Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Friday, August 30, 2019

Labu Dalam Kendi - Dongeng Cina

courtesy of storiestogrowby.org
Dongeng Anak Dunia - Suatu hari dalam waktu yang cukup lama, sang raja Adoveneis pergi ke dataran untuk berburu rusa dan dia secara tidak sengaja terpisah dari teman-temannya.

Sambil berkeliling mencari temannya, sang raja tidak sengaja melihat gubuk yang dikelilingi oleh tanaman. Tanaman itu di rawat oleh seorang gadis muda yang cantik.

Sang raja menghampiri gadis itu dan berkata, "Katakan padaku Nak, tanaman apa yang kamu tanam di sini?"

Sang gadis menjawab, "Aku memelihara labu dan melon."

Saat itu kebetulan sang raja sedang haus, jadi dia meminta air kepada gadis itu untuk di minum. "Aku dan teman-temanku sedang berburu di hari yang panas ini," kata sang raja, "dan aku merasa haus yang membuat tenggorokanku sangat kering."

Gadis itu menjawab, "Wahai raja termasyhur! Kami memiliki air untuk diminum, tetapi air itu ada di sebuah kendi yang tua dan sudah usang. Tentunya itu tidak layak untuk Yang Mulia minum dari kendi yang tua dan usang itu!. "

Sang raja menjawab kepada gadis itu, "Jangan pikirkan soal kendinya, saat ini aku sangat haus! Aku tidak peduli kendi itu sudah tua maupun usang, asalkan airnya dingin."

Gadis itu pergi ke rumah untuk mengambil kendi itu dan mengisinya dengan air dingin yang jernih kemudian diberikan kepada sang raja.

Setelah selesai, sang raja mengembalikan kendi itu. Lalu, tiba-tiba, gadis itu melempar kendi itu ke tangga. Kendi itu pun hancur berkeping-keping.

Sang raja bertanya-tanya pada tindakan aneh sang gadis itu dan dalam hatinya dia berpikir bahwa gadis itu tidak punya sopan santun sama sekali.

Dia menangis, "Kamu tahu bahwa aku adalah raja yang mulia, dan kamu tahu bahwa aku memegang mahkota. Kenapa setelah aku memberikan kendi itu ke kamu lalu langsung kamu lempar sampai hancur begitu?, Apakah karena bekas terpegang oleh tanganku?"

Gadis itu menjawab, "Alasan aku memecahkannya karena sebenarnya kendi itu telah disimpan selama bertahun-tahun oleh ibuku, dan alasan yang lain karena aku tidak suka orang lain menggunakannya yang sudah tersentuh atau terpegang oleh Yang Mulia."

Mendengar hal itu, sang raja tidak menjawab. Dalam hatinya, dia kagum pada tindakan gadis itu dan memutuskan bahwa dia adalah gadis yang baik dan berbudi luhur. Ketika dia kembali ke kota, sebuah pemikiran mulai tumbuh padanya. Dia bertanya-tanya apakah gadis itu sepintar dan berbudi luhur seperti yang dibayangkannya.

Setelah beberapa waktu, suatu hari sang raja memerintahkan seorang prajurit untuk membawa sebuah guci baru kepada sang gadis yang memiliki bukaan di bagian atas yang tidak lebih dari satu inci. Perintah prajurit itu adalah untuk memberi tahu gadis itu bahwa kendi itu dari raja dan ia harus memasukkan seluruh labu ke dalam kendi itu. Prajurit itu juga memberi tahu gadis itu bahwa dia tidak boleh memecahkan kendi dalam keadaan apa pun. Kendi dan labu harus tetap utuh.

Gadis itu mengembalikan pesan kepada sang raja bahwa dia yakin bisa melakukan apa yang diperintahkan keagungannya, tetapi tugas seperti itu mungkin memakan waktu. Setelah beberapa bulan, sang gadis itu pergi ke istana sambil membawa kendi yang berisikan labu. Di tangannya dia memegang kendi yang sama dan tentu saja seluruh labu ada di dalamnya. Ketika sang raja dengan cermat memeriksa kendi itu, ia memastikan bahwa kendi itu sama dengan yang ia kirimkan. Terlebih lagi, dia melihat bahwa kendi dan labu sama sekali tidak rusak. Dia meminta gadis itu untuk menikah dengannya, karena dia sepintar dia berbudi luhur, dan dia dengan senang hati menerima lamaran sang raja.

Kemudian, di kamar kerajaan mereka, ketika istri barunya mengungkapkan sebuah rahasianya, raja tertawa panjang dan keras.

Bagaimana dia melakukannya?
Bagaimana gadis itu memasukkan labu ke dalam kendi?

Ini adalah rahasia gadis itu: Dia menempatkan atau memasukkan kuncup labu yang masih melekat pada pohon ke dalam kendi melalui lubang kecil yang terdapat di kendi itu. Seiring berjalannya waktu, kuncup labu tumbuh menjadi sebuah labu yang berukuran penuh di dalam kendi. Ketika labu itu telah mengisi penuh ruang dalam kendi, ia hanya tinggal memotong batang labu dan mengirimkan kendi dengan labu itu ke istana.

Source : click disini
Share:

Wednesday, August 28, 2019

Sang Ratu Dan Sang Tikus - Dongeng Perancis

courtesy of storiestogrowby.org
Dongeng Anak Dunia - Alkisah seorang Raja yang jahat dari negeri yang jauh menyerbu negeri tempat seorang Ratu memerintah. Sang Raja menyerang dan menangkap Ratu serta bayi perempuannya sebagai tahanan. Ketika sang Raja kembali ke kerajaannya, dia mengunci sang Ratu dan bayi perempuannya di ruangan tertinggi dari sebuah menara tinggi. Ruangan itu sangat kecil dan kosong, dengan hanya satu meja dan tempat tidur yang sangat keras.

Kemudian sang Raja memanggil sang peri yang tinggal di dekat kerajaannya. Dia hampir mendorong Peri untuk naik tangga ke kamar sang Ratu. Sang Peri tersentuh oleh kondisi sang Ratu yang menyedihkan. Ketika dia mencium tangan sang Ratu, sang Peri berbisik padanya, "Jangan takut, nyonya! Kurasa aku tahu cara untuk membantumu."

Sang Ratu berbisik terima kasih kepada sang Peri. Kemudian sang Raja yang jahat itu berteriak dengan keras, "Diam!" Dia berbalik ke sang Peri. "Aku membawamu ke sini karena satu alasan dan hanya satu alasan. Katakan padaku, apakah bayi perempuan ini akan tumbuh menjadi pengantin yang layak untuk putraku?"

Sang Peri menjawab bahwa memang, sang Putri akan tumbuh dengan penuh rahmat, kecerdasan, dan daya tarik dalam segala hal yang layak menjadi singgasana. Sang Raja itu menggeram kepada sang Ratu bahwa mereka berdua beruntung karena sang Peri mengatakan hal seperti itu. Dia akan menyelamatkan hidup bayi untuk menjadi calon pengantin bagi putranya. Dari menara ruangan tertinggi, sang Peri dan sang Ratu bisa mendengar putra Raja menjerit dan menuntut agar para pelayannya melakukan ini dan itu dari jauh di bawah, suaranya yang kejam membawa semua suara dan suara lainnya. Raja bergemuruh bahwa jika Peri membuat ramalan yang berbeda, baik bayi dan ibunya akan segera digantung. Kemudian dia pergi membawa sang Peri dan meninggalkan sang Ratu yang malang sambil menangis.

"Bagaimana aku bisa berharap putri kecilku tumbuh, kalau hanya untuk menikah dengan putra sang Raja yang mengerikan itu!" dia menangis. "Namun jika dia bernasib buruk, kita berdua akan dikutuk sekarang. Kalau saja aku bisa menyembunyikannya di suatu tempat, di mana saja! Pasti ada tempat yang aman di mana sang Raja yang kejam itu tidak pernah bisa menemukannya." Tapi di mana bayi itu bisa disembunyikan, karena mereka berdua terjebak di ruangan kecil di puncak menara?

Seiring berlalunya waktu, sang Ratu dan Putri kecil itu semakin kurus. Setiap hari, sipir penjara mereka yang keras hati hanya memberi mereka tiga kacang polong rebus untuk dimakan dan sepotong kecil roti hitam, sehingga mereka selalu sangat lapar. Akhirnya, pada suatu malam, ketika sang Ratu duduk di atas roda pemintalnya - karena dia juga disuruh bekerja siang dan malam - dia melihat seekor tikus kecil yang sangat cantik keluar dari sebuah lubang. Dia berkata kepada tikus itu, "Aduh, tikus kecil! Kenapa kamu datang ke sini? Kami hanya memiliki tiga kacang polong. Sebaiknya kamu pergi ke tempat lain untuk mencari makananmu."

Tetapi tikus itu berlari ke sana kemari, menari dan berputar dengan sangat cantik, sehingga sang Ratu bertepuk tangan dan tertawa dengan gembira. Akhirnya dia memberikan kacang polong terakhirnya untuk sang tikus itu yang seharusnya dia simpan untuk makan malamnya, sang Ratu berkata, "Ini, tikus kecil. Maafkan aku, karena hanya ini yang bisa aku tawarkan padamu. Tarianmu sangat bagus dan layak mendapatkan lebih dari kacang polong kecil yang keriput ini."

Pagi harinya, sipir atau seorang penjaga membawa makanan harian untuk sang Ratu dan sang Putri masing-masing tiga kacang. Kemudian setelah sipir itu pergi, sang Ratu memberikan ketiga kacang polongnya kepada sang tikus.

Piring kosong itu langsung ditutupi dengan segala macam hal-hal indah untuk dimakan dan sang Ratu berbagi pesta dengan putrinya. Tetapi setelah itu, ketika dia duduk di roda pemintalannya, dia mulai khawatir kalau makanan enak itu bisa berakhir kapan saja dan bahkan bisa saja putrinya yang berharga ditakdirkan untuk hidup sebagai tahanan dan dipaksa untuk menikah dengan sang Pangeran yang mengerikan itu ketika dia dewasa nanti.

Sang Ratu mulai putus asa, "Oh! Kalau saja aku bisa memikirkan cara untuk menyelamatkannya!"

Ketika dia berbicara, dia memperhatikan tikus kecil itu bermain di sudut pojokan dengan sedotan yang panjang. Sang Ratu mulai mengepang sedotan dan berpikir, "Jika aku punya sedotan yang cukup banyak, aku bisa membuat keranjang untuk putriku dan si tikus. Lalu aku menaruh putriku di keranjang dan menurunkannya melalui jendela, semoga saja ada seseorang yang baik hati yang bisa merawatnya dan membesarkannya agar terbebas dari tahanan."

Pada saat dia selesai berpikir, sang tikus kecil itu telah menyeret lebih banyak dan lebih banyak lagi, sampai sang Ratu punya banyak untuk menenun keranjangnya. Sang Ratu bekerja keras pada malam itu, sementara sang tikus kecil menari-nari untuk menghiburnya. Pada waktu makan siang dan makan malam, sang Ratu memberi tikus tiga kacang dan sedikit roti.

Akhirnya keranjang itu telai selesai dikerjakan oleh sang Ratu. Sang Ratu sedang memandang ke luar jendela untuk melihat berapa panjang tali atau sedotan yang harus dibuatnya untuk menurunkan keranjang ke bagian bawah menara, ketika dia melihat seorang wanita tua kecil di bawah bersandar pada tongkatnya dan menatapnya. Wanita tua itu berkata, "Saya tahu masalahmu, Nyonya. Jika kamu mau, saya akan membantumu."

"Oh, nona sayang!" kata sang Ratu. "Jika kamu benar-benar ingin membantuku, aku akan memberitahumu lagi saat waktu yang tepat, dan aku akan menurunkan bayi kecilku yang malang yang ada di dalam keranjang dan juga tolong rawatlah bayi kecilku ini dengan baik. Ketika aku sudah bebas dari sini, aku akan mengambil anakku kembali dan aku akan membalas semua kebaikkanmu. "

"Aku tidak peduli dengan hadiah apa pun, nyonya," kata wanita tua itu. "Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan merawat putrimu dengan sangat baik dan penuh perhatian. Tetapi ada satu hal yang saya inginkan darimu. Kamu harus tau kalau makananku sangat khusus yang tidak lain adalah tikus yang manis dan montok. Kalau di keranjangmu terdapat tikus, berikanlah padaku, karena hanya itu saja yang kuminta. "

Nah, ketika sang Ratu mendengar hal itu, dia mulai menangis. Setelah menunggu beberapa menit, wanita tua itu bertanya ada apa.

Sang Ratu menjawab, "Hanya ada satu tikus di keranjang ini, dan tikus ini sangat manis, pintar dan lucu jadi aku tidak tega membiarkan tikus itu dibunuh dan dimakan kamu."

"Apa!" teriak wanita tua itu dengan marah. "Kau lebih peduli pada tikus daripada bayimu sendiri? Selamat tinggal, nyonya! Aku akan pergi untuk mencari tikus sendiri dan membiarkanmu diatas menara sana. Aku berterima kasih pada bintang-bintangku karena aku bisa mendapatkan banyak tikus tanpa mengganggu orang sepertimu! "

Malam itu ketika bayi Ratu tertidur lelap, dia mengemasnya ke dalam keranjang dan menulis di selembar kertas, "Ini bayi perempuanku yang tercinta tetapi tidak seberuntung anak-anak yang lain. Tolong besarkan dia dengan penuh kelembutan, cinta dan kasih sayang." Dia menempelkan pada jubah bayi itu. Sang Ratu sangat sedih saat menutup keranjang itu. Tiba-tiba sang tikus melompat.

"Ah, si kecil!" kata sang Ratu. "Hari ini aku telah menyelamatkan nyawamu, kenapa kamu bertingkah melompat seperti ini."

Si Tikus menjawab, "Percayalah, Nyonya, kamu tidak akan pernah menyesali kebaikanmu karena telah menyelamatkan hidupku."

Sang Ratu sangat tercengang ketika sang tikus bisa berbicara dan terlebih lagi ketika dia melihat hidungnya yang kecil dan tajam itu berubah menjadi wajah yang menawan dan cakarnya menjadi tangan dan kaki. Kemudian tiba-tiba tumbuh tinggi dan sang Ratu mengenali Peri yang waktu itu datang ke kamar menara dengan Raja jahat untuk mengunjunginya.

Sang Peri tersenyum melihat sang Ratu yang heran. Kata Peri, "Aku ingin melihat apakah kamu mampu menjalin pertemanan sejati sebelum aku sepenuhnya membantumu. Kamu tahu, kita peri kaya akan segalanya kecuali teman dan teman sejati sulit ditemukan."

Sang Ratu bersandar, berkata pada sang Peri, "Aku tidak percaya kamu kekurangan teman, kamu makhluk yang menawan."

"Tapi memang begitu," kata Peri. "Karena banyak yang bersahabat dengan Peri hanya untuk keuntungan mereka sendiri. Tetapi kamu tetap melindungi tikus kecil yang malang ini walaupun kamu tidak tahu ada sesuatu yang bisa didapat darinya. Untuk mengujimu, aku merubah diriku dalam bentuk wanita tua yang kamu ajak bicara dari jendela itu. Aku menggodamu untuk meninggalkan teman tikus kecil itu. Tetapi hal itu tidak kamu lakukan! Lalu aku menyadari kalau kamu memang mampu menjalin persahabatan sejati. "

Beralih ke Putri kecil, sang Peri mencium bibirnya yang kemerahan sebanyak tiga kali. Sang Putri bergemuruh dan terkikik.

"Si kecil sayang," kata sang Peri kepada bayi perempuan itu. "Aku akan membawamu dan ibumu ke pondokku yang sangat indah dan cukup jauh dari kerajaan yang jahat ini. Di sana kalian berdua tidak akan terlihat oleh orang lain termasuk sang Raja dan kamu bayi yang manis akan tumbuh dewasa dengan aman dan bebas dan akan selalu bersama ibumu. "

Dalam sekejap, sang Peri, sang Ratu, dan bayinya menghilang dari ruang penjara menara, dan tidak pernah kembali lagi.

Source : click disini
Share:

Monday, August 26, 2019

Semua Untuk Satu Koin Paisa - Dongeng India

Courtesy of storiestogrowby.org
Dongeng Anak Dunia - Di suatu tempat yang letaknya tepat di lembah, tinggal seorang pedagang yang sangat kaya yang sama sekali tidak senang dengan putra satu-satunya. Anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda kecerdasan atau kreativitas, apalagi kesediaannya untuk bekerja. Namun, ibunya selalu memikirkan yang terbaik dari anaknya dan terus-menerus membuat alasan untuk anaknya.

Ketika anak itu sudah berusia untuk menikah, sang ibu memohon kepada suaminya mencarikan istri untuk anak mereka. Sang suami terlalu malu pada putranya yang malas dan dalam pikirannya sendiri telah sepenuhnya memutuskan untuk tidak pernah menikah. Tetapi sang ibu sangat berharap ingin melihat anak satu-satunya itu menikah dan memiliki seorang cucu karena hal itu yang telah dinanti-nantikannya selama bertahun-tahun. Sang Ibu tidak ingin melihat anak satu-satunya menjadi bujangan lapuk.

Sang ibu selalu berusaha membujuk suaminya mencarikan istri untuk anaknya. Sang suami sudah mulai lelah dan habis kesabarannya karena sang istri selalu memuji-muji dan selalu mendesak mencarikan istri untuk anaknya.

"Dengar," saudagar atau sang suami itu berkata kepada istrinya saat dia memuji putranya, "Aku sudah mendengar hal ini berkali-kali sebelumnya, tetapi kamu belum pernah membuktikannya. Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Tapi kali ini, agar kamu puas dan membuktikan perkataanmu, aku akan memberikan si bodoh itu kesempatan sekali lagi. Berikan satu koin paisa ini kepadanya dan katakan padanya untuk pergi ke pasar, dengan satu koin paisa ini harus dapat membeli satu item. Satu item itu sesuatu yang bisa untuk dimakan, sesuatu untuk diminum, sesuatu untuk dikunyah, sesuatu untuk ditanam di kebun, dan beberapa makanan untuk sapi. "

Sang ibu memberikan instruksi kepada anaknya sambil memberinya satu koin paisa, lalu anak itu pergi ke pasar.

Ketika dia telah sampai di sungai, dia menjadi khawatir dan bertanya-tanya, "Apa yang bisa dibeli hanya dengan satu koin pĂ isa yang bisa untuk dimakan, diminum dan melakukan semua hal lain yang diminta ibuku? Tentunya ini adalah tugas yang mustahil!"

Pada saat sang anak bertanya-tanya sendiri, sang putri seorang pandai besi datang dan menghampiri anak itu. Melihat ekspresi anak itu yang tidak bahagia, dia bertanya kepadanya apa yang terjadi. Dia mengatakan semua yang diperintahkan ibunya kepadanya.

"Aku tahu apa yang bisa kamu lakukan," kata sang putri.

"Pergilah ke pasar dan beli lah sebuah semangka dengan satu koin paisa," kata gadis itu. "Karena buah semangka terdapat sesuatu untuk dimakan, sesuatu untuk diminum, sesuatu untuk dikunyah, sesuatu untuk ditanam di kebun, dan beberapa makanan untuk sapi itu. Berikan kepada orang tuamu dan mereka akan senang."

Dengan cepat anak itu melakukan apa yang memberikan saran kepadanya.

Ketika sang istri pedagang melihat kepintaran putranya, dia sangat senang.

"Lihat," katanya kepada suaminya begitu dia pulang, "Anak kita telah mengerjakan apa yang kamu perintahkan."

"Sebenarnya, ibu," kata bocah itu, "putri seorang pandai besi menyarankan saya untuk melakukan ini."

Namun demikian, sang ayah terkesan bahwa anak itu telah menemukan solusi yang sangat bagus. Maka mereka mengundang keluarga tukang besi itu ke rumah mereka untuk makan malam. Kedua orang tua sang putri dan sang anak pedang senang melihat cinta bermekar antara dua anak muda-mudi itu. Maka sang putra saudagar itu pun menikahi sang putri tukang besi dan pemuda itu menjadi suami muda pekerja keras dan mereka semua hidup bahagia selamanya.

Source: click disini
Share:

Thursday, August 15, 2019

Aladdin Dan Lampu Ajaib 4 - Dongeng Arab

courtesy of fimela.com
Dongeng Anak Dunia - Sang putri memberi Nadia salah satu ramuan tidur untuknya. Dia mengatakan kepada Nadia bahwa ketika Wazir kembali malam itu, dia harus menuangkan ramuan tidur ke anggurnya. Dia akan tertidur begitu dalam, sehingga dia tidak akan terbangun oleh suara apa pun. Ketika Wazir mendengkur, Nadia, sang putri, dan Aladdin mencari-cari lampu ajaib di mana-mana sampai akhirnya mereka menemukannya!

Lampu di tangannya lagi, Aladdin berkata, "Sekarang aku bisa membuat permintaan kedua. Aku akan berharap kastil ini dan semua orang di dalamnya untuk kembali ke kerajaan Sultan, kecuali Wazir. "

"Tunggu!" Kata sang putri. "Tinggalkan aku juga."

Aladdin mendesaknya untuk ikut bersamanya, tetapi sang putri tidak mau. Sang Putri sangat menyukai kehidupan dengan kebebasan yang di inginkanya. Aladdin sama sekali tidak suka bahwa sang Putri akan ditinggalkan bersama Wazir. Tetapi dia meyakinkannya bahwa Wazir tidak akan bangun berjam-jam, dan dia akan punya banyak waktu untuk pergi jauh.

Jadi Aladdin menggosok lampu dan menyatakan keinginannya kepada Jin. Dengan suara mendesing, Aladdin, istana dan Nadia semuanya dipindahkan kembali ke tempat di mana istana sebelumnya berdiri.

Sultan senang memiliki putrinya kembali, atau kalian bisa mengatakan bahwa sebenarnya wanita muda yang Sultan yakini putrinya adalah Nadia, karena dia tertutup syal. "Kami akan mengadakan pernikahan dalam tiga hari!" Kata Sultan kepada Aladdin.

Namun kesedihan tumbuh di hati Aladdin. Nadia memang wanita muda yang baik dan menyenangkan. Tetapi ada sesuatu yang aneh tentang wanita yang naik kereta unta yang menjual parfum dan ramuan. Aladdin tidak bisa melupakan suara tawa wanita itu, pikirannya yang cerdas, dan kenyamanan bersama wanita penungga kereta unta itu. Akhirnya, Aladdin menggosok lampu lagi.

"Tuan," kata Jin, "apakah itu gunung permata yang kamu inginkan untuk keinginan ketiga mu, kekuasaan atas semua tanah tetangga, atau kekuatan 100 orang?"

"Tidak ada," kata Aladdin. "Aku ingin kamu membawaku ke wanita muda yang kukenal, penunggang unta sekaligus penjual parfum dan ramuan."

"Tapi Tuan, ini permintaan ketiga dan terakhirmu!" Kata Jin. "Bagaimana jika dia tidak memilihmu kembali? Kamu akan kehilangan kesempatan untuk menikahi putri Sultan dan menjadi pangeran. "

"Aku tidak peduli!" Kata Aladdin. "Aku harus menemuinya. Apa pun yang datang, biarlah. "

"Tapi Tuan, ini permintaan ketiga dan terakhirmu!" Kata jin.

Jadi Aladdin membuat keinginan ketiga dan terakhirnya dan dibawa ke putri sejati. Dalam perjalanannya, dia tidak terlalu jauh dari tanah Sultan. Akhirnya, Aladdin menyatakan perasaannya yang sebenarnya kepada sang Putri dan dia membalasnya dengan perasaan yang sama. Dia menceritakan kisahnya, bahwa dia telah dilahirkan sebagai putri tetapi sekarang lebih bahagia hidup sebagai pedagang keliling. Aladdin mengatakan dia tidak menginginkan menikahi seorang Putri dan menjadi seorang Pangeran, Aladdin hanya ingin selalu bersama sang Putri. Maka mereka sepakat untuk menikah dan bersama-sama naik kereta unta, lalu menjual ramuan dan parfum dari kota ke kota.

Kemudian, tiba-tiba Aladdin dan sang putri mendapatkan berita duka bahwa Sultan meninggal. Aladdin berkata kepada sang Putri, "Karena ayahmu sudah tiada, maukah kamu kembali sekarang ke istana ayahmu? Kita bisa memerintah kerajaan bersama, berdampingan. "

Maka Aladdin dan sang putri kembali ke istana. Nadia sangat senang melihat mereka. Dia dengan senang hati turun untuk melayani lagi sebagai wanita yang sedang menunggu sang putri. Selama sisa hidup mereka, Aladdin dan sang putri memerintah dengan baik dan hidup dalam kebahagiaan, seperti yang seharusnya.

Cerita Sebelumnya: Aladdin Dan Lampu Ajaib 3 - Dongeng Arab

Source: click disini
Share:

Aladdin Dan Lampu Ajaib 3 - Dongeng Arab

courtesy of fimela.com
Dongeng Anak Dunia - Pagi berikutnya, sang Sultan terbangun dan tidak melihat apa pun di luar jendela kamarnya, dimana telah berdiri tempat istana Aladdin sehari sebelumnya. Kemudian pelayannya bergegas masuk, mengumumkan bahwa sang putri telah menghilang. Sang Sultan yang sangat Marah, lalu dia memanggil Aladdin.

"Apa yang telah kamu lakukan?" Dia berteriak dengan marah. "Karena trik sulapmu, aku kehilangan putriku! Kamu harus membawanya kembali kepadaku dalam tiga hari atau kamu akan tanggung akibatnya! "

Aladdin berpikir, dia bisa mengatakan keinginannya dan Jin akan membawa kembali sang putri dan istana juga. Tapi lampu ajaibnya hilang, dia mencari kemana-mana! Dalam keputus-asaan, Aladdin tidak bisa melakukan apa pun selain meninggalkan istana Sultan di atas kuda putih yang telah dinaikinya. Sedihnya, dia berkuda dari kota ke kota, tetapi tidak ada yang tahu apa-apa tentang istana yang muncul dalam semalam, belum lagi dengan seorang putri di dalamnya.

Kalian mungkin bertanya-tanya, di mana sang Putri Sultan berada? Dia menyamar mengenakan pakaian seperti gadis pelayannya Nadia, dia diam-diam keluar dari istana pada saat berganti pakaian dengan Nadia. Dia pergi ke pasar dan di sana dia bertemu seorang pedagang. Pedagang itu mengatakan kalau dia lelah berkuda dari kota ke kota untuk menjual ramuan dan parfumnya.

Sang putri yang berpakaian layaknya Nadia sang pelayannya, namun dia masih membawa dirinya seperti seorang bangsawan. Sang Putri merasa kasihan kepada pedagang itu dan ketika menawarkannya untuk naik kereta untanya dan berbagi apa yang dia miliki, sang pedagang itu sangat senang.

Dua hari berlalu. Aladdin masih belum juga menemukan istananya yang hilang. Aladdin hanya bisa duduk terdiam sambil berpangku tangan.

"Kenapa wajahmu terlihat sedih?" Kata sang Putri. "Mungkin ramuan ini akan membuatmu merasa lebih baik."

"Tidak, terima kasih," kata Aladdin. "Satu-satunya hal yang bisa membantuku adalah jika aku bisa membawa kembali seorang putri dan menemukan istanaku yang hilang. Soalnya, istanaku lenyap semalam ke tempat yang aku tidak tahu di mana. Sang putri mungkin ada di dalamnya. Oh, ini tugas yang berat! "

"Mungkin tidak," kata sang putri. "Belum lama ini dalam perjalananku, aku mendengar tentang istana di padang pasir yang muncul tiba-tiba entah dari mana."

"Sungguh?" Kata Aladdin. Dia mendongak. "Apakah kamu tahu dimana?"

"Aku pikir begitu. Aku bisa membawamu ke sana. Jika kita pergi sekarang, kita bisa sampai di sana besok pagi. "

"Aku akan sangat berterima kasih!" Kata Aladdin. Dia telah meninggalkan semua permata-buah dengan ibunya dan menyisahkan satu. Lalu, diberikan kepada penunggang unta itu sebagai pembayaran.

"Oh, simpanlah," kata sang Putri dengan lambaian tangannya. "Tidak masalah. Bawa kudamu untuk menunggang untaku."

Sepanjang malam, mereka berdua berbicara tentang banyak hal. Aladdin kagum pada sikap wanita muda yang baik dan murah hati itu. Entah bagaimana tahu dia bisa dipercaya. Tak lama kemudian, dia menceritakan kisahnya tentang bagaimana dia menemukan lampu ajaib di gua dan bagaimana pula lampu ajaib itu dicuri darinya, bersama dengan istana.

Saat cahaya pagi bersinar, mereka menemukan dua dinding batu yang sangat tinggi, berwarna merah jambu, dengan pita tipis putih dan biru. Tiba-tiba tembok-tembok batu berjatuhan dan mereka tiba di tanah terbuka.

"Lihat!" Kata sang putri, menunjuk ke depan. "Itu saja?"

"Itu!" Aladdin berteriak kegirangan, mengenali istananya. "Kuharap sang putri masih ada di sana!" Katanya, "meskipun tanpa lampu ajaib ku, aku tidak punya cara lain untuk mendapatkan mereka berdua kembali."

Tepat pada saat itu Nadia yang telah dibawa pergi bersama dengan istana seperti yang kalian ingat, memandang ke luar jendela. Yang mengejutkannya adalah dia mengenali penunggang kereta unta itu yang tidak lain adalah sang Putri. Dia melambaikan tangannya kepada mereka berdua untuk datang ke pintu depan.

Para pelayan membiarkan para tamu masuk dan Nadia membawa mereka ke ruang tamu kemudian menutup pintu. Nadia berkata, "Nyonya! Betapa senangnya aku melihatmu! "

"Aku senang melihatmu juga, Nadia."

Aladdin kagum. "Kalian berdua saling kenal?"

Tetapi sang putri hanya berkata kepada Nadia, "Katakan padaku, bagaimana menurutmu menjadi seorang putri?"

"Awalnya, gaunnya sangat indah dan bagus," kata Nadia. "Semua yang aku impikan dan aku sukai telah aku dapatkan. Tetapi ketika aku dibawa pergi dengan istana ini, Wazir juga ikut. Selama dua hari terakhir dia tidak melakukan apa-apa selain marah-marah dan menghancurkan banyak hal. Dia mengurungku di sini! "

"Itu mengerikan!" Kata sang putri.

"Masih ada lagi," kata Nadia. "Dia berkata, bahwa besok kita akan kembali ke tanah Sultan dan aku harus menikah dengannya!"

"Dia bilang ... dengan pelitanya?" Aladdin dan sang putri saling memandang.

Sang putri menoleh ke Nadia. "Tunggu sebentar! Aku punya rencana."

Cerita Sebelumnya: Aladdin Dan Lampu Ajaib 2 - Dongeng Arab
Cerita Selanjtunya: Aladdin Dan Lampu Ajaib 4 - Dongeng Arab

Source: click disini
Share:

Aladdin dan Lampu Ajaib 2 - Dongeng Arab

courtesy of fimela.com
Dongeng Anak Dunia - Ibunya tidak percaya dengan kisah yang diceritakan putranya kepadanya. "Lampu ajaib?" Dia tertawa. "Benda tua itu?" Dia mengambil lampu itu, mengambil kain, dan mulai membersihkannya. "Jika benar-benar ada Jin di lampu tua ini, aku akan mengatakan kepada Jin untuk membuatkan pesta dan sajikan makanan di atas piring emas!'"

Ibu Aladdin terkejut! Jin bangkit dari lampu dan sebuah pesta yang cocok untuk seorang raja terbentang di atas meja dapurnya dan di atas piring-piring emas yang berkilauan.

Mereka berdua menikmati pesta yang tidak seperti biasanya. Kemudian ibu Aladdin mencuci dan menjual lemping-lemping emas dan membeli barang-barang yang diperlukan untuk hidup. Sejak saat itu, Aladdin dan ibunya hidup lebih baik.

Suatu hari, Aladdin berpikir dalam hati, "Mengapa hanya berpikir kecil? Dengan buah-buah permata yang aku miliki ini, aku bisa menikahi sang putri dan menjadi pangeran di negeri ini! "

Ibunya tertawa. "Kamu tidak bisa pergi ke istana dengan beberapa hadiah bagus dan berharap untuk menikahi sang putri, Aladdin!" Tapi Aladdin mendesaknya untuk mencoba. Mereka membungkus beberapa buah permata dengan kain sutra dan sang ibu pergi ke istana.

Para penjaga menghentikannya mereka. Tetapi ketika dia bersikeras karena dia memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk Sultan, para penjaga membiarkannya masuk.

Kata Sultan, "Apa yang kamu bawa untuk aku di kain sutra itu?"

Ibu Aladdin menunjukkannya kepada Sultan buah-buah permata. Sultan terkesan. "Tapi jika putramu layak untuk putriku dan menikahinya seperti yang kau katakan, dia harus membawakanku 40 nampan emas dari permata yang sama yang dibawa oleh para pelayan."

Sang ibu pulang ke rumah dan memberi tahu putranya tentang permintaan Sultan. "Tidak masalah," kata Aladdin. "Panggil saja Jin dan buat permintaan kedua." Maka ibunya menggosok lampu dan membuat permintaan kedua. Tak lama, dia berada di tangga istana Sultan dengan 40 nampan emas dari buah-buahan permata yang dibawa oleh banyak pelayan.

Sultan senang. "Tapi kamu tidak bisa berpikir ini cukup untuk menikahi putriku!" Katanya. "Untuk benar-benar memenangkan hatiku, putramu harus membangun istana emas untuk dia dan putriku saat hidup bersama nanti."

Sang Ibu pulang dan memberitahu Aladdin. Jadi untuk permintaan ketiganya, Sang Ibu meminta Jin untuk membuat istana emas. Pagi berikutnya, tepat di luar kamar Sultan, muncul istana emas besar, berkilau di bawah sinar matahari. Sementara itu di rumah Aladdin, Ibunya berkata, "Sudah saatnya kamu pergi anakku untuk bertemu dengan puterimu." Keinginannya habis, dia memberinya pelita.

Pagi berikutnya, Sultan memanggil putrinya. "Lihatlah istana ini!" Katanya menunjuk ke luar jendela. "Ini suami untukmu!"

"Apa maksudmu, Ayah?" Kata putrinya. "Apakah ayah sudah tahu tentang pria itu? Apakah ayah pernah bertemu sebelumnya dengannya? "

"Apa yang perlu diketahui?" Kata Sultan. "Dia bisa membuat istana emas dalam semalam. Dia bahkan lebih kuat dari penasihat kerajaanku, Wazir. "

"Kemarin, Wazirmu adalah pria paling kuat di kerajaan," kata putrinya, "dan aku akan menikah dengannya. Hari ini, orang asing ini adalah yang paling kuat dan saya akan menikah dengannya. Siapa yang paling kuat itu tidak penting ayah, mengapa ayah memaksaku untuk memenuhi keinginanmu? "

"Itu masalah bagiku!" Kata Sultan. Dengan suara rendah dia berkata, "Putri, aku hanya ingin kamu mendapatkan suami yang begitu baik kepadamu."

"Aku tidak percaya ini!" Sang putri mengangkat tangannya dengan putus asa, dan dia pergi.

Di kamar riasnya, sang putri berbicara sambil kecewa karena ayahnya kepada Nadia. Dia berkata, "Apa pun yang terjadi, Ayahku bertekad untuk menikahkanku!"

"Tapi Nyonya," kata Nadia, "bukankah orang asing yang luar biasa itu cocok untukmu?"

Sang putri menghela nafas sambil melihat Nadia. "Kamu tidak tahu betapa beruntungnya kamu," katanya. "Aku lebih suka menjalani hidup sepertimu daripada diserahkan dengan cara ini."

"Dan aku lebih suka menjadi dirimu," kata Nadia. Mereka berdua saling menatap selama beberapa saat. Tinggi mereka hampir sama, dengan rambut warna yang sama. Dengan syal yang mereka kenakan ...

"Ayo lakukan!" Kata mereka bersama. Dan mereka berdua berganti pakaian.

Saat itu, Aladdin sedang menunggang kuda ke istana Sultan dengan kuda putih, siap untuk bertemu dengan istrinya. Sultan menyambutnya dengan hangat.

"Tetap di sini di istanaku sampai persiapan untuk pernikahanmu selesai," kata sang Sultan. Aladdin tidak bisa bertemu sang putri sampai hari pernikahan mereka. Dia melihat sekilas Nadia dari kejauhan, ditutupi syal, mengira dia adalah putri sang Sultan. Aladdin, Sultan, dan semua orang di istana menunggu dengan semangat untuk hari pernikahan itu.

Kecuali satu orang yaitu lelaki tua yang membuat Aladdin terjebak di gua dan lelaki tua itu ternyata adalah Wazir. Dia mengenali Aladdin dan dia tahu memiliki satu alasan mengapa pemuda itu bisa memberikan semua keajaiban ini kepada Sultan. Aladdin pasti telah melarikan diri dari gua dengan lampu yang dia temukan!

"Aku akan membalas dendam kepadamu Aladdin!" Sumpah Wazir. "Jika ada yang ingin memiliki lampu tersebut, itu adalah AKU!" Dengan sihirnya, dia bisa tahu di mana Aladdin menyembunyikan lampu itu. Ketika Aladdin sedang tidur, Wazir masuk dan mengambilnya.

Di tempat yang sunyi, Wazir membuat permintaan pertamanya: "Jin, lakukan apa yang kukatakan. Aku ingin kamu membawa istana Aladdin ke tempat yang jauh di padang pasir yang tidak dapat ditemukan siapa pun!"

Saat sang Wazir melakukan permintaannya, tanpa dia ketahui Nadia sedang berkililing di istana Aladdin. Dan ada hal lain juga yang tidak di ketahui oleh sang Wazir karena sang Jin berpikir sang Wazir dan sang Nadia yang sedang berkeliling di istana Aladdin itu juga ikut terbawa dengan istana Aladdin ke tempat yang jauh di padang pasir.

Cerita Sebelumnya: Aladdin dan Lampu Ajaib 1 - Dongeng Arab
Cerita Selanjutnya: Aladdin dan Lampu Ajaib 3 - Dongeng Arab

Source: click disini
Share:

Aladdin dan Lampu Ajaib 1 - Dongeng Arab

courtesy of fimela.com
Dongeng Anak Dunia - Di suatu tempat tinggallah seorang pemuda yang bernama Aladin, dia masih memiliki orang tua. Namun, beberapa waktu yang lalu, Ayah Aladin meninggal dan kini hanya Aladin dan Ibu nya yang tinggal dirumah itu. Semenjak Ayahnya meninggal, Aladin menggantikan posisi Ayahnya untuk mengelola toko keluarganya bersama ibunya.

Suatu hari saat Aladin dan ibunya sedang membereskan tokonya, datang seseorang yang tak dikenal ke toko dan menyapa Aladin.

"Hai Aladin, Aku pamanmu," kata orang asing itu ke Aladdin. "Aku sengaja datang kemari untuk menemui."

"Tapi ayahku tidak pernah memberitahu tentang saudara laki-lakinya," kata Aladdin sambil heran dan bingung.

Ibu Aladdin juga berkata demikian. "Suamiku tidak punya saudara laki-laki," katanya kepada orang yang tak dikenal itu sambil menyipitkan matanya.

"Tapi aku ini memang benar-benar saudara suamimu," kata orang yang tak dikenal itu. "Beberapa tahun yang lalu suamimu dan aku setuju, kalau sesuatu terjadi padanya, aku akan membantu keluargamu."

Sang ibu tertarik. "Apa tujuan dan maksud kamu datang kemari?" Katanya.

"Aku tahu tempat rahasia yang menyimpan banyak kekayaan," kata orang yang tak dikenal itu. "Aku akan membawa anakmu si Aladin kesana untuk mencari harta karun dan kembali dengan membawa harta karun tersebut."

Ibu Aladin pun menyetujuinya. Lalu, orang yang mengaku paman Aladin itu pun pergi selama berhari-hari ke gurun bersama Aladin. Akhirnya mereka sampai di sebuah gua.

"Aku beri tahu kamu, kalau aku sedikit belajar ilmu sihir," kata lelaki tua itu kepada Aladdin. "Kamu pasti akan terkejut dengan apa yang kamu lihat nanti."
"Aku tahu tempat rahasia yang menyimpan banyak kekayaan," kata lelaki tua itu.

Mereka masuk ke dalam gua yang gelap gulita. Lalu, lelaki tua itu mengibaskan tangannya dan bola cahaya tiba-tiba muncul menerangi gua. Di bawah cahaya dengan satu jari panjang lelaki tua itu, dia menggambar bentuk lingkaran di atas tanah. Dia mengambil debu merah dari sakunya dan melemparkannya ke atas lingkaran dan pada saat yang sama mengucapkan mantra. Tiba-tiba bumi sedikit bergetar dan lantai gua terbuka dengan perlahan-lahan. Kemudian dari bawah tanah naik sebuah kristal kuarsa putih raksasa dan memenuhi lingkaran yang terbuka.

"Jangan khawatir," kata si lelaki tua itu. "Di bawah kristal putih raksasa ini terletak harta yang akan menjadi milikmu."

Dia melantunkan beberapa mantra lagi dan kristal raksasa itu pun naik beberapa kaki ke udara, bergerak ke samping dan mendarat. Aladdin mengintip ke dalam lubang dan dia melangkah ke arah lubang yang gelap.

"Jangan takut," kata lelaki tua itu kepada Aladdin. "Kamu harus mematuhiku. Turunlah melalui anak tangga itu, ikuti jalan tersebut. Nantinya kamu akan melihat sebuah taman, pohon, buah-buahan dan jangan pernah kamu berani sentuh benda tersebut. Jalan saja terus sampai kamu menemukan batu datar yang besar dan di atas batu itu akan ada lampu yang menyala. Tuangkan minyak di lampu itu dan bawa ke aku. Pergi sekarang!"

Aladdin dengan perlahan menuruni anak tangga. Setelah beberapa langkah Aladin berjalan, dia melihat sebuah taman, pohon beserta buah-buahan yang membuat mata Aladdin takjub dan bersinar-sinar. Aladin hanya bisa melihatnya karena lelaki tua itu melarangnya untuk memegang ataupun menyentuh benda tersebut. Namun, Aladin tidak kuat karena hanya melihat saja, akhirnya dia mengambil satu per satu benda yang bersinar itu ke dalam saku nya hingga penuh.

Pada akhirnya, Aladdin telah sampai di sebuah batu datar yang besar dan di atasnya terdapat lampu seperti yang dikatakan lelaki tua itu. Dia menuangkan minyak ke lampu itu dan membawanya kembali ke tempat dimana lelaki tua itu menunggu.

Aladdin berkata, "Aku di sini, Paman!"

Lelaki tua itu berkata dengan tergesa-gesa, "Berikan lampu itu!"

"Iya paman nanti setelah aku sampai disana," kata Aladdin sambil bertanya-tanya mengapa lelaki tua itu tampak terburu-buru.

"Tidak, berikan aku lampu itu SEKARANG!" Seru pria tua itu sambil meraih tangannya ke bawah.

Lelaki tua itu ingin segera mendapatkan lampu tersebut dari Aladdin dan kemudian membunuhnya. Tiba-tiba saja Aladdin merasakan hawa yang dingin berhembus. Aladdin beranggap ada sesuatu yang salah dan entah bagaimana dia tahu, dia tidak boleh melepaskan lampu itu.

"Biarkan aku bangun dulu paman, lalu akan kuberikan kepadamu" kata Aladdin berpura-pura.

Lelaki tua itu sudah kehilangan kesabaran dan menjadi sangat marah. Dia jatuh ke dalam amarah dan mengeluarkan mantra-mantra yang keluar dari mulutnya. Kristal kuarsa putih raksasa terangkat dan melayang di atas lubang dan menutupi lubang itu. Semua menjadi gelap di bawah dan Aladdin pun terjebak!

Selama dua hari, Aladdin putus asa. "Kenapa aku tidak menyerahkan lampu tua ini? Lagipula, siapa yang peduli dengan apa pun yang terjadi, itu tidak mungkin lebih buruk dari ini! Apa yang aku pikirkan? "

Sambil menggosok lampu, dia mengerang, "Oh, aku berharap bisa keluar dari sini!"

Seketika, jin besar keluar dari lampu tersebut ke udara. "Kamu adalah tuanku!" Boom Jin berkata. "Apakah keinginan pertamamu adalah keluar dari gua ini? Tiga keinginanmu akan aku kabulkan. "

"Oh jin, aku benar-benar ingin keluar dari sini!"

Mulut Aladdin terbuka, kagum. Dia bergumam ya, tentu saja! dia sangat ingin keluar dari gua tersebut dan pulang! Kemudian, tiba-tiba Aladdin sudah berada di luar rumahnya sendiri dengan masih memegang lampu dan dengan semua buah permata di sakunya.

Cerita Selanjutnya: Aladdin dan Lampu Ajaib 2 - Dongeng Arab

Source: click disini
Share:

Friday, August 9, 2019

Sang Singa Dan Sang Serigala - Dongeng Afrika

courtesy of momjunction.com
Dongeng Anak Dunia - Disebuah tempat hidup dua hewan yang buas yaitu Singa dan Serigala, suatu ketika mereka berencana berburu dan mereka saling sepakat satu sama lain mengumpulkan makanan untuk stock selama musim dingin bersama keluarga mereka.

Karena Singa sejauh ini merupakan pemburu yang lebih ahli dari Serigala, Serigala menyarankan agar Sang Singa yang memburu mangsa makanan kemudian membawanya ke sarang. Sedangkan, Ny. Serigala dan para Serigala kecil menyiapkan dan menyajikan daging, keluarga Sang Serigala juga akan merawat dan memperhatikan Ny. Singa dan keluarganya.

Sang Singa menyetujuinya dan perburuanpun dimulai.

Setelah perburuan yang sangat sukses yang berlangsung selama beberapa waktu, sang Singa kembali untuk melihat keluarganya dan juga untuk menikmati hidangan makanan seperti yang dia pikirkan, persediaan berlimpah dari jarahan sang Singa. Namun, ketika sang Singa telah kembali ke sarangnya, sang Singa terkejut karena menemukan Ny. Singa dan semua anak-anaknya terbaring tanpa nafas karena kelaparan dan dalam keadaan kotor. Sang Serigala tampaknya hanya memberi mereka sedikit makanan yang membuat Ny. Singa dan anak-anaknya tak berdaya dalam kelaparan.

Melihat hal itu, sang Singa sangat marah dan bersumpah akan membunuh sang Serigala dan seluruh keluarganya, di mana pun berada dan kapanpun saat mereka bertemu. Sang Serigala sudah sangat siap akan akibat yang dihadapinya nanti dan telah mengambil tindakan pencegahan untuk memindahkan semua barang-barangnya ke puncak krantz (yaitu, tebing) yang hanya dapat diakses melalui jalan yang paling sulit, berputar-putar, dan hanya dia sendiri yang tahu.

Ketika sang Singa melihatnya di krantz, sang Serigala segera menyambutnya dengan memanggil,

Selamat pagi, Paman Singa. "

"Berani-beraninya kau memanggilku dengan sebutan paman, kau bajingan yang kurang ajar," raung sang Singa dengan suaranya yang guntur, "Apa yang kau lakukan terhadap keluargaku?"

"Oh, Paman! Bagaimana aku menjelaskannya kepadamu?" Terdengar dentang suara saat sang Serigala berbicara sambil memukul ke tanah kering/bebatuan yang merupakan kepura-puraan belaka bagi Ny. Serigala, sementara itu sang Serigala menyuruh sang Ny. Singa untuk menjerit setiap kali dia mencambuknya, yang dia lakukan dengan tanpa rasa belas kasihan, sang Serigala kecilpun ikut menyerukan suara lolongan yang membuat suasana menjadi suram. Sang Singa memohon padanya agar tidak mencambuk istrinya. Sang Singa mencoba mencari jalan untuk menuju puncak krantz atau tebing, namun setelah beberapa waktu sang Singa hanya bisa pasrah dan menyerah.

Sang Serigala yang berhati licik itupun menurunkan tali untuk mengangkat sang Singa, tentu saja dengan maksud yang jahat. Ketika sang Singa ditarik sekitar setengah jalan oleh seluruh keluarga sang Serigala, tali itu dipotong dan sang Singa jatuh ke dataran yang kencang dan sangat menyakitinya. Setelah mereka berhasil menjatuhkan sang Singa, mereka berseru dengan lolongan yang penuh dengan kebanggaan. Dia sang Serigala kemudian memanggil istrinya dan menyuruhnya mengambil tali yang sangat kuat dan dapat menopang beban seberat apa pun. Sang Singa yang terjatuh dan terkulai lemas itu kemudian diikat oleh sang Serigala, kemudian sang Singa di tarik lagi setinggi-tingginya dan di potong lah tali itu, sang Singa yang malang itupun terjatuh lagi dan bahkan lebih keras dari sebelumnya. Setelah sang Singa pulih kembali, sang Serigala dengan nada yang sangat bersimpati memberikan tawaran kepada sang Singa dengan sepotong daging, daging yang dipanggang dan dimasukkan ke mulut sang Singa. Sang Singa yang kelaparan dan banyak memar di seluruh tubunya itu pun menerima tawaran itu, dan duduk dengan bersemangat menunggu potongan lemak/daging.

Sementara itu, sang Serigala mengambil batu berbentuk bundar yang memerah panas dan membungkusnya dengan potongan lemak atau daging, kemudian digulung berbentuk bulat dengan batu yang memerah panas. Ketika sang Singa melihatnya mengulurkan potongan lemak atau daging yang berbentuk bulat dan panas, ia membuka mulutnya dengan luas dan sang Serigala yang cerdik memasukkannya tepat ke dalam rongga mulut sang Singa yang pada akhirnya sang Singa mati karena sebenarnya yang dimakan oleh sang Singa bukan lah daging tetapi batu yang memerah panas yang dilapisi dengan sedikit daging atau lemak, sehingga sang Singa tidak tahu kalau itu sebenarnya hanyalah tipuan dari sang Serigala.

Sumber : click disini
Share:

Thursday, August 8, 2019

Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 4 - Dongeng Cina

courtesy of gutenberg.org
Dongeng Anak Dunia - "Oh, oh, oh! Kenapa, kamu menjelaskan semuanya!" ratap tikus itu. "Aku sering bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka mendapatkan kumbang emas, namun tentu saja aku tidak berani bertanya."

"Tidak, tentu saja tidak! Tapi tolong teman tikus, ambilkan kumbang emas itu kembali untukku, dan aku akan membebaskan kamu sekaligus dari semua kewajibanmu untukku. Apakah kamu tahu di mana dia menyembunyikannya?"

"Ya tentu saja, mereka menyembunyikannya di celah-celah tembok yang rusak. Aku akan membawanya kepadamu dalam sekejap, tetapi bagaimana nasib kami disini jika kumbang emas tersebut kembali padamu?, Aku takut beberapa hari kemudian stok makanan kami sudah habis dan kami akan kelaparan. "

"Hiduplah dengan mengenang perbuatan baikmu," pekik si kucing. "Sekarang cepatlah ambil kumbang emas itu! Aku percaya padamu sepenuhnya, karena orang-orangmu tinggal di rumah Konfusius. Aku akan menunggumu di sini sampai kamu kembali dengan membawa kumbang emas itu. Ah!" Whitehead menertawakan dirinya sendiri, "keberuntungan sepertinya akan datang pada kami lagi!"

Lima menit kemudian tikus itu muncul dengan membawa pernak-pernik di mulutnya dan juga kumbang ke sang kucing dan kemudian membawanya pergi untuk selamanya. Kehormatannya sang tikus aman, tetapi dia takut pada Whitehead karena telah melihat sinar keinginan di mata hijaunya dan sang kucing itu mungkin telah melanggar janjinya karena dia tidak begitu ingin kembali ke rumah di mana majikannya bisa memerintahkan ketel untuk menghasilkan makanan.

Kedua petualang sang anjing dan sang kucing telah mencapai sungai tepat saat matahari terbit di atas bukit timur.

"Hati-hati," Blackfoot memperingatkan kepada sang kucing, ketika sang kucing itu melompat ke punggungnya untuk naik melintasi sungai, "berhati-hatilah untuk tidak melupakan harta karun itu. Ingat, meskipun kamu wanita, jagalah mulutmu agar selalu ditutup sampai kita mencapai sisi sungai lain. "

"Terima kasih atas saranmu, tapi kurasa aku tidak butuh saranmu," jawab Whitehead, mengambil kumbang dan melompat ke punggung anjing.

Namun sayang! saat mereka baru sampai di tengah sungai, sejenak sang kucing yang bersemangat itu melupakan kebijaksanaannya. Seekor ikan tiba-tiba melompat keluar dari air dan langsung mengambil pernak-pernik dibawah hidungnya. Godaan itu terlalu hebat. Jepret! kumbang emas tenggelam ke dasar sungai.

"Sana ambil!" kata anjing itu dengan marah, "apa yang aku katakan padamu? Sekarang semua yang kita rencanakan sia-sia, semua karena kebodohanmu."

Selama beberapa waktu ada perselisihan yang pahit, dan para sahabat saling memanggil nama-nama yang sangat buruk, seperti kura-kura dan kelinci. Tepat ketika mereka mulai menjauh dari sungai, kecewa dan berkecil hati, seekor katak ramah yang kebetulan mendengar pembicaraan mereka menawarkan diri untuk mengambil benda tersebut dari dasar sungai. Tidak lama setelah itu mereka mendapatkannya kembali dan setelah berterima kasih kepada hewan yang membantunya, mereka kembali ke rumah majikannya.

Ketika mereka sampai di pondok, pintu tertutup, dan seperti yang dia lakukan, Blackfoot tidak bisa membujuk tuannya untuk membukanya. Ada suara ratapan nyaring di dalam.

"Nyonya patah hati," bisik si kucing, "aku akan menemuinya dan membuatnya bahagia."

Setelah berkata kepada sang anjing, dia melompat ringan melalui lubang di jendela yang sayangnya terlalu kecil dan terlalu jauh dari tanah untuk dimasuki anjing yang setia.

Sebuah pemandangan sedih menyambut tatapan Whitehead. Putranya terbaring di ranjang tanpa sadar, hampir mati karena kekurangan makanan, sementara ibunya, dalam keputus-asaan, berjalan ke belakang dan ke depan meremas-remas tangannya yang kusut dan menangis sekencang-kencangnya agar ada seseorang datang dan menyelamatkannya.

"Aku di sini, nyonya," seru Whitehead, "dan inilah harta karun yang kau tangisi. Aku telah menyelamatkannya dan membawanya kembali kepadamu."

Janda itu yang tadi nya sedih, kini sangat senang karena saat melihat sang kucing membawa kumbang emas itu dan menangkap sang kucing itu dengan lengan kurusnya kemudian memeluk hewan peliharaan itu erat-erat ke dadanya.

"Sarapan, nak, sarapan! Bangun dari pingsanmu! Keberuntungan telah datang lagi. Kita diselamatkan dari kelaparan!"

Tak lama kemudian, makanan panas yang mengepul sudah siap, dan kita mungkin bisa membayangkan bagaimana wanita tua dan putranya yang memuji Whitehead, mengisi piring binatang itu dengan makanan yang enak dan lezat, tetapi tidak pernah sepatah kata pun mereka mengatakan tentang anjing yang setia, yang tetap berada di luar mengendus aroma makanan yang harum dan menunggu dengan heran, karena selama ini kucing yang berseni tidak mengatakan apa-apa tentang bagian Blackfoot dalam menyelamatkan kumbang emas itu.

Akhirnya, ketika sarapan selesai, sang kucing atau Whitehead menyelinap pergi melompat keluar melalui lubang di jendela.

"Oh, Kakakku terkasih," dia mulai tertawa, "kamu seharusnya berada di dalam untuk melihat pesta apa yang mereka berikan kepadaku! Nyonya sangat senang saat aku mengembalikan harta bendanya sehingga dia memberikanku makanan yang enak dan lezat, namun dia tidak mengatakan cukup banyak hal-hal baik tentangmu. Sayang sekali, anjing tua, kamu pasti lapar yah. Kamu sebaiknya pergi ke jalan dan berburu tulang. "

Tergila-gila oleh pengkhianatan yang memalukan dari temannya, sang anjing yang marah itu melompat ke atas kucing dan dalam beberapa detik telah mengguncangnya sampai mati.

"Matilah kau yang telah melupakan seorang teman dan sudah kehilangan kehormatan," serunya sedih, ketika dia berdiri di atas tubuh temannya.

Kemudian, sang anjing bergegas keluar ke jalanan, ia menyatakan pengkhianatan Whitehead kepada anggota sukunya, sejak saat itu dan seterusnya sang anjing berperang melawan ras kucing.

Dan itulah sebabnya keturunan Blackfoot tua, baik di Cina atau di negara-negara besar Barat telah berperang terus-menerus terhadap anak-anak dan cucu-cucu Whitehead, karena ribuan generasi anjing telah melawan mereka dan membenci mereka dengan hebat dan kebenciannya menjadi abadi.

Sekian.

Cerita Sebelumnya : Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 3 - Dongeng Cina

Sumber: click disini
Share:

Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 3 - Dongeng Cina

courtesy of gutenberg.org
Dongeng Anak Dunia - Tetapi jika janda dan putranya sedih karena kehilangan makanan enak, kedua hewan peliharaan mereka pun juga merasakannya. Mereka direduksi menjadi pengemis dan harus keluar setiap hari ke jalan-jalan mencari tulang-tulang yang terbuang untuk anjing dan kucing nya.

Suatu hari, setelah periode kelaparan itu berlangsung selama beberapa waktu, Whitehead tiba-tiba mulai sibuk dengan kegembiraan yang luar biasa.

"Apa yang terjadi denganmu?" geram Blackfoot. "Apa kamu marah karena kelaparan atau apa kamu menangkap kutu baru?"

"Aku hanya memikirkan urusan kita dan sekarang aku tahu penyebab semua masalah kita."

"Apa kamu benar-benar tahu?" ejek Blackfoot.

"Ya, memang dan kamu sebaiknya berpikir dua kali sebelum mengejekku, karena aku memegang masa depanmu di kakiku, karena kamu akan segera melihatnya."

"Yah, kamu tidak perlu marah. Penemuan hebat apa yang telah kamu buat?, penemuan kalau setiap tikus punya satu ekor?"

"Pertama-tama, apa kamu bersedia membantu aku membawa keberuntungan itu kembali ke keluarga kita?"

"Tentu saja. Jangan konyol," bentak anjing itu, mengibas-ngibaskan ekornya dengan gembira sambil memikirkan makan malam yang enak lagi. "Tentunya! Pasti! Aku akan melakukan apa pun yang kamu suka jika itu akan membawa dewi fortuna kembali."

"Baiklah. Ini rencananya. Ada seorang pencuri di rumah ini yang telah mencuri kumbang emas nyonya kita. Kamu ingat semua makan malam besar kita yang datang dari panci? Nah, setiap hari aku melihat nyonya kita mengambil kumbang emas kecil keluar dari kotak hitam dan menaruhnya ke dalam panci. Suatu hari dia mengangkatnya di hadapanku sambil berkata, "Lihat, inilah yang membuat kebahagiaan kita. Apakah kamu berharap itu milikmu?" Kemudian dia tertawa dan memasukkannya kembali ke dalam kotak yang ada di lemari. "

"Benarkah itu?" tanya Blackfoot. "Kenapa kamu tidak mengatakan sesuatu tentang itu sebelumnya kepada ku?"

"Kau ingat, ketika Tuan dan Nyonya Chu ada di sini dan bagaimana Nyonya Chu kembali pada sore hari setelah tuan dan nyonya pergi ke pasar malam? Aku melihatnya dari ujung mataku, Nyonya Chu pergi ke tempat kotak hitam itu dan mengambil kumbang emas tersebut. Aku pikir dia hanya penasaran, tapi ternyata dia adalah seorang pencuri. Dia mengambil kumbang emas tersebut dan kalau tidak salah dia dan suaminya sekarang menikmati pesta-pesta yang menjadi miliknya."

"Ayo cakar mereka," geram Blackfoot, menggertakkan giginya.

"Itu tidak ada gunanya," nasihat yang lain, "karena nanti nya mereka pasti akan keluar dari rumah. Aku hanya ingin kumbang itu kembali. Aku akan membalas dendam kepada manusia itu. "

"Apa yang kamu sarankan?" kata Blackfoot.

"Ayo pergi ke rumah Chu dan kabur dengan membawa kumbang emas."

"Aduh, aku bukan kucing!" erang Blackfoot. "Jika kita pergi ke sana, aku tidak bisa masuk, karena pencuri selalu menjaga gerbang mereka terkunci dengan baik. Jika aku seperti kamu, aku bisa memanjat tembok. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku iri pada seekor kucing."

"Kita akan pergi bersama," lanjut Whitehead. "Aku akan naik di punggungmu, ketika kita mengarungi sungai dan kamu bisa melindungiku dari binatang aneh. Ketika kita sampai di rumah Chu, aku akan memanjat tembok dan mengatur sisa rencana sendiri. Hanya kamu yang harus menunggu di luar untuk membantu saya pulang dengan membawa kumbang. "

Tidak butuh waktu lama, Para sahabat kucing dan anjung berangkat malam itu untuk petualangan mereka. Mereka menyeberangi sungai seperti yang disarankan kucing, dan Blackfoot berenang mengarungi sungai, sementara kucing tidak terkena setetes air di wajahnya. Akhirnya, mereka telah sampai di rumah Chu tepat tengah malam.

"Tunggu saja sampai aku kembali," Whitehead berbisik di telinga Blackfoot.

Dengan kaki yang kuat, dia sang kucing mencapai puncak tembok dan kemudian melompat ke pelataran dalam rumah Chu. Sementara dia beristirahat di bawah bayang-bayang malam, mencoba mencari cara bagaimana mengerjakan pekerjaannya, gemerisik sedikit menarik perhatiannya dan muncul! satu pegas raksasa, satu bentangan cakar, dan dia menangkap seekor tikus yang baru saja keluar dari lubangnya untuk minum dan berjalan tengah malam.

Sekarang, Whitehead sangat lapar sehingga akan membuat pekerjaannya terhambat. Namun, saat kucing Whitehead ingin memakan si tikus tersebut dengan takjub sang tikus mulai berbicara dengan dialek kucing yang baik.

"Berdoalah, kucing yang baik, jangan terlalu cepat memakanku dengan gigimu yang tajam itu! berhati-hatilah dengan cakarmu! Aku berjanji untuk tidak melarikan diri."

"Pooh! Kehormatan apa yang dimiliki tikus?"

"Sebagian besar dari kami belum banyak, keluargaku dibesarkan di bawah atap Konfusius dan di sana kami mengambil begitu banyak remah-remah untuk kami makan. Kalau kamu menginginkan aku, aku akan menaatimu seumur hidupku dan akan menjadi budakmu yang rendah hati. " Kemudian, dengan brengsek cepat, sang tikus membebaskan dirinya sendiri, "Lihat aku bebas sekarang, karena cengkramanmu mulai longgar, dan karena itu aku tidak usah berusaha lagi untuk melarikan diri."

"Sangat bagus," Whitehead mendengkur, bulunya berderak berisik, dan mulutnya berair ingin mencicipi steak tikus. "Namun, aku akan mengujimu. Pertama, jawab beberapa pertanyaanku dan aku akan melihat apakah kamu orang yang jujur. Makanan seperti apa yang dimakan tuanmu sekarang, sampai-sampai kamu menjadi bulat dan gemuk tidak seperti aku yang saat ini mulai kurus? "

"Oh, malam ini kita diberikan keberuntungan. Tuan dan nyonya memakan makanan yang enak dan lezat malam ini, dan tentu saja kita akan mendapatkan remah-remah atau sisa-sisa makanan itu."

"Tapi rumah ini sangat berantakan. Bagaimana mereka bisa makan sebanyak itu?"

"Itu rahasia besar, tetapi karena aku harus mengatakannya kepadamu, jadi begini. Nyonyaku baru saja memperoleh sesuatu, benda ajaib"

"Dia mencurinya dari tempat kami," desis si kucing, "Aku akan mencungkil matanya jika aku mendapatkan kesempatan. Kenapa, kita sudah cukup kelaparan karena kekurangan makanan dan kumbang itu di ambil olehnya. Dia mencurinya dari kami tepat setelah Nyonya Wang dan anaknya pergi ke pasar malam. Apa pendapatmu tentang kehormatan itu, Sir Rat? Apakah nenek moyangmu adalah orang bijak? "

Cerita Selanjutnya : Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 4 - Dongeng Cina
Cerita Sebelumnya : Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 2 - Dongeng Cina

Sumber: click disini
Share:

Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 2 - Dongeng Cina

courtesy of gutenberg.org
Dongeng Anak Dunia - Ming-li tidak perlu menunggu lama. Dalam sekejap mata dia mendengar ibunya menangis,

"Duduklah di meja Nak dan makan kue ini saat masih hangat."

Bisakah dia mendengar dengan benar? Apakah telinganya menipu dia? Tidak, di atas meja ada sepiring besar penuh pangsit babi lezat yang dia sukai dan rasanyapun lebih baik daripada apa pun di seluruh dunia, kecuali, tentu saja, ibunya.

"Makan dan jangan bertanya," kata sang janda Wang. "Ketika kamu kenyang, Ibu akan menceritakan semuanya padamu."

Saran bijak! Segera sumpit Ming-li itu berkelap-kelip seperti bintang kecil di langit malam. Dia makan dengan penuh bahagia, sementara ibunya yang baik memperhatikannya, hatinya dipenuhi sukacita saat akhirnya bisa memuaskan rasa lapar. Tapi tetap saja wanita tua itu tidak bisa menunggu sampai dia selesai, dia sangat ingin menceritakan kepada anaknya tentang rahasia yang luar biasa ini.

"Ini, Nak!" akhirnya dia menangis, ketika dia mulai berhenti di antara suap, "lihat harta karunku!" Dan dia mengulurkan padanya kumbang emas.

"Pertama-tama beri tahu aku peri peri kaya mana yang mengisi tangan kita dengan perak?"

"Itulah yang ingin kukatakan padamu," dia tertawa, "karena ada peri di sini, di siang ini, hanya saja dia berpakaian seperti pendeta botak. Kumbang emas itu yang dia berikan pada Ibu, dan dengan itu datanglah sebuah rahasia bernilai ribuan uang kepada kita."

Pemuda itu meraba-raba perhiasan itu dengan santai, masih meragukan akal sehatnya, dan menunggu dengan tidak sabar untuk rahasia makan malamnya yang lezat. "Tapi ibu, apa hubungannya kuningan ini dengan pangsit, pangsit babi yang enak ini dan yang terbaik yang pernah aku makan?"

Dia kemudian mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi, dan diakhiri dengan meletakkan semua pangsit yang tersisa di lantai untuk Blackfoot dan Whitehead, sesuatu yang belum pernah dilihat putranya, karena mereka sangat miskin dan harus menyelamatkan setiap memo untuk makanan berikutnya.

Sekarang kebahagian yang sempurna telah didapatkan. Ibu, anak, anjing, dan kucing semuanya menikmati isi hati mereka. Segala macam makanan baru seperti yang belum pernah mereka rasakan yang keluar dari pot oleh kumbang kecil yang cantik. Sup sarang burung, sirip ikan hiu, dan seratus makanan lezat lainnya adalah milik mereka, dan segera Ming-li mendapatkan kembali seluruh kekuatannya, tetapi aku khawatir, pada saat yang sama menjadi agak malas, karena baginya tidak perlu lagi bekerja. Adapun dua hewan mereka menjadi gemuk dan ramping dan rambut mereka tumbuh panjang dan berkilau.

Suatu hari Tuan dan Nyonya Chu datang dari desa yang jauh. Mereka sangat takjub melihat gaya tinggi tempat tinggal orang-orang Wangs. Mereka mengharapkan makanan dan pulang dengan perut kenyang.

"Ini makanan terbaik yang pernah Aku makan," kata Tuan Chu, ketika mereka memasuki rumah mereka sendiri yang berantakan.

"Ya, dan aku tahu dari mana asalnya," seru istrinya. "Aku melihat Janda Wang mengambil ornamen emas kecil dari pot dan menyembunyikannya di lemari. Pasti semacam benda ajaib, karena aku mendengar dia bergumam tentang babi dan kue ketika dia sedang menyalakan api."

"Mantra, eh? Kenapa orang lain memiliki semua keberuntungan? Sepertinya kita ditakdirkan selamanya untuk menjadi miskin."

"Mengapa tidak meminjam benda ajaib Nyonya Wang untuk selama beberapa hari sampai kita dapat mengambil sedikit daging untuk mengisi perut kita? Tentu saja, kita akan mengembalikannya cepat atau lambat."

"Tidak diragukan lagi, mereka akan selalu mengawasi dengan ketat. Kapan kamu tau mereka keluar rumah, sekarang mereka tidak perlu bekerja lagi? Karena rumah mereka hanya berisi satu kamar yang tidak lebih besar dari kita, maka itu akan sulit bagi kita untuk mengambil benda tersebut."

"Keberuntungan pasti bersama kita," seru Nyonya Chu. "Mereka akan pergi hari ini ke pekan raya Kuil. Saat mereka sudah pergi, Aku akan mengambil benda tersebut dari kotak yang disembunyikannya."

"Apa kamu tidak takut dengan Blackfoot?"

"Pooh! Dia sangat gemuk, jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain berguling-guling. Jika janda itu tiba-tiba kembali, aku akan memberitahunya bahwa aku datang untuk mencari jepit rambutku yang hilang ketika aku sedang makan malam."

"Baiklah silakan, hanya saja kita harus ingat bahwa kita meminjam barang itu, bukan mencuri, karena orang-orang Korea selalu berteman baik dengan kita, dan kemudian, kita juga baru saja makan malam dengan mereka."

Begitu terampilnya wanita licik tersebut dalam melaksanakan rencananya sehingga dalam waktu satu jam saja dia sudah kembali ke rumahnya sendiri dengan gembiranya menunjukkan benda ajaib itu kepada suaminya. Tidak ada seorang pun yang melihatnya memasuki rumah Wang. Anjing milik Wang pun tidak bersuara dan kucingnya pun hanya melongo saat melihat orang asing masuk ke dalam rumah Wang dan tidur lagi di lantai.

Saat Wang sang janda kembali ke rumahnya, dia berharap dapat makan malam yang enak dan lezat. Namun, alngkah terkejutnya dia saat ingin mengambil kumbang emas yang disembunyikannya ternyata tidak ada dan hilang. Sang janda masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, dia berkali-kali membuka kotak kecil namun tetap saja kosong, dengan hati-hati Wang dan anaknya yang malang itu mencari-cari kumbang yang hilang.

Kemudian datanglah hari-hari kelaparan yang semakin sulit ditanggung semenjak makan makanan enak dan banyak. Oh, kalau saja mereka tidak terbiasa dengan benda-benda seperti itu! Betapa sulitnya untuk kembali ke pekerjaan memo dan kerokan!

Cerita Selanjutnya : Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 3 - Dongeng Cina
Cerita Sebelumnya : Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 1 - Dongeng Cina

Sumber: click disini
Share:

Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 1 - Dongeng Cina

courtesy of gutenberg.org
Dongeng Anak Dunia - "Besok kita mau makan apa?, Ibu tidak tahu sama sekali!" Kata sang Janda Wang kepada putra sulungnya, saat dia mulai mencari pekerjaan.

"Oh, Aku akan menemukan beberapa tembaga di suatu tempat, para dewa akan menyediakannya" jawab anak itu mencoba berbicara dengan riang, meskipun di dalam hatinya dia juga tidak tahu sama sekali ke arah mana harus pergi.

Musim dingin adalah musim yang sangat sulit karena sangat dingin, salju tebal, dan angin kencang. Rumah Wang sudah rusak parah. Atapnya sudah berjatuhan karena terbebani oleh salju yang tebal. Kemudian angin topan menghantam dinding rumahnya dan Ming-li putranya terjaga sepanjang malam dan karena angin yang sangat dingin, dia terserang radang paru-paru. Sepanjang hari dia merasakan sakit dan sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli obat-obatan. Semua tabungan mereka sudah mulai habis dan di toko tempat Ming-li bekerjapun sudah diisi oleh orang lain. Ketika akhirnya dia bangkit dari ranjang sakitnya, namun dia terlalu lemah untuk bekerja keras dan sepertinya tidak ada pekerjaan di desa-desa tetangga yang dapat dilakukannya.

Hari demi hari dia lalui dengan berusaha untuk tidak berkecil hati, tetapi dalam hatinya merasakan kepedihan mendalam yang menimpa putranya yang baik dan melihat ibunya menderita karena kekurangan makanan dan pakaian.

"Berkatilah hatinya yang baik!" kata sang janda Wang malang setelah dia pergi. "Tidak ada ibu yang memiliki anak laki-laki yang lebih baik. Kuharap dia benar dengan mengatakan para dewa akan menyediakan. Sudah beberapa minggu ini tampaknya sekarang perutku sudah kosong seperti otak orang kaya. Bahkan tikuspun telah meninggalkan pondok kami dan tidak ada yang tersisa untuk Tabby yang malang, sementara Blackfoot tua hampir mati karena kelaparan."

Ketika wanita tua itu merujuk pada kesedihan karena hewan peliharaannya, ucapannya dijawab oleh terong yang menyedihkan dan suara gonggongan yang menggonggong dari sudut tempat dua makhluk meringkuk bersama-sama berusaha untuk tetap hangat.

Saat itu ada ketukan keras di pintu gerbang. Ketika sang janda Wang berseru, "Masuk!" dia terkejut melihat seorang imam botak berkepala tua berdiri di ambang pintu. "Maaf, tapi kami tidak punya apa-apa," lanjutnya, karena merasa yakin bahwa pengunjung yang datang untuk mencari makanan. "Kami telah memakan sisa-sisa makanan selama dua minggu ini dan sekarang kami hidup dengan ingatan tentang apa yang kami miliki ketika ayah anak saya hidup. Kucing kami sangat gemuk sehingga dia tidak bisa memanjat ke atap. Sekarang lihat dia, Kamu hampir tidak bisa melihatnya, dia sangat kurus. Maaf kami tidak bisa membantumu teman pendeta, tetapi kamu lihat bagaimana keadaannya."

"Aku datang tidak mencari makanan," kata orang tersebut sambil memandangnya dengan ramah, "tetapi Aku hanya melihat lihat apa yang dapat kulakukan untuk membantumu. Para dewa telah mendengarkan doa-doa anakmu yang berbakti. Mereka menghormati anakmu karena dia tidak menunggu sampai kamu mati berkorban untukmu. Mereka telah melihat betapa setianya dia yang telah melayanimu sejak sakit dan sekarang, ketika dia lelah dan tidak dapat bekerja, mereka memutuskan untuk memberikan hadiah sebagai tanda kebajikan. Kamu juga telah menjadi ibu yang baik dan akan menerima hadiah yang sekarang Aku bawa."

"Maksud kamu apa?" Wang tersendat, hampir-hampir tidak mempercayai telinganya saat mendengar seorang pendeta berbicara tentang melimpahkan belas kasihan. "Apakah kamu datang ke sini untuk menertawakan kemalangan kami?"

"Sama sekali tidak. Di sini, di tanganku aku memegang kumbang emas kecil yang memiliki kekuatan sihir yang lebih besar daripada yang pernah kamu impikan. Aku akan meninggalkan benda berharga ini bersamamu, hadiah dari dewa perilaku berbakti."

"Ya, itu akan dijual dengan harga yang bagus," gumam yang lain, sambil mengamati perhiasan itu dengan seksama, "dan akan memberi kita millet selama beberapa hari. Terima kasih pastor yang baik atas kebaikanmu."

"Tapi kamu tidak boleh menjual kumbang emas ini, karena ia memiliki kekuatan untuk mengisi perutmu selama kamu hidup."

Janda itu menatap heran dengan mulutnya yang terbuka atas kata-kata mengejutkan pastor itu.

"Ya, kamu jangan meragukan aku, tapi dengarkan baik-baik apa yang aku katakan. Setiap kali kamu ingin makanan, kamu hanya perlu menempatkan kumbang emas ini dalam ketel air yang mendidih sambil berulang kali menyebutkan nama-nama apa saja yang ingin kamu makan dan dalam tiga menit lepaskan tutupnya, kemudian akan ada makanan sesuai yang kamu sebutkan dan lebih enak daripada makanan apa pun yang pernah kamu makan. "

"Bolehkah aku mencobanya sekarang?" dia bertanya dengan penuh semangat.

"Segera setelah aku pergi."

Ketika pintu ditutup, wanita tua itu dengan segera menyalakan api, merebus air, dan kemudian menjatuhkan kumbang emas sambil mengulangi kata-kata ini berulang-ulang:

"Pangsit, kue, datang kepadaku,

Saya kurus setipis mungkin.

Pangsit, kue, merokok panas,

Pangsit, pangsit, isi panci. "

Apakah tiga menit itu tidak akan pernah berlalu? Mungkinkah imam mengatakan yang sebenarnya? Sang janda tersebut senang dan gembira ketika ada uap yang keluar dari ketel. Ketika tutup ketel dibuka terdapat pot yang penuh dengan pangsit daging babi, pangsit terbaik dan paling lezat yang pernah dia rasakan. Dia makan sampai tidak ada ruang tersisa di perutnya dan kemudian dia berpesta dengan kucing dan anjing nya sampai mereka kenyang.

"Nasib baik akhirnya tiba," bisik Blackfoot, si anjing kepada Whitehead si kucing, ketika mereka berbaring untuk berjemur di luar sambil berkata. "Aku khawatir aku tidak bisa bertahan seminggu lagi tanpa keluar untuk mencari makanan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tidak ada gunanya mempertanyakan hal ini kepada para dewa."

Ny. Wang menari dengan gembira karena memikirkan kembalinya putranya dan bagaimana ia akan merayakannya.

"Bocah malang, betapa terkejutnya dia akan pada kekayaan kita dan itu semua karena kebaikannya kepada ibunya yang dulu."

Ketika Ming-li datang dengan awan gelap menutupi alisnya, janda itu melihat dengan jelas bahwa kekecewaan tertulis di sana.

"Ayo, ayo, Nak!" dia menangis riang, "bersihkan wajahmu dan tersenyumlah, karena para dewa telah baik kepada kita dan aku akan segera menunjukkan kepadamu betapa kaya baktimu yang telah dihargai." Karena itu, dia menjatuhkan kumbang emas ke dalam air mendidih dan mengaduknya.

Mang-li mengira ibunya menjadi sangat gila karena kekurangan makanan, Ming-li menatapnya dengan sungguh-sungguh. Apa pun dia sukai daripada penderitaan ini. Haruskah dia menjual pakaian luar terakhirnya dengan beberapa sen dan membeli millet untuknya? Blackfoot menjilat tangannya dengan nyaman, seolah berkata, "Bergembiralah tuan, keberuntungan telah berpihak pada kita." Whitehead melompat ke atas bangku, mendengkur seperti gergaji kayu.

Cerita Selanjutnya : Kumbang Emas, Anjing dan Kucing 2 - Dongeng Cina

Sumber: click disini
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...