau berucap ular-ular dan katak-katak akan berjatuhan keluar dari mulutmu," kutuk sang Peri.

Maka tibalah sang anak sulung dirumahnya lalu bercerita kepada sang Ibu tentang pengalamannya bertemu dengan nenek tua yang berpakaian sungguh mewah dan indah ditempat mata air, namun ketika bercerita beberapa ekor ular dan katak-katak berjatuhan keluar dari mulutnya.

"Ada apa ini?" sang Ibu bertanya sambil berteriak nyaring sekali. "Semua kejadian ini gara-gara adikmu, cepat cari dimana kini dia berada?" perintah sang Ibu yang harus diturutinya.

Lalu sang anak bungsu pun dicari Ibunya, tetapi karena rasa ketakutan karena tadi dia mendengar pembicaraan Ibu dan Kakaknya, sang anak bungsu berlari menuju kehutan yang tidak terlalu jauh dari desa tempat tinggalnya untuk bersembunyi.

Bersamaan dengan kejadian tersebut satu rombongan dari Kerajaan yang hendak berburu bertemu dengan seorang gadis cantik yang sedang menangis tersedu-sedu didalam hutan.

Sang pangeran pun bertanya, "Mengapa engkau ada disini dan mengapa engkau menangis?" tanyanya kepada sang anak bungsu.

Tentu saja setelah ditanya Sang Pangeran, sang anak bungsu pun bercerita tentang peristiwa yang sedang dialaminya  seperti biasanya dari mulutnya keluar berjatuhan bunga-bunga, mutiara-mutiara, dan batu-batu permata.

Pangeran akhirnya jatuh hati kepada gadis putri Bungsu anak dari seorang janda yang tinggal didekat desa tersebut.

Seorang gadis baik tentu tidak akan mengecewakan Ayahandanya diistana kerajaan, sang anak bungsu pun akhirnya diboyongnya menemui sang Raja Baginda Ayahandanya.

Mereka akhirnya mendapat restu sang Raja dan menikah, hidup mereka pun bahagia sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai sampai sang pengeran dinobatkan menjadi Raja dan sang anak bungsu menjadi seorang permaisuri.

Sekarang kita tengok kebelakang, keadaan dirumah sang janda ketika anak bungsunya yang baik hati telah pergi meninggalkan rumah, sang anak sulung menjadi semakin tidak karuan saja dalam hidupnya.

Tiada henti-hentinya dari muluit sang anak sulung mengeluarkan katak-katak dan ular yang membuat sang Ibu menjadi semakin muak saja melihatnya.

Dan karena sudah tidak tahan dengan kelakuan anak sulungnya yang terkena kutukkan dari seorang Peri, sebagi hukuman dari kelakuan kasarnya serta akhirnya sang Ibu pun mengusirnya dari rumah.

Hidupnya kini terlunta-lunta tidak ada seorang pun yang mau menampungnya dan untuk itu sang anak sulung kini memilih hutan sebagai tempat tinggalnya, dia hidup di hutan sendirian tidak ada yang menemaninya sampai akhir hidupnya.

Itulah hukuman bagi anak yang selalu malas dan tidak pernah sopan terhadap orang lain, apalagi terhadap orang yang lebih tua umurnya atau orang tua.

Jadilah anak yang selalu baik hati dan selalu sopan dalam bertindak, sebab kebaikkan yang kita berikan kepada sesama atau orang lain, Tuhan pasti akan membalaskan dengan kebahagian yang tiada taranya.

Berbuat baiklah niscaya hidupmu akan selalu senang dan tidak akan kekurangan serta kebahagiaan akan selalu bersamamu. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Friday, May 13, 2016

Sang Kura-kura Dan Sang Kadal - Dongeng Yunani

Courtesy of google images
dongeng anak dunia - Pada zaman dahulu kala tinggallah seekor kura-kura yang baik hati disebuah kampung yang resik dan damai dekat pesisir pantai yang sangat bersih dari sampah-sampah dan kotoran-kotoran lainnya.

Seluruh penghuni yang tinggal di kampung tersebut sungguh sangat menghargai kebersihan dan keindahan alam lingkungan yang mereka jaga dan pelihara secara gotong-royong atau bersama-sama.

Hari itu sang kura-kura bermaksud untuk belanja ke pasar membeli bahan makanan kebutuhan hidupnya sehari-harinya, pagi-pagi sekali dia sudah siap untuk berangkat.

Dengan berjalan sangat lamban sang kura-kura fokus menuju pasar tanpa pernah berhenti untuk istirahat, dia berjalan terus dan akhirnya sampai juga di pasar yang ditujunya.

Satu karung bumbu dapur telah dimasukkan kedalam sebuah karung yang dipersiapkan sang penjual dan satu karung lagi berisi sayuran kegemarannya telah masuk kedalam karung yang lain.

Dua karung keperluan bahan makan untuk satu bulan telah diikat dengan kuat oleh tali yang disediakan sang pedagang, sang kura-kura pun tidak mau lama-lama berada dipasar langsung berjalan pulang membawa dua karung belanjaannya menuju ke rumah tinggalnya di kampung.

Setapak demi setapak dia berjalan terus tidak pernah mau berhenti, sebab jarak rumahnya yang lumayan jauh. Dia mengejar waktu untuk sampai dirumah tepat waktu.

Dan ketika melewati rumah sang kadal, sang kura-kura melihat sang empu rumahnya sedang duduk didepan teras rumahnya dengan santai tidak menghiraukan dia atau menyuruhnya mampir untuk sekedar menawarkan air minum, "sungguh sangat sombong sang kadal itu pikir" sang kura-kura dalam hatinya.

Namun sebenarnya sang kadal sedang memperhatikan dengan sangat seksama apa yang sedang dibawa sang kura-kura oleh sudut matanya dengan niat dan pikiran jahatnya.

"Kebetulan sekali hari ini aku akan dapat makanan gratis tanpa harus membelinya di pasar," pikir sang kadal dengan niat jahatnya kala waktu itu.

Setelah melewati rumahnya barulah sang kadal membuntuti sang kura-kura secara perlahan-lahan dari belakangnya dengan langkah kakinya yang sangat hati-hati sekali.

Dan akhirnya sampailah sang kura-kura di tempat yang begitu sepi jauh dari keramaian kampung barulah sang kadal beraksi, tali penarik dari satu karung yang dibawa sang kura-kura dengan cepat dipotong dan dengan cepat pula sang kadal membawa karung tersebut pulang ke rumahnya.

Aksi kejahatan yang dilakukan sang kadal begitu cepat sehingga sang kura-kura tidak menyadari bahwa satu karung belanjaannya telah raib hilang digondol sang maling.

Sang kura-kura baru tahu satu karung belanjaannya hilang ketika menenggok kebelakang, "Celaka! satu karung belanjaanku telah hilang!" sang kura-kura yang baik hati berseru dengan berteriak.

Lalu sang kura-kura meneliti tali yang tadi siang diikatkan sang pedagang dan setelah diperhatikan ternyata ditali sisa yang masih nyangkut dipunggungnya terlihat diujungnya ada bekas orang memotong talinya.

Namun untuk menghilangkan rasa penasaran, sang kura-kura akhirnya kembali lagi balik berjalan kearah tadi untuk mencari karung belanjaannya siap tahu terjatuh dan dapat ditemukan kembali ditengah jalan.

Dan sesampainya di depan rumah sang kadal terlihatlah karung belanjaan tergeletak diteras depan rumah sang kadal, hatinya sangat gembira menemukan kembali karung tersebut.

"Maaf Tuan kadal mungkin engkau telah salah mengambil karung belanjaanku, sebab aku sangat mengerti sekali apa yang tadi aku beli dipasar!!!" seru kura-kura menjelaskan kepada sang kadal untuk mengambil kembali karungnya.

"Engkau jangan seenaknya menuduhku demikian, sebab karung tersebut aku temukan dipinggir jalan ketika aku lewat dan tadi tidak ada orang yang mengakunya berarti karung ini sekarang telah menjadi milikku," sahut sang kadal sambil membawa karung tersebut masuk kedalam rumahnya dan tidak keluar-luar lagi dari rumahnya.

Satu bulan setelah kejadian tersebut sang kura-kura kembali melintas didepan rumahnya sang kadal yang dahulu mengambil karung belanjaannya dengan sangat picik.

Dilihatnya kala itu sang kadal sedang tertidur dengan sangat pulas sekali, sehingga dia tidak tahu ada kura-kura yang mau melintas didepan rumahnya.

Ekor sang kadal menjulur sampai keluar menghalangi jalanan yang akan dilaluinya, dengan sangat pelan-pelan sang kura-kura menghampiri serta memegang ekor sang kadal dengan sekuat tenaganya kemudian ditariknya ekor tersebut sampai copot terlepas putus dari badan sang kadal.

"Waduuuh!,,,,,sakit sekali," teriak sang kadal. "Siapa yang telah berani menarik ekorku hingga terputus?" bentak sang kadal dengan sangat marah sekali.

Dan ketika matanya terbuka bangun dari tidurnya, sang kadal melihat sang kura-kura sedang memegang ekornya yang sudah terputus, "Cepat kembalikan ekorku, hai kura-kura!" pinta sang kadal sambil meringis menahan sakit.

"Oh, tidak mungkin! sebab ekor ini aku temukan dijalanan berarti ekor ini tidak ada yang memilikinya, tentu saja sekarang telah menjadi milikku," sang kura-kura dengan tenang dan entengnya menjawab pertanyaan sang kadal, demikian persis seperti dulu ketika sang kadal mengambil karung belajaan miliknya dan menjawab demikian.

Setelah berbicara begitu, sang kura-kura pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa melirik kekiri dan kekanan, kini hanya tinnggal sang kadal yang diam terbengong-bengong sambil melihat patatnya tanpa ekor, yang kelihatan sungguh lucu dan sangat geli sekali.

Dia pun kini sadar atas kejahatan yang pernah diperbuat kepada sang kura-kura, hari ini perbuatan jahat terhadapnya telah dibayar dengan setimpal oleh sang kura-kura itu sendiri.

Sang kadal kini telah sadar serta dia akan mencoba untuk berbuat baik dan merubah adat tabiatnya menjadi lebih baik lagi serta tidak akan mengulangi tindakkan kejahatannya terhadap siapa pun.

Semua perbuatan jahat tentu akan ada balasannya, maka berbuat baiklah supaya selalu mendapat kebaikkan dalam kehidupanmu. Sekian.

Wasalam,
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

Thursday, May 12, 2016

Kisah Sang Ayam Dan Sang Musang - Dongeng Italia

Courtesy of vikanagita.blogspot.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu didalam disebuah hutan yang sangat lebat dengan bukit-bukit hijaunya seolah-olah berderat mengelilingi lembah-lembah ngarai begitu indah memanjakan mata yang melihat pemandangan alam ciptaan Tuhan.

Namun sayang pemandangan alam nan indah disore itu diselimuti dengan mendung yang menghitam tebal yang diiringi sang gerimis rintik-rintik membasahi daun-daun hijau dan menimbulkan suara alam yang bergemericik dengan suara tetesan-tetesan air.

Angin yang bertiup kencang sebagai tanda akan datangnya hujan lebat yang akan turun ditempat itu, namun didalam sebuah goa kecil yang cukup panjang terdapat seekor ayam betina sedang mengerami telurnya dengan wajahnya yang kelihatan sumingrah.

Betapa tidak bahagia sang betina akan menjadi induk dari anak-anaknya yang sebentar lagi menetas dari telur-telur tersebut, karena sang induk ini begitu menyayangi anaknya yang sekarang masih berupa telur-telur.

Menurut perkiraan yang telah diperkirakan sang dukun bangsa ayam, telur tersebut tidak akan lama lagi bakal menetas. Tentu saja itu merupakan hari-hari yang sibuk dengan menghangatkan telur-telur dengan mengeraminya setiap hari.

Tetapi tidak jauh dari rumah sang ayam betina, seekor musang yang sedang kelaparan mendekati tempat tersebut dengan langkah kakinya berjalan dengan sangat hati-hati sekali.

Rupanya sang musang telah tahu betul seluk beluk tempat yang akan didatanginya dengan pengetahuannya itu dia hanya berharap satu yaitu sang ayam jantan sedang pergi mencari makanan.

Sebab selama dia pelajari tentang kebiasaan keluarga bangsa ayam kalau sang induk sedang mengeram maka sang ayam jantanlah yang bertugas mencari makan.

Dengan mengendap-endap sang musang telah sampai dibawah lubang goa, matanya memandang keatas melihat lubang mulut goa sambil memperhatikan dengan seksama sebab goa begitu gelap sedangkan jalanannya begitu licin, jadi bukan hal mudah untuk sampai di ujung sana.

Ditambah lagi dengan datangnya gerimis membuat tempat tersebut menjadi semakin licin saja, salah melangkah maka nyawalah sebagai taruhannya sebab dibawah jurang sana batu-batu dengan ujungnya yang tajam-tajam telah menantinya.

"Tinggal satu tahap lagi aku sampai dimulut goa dan setelah itu aku akan meyantap sang induk ayam beserta telur-telur dengan nikmat sekali, huh pesta besar hari ini!" sang musang sedang membayangkan dalam hatinya.

Namun apa boleh buat sang musang hanya bisa mengkhayal saja sebab batu besar untuk mencapai mulut goa tidak bisa dia lalui, dia tidak bisa memanjat apa lagi sekarang dalam keadaan basah pastilah jalan di atas batu sangatlah licin.

Sang ayam pun untuk keluar masuk goa selalu menggunakan sebuah tangga tali yang sengaja dia simpan ditempat tersembunyi, supaya yang lain tidak ada yang mengetahuinya.

Lama sekali sang musang terdiam ditempat tersebut sambil berpikir bagaimana caranya agar dapat naik ke atas dan bisa masuk kedalam goa, tiba-tiba dia berkata sendiri "Ahhha, aku dapat akal,,,,,,,aku dapat akal," katanya lirih.

Akhirnya sang musang yang terkenal sangat licik menggunakan tipu muslihat untuk mendapatkan apa yang diharapkannya lalu berkata, "Ayam, ayam, Sahabatku! aku membawa sebuah pesan yang datangnya dari Sang Raja hutan Singa, cepatlah turunkan tangga," sang musang meminta tangga.

Sang ayam betina yang sedang mengeram menjadi kaget mendengar ada yang memanggilnya, lantas saja dia bertanya, "hai siapakah yang meminta tangga untuk diturunkan?" tanya sang ayam betina.

"Aku sahabat setiamu Musang, aku hanya membawa berita dari sang Raja hutan untukmu!"  seru musang dengan gembira mendengar sang ayam betina menjawab pertanyaanya.

"Oh engkau sang musang, tunggulah aku akan menurunkan tangganya kalau begitu," jawab sang ayam betina.

Mendengar jawaban yang kedua ini, sang musang telah yakin sekali sang ayam akan menurunkan tangga dan dia akan naik serta selanjutnya akan pesta makan besar, pikirnya dalam hatinya begitu senang.

"Tetapi aku pun mempunyai pesan buatmu dari serigala yang tadi mampir kemari kerumahku, sebentar ya, aku panggilkan ya....serigala......dimana engkau......serigala kemarilah!! ini simusang yang engkau cari-cari dari tadi sudah ada dirumahku, serigala cepatlah kemari," panggil sang ayam betina kepada sang serigala.

Ketika dilihat dari lubang goa atas sang ayam betina telah tahu bahwa sang musang bermaksud kurang baik terhadap dirinya untuk itu dengan sangat cerdik pula dia membalasnya, dengan pura-pura memanggil serigala.

Sang musang menjadi sangat takut sekali hatinya ketika sang ayam betina berteriak-teriak terus memanggil serigala lawan yang sangat tangguh baginya, dari pengalaman hidupnya selama ini dia selalu kalah kalau ribut melawan serigala.

"Sial, sang ayam ini bersahabat dengan serigala segala," gumam sang musang lalu pergi berlalu meninnggalakn tempat tersebut dengan terburu-buru.

Melihat sang musang berlalu pergi, sang ayam betina malah semakin keras berteriak memanggil serigala dengan teriakkannya menambah rasa takut sang musang siraja penipu yang tersohor.

Akhirnya sang ayam betina dan cikal bakal anak ayamnya atau telur-telurnya dapat selamat dari tipu daya sang musang dengan cara menipu lagi sang musang dengan manakuti-nakuti akan datang serigala.

"Dasar penakut, aku pun pasti lari terbirit-birit ketika bertenu sang serigala besar" lalu sang ayam kembali mengerami telurnya yang sebentar lagi akan lahir kedunia ini sebagai anak-anak ayamnya.

Telur-telur pun akhirnya satu persatu menetas dan sang suami tercinta telah ada disampingnya menemani dirinya ketika anak-anaknya lahir kedunia ramai ini.

Suasana goa sekarang telah ramai dengan hadirnya anak-anak ayam yang lucu-lucu menggemaskan, keluarga ayam akhirnya hidup bahagia selamanya.

Saling sayang sesama makhluk ciptaan Tuhan adalah perbuatan yang sangat terpuji maka sayangilah semua makhluk ciptaannya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga : 10 Fantastic Truths About Our Skin
Share:

Wednesday, May 11, 2016

Saat Sang Kancil Makan Sang Singa - Dongeng Indonesia

credit: aaronshep.com
dongenganakdunia - Tersebutlah pada zaman dahulu kala tentang seekor kancil yang sangat periang sedang jalan-jalan dipadang rumput yang begitu luas, sepanjang mata memandang hanya hamparan hijau nan menyejukkan mata.

Tidak seperti biasanya sang kancil ini ada di kawasan padang rumput, "Aku sudah jenuh berada terus didalam hutan, ingin rasanya mengganti suasana serta bertemu dengan teman-teman baru," bisiknya ketika itu.

Tentu saja suasana yang lain dari biasanya membuat pikiran penat sang kancil, menjadi lebih segar dan hatinya bergairah dengan pengantian suasa seperti sekarang ini.

Banyak sudah teman-teman baru yang dia kenal di padang rumput. Untuk menambah pergaulan hidup, sang kacil bertemu dengan mereka serta menyapanya. Pengalaman yang sungguh beda dengan suasana hutan tempat tinggalnya.

Rusa, jerapah, kuda nil, kerbau liar juga sapi liar hidup dipadang rumput dan masih banyak pula binatang yang lainnya berada disana.

Siang pun akan berganti malam, pergantian waktu yang dirasakan sangat singkat bagi sang kancil, menjadi tidak terasa karena saking asyiknya berada ditempat baru di padang rumput terbuka.

Karena hari sudah menunjukkan sore maka dia pun bergegas pulang ke hutan tempat tinggalnya, dalam perjalanan mulutnya tidak henti-hentinya bersenandung kecil untuk menghilangkan suntuk di perjalanan.

Perjalanan cukuplah jauh dan memang sangat sepi, di waktu seperti itu kebanyakkan dari bangsa hewan pemakan rumput telah berada dirumahnya masing-masing.

Hari ini banyak sudah yang kancil pelajari di dunia luar yang memang begitu luas, selain mendapatkan teman-teman baru juga tentang pengalaman dunia baru yang sangat indah membuat hatinya semakin bahagia saja.

Namun lamunan indahnya dikagetkan dengan kehadiran sang singa yang berada tepat dipinggir hutan tak kala dia mau masuk kedalam hutan tempat tinggal.

Dengan gerakkan seperti kilat, sang kancil cepat berlari dari tempat itu menuju hutan untuk menyelamatkan diri dari gangguan sang pemangsa si raja hutan singa.

Makanan lezat di depan matanya tiba-tiba lari, tentu saja sang singa tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang tidak kalah gesitnya dia pun mengejarnya ke dalam hutan.

Namun hutan bukanlah tempat yang biasa dijadikan tempat berburu baginya, lambat-laun dia pun menjadi sangat kewalahan mengejar sang kancil yang sudah tahu seluk-beluknya hutan lebat tersebut.

Tetapi lain halnya dengan sang kancil dia sudah hapal benar dengan jalanan hutan yang memang tempat dia bermain dari dulu dan juga sebagai rumah tempat tinggalnya.

Dengan bebas dia memutari setiap rintangan yang ada dijalanan hutan tersebut membuat sang singa menjadi sangat kerepotan sekali dalam usaha mengejarnya.

Maka sampailah dia disebuah kolam yang airnya begitu jernih sehingga bayangan dirinya dapat terlihat atau tercermin diatas air kolam nan jernih.

Rasa haus setelah berlari cepat dan cukup lumayan jauh akhirnya membuat dia minum air kolam tersebut sambil istirahat, pikirnya sang singa sudah tidak mengejarnya lagi dan sudah jauih tertinggal dibelakangnya.

"Aku mau beristirahat dulu sebentar, sebab menurutku singa sudah tidak mengejarku lagi dia sudah balik ke padang rumput, sebab hutan bukanlah tempatnya mencari makan," sang kancil berguman dengan napasnya yang masih terengah-rengah.

Namun dugaan sang kancil sangatlah meleset kali ini sebab sang singa kini telah berada dekat dengannya sambil menyerigai memperlihatkan gigi-gigi tajamnya.

"Dasar makhluk kecil, mau lari kemana pun akan aku kejar. Sebenarnya engkau ini jenis makanan lezat apakah? di bilang anak banteng bukan, engkau sendiri tiada bertanduk, rusa pun sama saja ada tanduknya, namun aku sudah tanggung mengejarmu sampai disini maka tak apalah untuk sekedar mengganjal perutku yang memang sudah sedikit lapar, ggrrrrr," sang singa berkata sambil menggeram menakutkan hati sang kacil kala itu.

Sang kancil sangat terkejut sekali dengan kejadian ini dia belum siap saat ini untuk menghadapi sang singa yang sedang kelaparan, namun sekilas sebuah ide pintarnya yang gila telah muncul didalam benaknya ketika teringat akan bayangan di air yang jernih itu.

Kancil adalah binatang dengan segala kecerdikkannya telah terkenal diseluruh hutan tempat tinggalnya, namun hatinya sangatlah baik terhadap siapa pun, sehingga banyak teman dan sahabat yang menyayanginya.

"Baguslah akhirnya dengan mudahnya engkau pun tertipu juga seperti korban-korban yang lainnya," bentak sang kancil.

Tentu saja singa sangat kaget dibentak hewan buruannya yang akan menjadi santapannya dan baru kali ini mungkin, dia dibentak binatang kecil seperti sang kancil.

"Apa katamu sehingga berani membentakku dengan kasar seperti itu? Ketahuilah aku adalah raja hutan yang berkuasa dipadang rumput yang seluas mata memandang dan siapakah engkau?" kata si raja hutan singa dengan sangat marah.

"Badanmu memang besar, tampangmu memang seram namun otakmu sangatlah bodoh sekali." Kata kancil.

"Aku sengaja memancingmu untuk mengikutiku ketempat makan kesukaanku ini, ha ha ha," kata sang kancil dengan bola matanya menatap seperti tidak tersirat rasa takut sama sekali terhadap singa.

"Wajah seram, badan besar, bodoh serta tempat makan kesukaan, apakah itu semua?" bertanya sang raja hutan dia kini telah masuk perangkap permainan kata-kata dari banyak akalnya sang kancil.

"Oh engkau belum mengerti maksudku, sudah banyak singa yang menjadi makananku, mereka semua tertipu oleh badanku yang memang terlihat kecil namun aku sangat suka sekali memakan daging singa yang padat namun empuk kala aku kunyah," sang kancil menggertakkan ancaman kata-katanya.

"Jangan pernah engkau berbohong padaku! hai binatang kecil aku tidak akan pernah tertipu oleh gertakkanmu," sang singa terlihat marah sekali.

"Buat apa aku berbohong, namun aku hanya merasa kasihan kepadamu, setiap kali aku makan singa aku selalu menyimpan kepalanya didalam lubang untuk mengenang mereka," kata sang kancil sambil menunjuk kolam jernih yang dia katakan sebuah lubang kepada sang singa.

"Baiklah aku beri satu kesempatan kepadamu untuk melihat lubang tersebut sebagai kebaikkan hatiku hari ini, namun janganlah engkau berbuat konyol yang membuatku hilang kesabaran," berkata lagi sang kancil.

Rasa penasaranlah menuntun langkah sang singa menuju pinggiran kolam yang dibilangnya lubang oleh sang kancil, seketika terlihat bayangan kepalanya dari pantulan beningnya air kolam.

Sang singa merasa kaget sekali melihat ini semua, hatinya kini mulai percaya bahwa apa yang dikatakan sang kancil benar adanya, dia lalu membalikkan badan dan dengan gerakkan kilat meloncat kabur meninggalkan tempat tersebut tanpa basa-basi lagi, dia telah tertipu oleh kecerdikkan akal sang kancil.

Kancil tersenyum lalu dia pun tertawa dengan penuh kemenangan, "Badan boleh besar namun otakmu tetaplah bodoh," katanya.

Kekuatan adalah sumber dari kemenangan atau keberhasilan namun kekuatan pun bisa dikalahkan dengan dengan akal yang cerdik, maka belajarlah cara menggunakan kecerdasan dan akal cerdikmu untuk berbuat kebaikan.

Sekian.

oleh: mamang
edit: n3m0

Advertising - Baca Juga : Dreamcatcher Symbol
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...