Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Thursday, March 17, 2016

Sang Anak Perempuan Pembantah - Dongeng Skotlandia

Courtesy of www.pendidikankarakter.com
dongeng anak dunia - Tersebutlah di sebuah kota kecil zaman dahulu, seorang ibu yang mempunyai anak perempuan satu-satunya yang selalu saja melawan segala nasihat yang di tuturkannya.

Dan hari itu pun sang anak bercerita kepada sang Ibunda tercinta, "saya pernah mendengar teman saya bercerita tentang seorang nenek-nenek yang mempunyai ilmu sihir yang sangat sakti, bu? Boleh kan saya bertemu dengannya sebab saya merasa penasaran bu." katanya.

Sang Ibu pun menjawab, "oh itu nak, janganlah kamu pergi dan mencarinya, sebab orang tua itu seorang penyihir yang sangat jahat terhadap siapa saja nak."

"Penyihir adalah seorang manusia biasa yang selalu memuja setan untuk mendapatkan ilmu kesaktiannya anakku, makanya aku melarangmu untuk mencarinya dan menemuinya, kamu bisa di buat celaka olehnya."

Sifatnya yang keras dan tidak pernah menurut kepada nasihat orang tuanya ini yang membawanya untuk diam-diam pergi mencari rumah sang penyihir tua yang letaknya ada di pinggiran hutan kota kecil tersebut.

Secara diam-diam dia pun pergi meninggalkan rumahnya, tatkala sang Ibunda tidak ada di rumah, dia pergi ke pinggir hutan mencari rumah sang penyihir tua.

Karena letaknya telah dapat di pastikan tidak lama kemudian dia pun sampai juga di sebuah rumah tua yang sangat tidak terurus sama sekali dan angker benar kelihatannya.

"Hai anak perempuan manis mengapa dengan wajahmu seperti tidak berdarah, pucat sekali?"

"Baru saja saya melihat sesuatau yang sangat menakutkan, nek!" serunya dengan seluruh badan yang bergetaran karena rasa takut yang mencekamnya.

"Memangnya kamu barusan melihat apa? Anak manis," sang nenek penyihir bertanya kembali.

"Saya melihat makhluk yang kulitnya berwarna hitam gelap sedang berjalan di tangga rumah nenek," ujarnya dengan muka yang sangat ketakutan menjawabnya.

"Tidak salah lagi itu adalah anjing hitam dari neraka," nenek-nenek tua penyihir itu berkata.

"Namun, saya bukan melihat yang makhluk hitam saja nek, tapi ada pula makhluk yang berwarna merah yang sungguh sangat menakutkan saya!" berseru kembali sang anak perempuan ini.

"Nah, kalau yang merah itu adalah makhluk penjagal dari neraka juga," menjawab lagi sang nenek penyihir itu.

"Tetapi dari semua makhluk yang ada di sini yang paling menakutkan sekali adalah, ketika saya tadi mengitip dari luar jendela, namun nenek tidak terlihat, yang terlihat adalah makhluk berkepalakan api nek," sang anak perempuan menjawab lagi dan kali ini terlihat sekali roman wajahnya yang sangat ketakutan sekali.

Lantas saja sang nenek tua itu tertawa terkekeh-kekeh sungguh seram sekali suara tawa tersebut. "Kamu telah melihat aku dalam wujud yang sebenarnya anak manis!" seram sekali kata-kata yang keluar dari mulut sang nenek penyihir ini.

"Akhirnya setelah sekian lama menunggu, datang juga apa yang aku tunggu selama ini, terimalah rasa hangat yang akan menjadi milikmu selamanya anak perempuan manis."

Lalu dibacakannya beberapa mantra-mantra dan sang anak pun berubah menjadi sebatang kayu balok yang sangat kering sekali dan kemudian balok itu pun di masukkan di perapian penghangat ruangan rumah tersebut.

Seluruh ruangan dimana sang nenek penyihir itu tinggal dan berada, rumah tersebut menjadi sangat hangat sekali, "belum pernah aku selama tinggal di sini merasakan hangat yang begitu sempurna dan enak sekali terasa di seluruh badan ini."

Sang anak perempuan kecil itu nasibnya hanya menjadi suluh dan bara di istana sang penyihir yang angker.

Maka turutilah segala nasihat dari orang tuamu sebab nasihat orang tuamu selalu benar adanya dan nasihat itu datangnya dari hati yang penuh kasih sayang serta cinta kasih terhadap anak-anaknya. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Resign Kerja, 10 tanda anda Harus Melakukannya
- Oposisi Suriah Serukan Bala Bantuan Untuk Pertahankan Qusayr
Share:

Putri Cermin Cina - Dongeng Indonesia

Courtesy of sumatfeet.wordpress.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala di daerah Jambi Sumatera, berdiri sebuah kerajaan yang di pimpin seorang Raja atau Sultan yang bernama Mambang Matahari, daerah kerajaan ini cukup makmur dan terkenal pula sampai ke manca negara.

Sang Sultan Raja mempunyai dua anak, yang satu lelaki yang dan satu lagi perempuan, pangeran yang lelaki bernama Pangeran Muda Selat serta yang perempuan bernama Putri Cermin Cina.

Kedua anak ini putra-putri mempunyai sifat yang berbeda, sang Pangeran berwajah tampan tetapi tingkahnya selalu ceroboh dan sang Putri berwajah Cantik dan mempunyai kulit putih bagaikan kebanyakkan orang Cina.

Hari itu sang Sultan akan kedatangan tamu besar yang akan datang untuk berdagang. Persiapan untuk menyambut kedatangan sang tamupun telah di persiapkan dengan matang.

Sang tamu ini bernama Tuan Muda Senaning yang datang dari negeri jauh di seberang lautan sana, di sambut langsung sang Prabu Mambang Matahari sebagai tamu negara.

Perjamuan makan telah di persiapkan seluruh pelayan kesultanan, meja-meja makan istana telah siap dengan hidangan makanan yang tersaji menyambut kedatangan sang tamu.

Dan ketika jamuan makan itulah sang Tuan Muda Senaning yang kaya raya, ingin berjumpa dengan sang Putri Cermin Cina yang cantik jelita.

Serta pada pandangan pertama itu mereka berdua telah jatuh cinta, terlihat benih-benih cinta yang tertanam di hati mereka berdua.

Sudut pandang kedua mata insan yang saling jatuh hati ini mencerminkan ada rasa saling ketertarik antara kedua-duanya, cinta pun tidak bertepuk sebelah tangan dan dayung pun bersambut.

Maka pada suatu kesempatan ketika kedua insan ini saling bertemu berpapasan di sudut istana kerajaan sang Tuan Muda Senaning
tidak membuang kesempatan ini, dengan sangat jantan dia berbicara kepada Sang Putri.

"Maaf Tuan Putri, saya mau bicara sebentar!" sapanya dengan sangat santun sekali. Dan tidak menunggu jawaban selanjutnya dari sang Putri Cermin Cina, sang Tuan Muda langsung saja berkata kembali.

"Begini! semenjak saya bertemu dengan anda {sang Tuan Putri}, terus terang saja saya telah tertarik terhadapmu! dan saya tidak dapat menahan rasa ini lagi, saya ungkapkan perasaan ini terhadap anda, sang putri. Dan saya berharap pada suatu saat nanti andalah yang akan menjadi pendamping hidup saya untuk selama-lamanya."

Sang Tuan Muda Senaning menunggu jawaban dari sang Tuan Putri cantik jelita Cermin Cina dengan hati sangat khawatir sekali takut ucapannya menyinggung perasaan hatinya.

"Baiklah Tuan Muda Senaning kalau anda ingin tahu jawaban dari semua ini dan memang anda mencintai saya sepenuh hati, tanyakan saja kepada ayahanda saya tercinta {sang Sultan Mambang Matahari}," katanya dengan gayanya yang sangat tenang dan yakin sekali.

"Namun apakah Tuan Putri juga mencintai saya?" katanya gugup sekali hatinya.

"Saya tidak bisa menjawab langsung Tuan, tetapi Tuan sendiri mungkin sudah punya jawaban sendiri dan tanyakan saja kepada diri tuan sendiri, apakah saya mencintai diri Tuan?" kata-katanya lembut sekali namun sangat tegas dan terdengar jelas sambil tersenyum manis sekali kepada sang Tuan Muda Senaning.

Sejak saat itu sang Tuan Muda Senaning mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan melamar Putri, dan segeralah menghadap Sang Prabu Mambang Matahari.

Lamaran pun di terima sang Raja dengan Senang hati, dan sejak saat itulah Tuan Muda telah menjadi bagian dari kerajaan tersebut.

Sang Tuan Muda Senaning adalah seorang saudagar yang sangat cerdik dalam melakukan usaha perdagangannya, dan harapan telah terkabul mendapatkan calon pendamping hidup sang Putri cantik.

Untuk langkah selanjutnya dalam usaha perdagangan dia telah mengatur pola usaha yang akan di tingkatkan sebab sekarang dia akan hidup berdua dan akan mempunyai tanggung jawab yang lebih untuk perjuangan hidup selanjutnya.

Atau kata lainnya sekarang harus hidup dengan lebih teratur karena akan menjadi seorang suami dan nanti akan menjadi seorang ayah yang akan dilahirkan anak-anaknya tersebut dari Sang Putri Cermin Cina istrinya kelak.

Sesuatu pemikiran jauh kedepan demi membahagiakan keluarganya yang akan di rintisnya sebentar lagi.

Dan Sang Prabu Mambang Matahari juga adalah seorang Raja yang sangat bijak dalam berpikir ke depannya mengenai negeri yang di pimpinnya ke depan kelak harus bagaimana.

Agar negeri tetap makmur dan seluruh rakyat selalu hidup dalam kecukupan tidak kurang sandang dan pangannya, sungguh pemikiran yang sangat bijak sekali.

Sering sekali beliau pergi ke manca negera untuk kepentingan negeri yang di pimpinnya, Seperti saat itu dia telah siap untuk kunjungan kenegaraan.

Sebelum pergi dia pun berpesan dulu kepada pangeran Muda Selat supaya menjaga sang adik perempuan satu-satunya untuk selalu di perhatikan atau di awasinya serta di jaganya.

"Jagalah adikmu itu jangan sampai ada sesuatu yang tidak diinginkan, nak!" katanya kepada pangeran Muda Selat.

Setelah sang Ayahanda pergi berlayar dalam urusan negerinya ke negeri seberang lautan atau negeri tetangganya. Pangeran Muda Selat mengajak Tuan Muda Senaning bermain di depan istana kerajaan.

Dia telah menganggap sang Tuan Muda Senaning sebagai abang iparnya yang akan menjadi bagian dari keluarganya. Namun permainan yang paling di gemari sang Pangeran Selat adalah permainan gasing.

Permainan seru itu sampai membuat lupa waktu dan asyik sekali rupanya, gelak tawa pun terus terukir dari ke dua bibir pemuda tampan itu, senang sekali rupanya hati mereka berdua.

Gelak tawa mereka membuat sang Adinda tercinta yang sedang berada dalam istana menjadi penasaran di buatnya, maka dilongokkan kepalanya keluar jendela istana. Apa yang menjadi bahan tertawaan kedua orang tersebut sehingga tertawa begitu girangnya sampai terbahak-bahak pikirnya.
 
Dan persis di waktu yang hampir bersamaan sang Pangeran Selat pun sedang melemparkan gasingnya dengan kekuatan tenaga tangannya dan gasing itu melayang dengan cepat.M aksudnya mau menghantam gasing Tuan Muda Senaning yang telah lebih dulu di lempar dan berputar-putar di tanah halaman istana, namun arah gasing tersebut melayang ke tempat lain di mana Sang Putri mengeluarkan kepalanya di jendela istana tak bisa terhindarkan lagi, gasing itu menghantam kepalanya tepat di tengah-tengah kepalanya.

Seketika itu pula Sang Putri Cermin Cina jatuh pingsan tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar mengucur deras dari kepalanya.

Tuan Muda Senaning dan Pangeran Muda Selat sangat kaget bukan kepalang melihat peristiwa yang terjadi begitu cepat di depan mata mereka berdua dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dan semua pelayan istana yang berada di tempat itu pun sangat kaget dan seperti tidak percaya dengan kejadian yang sedang berlangsung.

Kejadian yang tidak terduga sebelumnya ini membuat mereka terkaget-kaget, serentak keduanya berlari mendekat, dan tidak lama kemudian Sang Putri Cermin Cina pun sekarat di pangkuan sang buah hati tercinta Tuan Muda Senaning dengan bersimbah darah yang keluar dari luka besar di kepalanya.

Sekujur badannya telah kaku meninggalkan dunia fana ini kehabisan darah, dalam dekapan sang kekasih tercinta yang telah berjanji akan memperistrikannya dan akan hidup bahagia mengarungi bahtera rumah tangga.

Betapa terpukulnya sang Tuan Muda Senaning dengan kejadian yang begitu cepat terjadi ini, tidak ada hujan tidak ada angin tahu-tahu semua terjadi begitu cepat.

Tubuh dalam pangkuannya yang sudah tidak bernyawa itu di peluknya sangat erat sekali, air matanya keluar begitu sedih sekali.

Sesaat matanya menatap wajah cantik Sang Putri Cermin Cina lalu di kecupnya keningnya dan dengan gerakkan yang sangat hati-hati kepala sang Putri itu di turunkan dari pelukkannya.

Lalu sang Tuan Muda Senaning berdiri, matanya melihat-lihat ke pojok sudut istana, disana terdapat banyak senjata dalam rak senjata yang menjadi alat perang zaman itu.

Di ambilnya sebuah tombak yang ujungnya sangat tajam sekali, lalu tombak itu pun di tusukkan ke dalam perutnya, sambil berkata dengan nada bicara yang begitu putus asa, "kekasihku aku tidak mungkin bisa hidup tanpa dirimu disisiku."

Tombak itu masuk ke perut sampai dalam sekali dan badan itu pun akhirnya ambruk ke lantai, tidak lama kemudian sang Tuan Muda Senaning pun meninggal dunia.

Dia tidak tahan untuk hidup menderita di dunia ini tanpa kehadiran sang kekasih hatinya, maka di putuskan untuk menyusul Sang Putri Cermin Cina, dengan cara bunuh diri mengunakan sebuah tombak.

Kenyataan yang sedang terjadi di hadapan mata Sang Pangeran Muda Selat sangat membingungkan hatinya, akhirnya dia pun berteriak-teriak keras meminta pertolongan keluarga-keluarga istana kerajaan.

Seluruh keluarga istana yang berdatangan segera mengurus kedua jenazah anak muda remaja yang sedang jatuh cinta ini dan mereka belum sempat ke pelaminan mengikat kata sepakat menjadi suami istri.

Hari berikutnya upacara pengubaran dilaksanakan dengan suasana yang begitu haru menyelimuti keraton istana kerjaan. Dan berbarengan dengan upacara pemakaman itu Sang Sultan pun datang dari perjalanannya tentu saja baginda sangat murka sekali.

"Tempat ini tatkala peristiwa sedih ini terjadi, aku namakan kampung Selat," katanya dengan suara yang begitu menggelegar keras sekali karena marah sekali.

Dan Sang Prabu pun berlalu meninggalkan tempat itu dan tidak pernah kembali ke istana, hatinya terlalu sedih kalau mengingat kejadian yang menimpah anak Gadisnya yang sebentar lagi akan menikah dan seorang calon mantunya yang baik hati.

Dan Sang Sultan Mambang Matahari membangun sebuah istana yang megah di daerah kampung yang bernama Kampung Tengah Lubuk Ruso.

Dan istana tersebut letaknya berada antara dua tempat istana yang dulu atau kampung Selat dan tempat perahu layarnya bersandar atau pantai dermaga.

Demikianlah cerita legenda ini, telah menjadi cerita rakyat jambi dan cerita singkat itu dipercaya pernah terjadi nyata pada zaman dahulu kala. Sekian.

oleh : mamang
edit : galih
Advertising - Baca Juga :
- Konsultasi: Bagaimana Caranya Menolak Instruksi Yang Tepat dan Baik
- Polisi Turki Menahan Enam Orang Yang Merencanakan Menyerang Pengungsian Suriah
Share:

Sang Petani yang Baik Hati - Dongeng Jepang

Courtesy of dennyhartoyo01.blogspot.com
dongeng anak dunia - Zaman dahulu kala tersebutlah seorang Bapak Petani yang sangat miskin sekali, dia tinggal jauh di suatu desa terpencil. Hidup hanya sebatang kara tidak punya sanak keluarga yang tinggal bersamanya.

Musim dingin akan segera tiba, dia tidak mempunyai sedikit pun makanan serta kayu bakar yang dapat menghangatkan dirinya kala musim dingin itu datang.

Hari ini rencananya sang bapak petani tua itu akan berangkat pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan apa saja yang penting menghasilkan uang untuk membeli kebutuhan hidupnya selama musim dingin tiba.

Maka keluarlah sang bapak tua ini dari rumahnya yang hanya pantas di bilang sebuah gubuk tua yang memang sudah tidak layak untuk di tempatinya, namun mau kemana lagi dia pergi dan terpaksa dia tinggal di situ saja.

Baru saja berjalan beberapa langkah, dilihatnya sebutir telur yang tergeletak di atas jalan tanah yang sedikit bersalju.

Lalu sang bapak tua mengambil butir telur tersebut dan kembali lagi masuk kedalam rumahnya, di simpanlah telur itu di dalam kardus dan menyelimutinya dengan kain seadanya yang terdapat di rumahnya.

Selanjutnya sang bapak petani tua ini pun berlalu meninggalkan rumahnya melanjutkan perjalanannya pergi ke pasar mencari pekerjaan di sana.

Sepulang dari pasar, sang bapak tani memeriksa keadaan telur yang tadi pagi dia temukan, lalu mengganti bungkus telur dengan kain yang lain yang lebih tebal, agar telur tersebut tetap terjaga kehangatannya.

Telaten sekali sang bapak petani ini merawat telur itu dari hari ke hari sampai pada suatu saat telur itu pun menetas, terlihatlah kini anak burung yang baru menetas.

Ternyata telur itu adalah telur dari seekor burung camar yang terjatuh dari pelukkan sang induk ketika pergi ke selatan mencari daerah atau tempat yang lebih hangat.

Bapak petani tua ini sangat sayang sekali kepada anak burung camar itu setiap hari ketika dia mempunyai makanan tentu saja selalu berbagi dengannya.

Namun tidak akan selamanya dia bersama sang burung kesayangannya itu suatu saat nanti setelah besar dan dapat terbang jauh, tentu saja sang burung camar akan pergi kembali ke kelompok habitatnya.

Dengan perasaan sedih, sang bapak petani ini pun akhirnya melepaskan burung camar kesayangannya untuk pergi ke selatan mencari kelompoknya yang sudah duluan ada di sana, tempat yang hangat untuk kawin dan membesarkan anak-anak mereka.

Burung camar itu pun pergi terbang meninggalkan sang bapak petani tua yang terdiam sendirian terpaku menatap ke pergiannya.

Lama berselang setelah burung itu di lepaskan sang bapak petani, dia kini terkena sakit yang lumayan serius.

Badannya demam dan seluruh tenaganya hampir hilang, lemas sekali kondisi badan sang bapak petani ini, serta hari itu dia tidak memegang sedikit pun uang untuk membeli obat-obatan dan makanan.

Pikiran jauh menerawang kemana saja, "seandainya aku punya anak atau punya istri atau punya saudara atau kerabat pasti aku tidak akan sesusah ini."

"Tok, tok, tok,...," terdengar tiga kali ketukan di pintu depan rumahnya.

"Siapa!" pikirnya, sebab hampir selama ini rumahnya tidak pernah kedatang tamu yang berkunjung.

Mata dipelot-pelotkan setengah tidak percaya apa yang di lihatnya kini, sang burung camar itu datang lagi berkunjung ke rumahnya.

Burung camar itu pun masuk ke dalam rumahnya dan di paruhnya terjepit benih yang kemudian di letakkan sang burung itu di depan sang bapak petani.

Sang bapak petani mengambil air minum untuk burung camar ini dan memberinya minum sambil berkata, "musim dingin seperti sekarang ini tidak mungkin kita bisa menanam benih, camar," katanya.

"Sebab tidak akan mungkin tumbuh, dan benih apakah yang kamu bawa ini, camar?" tanyanya kepada burung camar yang tidak mungkin menjawab karena tidak bisa berbicara.

Benih yang tadi di taruh di depan tempat duduk bapak petani itu pun di ambilnya lagi dengan paruhnya dan sang burung keluar dari tempat itu lalu menggali tanah sampai berlubang dengan paruhnya.

Benih itu pun sudah masuk ke lubang yang di gali sang burung camar, tertanam di depan halaman rumah sang bapak petani, menjelang senja hari datang, sang burung camar pulang terbang kembali pergi meninggalkan sang bapak petani tua yang sedang sakit.

Diiring tatapan mata sang bapak petani tua, burung camar itu pergi terbang pulang kembali kesarangnya yang jauh entah di mana.

Tidak terasa malam pun telah berganti pagi, sang ayam jantan sudah terdengar berkokok-kokok bersautan, terdengar suara tersebut di kejauhan dari tempat tinggal rumah bapak petani tua.

Di musim dingin seperti ini sang mentari pagi di ufuk timur masih enggan untuk keluar dari peraduannya untuk menerangi belahan dunia tempat bapak petani tua itu tinggal.

Masih terhalang kabut tebal yang senantiasa berkumpul berduyun-duyun dan juga hujan salju yang mulai turun di musim itu.

Dengan sisa tenaganya sang bapak petani tua ini membuka pintu depan rumahnya mencari udara segar pagi hari, dan membiarkan udara pagi masuk menggantikan udara kotor yang telah semalaman berada di dalam rumahnya.

Dan apa yang terlihat di depan halaman rumah tuanya yang sudah jelek, terlihat sebuah pohon telah tumbuh di depan halaman.

"Mungkinkah ini benih yang ditanam burung camar kemarin sore dan telah tumbuh dan berbuah pula", pikirnya dalam hati.

Dihampirinya pohon tersebut dan karena lapar dari kemarin, tidak banyak pikir panjang di petik saja beberapa buah dan di makan masuk kedalam perut tanpa ragu, buah yang sudah ranum itu pun di telannya.

Rasanya sangat enak sekali di mulut sang bapak petani tua itu, dan yang lebih aneh lagi segala rasa sakit yang terasa di badannya telah hilang dengan sendirinya, kini dia mendadak sembuh dan tenaganya pulih kembali bahkan lebih kuat dan segar dari sebelumnya.

"Buah apakah yang barusan aku makan?" pikirnya, "membuatku kini merasa bersemangat kembali serta tidak loyo dan segala penyakit yang aku rasakan telah hilang begitu saja."

Akhirnya sang bapak petani tua itu menamakan buah tersebut dengan sebutan "Dewa" yang sangat manjur serta berkhasiat.

Dan ajaibnya pohon tersebut selalu berbuah setiap harinya serta banyak pula bisa untuk di jual oleh sang bapak petani tua.

Banyak sudah orang yang membeli buah dewa ini karena mempunyai khasiat yang sangat bagus buat kesehatan badan seseorang yang telah memakannya, tentu saja sekarang sang bapak petani tidak susah-payah lagi dalam mencari uang.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupannya sehari-hari, kini telah di dapat uang yang cukup banyak namun dia tetap saja tidak sombong dan selalu berbaik hati kepada siapa saja.

Banyak sudah orang yang mencari buah Dewa yang berkhasiat ini, sampai dari luar daerahnya dan mungkin dari tempat yang lebih jauh dari tempat tinggalnya.

Pertolongan yang tulus dengan niat baik dan bagus yaitu menolong tanpa pamrih, pasti suatu hari akan berbuah bagus dan baik pula yang akan mendatangi kehidupan siapa pun. Sekian.

oleh : mamang
edit : galih
Advertising - Baca Juga :
- Awet Ingat
- Inggris Akan Mengirim 1000 Tentara ke Libya Lawan Negara Islam?
Share:

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...