Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Monday, December 21, 2015

Jhi Ge Phu dan Putri Naga - Dongeng Cina

Courtesy of pinterest.com - Putri Naga
Dongeng Anak Dunia - Zaman kerajaan China dahulu kala, di daerah Tiongkok, hiduplah seorang bapak tua renta bersama seorang anak lelakinya yang bernama Jhi Ge Phu.

Keluarga ini menjalankan usaha niaga dagang dari kerajinan tangan tembikar yang sudah turun temurun dalam keahlian ini. Atau sudah menjadi usaha keluarga yang diwariskan dari kakek-nenek mereka terdahulu.

Setelah semua hasil kerajinan tangan tembikar terkumpul banyak maka si anak dan kakek itu mengepak barang dagangan itu untuk dibawa kekota pada hari esok paginya.

Hari pun telah berganti pagi, ayah dan anak itu telah bersiap-siap untuk pergi ke kota menuntun keledai yang penuh dengan tembikar hasil kerajinan tangan mereka.
Dengan kondisi jalanan saat ini yang tertutup salju, sang ayah JhiGe Phu pun sangat hati-hati ketika menuntun sang Keledainya, jangan sampai terjatuh dari jalanan serta memecahkan barang bawaannya.

Sampailah perjalanan mereka di daerah Yuin Nan yang terdapat sebuah sungai yang airnya sudah membeku menjadi salju yang keras. Keledai yang membawa tembikar di punggungnya sudah berjalan sampai tengah-tengah sungai yang beku itu. "Sepertinya mengalami kecapaian yang sangat luar biasa maklum keledai tua." Pikir orang tua itu dalam hatinya.

Baru saja orang tua itu berpikir demikian sang keledai sudah jatuh terpeleset, dan semua barang dagangan di punggung keledai itu pecah berantakkan. Bapak tua itupun cepat-cepat menolong sang keledai itu. Tetapi apa yang terjadi bapak tua ini malah terpental dan kepalanya berbenturan dengan salju es yang keras, seketika itu pula sang bapak tua langsung meninggal di tempat.

Dengan berlinang air mata menahan haru dan sedih yang mendalam, begitu menguncang jiwanya, Jhi Ge Phu menguburkan Ayahnya berserta keledai tua yang telah lama setia membatu keluaraganya itu di tepi sungai yang tak jauh dari tempat kejadian musibah tadi berlangsung. Kemudian Jhi Ge Phu pergi mengembara, tidak ada tujuan yang pasti, menuruti kehendak hati dalam melangkahkan kakinya.

Hari ke hari berlalu, sampailah pemuda itu di sebuah pantai yang indah. Jhi Ge Phu duduk-duduk sambil melamuni nasib malang yang menimpa hidupnya. Tetapi lamunannya itu buyar dengan suara geritan-geritan dan suara tangisan dari seorang anak gadis perempuan. Sekelompok pemuda berkuda sedang berlari ke tempat Jhi Ge Phu duduk-duduk dan yang paling mengejutkan lagi di atas punggung kuda itu nampak seorang anak gadis sedang menjerit-jerit meminta tolong. Menurut gelagatnya segerombolan pemuda itu telah menculik gadis tersebut dan membawanya ke tempat ini dengan niat yang kurang baik atau jahat.

Jhi Ge Phu berpikir dalam batinnya dan terus menghadang pemuda berkuda yang membawa gadis tersebut. Tentu saja pemuda yang dihadangnya itu marah dan mengeluarkan senjata cambuk yang menjadi senjata andalannya. Tetapi Jhi Ge Phu telah lama belajar ilmu bela diri dari mendiang ayahnya yang telah tiada dan sudah biasa berkelahi. Tidak selang beberapa lama gerombolan pemuda itu telah dapat di usirnya dengan cepat. Tinggal Jhi Ge Phu dan sang gadis tadi yang telah di tolong dari penindasan dan pemaksaan gerombolan pemuda yang tak bertanggung jawab itu.

Akhirnya perkenalan pun tidak bisa dielakan antara kedua anak manusia itu. Si gadis yang telah ditolongnya itu mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada Jhi Ge Phu sang pemuda pahlawannya.
"Kalau tidak keberatan aku ingin tahu dimana tempat tinggalmu? Dan ceritakan pula bagaimana, nona bisa di culik oleh pemuda-pemuda yang tidak bertanggung jawab tersebut." Bertanya Jhi Ge Phu kepada Nona yang telah di tolongnya itu.

"Istanaku tidak jauh dari tempat ini, letaknya ada di dasar laut. Saat pagi-pagi hari aku sering merasakan hangatnya sang mentari, secara tidak sengaja datang segerombolan pemuda dan memaksaku ikut sampai disini," berkata sang nona tadi.

"Dan aku seorang putri Naga dari Istana dasar laut."

"Maka ikutlah denganku menemui kedua orang tuaku, keluargaku pasti akan berterima kasih kepadamu yang telah menolongku," berkata lagi sang putri Naga itu.

Jhi Ge phu pun mempertimbangkan ajakan sang putri Naga tersebut sebelum menyetujuinya. Dan pada akhirnya anak muda itu setuju dengan ajakkan tersebut, disuruhnya pemuda itu untuk memejamkan matanya, dan apa yang terjadi kemudian setelah sang putri itu menyuruh membukakan mata, sang pemuda terkesima dengan apa yang ada di depan matanya sekarang ini.

Begitu megah dan alangkah indahnya istana bawah laut ini pikir Jhi Ge Phu dalam hatinya. Disambut dua orang makhluk yang berwujud setengah manusia dan setengah Naga, serta dikelilingi para abdi pelayan yang berbentuk setengah manusia setengah ikan. Dan kedua makhluk tadi yang menyambut itu adalah orang tua sang putri Naga. Beribu-ribu kata terima kasih terus terucap dari kedua orang tua sang putri Naga kepada Jhi Ge Phu, dan setelah itu pemuda tersebut di suguhi bermacam-macam makanan yang lezat-lezat. Untuk selanjutnya pemuda itu di bawa berkeliling-keliling istana megah tersebut dan sampai pada sebuah tempat yang dipenuhi oleh banyak perhiasan intan permata yang berkilauan.

Sang Raja Naga laut pun memperbolehkan sang pemuda untuk mengambil apa yang di sukai sebagai tanda terima kasih.
"Hai anak muda ambillah kalau kamu mau dan tertarik oleh emas permata ini, dan kamu boleh mengambilnya sesuka kamu," berkata sang raja Naga Laut itu.
Tetapi sang pemuda itu menolak dengan halus tampa menyingung perasaan sang raja Naga Laut, tetapi sang Raja terus memaksanya.
Akhirnya Jhi Ge Phu memilih patung emas seekor anak ayam dan sebuah tongkat emas yang merupakan lambang kerajaan Naga Laut.
"Sang Raja bertanya dari kamu tahu lambang pusaka kerajaan yang kamu minta tersebut?" Katanya.
"Ini semua saya tahu dari sang putri." Jhi Ge Phu memberi jawaban atas semua pertanyaan dari sang paduka Raja Laut.
Namun akhirnya lambang kebesaran itu pun di relakan di bawa Jhi Ge Phu kepermukaan laut. Sebab sang Raja laut pun yakin bahwa sang putri Naga telah jatuh cinta terhadap pemuda tersebut. Pusaka itu sebagai pengikat kuat ikatan batin putrinya terhadap orang yang telah menyelamatan hidunya dan menjadi pilihan hatinya.
 
Berjalanlah dan terus berjalan, tiada arah tujuan, berhari-hari, berminggu-minggu. Namun sampai beberapa hari ini, Jhi Ge Phu berjalan tanpa menemukan minuman apa lagi makanan. Semua tempat yang lalui begitu gersang. Akhirnya sang pemuda itu Jhi Ge Phu pingsan kelaparan di tengah gurun yang sangat gersang.

Dan saat dia bangun dari pingsannya, terkejutlah sang pemuda karena telah berada di suatu tempat yang sangat asing.
Beralaskan tempat tidur yang indah bersih dan sangat besar serta bau wangi dari wewangian yang menyergarkan.
Serta di ruangan lain rumah besar tersebut telah terhidang makanan yang sangat lezat tersedia disana, tidak panjang pikir lagi segera Jhi Ge Phu melahap makanan tersaji itu serta sampai habis.

Sehabis makan dan minum pemuda itu pun pergi berkeliling rumah tersebut tidak ada satu orangpun yang dijumpainya disitu.
Yang lebih anehnya lagi setelah berkeliling itu dan meneliti setiap sudut tempat, pas di pintu utama rumah itu terdapat namaku. "Betapa baiknya orang ini telah menolongku, juga meminjamkan aku rumah ini." Setelah kejadian tersebut sang pemuda akhirnya berkerja keras menjadi petani di daerah tersebut. Membuka hutan di jadikan lahan pertanian yang subur dan membuat ladang untuk menanam padi yang subur pula. Tidak lupa Jhi Ge Phu pun menanam berbagai macam sayuran serta buah-buahan.

Setelah pagi menjelang dia bangun dan mendapati meja makannya telah siap dengan sajian sarapan dan begitupun ketika pulang dari ladang, meja makan itu pun telah penuh dengan berbagai makanan yang lezat-lezat pula. Dan yang paling menakjubkan dari semua kejadian di rumah yang dia tempati sekarang ini, jika dia meninggalkan dalam keadaan berantakkan pulangnya pasti sudah rapih kembali itu rumah. Siapakah yang selalu membereskan dan memasakan makanan untukku setiap harinya?

Patut diselidikki kejadian ini pikirnya dalam hati. "Aku akan pura-pura pergi ke ladang hari ini, tetapi aku akan balik lagi secara diam-diam, akan di lihat siapa dibali semua ini." Membatin Pikir Jhi Ge Phu.

Namun yang paling menyejutkan dari kejadiaan yang dialaminya selama ini, ketika lagi mengintip dari bali pintu rumah tersebut, patung emas anak ayam  yang di bawa oleh dia selama ini mengeluarkan asap yang tebal dan terus menghilang. Serta menjelma menjadi seorang putri nan cantik jelita. Dialah yang selama ini menemaninya, putri Naga.

Kemudiaan Jhi Ge Phu pun menikahinya putri Naga Ini dan hidup bahagia bersama.

Suatu saat ada seorang raja dan abdi setia kerajaan lewat depan rumah sang Jhi Ge Phu, raja yang hendak pergi berburu itu sangat kagum akan keindahan rumah tersebut. Berhenti sang raja dan pengawalnya untuk bertamu di rumah yang indah itu.

Sebagai tuan rumah Jhi Ge Phu pun menyambut kedatangan rombongan tersebut dengan gembira. Setelah setiap pojok ruangan rumah itu dilihatnya raja sangat terpesona dengan detail rumah yang begitu indah tersebut, tetapi tidak sampai disitu raj ini pun memiliki hati yang jahat ketika melihat kecantikan istri Jhi Ge Phu yang memang sangat cantik itu, timbullah niat jahat untuk menjadikan dia sebagai istri yang akan di bawa ke istana di kerajaannya.

Dicarinya akal bulus untuk mengelabui Jhi Ge Phu, Raja pun mengajak bertanding membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian selama tiga hari. Dan taruhannya jika tidak sanggup atau berhasil Jhi Ge Phu harus rela melepas istri, tetapi jika sanggup dan menang dalam taruhan itu raja akan memberikan hadiah untuknya.

Namun sang istri tidak tinggal diam untuk menolong suami tercinta ini, segeralah sang Putri Naga pulang ke istana bawah laut untuk meminjam kapak rembulan dari Ayahanda Raja Laut.

Dengan kapak rembulan di tangannya, Jhi Ge Phu dengan berani berdiri menentang raja. Dia memilih hutan di sebelah timur, sementara raja hutan di sebelah barat. Dengan sekuat tenaga Jhi Ge Phu melemparkan kapak rembulannya ke atas dan BLARR! Seberkas cahaya memancar dan dengan sekejap mata hutan di sebelah timur telah habis terbabat.

Berbekal kapak rembulan, kapak sakti dari raja laut, hutan di sebelah timur dalam sekejap mata habis terbakar.

Sedangkan hutan sebelah barat masih jauh dari habis, pohon-pohon masih banyak yang tegak berdiri.

Maka kalahlah sang raja dalam pertandingan ini, tetapi raja tidak mau mengakui kekalahannya. Malah menantang lagi Jhi Ge Phu untuk bertanding menuai padi.

Untuk yang kedua kalinya istrinya meminta tolong lagi Ayahanda Raja Laut dan beliau meminjamkan kotak emas berkepala merak kepada Jhi Ge Phu mantunya.

Raja yang picik dan curang itu mengerahkan ratusan orang untuk menuai pagi di ladang yang terletak di sebelah selatan, ladang yang tidak begitu luas dibandingkan dengan ladang kepunyaan Jhi Ge Phu di sebelah utara.

Namun berkat kotak emas tersebut dalam sekejap padi-padi itu habis di panennya.

Semua kekalahan demi kekalahan terus ada di pihak kerajaan itu, akhirnya raja pun memerintahkan untuk membawa paksa istri Jhi Ge Phu.
Semua prajurit diperintahkan untuk menangkap putri Naga Yang cantik tersebut.

Walaupun melawan sekuat tenaga pun akhirnya Jhi Ge Phu kewalahan dan tidak bisa melawan lagi, terdengar istrinya meminta tolong kepadanya.

"Jhi Ge Phu, Mantel Bulu Merak ! Syair nyanyian keberuntungan kita!" teriakan sang putri Naga di tengah-tengah perlawanannya ingin lepas dari prajurit yang membawanya.

Berhari-hari lelaki itu mengumpulkan sebanyak-banyaknya bulu merak, dan membersihkan serta menyusunnya dengan rapih dan merangkainya menjadi syair-syair lagu keberuntungan dengan cucuran air mata cinta, membayangkan orang yang di cintanya dibawa kabur paksa orang. Jadilah mantel tersebut pada hari ke 49 dari peristiwa kejadian istri di bawa paksa sang raja durjana itu.

Malam baru luar biasa di rayakan di seluruh pelosok negeri kerajaan saat itu. Seluruh pojok kota telah di hias oleh lampion-lampion dan lentera warna-warni begitu semarak kota saat itu. Seluruh rakyat sedang berpesta pora malam itu menyambut tahun baru lunar. Ternyata Jhi Ge Phu telah hadir diantara ribuan rakyat yang sedang berpesta, tetapi dengan pakaian yang lain dari pada yang lain tentu saja menjadi pusat perhatian saat itu.

Akhirnya sang raja berkehendak memanggil orang yang menjadi pusat perhatian tersebut ke istananya. Dengan di kawal prajurit kerajaan Jhi Ge Phu pun masuk istana kerajaan tersebut, sambil bersenandung syair keberuntungan dan putri pun sudah punya firasat suaminya telah  datang ke istana maka putri pun bergegas ke pendopo kerajaan untuk menyambut sang suami tercinta. Senyum ceria menebar dari bibir sang putri Naga yang cantik jelita saat berhadapan orang yang bermantel bulu merak itu.

Raja saat itu sedang memperhatikan kejadian tersebut, wah betapa ceria sang putri ketika melihat orang dengan pakaian seperti itu, maka tanpa berpikir panjang di ambil paksalah mantel tersebut dan serta merta memakainya waktu itu juga.

Tetapi putri Naga malah berteriak kepada seluruh pengawal yang ada disitu. "Betapa memalukannya seorang raja dengan pakaian dan kelakuan seperti itu di depan khalayak ramai saat ini. Tangkap dan jebloskan saja di penjara." Ini perintah teriak sang ratu kepada seluruh pengawal yang ada di tempat itu.

Banyak dari pengawal yang terpengaruh oleh perintah sang putri Naga tersebut yang pada akhirnya menimbulkan keributan- keributan di istana saat itu.
Dan ketika terjadi keributan itu Jhi Ge Khu membawa lari sang putri Naga keluar dari istana menuju pantai.

Dan disana telah siap bala tentera dari prajurit pasukan kerajaan Naga menjemput kedatangan mereka berdua untuk kembali ke istana Naga di dalam dasar laut.
Di istana naga inilah mereka berdua akhirnya mendulang kebahagiaan yang abadi.
Wasalam.

oleh: mamang
edit by: n3m0
Share:

Tuesday, December 15, 2015

Keluarga Willem dan Irene - Dongeng Belanda

Dongeng Anak Dunia - Tersebutlah dua keluarga nelayan yang hidup di desa nelayan Volendam daerah pesisir pantai utara dari kerajaan Belanda waktu itu. Keluarga Hendrik mempunyai anak bocah lelaki bernama Willem serta keluarga Jansen mempunyai bocah perempuan yang bernama Irene. Kedua anak ini berteman sejak usia mereka masih kecil sekali sampai sekarang umur mereka telah sembilan tahun. Willem anak rajin yang sering membantu ayahnya dalam perbaikan jala ketika kapal ayahnya pulang melaut. Di keluarga Jasen Irene juga anak rajin yang sering membantu keluarganya, terutama ibu kandungnya yang berjualan makanan, disamping ayah-ayah mereka yang sama-sama nelayan.

Sudah menjadi kebisaan mereka berdua baik Willem dan Irene duduk di pinggiran dermaga tersebut menunggu atau menjemput ayah mereka pulang melaut. Dari pagi buta mereka berdua duduk disitu, sampai menjelang suasana pantai ramai oleh mereka dari keluarga nelayan lainnya yang berniat sama dengan mereka.

Pagipun sudah berlalu berganti siang hari yang terik kala itu, tetapi kapal ayah-ayah mereka belum juga datang merapat di pantai desa nelayan Volendam.
Akhirnya gadis kecil itu bertanya kepada nelayan lain, "Maap Pak, apakah tadi dilaut bapak melihat kapal ayah kami?" Tanya Irene dan Willem kepada para nelayan yang ada disitu, teman-teman melaut ayah-ayah mereka.

"Tentu saja kami melihat ayah-ayah kalian, mungkin ayah-ayahmu itu pergi kelaut utara untuk menangkap ikan tuna yang lebih banyak dan besar-besar." Para nelayan itu menjawab pertanyaan dari kedua anak tersebut.

Sementara pergantian cuaca begitu cepat berjalan, langit yang tadinya cerah berganti gelap, awan hitam yang mendung dilangit saat itu tidak bersahabat, akan ada badai dan hujan yang banyak hari ini nampaknya.

Bagaimana kalau ada badai dan hujan yang lebat saat ini sementara ayahku masih di tengah lautan lepas, pikir anak itu dalam hatinya.

"Ya tuhan selamatkanlah ayahku dari badai yang mengamuk dan hujan yang lebat di lautan bebas disana". Didalam isak tangisnya dia menjerit-jerit kepada Tuhan minta diselamatkan ayahnya dari marabahaya.

Melihat temannya yang gelisah, Willem pun ikut terbawa suasana hatinya, tetapi dia masih tetap bersemangat.

"Tenang Irene kita berdoa saja terus kepada Tuhan", bisik Willem kepada Irene.
Walaupun hati kecilnya Willem tak jauh beda dengan hatinya Irene sebab ayahnya pun masih dilaut lepas nun jauh disana.

Irene pun memandang Willem dan bertanya. "Apakah Tuhan akan mengabulkan permintaan doa kita?" itulah pertanyaan yang di ajukan Irene kepada Willem saat itu.
"Kita semua  harus yakin akan kekuasaan Tuhan yang maha kuasa, yang mengatur alam semesta ini, pintakanlah kepada Tuhan untuk menghentikan hujan dan badai ini. Berdoalah dengan Khusu pasti Tuhan akan mendengarkan doa kita"

Dengan diikuti isak tangisan yang sendu Irene dan Willem pun berdoa dengan sungguh-sungguh, tak selang beberapa lama setelah doa-doa itu, hujan pun reda dan dari kejauhan nampaklah sebuah kapal nelayan merapat menuju dermaga itu.

Irene pun berteriak dengan riang gembiranya, "papa kita, papa kita Willem!" Seru Irene kepada Willem.
Dan memang kedua orang tua anak tersebut telah datang merapat ke dermaga tersebut dengan membawa hasil tangkapan ikan yang banyak sekali hari itu.

Ketika badai yang disertai hujan mengamuk mereka berduapun sudah hampir putus asa menghadang badai yang menerpa dengan dahsyatnya. Tetapi mereka terus berjuang melawan badai itu dan tiba-tiba badaipun hilang secara mendadak, selamatlah Ayahnya Irene dan Ayahnya Willem. Itulah jawaban doa dari anak-anak meraka yang khusu berdoa untuk keselamatan ayah mereka masing-masing.

Akhirnya kedua bocah kecil itupun saling berpelukan dan mengucapkan syukur yang tiada tara, "Doa kita dikabulkan Tuhan bisiknya Irene ke telinga Willem, pemuda kecil itu hanya membalas dengan senyuman gembira."

Dibawalah ikan hasil tangkapan itu kesebuah tempat pelelangan ikan di desa tersebut. Semua hasil tangkapan itu terjual dengan harga yang pantas. Tetapi ikan tuna yang paling besar hasil tangkapan mereka belum dapat harga yang sesuai. Tidak selang beberapa lama datanglah seorang pemuda menawar ikan tersebut dengan harga yang tinggi. "Bolehkah saya mengadakan pesta disini? Kalau boleh akan kubeli ikan itu dengan harga yang pantas," kata si pemuda yang mau membeli ikan tersebut dengan harga tinggi.

"Serta kalian semua boleh datang kepestaku nanti untuk mencicipi hidangan masakan tuna ini,"   berkata lagi sang pemuda pembeli ikan tuna itu.

"Ikan ini akan saya masak dengan lezat dan tentu nanti, Tuan akan ketagihan masakan saya,"   berkatalah ibunya Irene kepada pemuda itu.

"Tolong kamu bawa ikan ini kedapur dan bersihkan," ibu Irene menyuruh kedua anak muda itu untuk membersihkan ikan tersebut di dapur rumahnya.
Willem dan Irene pun dengan senang hati membersihkan ikan tersebut, dari mulai membuang sisik-sisiknya sampai pada membuang kotoran di perut ikan itu. Alangkah terkejutnya mereka berdua ketika lagi asyik-asyiknya mengeluarkan kotoran di perut ikan itu ada benda yang turut jatuh ke ubin rumah yang menimbulkan suara, "Ting!" Sepertinya sebuah logam mulia. Yang lebih terkejutnya lagi bahwa benda adalah sebuah cincin yang sangat bagus bertatahkan berlian yang menyilaukan mata.

"Betapa indahnya cincin ini!" Irene pun berseru. "Bolehkah aku memilikinya sambil memegang cincin tersebut?"

"Tidak boleh Irene," sahut Willem. "Karena kamupun tahu ikan itu telah dibeli oleh pemuda tadi, maka dialah orangmnya yang berhak atas cincin ini. Mari kita berikan cincin ini kepada pemuda tadi biar kita tidak disangka mengambil yang bukan milik kita." Walaupun hanya mereka berdua yang tahu di perut ikan itu ada cincin yang begitu indah, tetapi dengan kejujuran Willem dan Irene mau menyerahkan kepada yang berhak memilikinya.

Pemuda yang membeli ikan itu sangat terharu atas kejujuran kedua anak tersebut ketika menyerahkan cincin yang mereka temukan dalam perut ikan yang dia beli. Seandainya tidak diserahkan juga pemuda yang membeli ikan itu tidak akan tahu bahwa dalam perut ikan itu ada cincinnya. "Benar-benar kejujuran yang sangat luar biasa." Membatin pemuda itu dalam hatinya.

Setelah itu dipanggillah kembali Willem dan Irene untuk menghadap pemuda tersebut, Pemuda itupun membuka jati dirinya siapa sebenarnya beliau itu. Tidak lain sang pemuda tersebut adalah seorang Putra Mahkota dari kerajaan Belanda waktu itu.

Sang pemuda yang tidak lain seorang pangeran yang sedang mengemban tugas kerajaan utntuk menjalankan tugas yang sedang dititahkan kepadanya.

"Karena kejujuranmu maka kamu ku angkat jadi pengawal khusus," berkata pangeran kepada Willem.
"Dan kamu akan kuangkat jadi adik angkatku, karena aku tidak punya adik perempuan." Tentu ibuku akan sangat senang punya anak perempuan," berkata lagi sang pangeran kepada Irene.

Semenjak dari saat itu mereka berdua, yang berteman sejak kecil atau sahabat yang selalu setia ini, Willem dan juga Irene tinggal di istana kerajaan Belanda sebagai bagian dari anggota keluarga kerajaan tersebut.

Kejujuran merekalah yang membawa meraka kepada kehidupan yang lebih baik.

Wasalam.
Oleh: mamang
Edit by: n3m0
Share:

Monday, December 14, 2015

Matahari Dan Angin - Dongeng Amerika

Courtesy of http://api.ning.com
Dongeng Anak Dunia - Amerika Serikat mempunyai dongeng anak yang berjudul Matahari dan Angin, cerita ini menceritakan tentang perselisihan antara sang Matahari dan sang Angin. Yang kedua-duanya merasa sangat bangga dengan kemampuannya sendiri-sendiri. Sang Matahari bangga dengan panasnya yang bisa membakar semua yang ada di depannya dan sang Angin pun bangga dengan apa yang dia punya, semua bisa dia angkat dan diterbangkan kemanapun dia suka.

"Percayalah hai sang Matahari kedatanganku sangat dinantikan manusia, ketika terikmu membakar. Pastilah manusia membutuhkan kesejukanku", sang Angin dengan congkaknya berkata kepada Sang Matahari.

"Namun manusia tak suka gayamu yang suka ngebut-ngebutan yang dapat menimbulkan puting beliung serta badai yang memporak porandakan rumah-rumah manusia. Kedatanganmu selalu ditemani atau membawa teman dekatmu si awan hitam, yang mengakibatkan hujan dan banjir dimana-mana. Dengan demikian sang Matahari yang menghangatkan bumi inilah yang sangat dibutuhkan manusia di muka bumi ini." Itulah cemoohan sang Matahari kepada sang Angin.

Matahari maupun Angin tidak pernah akur satu sama lain, kalau kebetulan bertemu mereka selalu saling menjelekan dan tidak ada yang pernah mau mengalah. Pada saat itu terjadi pertemuan dua musuh bebuyutan ini di negeri awan di atas sana.
Saat yang bertepatan dengan waktu itu seorang anak manusia lewat di sebuah perkampungan yang sepi.

"Saksikan saja hai sang Matahari sebentar lagi manusia yang sedang lewat itu akan menggunakan Jas Mantel tebalnya karena kedinginan yang sangat mengigil. tentu sang Anginpun dengan segera meniupkan angin dingin dengan kencangnya."

"Oh, cuman itu saja pengetahuanmu", maka sang Mataharipun segera unjuk gigi, sang Mataharipun memancarkan sinar yang sangat panas kepada pemuda terasebut, maka secara reflek jas Mantel itu pun di lepas karena kegerahan yang amat sangat.

"Seandainya angin bertiup dengan tenang, berhembus semilir menyejukan dan matahari bersinar tidak panas menyengat maka perjalananku akan sangat menyenangkan hati dan sanubariku."

Baik sang Matahari maupun sang Angin sangat terkejut akan perkataan sang pemuda barusan. Mereka berdua baru sadar sekarang betapa sombong dan egoisnya mereka berdua. Sebab semua makhluk di dunia ini membutuhkan mereka berdua. Baik dibutuhkan oleh manusia atau tumbuhan, hewan dan semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di alam dunia ini. Mulai sejak saat itu mereka berdua selalu hidup damai berdampingan dan tidak sombong lagi, satu sama lain.

Wasalam.
oleh: mamang
edit by: n3m0

Share:

Thursday, December 10, 2015

Danau Narran - Dongeng Australia

Dongeng Anak Dunia - Benua Australia yang terdiri dari ribuan lembah-lembah ngarai yang dalam dan terjal, disela lembah dan ngarai tersebut mengalirlah sungai Narran yang airnya jernih. Tetapi anda jangan tertipu oleh kejernihan air sungai Narran tersebut sebab di dalam sungai tersebut telah menanti bahaya mengancam dari buaya yang ganas-ganas. Sungai Narran adalah sarang buaya ganas yang menakutkan. Tetapi semua pun akan terpesona oleh kecantikan alamnya yang begitu indah.

Hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak lelaki. Keluarga Byamee akan mencari bekal makanan selama musim panas. Byamee sebagai kepala keluarga bertugas mencari madu dan anak serta istrinya akan diberi tugas mencari umbi-umbian yang biasa dimakan pada zaman itu. Dalam membagi tugas ini, mereka mencari makanan untuk bekal sampai musim dingin yang akan datang. Juga mereka akan mencari kayu bakar ke hutan, selain untuk memasak kayu bakar waktu itu di gunakan untuk penghangat ruangan.

Setelah tugas mencari ubi jalar selesai, keranjang yang lumayang besar itu telah terisi penuh. Segeralah istri Byamee mengajak anaknya untuk pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, "namun musim panas yang menyengat ini begitu gerah."
Gerutu istri Byamee dalam hatinya ketika melangkahkan kakinya.

Akhirnya mereka pun melewati sungai Narran yang airnya begitu jernih, sejuk di pandang mata anak dan ibu ini. Karena tidak tahan akan cuaca hari itu dan air sungai yang mengoda akhirnya mereka berdua pun berenang. Air yang sejuk menyirami seluruh badan mereka, rasa capai dan penat yang tadi dirasakan berangsur-angsur pulih kembali.

Saking asyiknya mandi dan berenang mereka berdua tampa sadar telah di incar seekor buaya yang besar serta ganas. Secepat kilat buaya besar itu menerkam kedua orang ini, sang buaya pun mendorong-dorong kedua orang itu, anak dan ibu yang malang dimasukan ke dalam sarangnya, tidak jauh dari sungai Narran tersebut.

Ditempat lain bapak Byamee yang sedang asyiknya mencari madu, merasa ada sesuatu yang tidak mengenakan hatinya. Seperti ada pertanda yang buruk lagi mengancam keselamatan anak dan istri tercintanya di hutan sana. Tampa membuang waktu lagi bapak Byamee pergi ke hutan di mana anak istrinya tengah mencari umbi-umbian dan kayu bakar. Ketika menyusuri sungai Narran, pa Byamee menemukan keranjang yang penuh dengan ubi, yang biasa di bawa istrinya. Bapak ini pun dengan gugup berteriak-berteriak memanggil kedua orang yang di cintainya itu, tetapi istri maupun anaknya kaga ada yang menjawab pangilannya itu.

Dengan penuh kekhawatiran yang sangat amat bapak Byamee pun bertindak dengan cepat mengeluarkan ilmu saktinya. Maka digalilah lubang untuk mengalirkan air kelembah lain, dengan demikiaan keringlah sungai Narran tersebut.

Setelah sungai Narran kering bapak Byamee akhirnya masuk, dan mencari setiap lubang sarang buaya di sungai kering tersebut. Yang pada akhirnya di temukan juga istri dan anak tercinta dalam sebuah sarang buaya, bapak Byamee pun segera menyelamatkannya.

Setelah menyelamatkan istri dan anaknya bapak Byamee pun mengalirkan kembali air sungai dari lubang yang besar dari lembah yang telah terbentuk danau itu ke sungai Narran.

Akhirnya keluarga bapak Byamee selamat, dan kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasa, hidup bahagia dan tentram.
Danau Narran, atau lembah yang di isi air dari sungai Narran pun, sampai saat masih ada di Australia.
Wasalam.

oleh: mamang
Share:

Wednesday, December 9, 2015

Legenda Gajah Putih - Dongeng Thailand

Dongeng Anak Dunia - Ratusan tahun ke belakang di negeri Thailand yang terkenal sebagai negeri Gajah Putih ini, sebelumnya wilayah ini tidak mempunyai binatang yang namanya Gajah. Di hutan-hutan negeri tersebut tidak ada hewan tersebut. Gajah pada zaman itu di Thailand hanya sebuah binatang yang di anggap sebuah legenda dongeng saja.

Sampai akhirnya sang Maharaja negeri itu mengutus abdi kepercayaannya untuk pergi ke negeri lain, hanya untuk membeli binatang  atau hewan yang namanya Gajah ini, agar seluruh rakyat dan para pembesar negeri ini tahu bahwa Gajah itu memang ada. Bukan hanya sekedar kabar isapan jempol saja.

"Belikanlah aku sejodoh atau sepasang Gajah dan bawalah binatang dari negeri nun jauh disana, ke negeri kita tercinta ini." Titah sang Maharaja Thailand.

Maka berangkatlah utusan sang Maharaja itu ke negeri seberang, memikul tugas yang diperintahkan kerajaan zaman itu. [Dari sinilah ternyata cikal bakalnya Thailand menjadi negara yang terkenal dengan sebutan: negara Gajah Putih].

Demikianlah perjalanan untuk membeli sepasang Gajah itu di mulai, dengan melepas sauh berlayarlah kapal laut itu menuju negeri di seberang sana.

Berhari-hari berlalu apa yang di tunggu-tunggu Maharaja dan seluruh rakyat negeri Thailand itu datang juga.

Sepasang atau sejodoh Gajah yang gemuk dan sehat telah datang di negeri ini, Thailand. Namun kedatangan Sang Gajah terjadi pada malam hari atau sudah larut malam, gajah-gajah itu tidak langsung di pamerkan kepada seluruh rakyat.

"Besok hari baru kalian bawa sepasang gajah itu untuk dipertontonkan kepada seluruh khalayak negeri." Perintah sang Maharaja.

"Tetapi aku ingin seluruh abdi negeri para pembesar negeri ini duluan yang melihat malam ini juga, biar seluruh rakyat negeri ini tahu bahwa kita semua adalah orang yang berpengetahuan lebih banyak dari seluruh khalayak ramai." Inilah titah atau perintah sang Maharaja, ditujukan untuk para menteri dan pembesar negeri untuk lebih dulu melihat binatang ini.

Berkumpullah para pembesar serta para menteri atas perintah sang Maharaja. Karena situasi malam yang begitu gelap-gulita maka para pembesar itu memerintahkan untuk dibuatkan obor-obor atau pelita untuk penerangan kala melihat sang Gajah itu.

Tetapi perintah itu di tolak oleh pawang Gajah dengan alasan yang mereka kemukan, bahwa Gajah  akan mengamuk bila di kagetkan oleh cahaya yang tiba-tiba terang. Gajah adalah binatang raksasa yang begitu besar tenaganya, bila mengamuk pasti akan menghancurkan kandangnya. Itulah alasan sang pawang itu ketika didesak untuk dinyalakan pelita dilokasi kandang Gajah tersebut.

Sampailah seluruh pembesar kerajaan itu di tempat kandang Gajah yang di buat begitu kokoh dengan balok-balaok besar yang kuat untuk menjaga Gajah tersebut lepas dari kandangannya. Namun keadaan yang begitu gelap itulah yang akhirnya semua pejabat itu hanya dapat memegang bagian-bagian tubuh saja, mereka semua tidak bisa melihat Gajah tersebut.

Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah utara yang pertama memegang bagian dari kaki paha Gajah tersebut, "Tidak salah lagi apa yang di katakan orang selama ini, memang benar Gajah itu besar sampai tanganku saja tidak sanggup memeluknya" pikir pejabat itu dalam hatinya.

Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah selatan maju dan memasukan tanganya kedalam kandang Gajah tersebut untuk memegangnya, "Ternyata kabar tersebut bohong adanya, Gajah hanyalah binatang yang kecil namun sekeras tulang." Karena pejabat iut memegang gading Gajah tersebut, sehingga hatinya berpikir binatang Gajah tidak besar hanya keras saja.

Maka majulah pejabat dari bagian negeri barat, dan mengikuti langkah pejabat yang lain. "Wah besar sekali ini binatang Gajah, sampai tanganku ini tidak bisa menemukan ujung binatang ini." Teriakan pejabat ini, dan ternyata sang pejabat memegang perut dari Gajah itu.

Terakhir giliran pejabat dari timur, melangkah sang pejabat ini terus meraba-rabanya. Ternyata dia hanya bisa meraba bagian dari ekor binatang itu, "Wah semua rekan pejabatku tidak ada yang benar kalau bicara" gerutunya dalam hati, Gajah tidak besar juga tidak pula keras.

Setelah semua pejabat itu mendapat gilirannya, maka pulang para pembesar. Sesampainya dirumah masing-masing, mereka telah di tunggu oleh khalayak yang tidak sabar ingin mengetahui tentang bagaimana kabarnya bitanang tersebut dari pejabat tersebut.

Semua masyarakat sudah tidak sabar ingin mengetahuai bagaimana bentuk dan rupanya dari Gajah yang menjadi idaman negeri Thailand kala zaman tersebut berlangsung. Maka berpidatolah sang pembesar para menteri dan pejabat kerajaan itu di daerah jabatan masing-masing. Mereka berpidato dengan kenyakinan dari apa yang mereka pikirkan tentang Gajah yang hanya dirabanya saja, bukan melihat atau mengenal sebelumnya binatang tersebut.

Semua pejabat dengan pengetahuan yang sedikit itu akhiranya menimbulkan salah paham antar rakyat. Rakyat yang berada dari belahan utara menceritakan Gajah yang menurut pejabatnya demikian. Sementara rakyat dari belahan negeri selatan mencerita Gajah menurut pejabatnya bukan begitu. Juga dari barat dan timur juga berbeda, tidak ada kesamaan dari seluruh pejabat yang memberi tahu rakyatnya tantang sang Gajah. Maka timbullah bentrokan antar rakyat seluruh negeri membela keterangan yang telah disampaikan pembesar dari daerah masing-masing.

Maharajapun akhirnya turun tangan untuk menyesaikan masalah yang sedang berlangsung malam itu. Disuruhnya seluruh Khalayak ramai rakyat negeri Thailand untuk berkumpul keesokan harinya di depam pendopo istana alun-alun kerajaan negeri.
Tak hanya itu sang Maharajapun memerintahkan seluruh pembesar, pejabat dan abdi kerajaan untuk mempersiapkan acara besok harinya.

Pagi-pagi buta sekali berbondong-bondong seluruh rakyat negeri kerajaan saat itu menuju pendopo istana untuk menyaksikan sepasang Gajah yang di beli dari negeri seberang lautan nun jauh disana. Berkumandanglah perintah sang Maharaja untuk membuka kandang Gajah. Semua khalayak rakyat negeri dapat melihat sang Gajah binatang yang sangat besar dan gagah tersebut dengan mata kepala sendiri, bukan kabar dari sang pembesar daerahnya yang bohong itu. Yang semalam mereka bela keterangan mengenai Gajah tersebut, Semua rakyat sangat kecewa terhadap pembesar-pembesar itu.

Dan akhirnya Maharajapun memecat seluruh pejabat yang sok pintar, yang pengetahuannya sedikit tetapi mengaku pintar dari pada yang lain.

"Mulai saat ini rawatlah sepasang Gajah ini. Kembang biakkan menjadi banyak dan terus banyak, memenuhi seluruh negeri ini". Titah sang Maharaja kepada seluruh khalayak rakyat kerajaan saat itu.

Dan Maharaja pun berpesan supaya menjaga kedamaian antar sesama rakyat Thailand, jangan terjadi keributan antar saudara senegeri gara-gara berita dari pejabat yang tidak bertanggung jawab.
Semenjak dari saat itu negeri Thailand menjadi negeri kerajaan yang damai aman sentosa tak terdengar lagi keributan antar daerah satu negeri. Serta pada akhiranya kita mengenal Thailand sekarang dengan sebutan negeri Gajah Putih.
Wasalam.
  
oleh: mamang
Share:

Kinaree Manorah - Dongeng Thailand

Courtesy of seebeautifulthailand.blogspot.com
Dongeng Anak Dunia - Tersebutlah Raja Prathum dan Ratu Jantakinaree, yang mempunyai tujuh putri. Putri Kinaree Manorah adalah putri bungsu yang paling cantik dari tujuh bersaudara ini. Dan dari ketujuh Kinaree ini semuanya bisa berubah wujud dalam bentuk manusia atau angsa yang bisa terbang kemana dia suka. Manusia yang diberi kelebihan oleh sang pecipta seperti setengah Dewa, mereka bisa terbang menurut keinginan yang mereka suka. Menurut Mitosnya keluarga Kinaree tinggal di gunung, keluarga kerajaan istana Grairat.

Kerajaan Grairat yang pimpin Raja Prathum adalah sebuah negeri yang mempunyai hutan sangat luas sekali, Himapan itulah nama hutan tersebut.

Himapan adalah hutan dari bagian negeri Grairat, hutan yang penuh dengan misteri yang banyak di huni oleh semacam mahluk gaib atau mahluk asing dari demensi lain kehidupan manusia.

Hutan Himapan mempunyai pemandangan alam yang sangat menakjubkan, kemana mata memandang terlihat warna hijau yang menyegarkan mata. Jauh di dalam atau di tengah-tangah hutan tersebut terdapat sebuah danau yang indah. Yang menjadi tempat paporit ketujuh Kinaree putra-putri Raja Prathum.

Bila tepat bulan purnama muncul, mereka secara rutin berkunjung ke danau itu. Hanya sekedar bersenda gurau saja atau sengaja hanya untuk melepas penat dari kesibukan mereka sebagai putri-putri Raja. Dan sisi lain danau itu terdapat tempat untuk bermeditasi atau bertapa.

Diceritakan adalah seorang pemuda yang sedang berjalan di hutan Himapan, Prahnbun itulah nama sang pemuda itu. Tidak terasa langkah kaki pemuda itu membawanya ke dalam hutan sampai di pinggiran danau hutan Himapan. Terkejutlah sang pemuda itu mendengar suara tertawaan dan teriakan dari danau itu, "Seperti suara suara anak-anak perempuan yang sedang bercanda, pikirnya dalam hati pemuda tersebut." Maka dia pun menyikapkan dedaunan di pinggir danau tersebut, terbelalak mata pemuda itu melihat tujuh putri yang sedang bermain di danau itu. Namun dari ketujuh putri yang canti-cantik itu Kinaree Manorahlah yang paling menonjol kecantikannya. Sehingga sang pemuda yang bernama Prahnbun itu tak sekejap pun mengalihkan pandangannya dari pesona kecantikan sang Kinaree Manorah, si bungsu Putri Raja Prathum dan Ratu Jantakinaree itu.

Yang pada ujung-ujungnya sang pemuda itu melamun sambil berpikir untuk menangkap sang Putri untuk di persembahankan kepada seorang pangeran. Pangeran itu tidak lain adalah putra dari Raja Arityawong serta Ratu Jantaivee dari kerajaan Udon Panjah. Yang pada waktu itu sang Pangeran belum mempunyai seorang istri atau kekasih, sudah tentu Pangeran akan menerima sang Putri nan Cantik jelita ini. "Cara apa yang harus aku pergunakan untuk menangkap si jelita itu?" Berpikir lagi si Prahnbun itu, dalam hatinya.

Tidak lama berselang ketika langkah kakinya berhenti, bertemulah sang pemuda itu dengan seorang pertapa tua di sekitar danau  tersebut. Di ceritakanlah apa yang ada dalam angan-angannya untuk menangkap Putri cantik yang selalu mandi di danau dekat sang pertapa bersemedi. Pertapa itu memberi wejangan-wejangan yang isinya, "tak semudah yang kamu banyangkan anak muda semua Putri cantik itu, semuanya mempunyai sayap dan bisa terbang kemana saja." Berkata sang pertapa itu kepada anak muda itu.
"Tetapi jangan berkecil hati anak muda carilah seekor Naga yang tidak jauh tinggal dari tempat kita sekarang ini atau di hutan Himapan ini, pasti Naga itu mau membatumu."

Atas petunjuk pertapa, kemudian pemuda itu mencari-cari sang naga di sekitar hutan Himapan. Berkat keuletannya dalam mencari sang naga itu pada suatu hari bertemulah pemuda dengan sang naga tersebut. Dia utarakan maksudnya, memohon bantuan meminjam tali sakti milik sang naga. Tetapi sang naga tidak memberikan apa yang di minta sang Prahnbun. Namun sang pemuda itu terus merayu dan membujuknya, yang pada akhiran sang naga meminjamkan tali sakti miliknya itu.

Berangkatlah Prahnbun ke tepi danau atau kolam tempat mandi dan bermainnya para Putri Kineree. Terlihat para Putri Kinaree yang cantik-cantik itu sedang asyik bermain. Mereka tidak sekalipun memperhatikan keadaan sekelilingnya ada bahaya sedang mengacam keselamatan. Dengan mengendap-ngedap sang Prahnbun mendekat ke arah mereka semua, serta merta tali sakti itu di lemparkan tepat dileher Putri Kinare Manorah. Serentak Putri Kinaree-Kinaree yang lain pada ketakutan, semuanya pada lari dari tempat itu dan terbang menyelamatkan diri masing-masing. Tinggallah Putri Kinaree Manorah yang terikat lehernya oleh tali sakti sang naga yang di lemparkan pemuda Prahnbun.

Pemuda Prahnbun telah berhasil menangkap Putri Kinaree Manorah, dia pun membawa putri tersebut menuju negeri Udon Panjah untuk menghadap sang Raja Arityawong. Dan mempersembahkan sang Putri Kinaree Manorah kepada sang Pangeran, Putra Raja tersebut yang bernama Pangeran Suton.

Ternyata Pangeran Suton pada saat yang bersamaan sedang berada tidak jauh dari hutan Himapan. Bertemulah sang Pangeran dengan pemuda yang sedang membawa putri Manorah yang akan dipersembahkan kepadanya itu. Sang Pangeranpun sampai terkesimak oleh kecantikan sang putri, dengan sangat senang sekali dia menerimanya. Tidak lupa diapun memberikan berbagai hadiah untuk sang pemuda Prahnbun. Dalam pertemuan ini sang putri tidak berontak dan ingin kabur karena diapun terpesona oleh ketampanan sang Pangeran Suton.

Sang Pangeran pun akhirnya membawa Putri cantik yang menawan hatinya itu Kinaree Manorah ke istana Summer yang letaknya ada di hutan Himapan. Dalam pandangan pertama ini mereka Putra dan Putri Raja ini saling jatuh cinta.

Sepulang dari istana Summer yang terletak di hutan Himapan ke istana kerajaan Udon Panjah, Putri nan cantik jelita Kinaree Manorah di perkenalkan kepada orang tuanya, raja Arityawong. 

Raja dan Ratu pun akhirnya sangat bahagia. Dibuatkanlah persiapan perkawinan untuk putra mereka. Menikahlah mereka berdua serta hidup dengan penuh kebahagian.

W a s a l a m.
oleh: mamang
Share:

Tuesday, December 8, 2015

Empat Murid Bapak Gampar - Dongeng Malaysia

Courtesy of mrrosyadi.blogspot.com
Dongeng Anak Dunia - Tersebutlah kisah di pedesaan daerah negeri Malaysia, terdapat sebuah sekolah yang mana terdapat seorang guru yang bernama Bapak Gampar atau orang memanggil beliau dengan sebutan kehormatan, "Guru Gampar". Dan dari seluruh anak didiknya di sekolah itu terdapat empat murid beliau yang kurang pintar atau bodoh. Beliau selalu mengingatkan seluruh anak didiknya untuk tidak berbuat apapun sebelum ada perintah darinya. Demikianlah perintah nasehat yang di sampaikan beliau, supaya di turuti atau di perhatikan oleh semua murid-muridnya.

Bapak Guru Gampar ini sangat menyayangi ke empat muridnya yang bodoh ini. Maka kalau beliau berpergian kemanapun  ke empat murid tersebut selalu di bawa serta. Seperti pada saat itu Bapak Guru Gampar ada keperluan pergi ke kota untuk membeli sesuatu yang berhubungan dengan keperluan sekolahnya. Berangkatlah Bapak Guru Gampar ini di temani empat muridnya itu, menaiki gerobak pedati yang di tarik seekor sapi, karena jauhnya perjalanan menuju kota sampai Bapak Guru Ganpar Pun tertidur pulas di atas gerobak pedati tersebut.

Jalan menuju kota waktu itu merupakan jalanan tanah berbatu-batu yang kadang kala kalau musim hujan susah di lewati. Gerobak pedati yang ditarik seekor sapi maupun kuda merupakan kendaraan tumpangan jaman dahulu kala itu. Gerobak yang di tumpangi Bapak Guru Gampar ketika melewati jalan berkelok-kelok, miring kiri dan kanan sampai sorbannya terjatuh. Tetapi ke tiga muridnya itu tidak melakukan tindakan apa-apa, karena takut salah sebelum ada perintah dari Bapak Guru Gampar.

Tak selang beberapa lama Bapak Guru Gampar pun mendusin dari tidurnya, ke empat muridnya itu menceritakan kejadian tersebut ke sang Guru Gampar. Bahwa sorban yang ia kenakan ketika tertidur pulas terjatuh di jalanan tadi, tetapi mereka tidak memungutnya karena takut salah. Sang Guru hanya mengerutu dan menasihati kembali ke tiga muridnya itu.

"Nanti kalau kalian menjumpai barang apa pun terjatuh, pungutlah!" Bapak Guru Gampar memberikan wejangan kepada ke empat anak didiknya yang kurang pintar tersebut.
 
Selang sesaat setelah memberi nasehat ke pada ke empat muridnya itu, sapi yang menarik gerobak yang di tumpangi buang kotoran atau berak, mengeluarkan kotoran. Serentak ke empat murid sang Guru Gampar meloncat ke jalanan mengambil tahi-tahi sapi itu.

Mereka melakukan perintah yang sesuai dengan kemauan sang guru, biar Bapak Guru Gampar senang kepada kita semua, pikir ke empat murid Bapak Guru Gampar tersebut.

Di ambilnya secarik kertas tulisan kebutuhan yang akan di belinya nanti di kota. Dan memberikan kertas tulisan kebutuhan tersebut kepada murid-muridnya.

"Kalian Bacalah semua yang tertulis di situ, dan beli, ambil barangnya terus masukan ke gerobak susun dengan rapih," berkata Bapak Guru Gampar. "Awas jangan ambil barang yang tidak tertulis di situ." Sekali lagi Bapak Guru Gampar ini memberi perintah kepada ke empat muridnya tersebut.

Lagi asyik-asyiknya menikmati perjalanan, gerobak pedati hilang kendali dan masuk terpelosok ke sebuah kali kecil pinggir jalanan yang di laluinya itu. Bapak Guru Gampar pun terlempar masuk kali kecil tersebut, terperosok kedua kakinya, serta merta Guru Gampar berteriak meminta pertolongan kepada ke empat muridnya itu.

Namun mereka bukannya menolong malah mengeluarkan secarik kertas yang di berikan Guru Gampar tadi dan sibuk membacanya.

"Maap Bapak Guru, Kita tidak bisa menolong Bapak. Sebab tidak terdapat nama Bapak Guru dalam tulisan di kertas ini," Berkata murid-muridnya itu, sambil memperlihatkan kertas tulisan tersebut. 

Bapak  Guru Gampar  meminta bantuan kepada semua murid-murid itu tapi tak di acuhkan sama sekali oleh mereka semua.

"Saya rasa Bapak hanya pura-pura saja meminta bantuan kami," biar Bapak tahu, "kami tidak sebodoh yang Bapak kira."
   
"Kami telah meneliti tulisan di kertas ini, dari atas ke bawah tetap tak ada nama Bapak Guru Gampar tercantum disini"

Jadi kami semua tidak akan tertipu oleh kelakuan Bapak Guru yang menguji kami semua.   

Akhirnya Bapak Guru Gampar menyerah dengan kebodohan yang dilakukan ke empat murid itu, dia mencari akal biar mendapat bantuan dari murid-muridnya itu.

"Baiklah kalau begitu aku ingin melihat daftar tulisan itu, lemparkan kesini sekalian penanya."

Ditulislah namanya dalam kertas tersebut dan menyerahkan kembali kepada para muridnya itu.

Serentaklah ke empat murid bodoh namun patuh atau mungkin sangat patuh itu, membantu Guru mereka yang terjebak masuk kali di pinggir jalanan tersebut. Bapak Guru Gampar pun dapat di selamatkan oleh ke empat murid-muridnya itu.

Sekian.  Wasalam.

oleh: mamang
Share:

Monday, December 7, 2015

Putri Tikus - Dongeng Turki

Courtesy of http://drawskills.tumblr.com
Dongeng Anak Dunia - Tersebutlah sebuah cerita keluarga kerajaan dengan tiga orang putra pangerannya yang tampan-tampan. Hari terus berlalu tanpa terasa ketiga pangeran itu pun sudah tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah perkasa. Raja beserta permaisuri pun mengharapkan ketiga pangerannya meminang seorang putri dan menjadikannya istri.

Selanjutnya raja memanggil ketika putranya dan memberi nasehat-nasehat agar ketiga pangeran tersebut mencari pengalaman. Hidup di luar kerajaan atau berkelana menambah ilmu penggetahuan untuk bekal hidupnya kelak masing-masing. Selain dari itu maksud sang raja menyuruh ketiga anaknya pergi adalah untuk mencari jodoh dan belajar hidup mandiri.

Suatu hari datanglah pangeran sulung menghadap ayahanda atau sang raja memohon diri untuk pergi berkelana mencari pengalaman hidup. Setelah pamit dan mendapatkan doa restu ayahanda tercinta, berangkatlah pangeran sulung memulai perjalanannya.

Namun di tengah perjalanan pangeran sulung di kejutkan oleh seekor tikus yang berlari-lari serampangan seperti ketakutran dikejar sesuatu. Dan tikus itu datang menghalangi langkah kaki kuda sang pangeran sulung, dengan hati-hati pula sang pangeran mengatur langkah kaki kudanya supaya tidak menginjak tikus tersebut. Tetapi tikus itu  tidak mau beranjak dari kaki-kaki kuda sang pangeran sulung. Dan berserulah sang pangeran dengan lantang.

"Sang tikus menyingkiran dari depan kaki kudaku!" pinta sang pangeran.

"Jangan sampai kamu terinjak oleh kaki-kaki kudaku!" untuk yang kedua kalinya sang pangeran berseru.

Tetapi tikus itu masih tetap diam tidak jauh dari kaki kuda sang pangeran tersebut. Malahan tikus itu menjawab seruan sang pangeran, "Bawalah daku ke kerajaanmu sang pangeran, jadikanlah daku sebagai kekasihmu." itulah kata-kata yang keluar dari sang tikus itu.

"Apa yang kamu ucapkan tadi sang tikus? Aku mengambilmu dan menjadikan kamu sebagai kekasihku? ini tidak masuk akal.!" Pangeran sulung pun terus beranjak pergi dari tempat.

Berselang beberapa waktu berlalu, setelah berkelana ke berbagai kerajaan-kerajaan tetangga akhirnya pangeran sulung bertemu jodohnya. Mempersunting putri cantik dari kerajaan yang sang pageran lewati. Rajapun segera mendengar kabar gembira tersebut. Giliran pangeran ke dua pergi berkelana ke manca kerajaan lain, untuk mencari jodoh dan pengalaman hidup. Di iringi doa raja dan permaisuri atau ayahnda dan ibunda tercinta berangkatlah sang pangeran kedua berkelana.

Sang pangeran ke dua pun mengalami kejadian yang pernah di alami kakanda tercinta sang pangeran sulung. Berjumpa dengan seekor tikus yang memaksanya untuk dijadikan kekasihnya. Namun seperti yang dilakukan pangeran sulung, dia dengam acuhnya pergi meninggalkan tikus tersebut dengan cepat. Bertemulah sang pageran ke dua dengan jodohnya dari kerajaan yang dia singgahi saat perjalanan berkelananya.

Tibalah giliran pangeran bungsu mohon izin kedua orang tuanya, untuk pergi berkelana mencari jodoh seorang putri yang cantik rupawan, sebagai menantu sang paduka raja dan permaisuri. Pangeran bungsu pun mengalami kejadian yang pernah dialami kedua kakanda tercintanya, menjumpai seekor tikus yang memohonnya menjadikan kekasihnya. Dan setelah mendengar semua penuturan dari sang tikus itu yang begitu sedih memintanya untuk menjadi kekasih pujaan. Pangeran sangat iba serta bersedia menjadi kekasih sang tikus tersebut.

Sang tikus itupun mengundang sang pangeran tampan ini untuk singgah di tempat tinggalnya, sang tikus berjalan duluan sebagai petunjuk jalan bagi sang pangeran. Sang pangeran bungsu berjalan di belakang sang tikus menuju kediaman sang tikus tersebut.

Sampailah sang tikus dan pangeran bungsu di sebuah tempat yang ada batu besarnya.

"Inilah tempat tinggalku selama ini. Silahkan pangeran menunggu disini," saya mau mengambil sesuatu yang akan saya berikan kepadamu sang pangeran. Tikus itu pun masuk kedalam lubang di samping batu besar.

Lama juga sang pangeran menunggu keluarnya sang tikus, akhirnya dia pun turun mengitip lubang liang tikus tersebut. Terkejutlah dia karena dari lubang tersebut keluar sinar cahaya pancaran. Ternyata cahaya tersebut berasal dari sebuah cincin yang begitu indah. Sang tikus keluar dari lubang tersebut membawa cincin itu dan menyerahkannya kepada sang pangeran tampan tersebut. "Begitu indah, unik, dan bermatakan berlian yang berkilauan, baru kali ini aku melihat cincin yang seperti ini." Pikir sang pangeran bungsu dalam hatinya.

Segeralah sang pangeran bungsu pulang ke negeri kerajaan istana tempat dia di besarkan salama ini. Diperlihatkanlah cincin pemberian sang tikus tersebut kepada ayahanda sebagai bukti bahwa dia telah mempunyai pujaan hati. Tetapi sang pangeran masih merahasiahkan putri yang menjadi sambatan hatinya itu.

Semua orang di istana pun sangat menganggumi kemewahan dan keindahan cincin yang dipakai sang pangeran bungsu tersebut.

Setelah mendengar kabar ke tiga putra kesayangan masing-masing telah mempunyai kekasih atau tunangan. Raja pun menyuruh ke tiga pangeran itu menemuinya.

Semua berkumpul menemui panggilan ayahanda tercinta. "Pangeran-pangeran anakku tercinta sekalian, aku ingin menguji calon mantu-mantuku membuatkan aku roti dan aku ingin memakannya." Titah sang baginda raja kepada ke tiga putra pangerannya itu.
Demikianlah maksud sang raja memanggil ke tiga putranya itu berkumpul.

Dalam masalah ini pangeran bungsulah yang dibuat kelabakan. Mampukah sang tikus kekasihnya itu membikinkan roti untuk ayahandanya. Tetapi dia pun pergi juga menemui sang tikus kekasihnya, dan berceritalah tentang apa permintaan sang raja.
Tetapi diluar dugaan sang pangeran bungsu, sang tikus itu bernjanji sanggup membuatkan roti buat sang raja.

"Kalau hanya ingin dibuatkan roti saja, pangeran tidak usah takut, besok pagi akan saya sediakan roti tersebut, dan akan saya buatkan roti yang paling enak." Jawab sang tikus tersebut.

Dalam perjalanan pulang ke istana hati sang pangeran bungsu, mengharapkan kesanggupan sang tikus untuk membuat roti itu, menjadi kenyataan. Besoknya pagi-pagi sekali sang pangeran bungsu telah ke tempat tinggal sang tikus tersebut. Benar adanya sang tikus itu telah ada di pintu lubang batu tempat tinggalnya menunggu  kedatangan sang pangeran. Roti pesanannya pun telah tersedia dan terbungkus rapih seperti kado layaknya. Segeralah sang pangeran membawa roti buatan kekasihnya sang tikus, pulang balik lagi ke istana kerajaan.

Satu persatu roti tersebut di makan sang raja, pangeran pertama membawa roti dengan rasa yang enak tetapi raja sudah biasa memakan roti dengan rasa demikian. Pangeran kedua pun, roti yang dibawanya cukup enak tetapi tidak istimewa biasa-biasa saja, yang rajapun sering memakannya pula. Terakhir raja mencicipi roti buatan sang tikus kekasihnya sang pangeran bungsu, raja merasakan rasa yang begitu enak lain dari pada yang dirasakan dari ke dua abangnya. Roti yang paling istimewa rasanya adalah roti buatan sang tikus yang di bawa pangeran bungsu.

"Aku sudah memakan roti buatan calon-calon mantuku. Semuanya enak-enak tetapi yang paling enak dan istimewa adalah roti yang di bawa adikmu yang bungsu." Makanannya sudah di buatkan, sekarang aku meminta minumannya," raja bertutur kembali untuk permintaan selanjutnya.

Serentak ke tiga pangeran itu beranjak pergi untuk menemui kekasihnya masing-masing, untuk meminta dibuatkan minuman istimewa buat ayahanda tercinta sang raja. Pangeran bungsu pun di janjikan oleh sang kekasihnya besok harinya untuk datang lagi mengambil minuman yang akan dibuatkan sang tikus. Kedatangan sang pangeran bungsu itu telah di tunggu sang tikus di depan lubang batu tempat tinggalnya. Sebuah botol kendi emas bertatahkan batu permata telah siap di samping tikus kekasihnya itu. Sang pangeran membuka tutup botol kendi emas itu untuk memastikan minuman yang di pesan itu benar adanya. Terciumlah bau harum yang semerbak segarnya dari dalam botol kendi minuman tersebut.

Berkumpumlah kembali ketiga kakak beradik itu masing-masing membawakan sebotol minuman buatan tunangannya. Dan raja pun meminum satu persatu dari ke tiga botol kendi minuman itu. Begitu nikmat sekali minuman dari botol kendi emas bertahtahkan batu permata milik sang pangeran bungsu ini. Begitulah yang terjadi saat itu di istana kerajaan tersebut.

Dan raja meminta ke tiga calon mantu itu menghadap untuk mengenal dan melihat kecantikannya." Bawalah calon mantu-mantuku ke istana ini, sekalian aku ingin berkenalan dengan mereka semua!" Seru sang raja kepada ke tiga anaknya itu.

Pangeran bungsu pun pergi dengan menaiki seorang kuda, namun dalam perjalanan kali ini dia diliputi ke bimbangan yang tiada tara, mana mungkin dia datang ke istana membawa seekor tikus.

Sesampainya di tempat sang tikus, pangeran bungsu berkata kepada tikus itu. " Bagaimana mungkin aku membawamu ke istanaku sekarang ini." Berkata sang pangeran bungsu kepada sang tikus itu.

"Tidak usah takut kekasihku. Semuanya sudah ada yang mengatur, tetapi pangeran harus bersedia menyiapkan kulit ekor ayam kampung, beberapa ekor kumbang kalau bisa jumlahnya enam saja serta lalat dua ekor." Si tikus itu menjawab keresahan hati sang pangeran kekasihnya itu.

"Sang pangeran harus bisa mengikat ke enam ekor kumbang itu pada telur ayam kampung terzsebut, selanjutnya pasangkan ke dua ekor lalat, terseburt satu di depannya dan yang satunya lagi di belakangnya. Sementara aku sendiri akan berada paling belakang sekali." Dan sesampainya di istana nanti pangeran harus bertindak sama seperti kakak-kakak pangeran terhadap kekasihnya masing-masing." Demikian pula tutur kata atau perlakuannya terhadap kekasih-kekasihnya juga, pangeran harus menirukan semuanya." Demikian sang tikus menuturkan apa yang harus di lakukan pangeran bungsu sesampainya di istana.

Pangeran pun menyanggupi permintaan dari sang tikus, walaupun dalam hatinya masih ada keraguan yang menganggu pikirannya.
Setelah semua permintaan sang tikus tersedia, berangkatlah mereka berdua menuju istana. Sang tikus duduk di atas kulit telur ayam. Kejadian selanjutnya pangeran bungsu melihat sang kakak yang lagi menciumi kekasihnya. Dan pangeran bungsu pun menuruti kelakuan kakak-kakaknya menciumi sang tikus kekasihnya itu.

Berubahlah semuanya pandangan terhadap sang tikus. Dia menjelma menjadi seorang putri nan cantik jelita. Serta kendaraan yang di naiki tadi menjadi kereta kuda yang cantik bersertakan pengawalan abdi yang setia. Semua yang berada di istana pun di buat kagum oleh kecantikan putri tikus ini. Setelah selesai berkenalan dengan sang raja mereka pun semua kembali mengantarkan pulang calon istri mereka.

Batu besar itu telah berubah menjadi istana yang megah, ternyata selama ini sang putri tikus telah terkena sebuah kutukan.

Sepasang kekasih ini akhirnya melangsungkan pernikahan, Sang putri Tikus dan Sang Pangeran Bungsu hidup bahagia, selalu.

Wasalam.

Oleh: mamang


Share:

Sunday, December 6, 2015

Ciung Wanara - Dongeng Indonesia

Courtesy of geolocation.ws
Dongeng Anak Dunia - Raden Barma Wijaya Kusumah Seorang yang arif bijaksana, dialah sang raja dari kerajaan Galuh. Kerajaan yang terletak di daerah tataran Pasundan Jawa Barat. Berpermaisuri dua putri cantik, Nyimas Dewi Naganingrum dan Nyimas Dewi Pangrenyep.
Raja sangat menyayangi kedua istri permaisurinya itu, namun dari kedua istri tersebut raja belum mempunyai anak, putra maupun putri yang akan menggantikan sebagai penerus kerajaan kelak atau pewaris tahta kerajaannya. 

Dan hari yang di tunggu-tunggu raja pun tiba ketika terdengar kabar gembira. Bukan saja dari satu istrinya melainkan, kedua permaisurinya mengandung anaknya secara bertepatan waktu atau hampir bersama-sama.

Hariangbanga terlahir dari ibunda permaisuri Nyimas Dewi Pangrenyep. Sementara berselang beberapa hari kemudian Nyimas Dewi Naganingrum melahirkan putra lelaki pula yang tampan, menyaingi abangnya lain ibu Hariangbanga.
Mendengar kabar Dewi Naganingrum akan melahirkan, Dewi Pangrenyep segera membantu persalinan madunya itu.

Namun pertolongan persalinan yang dilakukan Dewi Pangrenyep, terkandung niat jahat. Demi ambisinya untuk menguasai kerajaan Galuh, dia mengingikan anaknya yang kelak menjadi raja. Diaturlah rencana jahat itu dengan begitu rapih dan tak dan tak dapat dicurigai oleh siapa pun.

Dimasukkan bayi tampan dan mungil tersebut beresta sebutir telur ayam kedalam keranjang, kemudian Dewi Pangrenyep menghayutkan keranjang tersebut ke sebuah sungai. Sementara untuk mengantikan anak Dewi Naganingrum dia mengambil seekor anak anjing. Begitu jahatnya perbuatan yang dilakukan Dewi Pangrenyep ini demi untuk mencapai cita-citanya itu.

Dibuat gemparlah kerajaan Galuh pada waktu zaman itu. Seisi istana dan seluruh rakyat mengetahui peristiwa yang tersebar dengan cepat ini. Sementara sang raja Galuh, Raden Barma Wijaya Kusumah merasa sangat hancur hatinya, bagaimana mungkin istrinya yang sangat baginda cintai melahirkan seekor anak anjing. Sang raja sangat terpukul dengan kenyataan yang dia hadapi ini, harga dirinya seperti sudah tidak ada, baginda pun sangat marah.

Di panggillah seorang penasehat kepercayaan sang raja yang bernama ki Lengser. Sang raja dengan amarahnya memerintahkan penasehat kepercayaan itu untuk membunuh Nyimas Dewi Naganingrum. Dalam titahnya itu raja menyuruh untuk membuang mayat Dewi Naganingrum ke alas belantara yang sangat jauh. Serta tugas ini harus dilaksanakan oleh ki lengsre tampa di bantu oleh siapapun.

Berangkat utusan raja tersebut membawa Nyimas Dewi Naganingrum memasuki hutan yang belantara yang lebat dan sangat jauh dan hutan tersebut belum pernah di injak manusia sebelumnya. Ketika dalam perjalanan membawa Dewi tersebut Ki Lengser hatinya terus berpikir, apakah benar kenyataan yang sedang dihadapi ini. Sepertinya penuh fitnah dan kecurangan serta kebohongan persoalan yang menimpa Permmaisuri ini. "Akan aku selamatkan Dewi Naganingrum  ini secara rahasia, jangan sampai ada seorangpun yang tahu tentang hal ini !!" Utusan ini berencana dalam hatinya.

Sampailah Ki Lengser di sebuah tempat yang di anggapnya aman dari gangguan binatang buas di tengah hutan belantara tersebut. Dibuatkanlah tempat tinggal atau tepatnya sebuah gubug untuk tinggal sang Dewi Naganingrum. Sebelum pergi meninggalan sang Dewi Ki Lengser pun memberi nasehat agar sang Dewi selalu sabar menghadapi cobaan hidup ini. Serta Ki Lengser akan datang menengok sang Dewi sewaktu-waktu.

Setelah rencananya untuk menyelamatakan Dewi Naganingrum dilaksanakan, Ki Lengser segera pulang kembali keistana menghadap baginda raja Galuh.

Sepeninggalnya Ki Lengser, alam benak Nyi Mas Dewi Naganingrum berkeinginan suatu saat kelak dia akan bertemu dengan anak kandungnya, serta dapat berkumpul kembali kelak di istana.
Sementara Ki Lengser, memberikan laporan mengenai tugasnya ke sang raja Galuh. Dalam laporannya tersebut, Ki Lengser memberikan bukti saksi sebilah senjata yang telah di olesi darah binatang untuk membuat sang raja percaya atas tugas yang telah di titahkan kepadanya itu. Raja pun mempercayai laporan dari abdi kepercayaan itu, dan memberikan beberapa hadiah atas tugas yang telah berhasil dilaksanakan KI Lengser.

Di daerah lain masih di wilayah kerajan Galuh. Tersebutlah sepasang suami istri yang sudah lama menikah tetapi belum di karuniai momongan atau anak. Kebiasa mereka untuk pergi menangkap ikan di sugai itu dikejutkan hanyutan sebuah keranjang besar di tengah sungai. Mereka berdua menghampiri keranjang tersebut, kagetlah pasangan suami istri ini, didalam terdapatnya anak lelaki yang sangat tampan serta sebutir telur ayam. "Inilah harapan yang kita impikan selama ini, telah di kabulkan sang pencipta !!" Dalam pikiran mereka berdua, suami istri tersebut"

Sementara sebutir telor ayam kampung tersebut di serahkan kepada seekor Naga di Gunung Padang untuk di eraminya. Seekor Naga titisan seorang Dewa yang tugasnya menolong manusia, bernama Nagawiru. Kelak ayam hasil tetasan tersebut akan menjadi hewan peliharaan, kesayanggan anak bayi tersebut.

Hari demi hari seiring waktu terus berlalu, menjelmalah sang bayi menjadi seorang perjaka yang gagah perkasa. Tampannya tiada tara dialah anak lelaki yang di temukan di sungai oleh pasangan suami istri itu. Ciung Wanara mereka namakan anak tersebut, Ciung berarti burung Ciung dan Wanara berarti Seekor Kera atau Monyet. Dengan di ilhami kedua binatang tersebut anak bayi mereka mendapatkan nama itu. Hidup bahagia mewarnai sepasang suami istri, semenjak datang kehadiran Ciung Wanara ini.

Suatu hari pemuda tampan ini mengemukakan keinginannya untuk pergi berkelana ke pusat kota kerajaan Galuh untuk mencari pengalaman hidup. Namun pasangan suami istri ini sangat berat memberi izin Ciung Wanara, namun kerena mendesak terus akhirnya mereka meluluskan juga. Menjelang keberangkatnya ke kerajaan, Ciung wanara bertanya mengenai ayah dan ibu kandung dia yang sebenarnya. Walaupun dengan berat hati di ceritakan pula siapa orang tua sebenarnya dari Ciung warana. Bahwa dia seorang anak dari raja Galuh dari seorang ibu yang saat sedang di buang atau diasingkan disuatu tempat jauh di dalam hutan.
Tidak lupa sebelum keberangkatnya Ciung Wanara beri wejangan atau pepatah-pepatah dari kedua orang tua yang selama ini mengurus dia sampai besar demikian. Pergilah sang perjaka yang tampan ini di temani ayam jantan peliharaannya yang selalu setia menemaninya selama ini.

Sampailah sang pemuda desa yang tampan dan gagah berani ini di pusat kota kerajaan Galuh saat itu. Ketika sedang berjalan menikmati kemegahan dan keramai kota raja itu, dia di hampiri dua orang patih kerajaan yang merasa aneh dengan anak muda tersebut. Kedua patih tersebut menegur dan mengajak Ciung wanara untuk sambung ayam, karena di tantang Ciung Wanara pun menyetujuinya. Sambung ayam pun di gelar di pusat kota atau alun-alun kota kerajaan Galuh. Ayam peliharaan Ciung Wanara pun memenangkan pertandingan tersebut dengan mudah. Demikianlah ayam jantan tersebut memperlihatkan kebatannya, Walaupun ayam tersebut berhadapan dengan ayam pilihan kepunyaan seorang patih kerajaan.

Maka kabar kemenangan tersebut cepat beredar seantero kerajaan Galuh sampai terdengar kuping sang baginda raja Galuh.
Seorang perjaka tampan memiliki seekor ayam pejantan tangguh, inilah cara yang maha kuasa mempertemukan anak dan ayahnya.
Setelah belasan tahun silam, takdir berbicara, inilah hasil perbuatan orang yang telah menyebar fitnah. Nyimas Dewi Pangrenyep yang telah memisahkan anak dan ayah kandungnya.

Ciung Wanara yang sejati telah mengetahui siapa dirinya itu. Di buatlah kerusuhan-kerusuhan dan kekacauan-kekacauan di depan istana kerajaan. Yang pada akhirnya datanglah pengawal kerajaan membawa titah raja kepada perjaka tampan ini untuk menghadap sang raja Galuh.

"Apa maumu, dan untuk apa kamu membuat onar di depan istana kerajaan ! serta siapa namamu dan dari mana tempat tinggalmu?"
Ciung Wanara pun memberi hormat panutnya seorang rakyat jelat ketika menjumpai atau bertemu rajanya.

"Hamba putra aki-nini Balangantrang tempat tinggal hamba Geger Sunten dan nama hamba adalah Ciung Wanara paduka," Jawab sang perjaka tampan itu dengan tenang.

"Dan tujuan hamba datang kemari hanya bertanya mengenai seekor ayam yang asing, Induk semangnya mengandung setahun lamanya, kandaga menjadi sarang atau tempatnya, dan yang lebih asing lagi sang paduka, telur ayam kampung ini akan menetes apa bila telah di hanyutkan ke sebuah sungai?" Itulah beberapa pertanyaan yang di lontarkan Ciung Wanara kepada raja Galuh.

Nyimas Dewi Pangrenyep pun dibuat terkejut dengan pertanyaan sang pemuda tampan tersebut, sang Dewi Pangrenyep pun mengira pemuda tersebut pastilah anak dari Dewi Naganingrum yang telah dia fitnah belasan tahun lalu.
Sedangkan sang rajapun teringat akan Nyimas Dewi Naganingrum permaisurinya yang telah bunuh mati Ki loreng atas titahnya.

"Aku menantangmu hai anak muda untuk mengadu ayammu dengan ayamku? Dan kamu anak muda bertaruh apa?" Tanya raja Galuh.
"Nyawa hamba paduka, kalau dalam pertandingan nanti hamba yang kalah, paduka raja boleh mengambil nyawa hamba. Namun bila ayam yang kalah ayam paduka raja, hamba meminta sebagian kerajaan Galuh Pakuan menjadi milik hamba," kata pemuda tampan tersebut.
Sebab merasa salama ini ayam sang raja tidak ada yang bisa mengalahkannya, raja pun merasa yakin akan menang dalam pertandingan sambung ayam tersebut. Sang rajapun setuju dengan apa yang ditaruhkan pemuda itu. Sang baginda raja Galuh beranjak mengambil ayam jagonya dan membawa ke halaman istana.

Di mulailah pertandingan sambung ayam tersebut di halaman depan istana kerajaan Galuh Pakuan. Memang benar ayam jantan milik sang paduka begitu gencar mendesak ayam jagonya Ciung Wanara. Babak pertama ayam jantan pemuda itu terdesak hebat hampir menemui kekalahan, tetapi ayam Ciung Wanara kembali kuat. Seterusnya malah ayam jago sang rajalah yang mulai kelihatan akan kekalahannya. Untuk kesekian kalinya ayam jago Ciung Wanara menunjukan kehebatannya, pertandingan pun dimenangkan oleh ayam jago Ciung Wanara.

Menepati janjinya untuk menyerahkan separuh kerajaan pun dilaksanakan, kerajaan Galuh Pakuan sebelah barat menjadi milik raja Ciung Wanara dengan bergelar Raden Prabu.

Sementara sebelah timur menjadi milik Hariangbanga, juga bergelar sama yaitu Raden Prabu.

Terungkaplah segala kejadian belasan tahun yang mengenai, siapa Ciung Wanara serta kejahatan apa yang pernah dilakukan oleh Dewi Pangrenyep. Ki Lengser bercerita tentang ibunda Ciung Wanara yang  masih hidup tinggal di sebuah gubuk buatan Ki Lengser di sebuah hutan. Tak lupa KI Lengser menuturkan bahwa setiap ada waktu dia selalu menjengguk ibundanya Ciung Wanara Nyimas Dewi Naganingrum tersebut. Setelah mendenger penuturan dari Ki lengser Ciung wanara segera menjemput ibunda tercinta yang semenjak lahir belum bertemu itu, Tak lupa sang Raden prabu Ciung Wanara ini menjemput kedua orang tua angkatnya yang telah mengurus membesarkan dia seperti anak kandung, sampai dewasa seperti sekarang ini.

Betapa bahagianya pertemuan yang selama ini diimpikan sang Dewi Naganingrum, terharu sedih dan bahagia bercampur aduk ketika pertemuan itu. Ki Lengserlah yang sangat berjasa besar dalam pertemuan ini, berkat jasa beliau salama ini yang salalu datang membawa kebutuhan sang Dewi setiap ada kesempatan.

Setelah semua peristiwa itu sang Prabu Raden Ciung Wanara, menyusun rencana untuk menjebloskan Dewi Pangrenyep ke penjara sesuai dengan perbuatannya. Setelah semua saksi terkumpul akhirnya Dewi Pangrenyep di tangkap dan di bui di penjara istana kerajaan galuh saat itu.

Namun di lain pihak prabu Hariangbanga sangat murka mendengar ibundanya di tangkap oleh prabu Ciung Wanara tersebut.
Tak terelakkan lagi terjadilah tarung tanding kedua kakak beradik yang berlainan ibu itu. Kedua-duanya mempunyai ilmu yang sangat sakti mandra guna. Pertarungan terus berlangsung, namun raden Hariangbanga harus berlaku jantan mengaku kekalahannya atas adiknya Ciung Wanara.

Dilemparkan tubuh kakaknya melewati sungai Cipamali, Cikal bakal terbelahnya kerajaan Galuh menjadi dua kerajaan.

Lengkaplah sudah kebahagian Ciung Wanara beserta ibunda tercinta dan kedua orang tua angkatnya. Pakuan Pajajaran itu namanya, kerajaan yang sang prabu pimpin, di istana pakuan itulah sang Prabu Ciung Wanara memerintah. Wasalam.
Share:

Thursday, December 3, 2015

Pulau Tumasik Jadi Singapura - Dongeng Singapura

Courtesy of remembersingapore.wordpress.com
Dongeng Anak Dunia - Raja diraja sang NIla, raja dari kerajaan Sriwijaya beberapa abad yang silam, pergi berlayar lengkap dengan pengawalan dari perwira kepercayaan.
Tetapi di tengah perjalanan, lautan samudera tidak memperlihatkan persahabatannya. Lautan samudera saat itu diguncang prahara, badai topan datang melanda. Yang pada akhirnya perjalanan pun ditunda atau dibatalkannya.

"Kapten kapalpun akhirnya menghadap sang baginda raja untuk memberikan laporan situasi yang sedang bergejolak di lautan saat ini. Raja akhirnya memerintahkkan nakhoda kapal tersebut untuk mencari pulau atau negeri terdekat untuk merapat.

Berbekal pengalamannya sebagai pelaut, nakhoda itu pun sudah tahu ada tempat yang paling dekat dari situ, yaitu pulau Tumasik namanya.

Raja pun setuju untuk berlabuh, merapatlah kapal layar dari kerajaan Sriwijaya itu di pulau Tumasik tersebut.

Nakhoda atau kapten kapalpun merapatkan kapalnya di pulau tersebut sambil menunggu keadaan laut tenang kembali serta kapal pun bisa berlayar kembali kelautan bebas untuk melanjutkan perjalanannya.

Merapatlah kapal mereka di pulau tersebut. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya raja pun mengajak pengawal-pengawalnya untuk berjalan-jalan menikmati keindahan pulau tersebut.

Perjalanan menjelajahi pulau tersebut pun dimulai, raja masuk hutan di pulau Tumasik. Sampai suatu ketika dilembah yang banyak ditumbuhi rumput padang savana, raja di kejutkan oleh auman seekor binatang. Kilau keemasan bulu binatang itu dan dengan sikap yang gagah perkasa terpencar dari sorot mata binatang tersebut.

"Binatang besar apakah itu!!" Rajapun berseru kepada semua pengawalnya serta bertanya.

Seorang pengawal maju ke depan dan menjawab pertanyaan sang raja. "Semua orang di daerah ini menyebut binatang itu dengan sebutan Singa, yang Mulia Raja,"
 terlihat binatang yang begitu besar dan berbulu lebat coklat keemasan yang agung kala biantang itu berjalan.

Dan seterusnya rajapun meminta keterangan yang lengkap mengenai binatang yang sebelumnya sang baginda tak pernah melihatnya. Tentang kebiasaan binatang tersebut dan makanan yang menjadi santapannya. Pengawal tersebut lalu menerangkan tentang semua yang dia tahu mengenai binatang tersebut. Keterangan tersebut di dengarkan sang baginda raja Nila.

Karena raja sangat mengagumi binatang tersebut baginda rajapun akhirnya memberi kehormatan atas pulau Tumasik, dengan memberi nama Singapura atau pulau singa.

Dari zaman persinggahan raja Sriwijaya sang paduka raja Nila itulah, pulau Tumasik berubah nama menjadi Negeri atau Kota yang bernama Singapura. Sekian terima kasih. Wasalam.

oleh: mamang
Share:

Wednesday, December 2, 2015

Seorang Pria Dan Keledainya - Dongeng Kamboja

Dongeng Anak Dunia - Khek seorang pria asal negara Kamboja, dia adalah seorang pria yang lugu. Khek mempunyai seekor keledai dan dia ingin menjual keledai miliknya itu. Berangkatlah Khek dan anaknya ke pasar, yang tak terlalu jauh jaraknya dari tempat tinggal dia dan keluarganya menetap. Sebelum berangkat ke pasar Khek harus menjaga keledai miliknya agar tetap segar dan tidak kelihatan lelah sesampainya di pasar. Untuk itu lalu Khek mendukung keledainya dibelakang punggungnya.

Di tengah perjalanan Khek berpapasan dengan orang yang menertawakan kelakuannya itu. "Mengapa kau dukung keledaimu itu Khek? Yang saya tahu keledai adalah binatang atau hewan tunggangan," berkata orang tersebut kepada Khek.

Lantas saja Khek menurunkan keledai tersebut, dari dukungannya di atas punggung dia. Disuruhlah anaknya menaiki keledai itu, sementara dia sendiri menuntun sang keledai. Dan selanjutnya diapun  meneruskan perjalanan, pergi ke pasar untuk menjual keledai peliharaannya itu.

Selang beberpa saat berlalu, Khek dan anaknya yang sedang santai di atas punggung keledai, bertemu dengan orang kembali. "Dasar anak tidak tahu balas budi, enak-enak saja tuh anak, diatas punggung keledai sementara bapakmu dengan susah payah menuntunnya." Orang yang berpapasan tadi memaki-maki anak si Khek yang sedang enak-enak di atas punggung keledai yang dia tunggangi.

Kemudian Khek dan anaknya bersepakat untuk menunggangi keladai ini bersama-sama, biar tidak ada orang yang yang berkomentar lagi.
Akhirnya mereka berdua menaiki keledai itu, dan melanjutkan perjalanan pergi ke pasar.

Namun baru saja keledai itu melangkah beberapa tindak, ada seseorang yang menegurnya kembali dengan lantangnya.
"Apa yang kalian lakukan anak dan bapak ini, keledai yang pendek, kecil begini kau naikki berdua."
Itulah kata-kata yang keluar mulut orang tersebut.

"Sudah tiga kali kita ditegur orang-orang nak, bagaimana ini?" Khek bertanya kepada anaknya. Diputuskan akhirnya mereka berdua turun dari keledai tersebut dan menuntunnya.

Dituntunlah keledai itu berjalan menuju pasar tujuannya. Dan dalam perjalanan kali ini tidak ada komentar lagi dari orang-orang yang berpapasan dengan mereka.

Sesampainya di pasar, merekapun menawarkan keledainya itu. Mereka berdua, bapak dan anak itu berhasil  menjual hewan peliharaan itu dengan harga tinggi. Keledai Khek terjual, dengan rintangan perjuangan dalam perjalanannya. Petiklah hikmah perjalanan ini. Wasalam.
oleh: mamang
Share:

Tuesday, December 1, 2015

Kisah Kerajaan Tikus Dan Teror Bangsa Kucing - Dongeng Pakistan

Courtesy of nonewz.co
Dongeng Anak Dunia - Di negara Pakistan berabad-abad yang lalu, terdapat rawa-rawa yang luasnya berkilo-kilo meter. Rawa Dawran, itulah orang zaman dahulu kala menyebutnya. Karena luasnya rawa tersebut, sampai-sampai di tengahnya berdiri sebuah kota. Aydazinun sebuah kota yang sangat makmur, semua penduduk kota hidup dalam kesejahteraan tidak kurang sesuatu apapun. Banyak hal yang unik dari kota Aydazinun ini.

Mezra sang raja tikus yang telah bertahta di wilayah tersebut, telah melebarkan kekuasaannya sampai ke wilayah terpencil di kota itu. Tiga kaki tangannya yang pandai-pandai serta pemberani itu selalu mendampinginya dalam setiap tugas kerajaan yang dipimpin sang raja tikus Mezra.  Rajapun sangat percaya pada penasehat-penasehatnya itu, yang selalu setia menjadi abdi kerajaan. 

Pada setiap kesempatan rajapun selalu memanggil seluruh penasehatnya untuk membahas persoalan menyangkut kerajaannya ini. Apa lagi sudah sejak lama sekali negara yang dikuasainya ini, selalu diteror oleh bangsa kucing musuh bebuyutannya itu. Setelah semua berkumpul sang raja pun angkat bicara, "Mungkinkah kita terbebas dari teror-terornya? Sudah sekian lama berlalu, para kucing-kucing itu bertindak semena-mena terhadap bangsa kita".

"Walaupun kita hidup Makmur dan sejahtera serta mempunyai banyak harta berlimpah, tetapi selalu dalam bayang-bayang kengerian terhadap teror-teror ini, semuanya berdampak tidak nyaman. Tindakan apakah yang seharusnya kita lakukan terhadap masalah pelik ini?" Sang raja bertanya kepada semua abdi kerajaannya yang selalu siap setia dalam membela negeri tercintanya.

"Pendapat hamba sang paduka," berucaplah penasehat ke satu mengajukan pendapatnya. "Pertama-tama kita harus mencari sebanyak mungkin kalung lonceng kecil serta berusaha untuk dapat mengikatkan kalung lonceng bel tersebut ke setiap leher-leher kucing yang kita jumpai. Sehingga ketika kucing-kucing itu lewat walaupun masih jauh, kita sudah bisa mendengar tanda bunyi suara lonceng Paduka. Kesempatan ini bisa di gunakan bangsa kita untuk menjauh dari bahaya."

"Apakah kamu setuju dengan pendapat tersebut?" Sang raja bertanya kepada penasehat ke dua mengenai saran penasehat pertama.

"Berpikirlah sejenak penasehat ke dua, kepercayaan sang raja ini lalu angkat bicara. "Saya rasa paduka, tiada satupun dari bangsa kita yang berani berhadapan langsung, apalagi mengikatkan kalung lonceng bel tersebut di lehernya, walaupun hanya terhadap anaknya. Menurut hamba, pendapat tersebut penuh dengan bahaya."

"Bagaiman kalau kita pindah kesuatu tempat di desa-desa, dengan jarak waktu yang cukup lama. Biarlah kota ini kosong tak berpenguni bangsa kita. Menurut hemat hamba kucing-kucing itu dengan sendirinya akan meninggalkan kota yang kita cintai ini. Dengan demikian mereka pasti pindah ke kota lain yang banyak bangsa kitanya(tikusnya), Paduka raja Mezra !"

Namun seluruh pendapat saran yang di kemukakan penasehat-penasehat tersebut diatas, belum membuat puas hati sang raja tikus Mezra. Lalu sang raja meminta penasehat yang ke tiga yang terkenal akan kecerdasan cara berpikirnya dan selalu bijak dalam mengambil keputusan. Maka bertanyalah sang raja tikus ini. "Apa menurutmu tentang pendapat-pendapat mereka tadi?"

"Hamba tidak menyetujui semua pendapat yang mereka kemukakan tadi. Bagaimana mungkin kita semua tinggal di desa-desa. Tidak semua kucing-kucing itu liar, menurut penyelidikan hamba bangsa kucing di kota ini, sebagian besar punya tuannya masing-masing. Makanya menurut hamba tidak akan semua kucing di kota ini pergi ke kota lain yang ada terdapat banyak bangsa kita, hanya sebagian kecil kucing liarnya saja. Dan seterusnya mengenai hidup di desa-desa jauh lebih tidak aman lagi, akan banyak lagi teror-teror yang akan dilancarkan oleh burung-burung dan elang-elang dan masih banyak lagi ancaman dari para petani serta bangsa manusia yang tidak mau kehadiran bangsa kita. Inilah pendapat yang bisa hamba kemukakan saat ini, Sang paduka."

"Cuman saya punya satu pendapat lain tentang masalah yang sedang kita semua hadapi ini. Raja yang mulia sang mezra harus bertitah kepada seluruh rakyat bangsa kita.  Untuk menggali lubang-lubang lorong memanjang yang satu sama lain berhubungan, di setiap rumah-rumah orang kaya di negeri ini."

"Setelah kita mempunyai lubang lorong terowongan dari seluruh penjuru negeri ini. Tugas selanjutnya kita membagi-bagi pasukan kita untuk masuk ke rumah orang-orang kaya tersebut, serta membuat kerusakan disetiap pojok rumah tersebut. Rusakan kursinya, lemarinya, tempat tidurnya dan semua barang-barang yang ada di ruamah orang-orang kaya tersebut. Dengan kejadiaan ini orang itu pasti berpikir untuk membeli lagi satu ekor kucing peliharaan, karena mungkin satu saja kucing tidak sanggup untuk mengatasi tikus-tikus bangsa kita." Komentar penasehat yang bijak dan pintar ini.

"Ketika jumlah kucing yang berada di rumah orang-orang kaya itu bertambah kita akan menambahkan teror pengrusakan yang lebih  parah lagi. Pastilah kebanyakkan orang-orang kaya di kota kita adalah orang yang cerdas-cerdas. Apakah yang terjadi ketika kucingku hanya seekor kerusakan yang di timbulkan tidak terlalu parah begini. Tetapi sekarang kerusakkan-kerusakkan ini semakin menjadi-jadi."

"Demikian pula sebaliknya kalau orang-orang kaya tersebut mengurangi binatang peliharaannya, kita juga akan mengurangi tingkat kerusakkannya di sasaran rumah tersebut, dan seterusnya dan seterusnya sampai orang-orang kaya tersebut yang ada di kota kita membuang semua kucing peliharaan. Dan hasilnya tentu saja semua kucing di kota ini akan menjadi kucing liar yang kurus, dekil, dan tentu saja bau. Setelah semua kucing tidak dipelihara lagi di rumah orang-orang kaya maka misi kitapun untuk merusak isi di dalam rumah tersebut di hentikan dahulu untuk sementara waktu."

"Selanjutnya mungkin paduka raja pun akan mengetahuinya, orang-orang kaya tersebut akan berpikir bahwa selama ini kerusakan yang di timbulkan di rumah mereka adalah ulahnya kucing-kucing peliharaannya sendiri. Ini akan menjadi sumber masalah yang akan membuat kehidupan semua kucing terancam dengan sendirinya. Dan dari dampak seperti inilah mungkin bangsa kucing kedepannya akan diburu pihak pemerintah karena dianggap benalu atau penyakit yang menghalangi pemandangan kota ini."

"Demikian pendapat saran yang hamba kemukakan di sidang pertemuan ini, semoga menjadi bahan pertimbangan sang paduka raja Mezra." Penasehat ketiga mengakhiri pendapatnya.

Raja Mezra sejenak menimbang-nimbang semua pendapat dari semua abdi kepercayaan itu, jangan sampai memilih pendapat yang kurang tepat. Yang akhirnya baginda rajapun memutuskan untuk menuruti pendapat penasehat ketiga.

Tetapi perlu waktu lebih lama agar kota yang di pimpin oleh  raja Mezra ini bebas dari teror kucing yang sangat menakutkan bangsa tikus ini. Jika terjadi pengrusakan lemari, tempat tidur atau pakaian yang bolong-bolong, itu perbuatan kucing yang masuk ke rumah, waktu lupa pintu di tutup kembali.

Sejak saat itu, bangsa kucing menjadi buruan pemerintah tersebut dan tidak merasa aman hidup di dalam kota tersebut.

Raja yang berkuasapun merasa sangat bangga akan kecerdikan para penasehatnya itu, dialah sang raja tikus Mezra.

Sekian, Wasalam.    
oleh: mamang
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...