Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Friday, February 5, 2016

Sang Rubah Yang Kehilangan Ekor - Dongeng Inggris

Courtesy of pakluf.blogspot.com
dongeng anak dunia - Dikala siang yang cerah nan indah sekali hari itu. Terlihat dari kejauhan seekor rubah muda sedang asyik jalan-jalan kemanapun yang dia suka, dengan tanpa tujuan dia melangkahkan kakinya. Namun mungkin dia terlalu asyik dengan jalannya yang tidak hati-hati atau ini sudah menjadi nasibnya. Tiba-tiba, Trap! "Waduh sakit sekali rasanya ekorku terjepit sesuatu."

Ternyata ekor sang rubah itupun terjepit oleh sebuah perangkap besi yang sengaja dipasang pemburu kalau mau menjebak binatang-bintang dihutan tersebut. Sang rubah malang mencoba menarik ekornya tersebut dengan gerakkan yang lebih kuat. Tetapi, jebakkan malah semakin kuat. "Celakalah aku kali ini, karena tadi tidak hati-hati dalam melangkah!" pikirnya dalam hati dan menyesali perbuatannya yang tidak berhati-hati dalam bertindak.

Siang pun akan berganti sore dari kejauhan sang rubah malang mendengar suara ribut sang anjing pemburu yang bersautan.

Makin ciut saja hatinya kali ini, makin lama suara sang anjing semakin dekat saja terdengarnya.

"Aku harus mengambil keputusan sekarang, mati ditangan sang pemburu atau aku kehilangan ekor cantikku yang terjepit!"

Sang pemburu dan anjing-anjing itu semakin mendekat saja, mereka akan memeriksa perangkap tersebut mendapatkan hasil atau tidak.

Pilihan yang sangat menyakitkan sekali, kelihangan ekor cantiknya atau menjadi santapan lezat keluarga sang pemburu.

Sungguh suatu pilihan yang harus dipilihnya, walaupun sangat menyakitkan sekali, waktu semakin mendekat sekali kali ini.

Sang rubah malang itupun berguling-guling sambil menahan rasa sakit yang tidak begitu terhingga. Ditarik ekornya dari jebakkan besi itu supaya putus, dan putuslah sang ekor tertinggal didalam jebakkan sial itu.

Dengan darah yang menetes dari ujung ekor yang terluka itu sang rubah berlari dari tempat itu menghindar dari sang pemburu dan anjing-anjingnya.

Dia berlari mencari pemutus jejak, dan setelah bertemu dengan sebuah kali dia menyeberanginya serta mencuci lukanya memakai air kali tersebut. Sungai dapat menjadi pemutus jejak yang baik bagi pelacakkan sang anjing pemburu tat kala ada dihutan, dengan demikian sang rubah itupun selamat.

Selamatlah aku kini dari perangkap sang pemburu, hatinya sangat senang sebab jarang ada bintang yang bisa selamat dari jebakkan tersebut. Hatinya untuk sementara ini bisa menerima dengan lapang dada walaupun dia telah kelihangan ekor indahnya yang telah putus terjepit jebakkan.

Namun apalah yang kini telah menjadi nasibnya, saat itu dia sedang minum disungai yang airnya sangat jernih sekali. Maka terlihatlah bentuk badannya yang tidak memiliki ekor indahnya, "terlihat sangat jelek sekali aku kala ini." sang rubah berkata dalam harinya.

"Sedih sekali rasanya hati ini, tidak pernah terbayang akan menjadi seperti ini nasib badanku yang dulu begitu gagah dan enak dipandang mata, aku dulu begitu cakap. Alangkah malunya nanti kalau aku berjumpa sesama bangsaku yang nanti akan mentertawakan kejelekkanku ini."

Maka sang rubah malang inipun berlari kedalam hutan yang sangat jauh dan gelap sekali karena pepohonannya sangat lebat sekali diapun menyendiri, sambil berpikir mencari akal jalan keluar dari masalah ini.

Sang rubah adalah binatang yang selalu mendapatkan ide cemerlang, dengan bermodal pemikiran itulah dia menemui kerabatnya nanti. Sebab dengan keyakinannya sang ide cemerlang akan berhasil.

Keesokkan harinya dengan bernyanyi-nyanyi kecil sang rubah malang itupun berjalan dari tempat persembunyiannya untuk berkunjung ketempat dimana para saudarnya biasa berkumpul.

Maka sampailah dia ditempat yang dituju, para sepupu, orang tua dan tetua bangsa rubah sedang berkumpul. Sebelum ditanya mengenai ekornya oleh sang kerabat dia langsung berceloteh dengan berpidato panjang lebar.

"Saudara-saudaraku tercinta lihatlah aku kini yang hidup dengan lincah serta gesit karena kini aku bebas dari ekor yang menghalangiku," katanya.

"Aku dapat berguling tanpa diganggu ekorku dan aku tidak usah khawatir dengan ekorku yang selalu menyapu tanah dan membuat debu yang berterbangan, betapa entengnya badanku ketika bergerak."

"Namun apa yang sebenarnya telah terjadi dengan ekormu, hai sang rubah muda?" bertanya seekor rubah dewasa kepadanya.

"Oh tidak, ini adalah sengaja saja aku memotong ekor ini biar aku kelihatan keren!" serunya. "Sebab dengan ekor yang terlau panjang aku tidak bisa bergerak bebas seperti sekarang ini!"

"Untuk itu aku mengajak kepada semua saudara-saudara sepupu, para orang tua dan tetua bangsa rubahku untuk segera memotong ekor kalian semua supaya bisa seperti aku yang lincah dan gesit ini!" ajakkannya sangat bergelora.

"Dan, selanjutnya, kalianpun pasti akan bebas tidak harus terganggu dengan menyangkutnya ekor kalian ketika melakukan sesuatu kegiatan apapun itu!" serunya kembali.

Hening sejenak tempat itu, namun tiba-tiba dari tengah kelompok bangsa rubah itu seekor nenek rubah yang sudah tua tertawa dengan lucunya.

Serta merta yang lainpun ikut tertawa terbahak-bahak mencemoohkan sang rubah malang tanpa ekor. Sang rubah itupun akhirnya lari berlalu dari tempat itu menuju hutan lebat tempat selama ini dia bersembunyi.

"Sungguh pedih derita yang dia rasakan kini!" berkata seekor rubah bijak. Bagaimanapun dia seekor rubah bangsaku, sebaiknya dia ada teman yang mau berbagi atau tempat mengadu kesusahannya.

Janganlah pernah berbohong hanya karena anda kurang bisa atau tidak mampu, sebab setiap orang pasti punya kekurangannya disamping kelebihannya. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Share:

1 comments:

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...