Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Tuesday, March 8, 2016

Sang Keledai, Sang Ayam Jago, Sang Singa - Dongeng Yunani

Courtesy of google images
dongeng anak dunia - Kukuruyuuuk! kukuruyuuuk! begitulah bunyi sang jago pagi itu membangunkan seluruh isi kampung dipeternakan bapak tani. Satu kali lompatan saja sang ayam jago sudah bertengger dipalang kayu dalam lumbung.

Tatkala seekor keledai masuk kedalam lumbung mencari jatah makan yang biasa sudah disiapkan sang bapak tani, jerami yang enak makanan kesukaan sang keledai.

"Aku harus makan dulu biar ada tenaga yang cukup, sebab sebentar lagi pekerjaan sudah menantinya!" serunya dalam hati sang keledai lalu asyik dengan kegiatan makannya tanpa menghiraukan kekiri dan kekanannya. Namun pagi buta itu bukan saja sang ayam jago, sang keledaipun telah bangun.

Jauh dari dalam hutan juga seekor singa telah bangun dan menjadi tamu besar yang tidak diundang telah berada di lumbung bapak tani. Dialah sang raja hutan yang datang mengendap-ngedap dari belakang lumbung dan melihat makanan empuk telah tersaji didepan matanya.

Sang keledai masih asyik saja dengan acara makannya tidak tahu bahaya yang mengancam telah siap mencabik-cabik dagingnya dari belakang badannya.

Sang raja telah siap mengambil sikap dengan ancang-ancang sekali lompat mangsanya akan dapat diterkam dan dilumpuhkan. Namun secara tiba-tiba sang ayam jago yang sedari tadi memperhatikan gerakkan sang raja hutan berkokok dengan sangat kerasnya.

Kukuruyuuuuk! kukuruyuuuuk ! teriaknya sangat mengagetkan sang raja hutan.

Sang raja hutan balik badan terus melompat pergi dari tempat itu, rasa kaget yang bukan kepalang membuatnya membatalkan niatnya untuk makan pagi. Sang raja hutan singa kembali berlari kearah tadi dia datang.

Sang keledai sangat kaget melihat singa yang berlari ketakutan oleh suara kokok ayam sampai melompat dan berlari-lari karena takutnya.

"Heehee!hee-hee!" keledai meringkik tertawa terbahak-bahak, "singa, baru dengan suara ayam jago saja sudah takut setengah mati."

Maka timbullah semangat dan keberanian sang keledai, "ayam jago saja berani mengapa aku takut" pikirnya, dia berlari mengejar sang singa sambil berteriak memanggil-manggil.

"Hai tunggu singa, singa penakut! akan aku hajar kamu biar kapok dan tidak berani lagi datang kemari!" teriak sang keledai.

Sang keledai berlari sangat cepat karena didorong semangat yang mengebu-gebu terang saja sang raja hutan dengan sekejap telah berada dekat dibelakangnya.

Sang raja hutan singa pun membalikkan badannya dan langsung menerkam sang keledai yang tidak tahu diri, mengantar nyawanya menjadi santapan makan pagi yang sangat lezat.

Ukurlah segala kemampuan dan kekuatan yang kita miliki jangan sampai menjadi petaka. Percaya diri boleh-boleh saja tapi jangan dipaksakan. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Orang Tua, Siapkah Saya?
- Korea Utara Kembali Ancam Lakukan Serangan Nuklir Ke AS
Share:

Sunday, March 6, 2016

Wanita Tua dan Sang Tabib - Dongeng Yunani

Courtesy of dyvlingzzzz.blogspot.com
dongeng anak dunia - Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang wanita tua yang hidup sebatang kara tanpa ada sanak famili atau saudara yang menemani beliau dihari tuanya. Tinggal sendiri didalam rumah tuanya namun rumah itu begitu resik dan tertata rapih, pada suatau hari ada kejadian yang membuat kedua matanya tidak bisa melihat.

Sungguh malang nasib yang menimpa wanita tua ini dengan penyakit tersebut, sang tetangga sebelah rumahnya menengok dan berusaha menolong nenek tua ini dengan memanggilkan sang tabib.

Keesokkan harinya sang tetangga membawakan tabib yang telah dijanjikan, sang tabib memeriksa keadaan sang wanita tua.

"Baiklah saya sanggup mengobati penyakit nyonya!" katanya. "Dan saya akan berusaha sekuat tenaga saya, juga pikiran saya untuk menyembuhkan penyakit yang nyonya derita!"

Sang wanita tua sangat bahagia mendengar perkataan sang tabib yang sanggup menyembuhkan penyakit matanya.

"Bagaimana nanti saya akan berterima kasih kepadamu?" sang wanita tua bertanya.

"Begini saja nyonya! bilamana nanti penyakit yang nyonya derita sembuh nyonya harus membayarkan uang, namun apabila nanti penyakit nyonya tidak sembuh juga, nyonya tidak perlu membayar saya sepeser pun!" berkata sang tabib kala itu.

Persetujuan pun dibuat antara sang tabib dan wanita tua itu serta sang tetangga sebelah rumah si nenek, menjadi saksi saat itu.

Akhirnya setiap hari sang tabib selalu berkunjung kerumah sinenek untuk mengobati penyakit matanya. Namun apa yang terjadi dengan rumah yang hanya ditinggali sang wanita tua yang kebetulan lagi sakit dan tidak bisa melihat. Sitabib malahan menggunakan kesempatan ini untuk mencuri barang-barang yang berada dirumah si wanita tua tersebut.

Sang tabib ternyata punya kebiasaan buruk untuk mengambil barang orang lain alias mencuri, setiap hari tatkala habis mengobati sang nenek sang tabib akan membawa barang berharga yang ada di rumah tersebut.

Dari hari ke hari barang yang ada dirumah tersebut dicurinya, yang pada akhirnya habis juga barang dirumah sang wanita tua, sudah tidak tersisa lagi satu pun.

Sang tibib melihat semua barang siwanita tua sudah tidak tersisa, akhirnya segera menyembuhkan penyakit mata tersebut.

Sang wanita tua pun sangat bahgia matanya kembali bisa melihat, namun rasa bahagia itu segera berganti dengan wajah yang muram setelah tahu semua barang yang ada dirumahnya telah lenyap tak berbekas.

Barang miliknya yang berharga telah raib digondol maling yang tega mencuri dirumah nenek-nenek tua yang hidup sebatang kara.

Sang tabib menagih janji sang nyonya yang telah berjanji akan membayarkan uang ketika matanya sembuh, namun sang nenek menolak untuk membayarkan uang.

"Saya bisa membayar pakai apa?, Sementara semua barang-barang berharga saya saja sudah tidak ada!" sang nenek menolak membayar.

Sang tabib marah mendengar ucapan sang nyonya yang tidak mau membayar, akhirnya sang tabib membawa masalah ini kemeja hijau, kemudian sang wanita tua yang malang ini pun diseret kepengadilan setempat.

Saat di pengadilan sang wanita tua berkata dengan jelas didepan muka sidang, "Yang mulia benar sekali apa yang dikatakan lelaki ini yang mengaku-ngaku tabib dan telah mengobati mata saya sehingga sembuh!" sang wanita tua berkata kepada sidang pengadilan.

"Dalam perjanjian sudah jelas jika saya dapat melihat saya akan membayar uang yang telah saya sepakati tetapi jika saya tidak bisa melihat maka saya tidak usah membayar uang sepeser pun!"

"Tabib itu bilang kepada saya bahwa mata saya sudah bisa melihat," tangannya menunjuk sang tabib, "dan kedua bola mata saya sudah dapat melihat kembali dengan normal, namun semua itu tidak benar, serta saya tidak akan membayar uang sepeser pun kepadanya," berkata wanita tua.

"Itu tidak sesuai dengan perjanjian antara ibu dan bapak tabib," sahut hakim.

"Begini yang terjadi sebenarnya, ketika saya masih bisa melihat dan mata saya normal saya melihat perabotan di rumah saya penuh dan banyak barang berharga, terus mata saya sakit dan saya tidak bisa melihat apa pun, terus sekarang saya sembuh, tetapi mengapa saya tidak bisa melihat barang-barang berharga yang ada dirumah saya!"

Dengan demikian tuan hakim pun pasti mengerti dengan ucapan pembelaan sang wanita tua selama sidang ini berlangsung.

Sang hakim sidang terhomat sangat-sangat mengerti atas pembelaan sang wanita tua, sang hakim hanya tersenyum dan melihat sang tabib yang mukanya memerah bagaikan tembaga.

Maka pergunakanlah kepintaran dan kecerdikanmu untuk melawan kecurangan dan kejahatan orang lain. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Rencana Kerja, Bagaimana Akan Membantu Karir Anda?
- Netanyahu Meneruskan Rencana "Tembok Barat" Meskipun Ada Oposisi
Share:

Sang Pencuri dan Pemilik Penginapan - Dongeng Yunani

Courtesy of www.tobasatu.com
dongeng anak dunia - Walaupun tanpa uang sepeserpun didalam kantong celananya, sang pencuri memutuskan untuk menginap disebuah penginapan yang ada dikota kecil tersebut.


Masuklah sang pencuri itu kedalam penginapan dan memesan kamar serta hidangan makan malam.


"Mungkin dengan perut yang telah terisi makanan aku akan dapat tidur dan besok aku akan berpikir tenang mengatur rencana selanjutnya." Berkata dalam hati sang pencuri.


Besok paginya sang pencuri berkeliling melihat-lihat barang-barang mahal yang akan dicurinya, namun tidak ada barang yang pantas untuk dicuri ditempat penginapan ini.


Namun sang pencuri masih tetap menunggu beberapa hari lagi, "mungkin belum ada rejeki yang datang kepadaku ditempat penginapan ini." Kata sang pencuri dalam hati.


Sang pencuri sudah hampir tiga hari berada dipenginapan, dia sudah siap kabur meninggalkan tempat tersebut, tidak ada harapan akan mendapatkan barang berharga untuk dijual ditempat ini.
Namun mendadak matanya melotot jelalatan kepada seseorang yang sedang duduk dikursi tempat orang-orang santai minum-minum atau kedai minuman yang ada dilingkungan penginapan.


Ternyata mata itu tertuju kepada jaket mantel bulu cerpelai bukan kepada pemiliknya yang sedang memakainya, sungguh mantel yang bagus dan harganya sangat mahal kala itu.


Sejenak sang pencuri berpikir cara apa yang sekiranya dapat mendapatkan dengan mudah mantel cerpelai itu.


"Baiklah," senyuman terukir dikedua bibirnya!, "aku akan dapatkan dengan mudah sekali", pikirnya dan senyum itu terus menghiasi bibir sang pencuri tatkala dia menghampiri orang tersebut.


"Semalat sore, sore yang indah tuan!" sapa sang pencuri kepada tuan bermantel mahal.


"Oh, selamat sore kembali!" seru tuan bermantel mahal.


"Apakah tuan tamu dipenginapan ini?" sang pencuri membuka obrolan kepada tuan bermantel mahal.


"Bukan saya pemilik penginapan ini," tukas tuan bermantel mahal. "Apakah anda tamu dipenginapan saya?" tanya tuan bermantel mahal.


Akhirnya perbincangan berlarut-larut apa saja dibicarakan ngalor-ngidul mereka berdua membicarakan pengalaman masing-masing.


Walaupun yang dibicarakan sang pencuri adalah pengalaman karangan saja hanya untuk memancing sang tuan pemilik penginapan tertarik dan jadi lupa dan tidak waspada akan maksud jahat dan tipu daya akal muslihat yang akan dilancakan sang pencuri.


Sampai pada suatu ketika sang pencuri menjalankan triknya. Sang pencuri tiba-tiba menggeram dengan geraman yang dibuat begitu menakutkan dan melolong dengan lolongan yang sangat panjang sekali.


"Apa yang terjadi denganmu? Hai tuan-tuan!" seru sang pemilik penginapan.


"Maafkan saya tadi tuan, lolongan itu selalu menggangguku setiap saat, baiklah akan aku ceritakan mengapa aku bersikap seperti itu, tapi tolonglah pegangi dulu ujung bajuku aku takut semua bajuku akan hancur dicabik-cabik cakar yang sangat tajam akan keluar setelah lolongan yang ketiga!"


"Penyakit apakah sebenarnya yang telah menimpamu tuan?" pemilik penginapan dibuat penasaran oleh tingkah laku sang pencuri.


"Aku sendiri tidak tahu persis apakah ini penyakit atau kutukkan karena dosa-dosaku yang sangat banyak yang jelas penyakit mengeram dan melolongku selalu terjadi mendadak ditandai lolongan pertama kedua dan ketiga saat aku akan berubah bentuk menjadi serigala besar!" terangnya kepada pemilik penginapan.


Mengeram lagi sang pencuri dan melolong lagi yang kedua ini sengaja dibikin lebih dahsyat dari yang pertama. Dan mengeram lagi, namun saat sang pencuri mau melolong untuk yang ketiga kalinya sang tuan pemilik penginapan langsung kabur dari tempat tersebut tidak perduli mantelnya ditaruh lepas dari badannya.


Sang tuan pemilik penginapan berlari kearah utara disusul dengan sang pencuri yang berlari kearah selatan dengan membawa mantel mahal, sengaja sang pencuri mengambil arah lari yang berbeda.


Semenjak kejadian tersebut sang pencuri hilang seperti ditelan bumi tidak pernah lagi datang kekota itu bersama mantel cerpelai milik sang tuan penginapan.


Janganlah kamu terlalu percaya kepada cerita, berita, apalagi kabar angin, belum tentu itu semua benar adanya. Sekian.


Wasalam.
oleh : mamang
Share:

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...