Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Wednesday, March 16, 2016

Sang Putri Malu dan Cermin Ajaib - Dongeng Jepang

Courtesy of leearosse.blogspot.com
dongeng anak dunia - Dalam hidup dan kehidupan manusia yang ada di alam dunia ini tidak akan luput dari apa yang di katakan kurang. Namun ada kala dari rasa kurang yang di katakan barusan tadi pasti ada yang di manakan lebih.

Bisa saja seseorang kurang tampan atau kurang cantik tetapi memiliki hati yang lebih atau baik, juga sebaliknya yang tampan dan yang cantik bisa saja memiliki hati yang kurang atau tidak baik, penuh dengan rasa iri dan dengki. Itulah sedikit gambaran mengenai manusia yang tercemin dalam dinamika kehidupan di alam fana ini.

Zaman dahulu kala dalam sebuah Kerajaan tersebut seorang putri Raja yang berwajah cacat semenjak dia di lahirkan ke alam dunia ini.

Dan sang putri hanya di besarkan oleh seorang pengasuh yang setia semenjak dia lahir, karena sang Ibunda meninggal ketika melahirkan  dia ke dunia ini.

Dengan sendirinya karena berwajah cacat, sang putri tidak pernah mau keluar siang hari dari kamarnya dia selalu berada dalam kamar mengurung diri bila siang hari dan akan keluar malam hari di waktu sepi dan tidak ada orang yang melihatnya.

Sang Putri yang malu keluar pada siang hari ini akhirnya terkenal dengan julukkan sang Putri Malu, dan kini dia telah tumbuh menjadi gadis remaja.

Tentu saja karena dia kini telah dewasa rasa ingin tahu tentang dunia luar lebih kuat lagi di bandingkan ketika dia masih kanak-kanak beberapa tahun ke belakang.

Dia pun rindu terhadap anak-anak gadis yang sebaya usianya dengan dia, juga ingin punya teman-teman untuk di ajak bermain, dia juga rindu tentang apa saja yang ada di dunia luar sana, namun dia merasa malu dengan kekurangan yang ada dalam dirinya.

Namun segala gerak gerik sang putri tidak luput dari perhatian seorang pengasuh setia yang sangat menyayanginya, dialah Ibu Suri yang baik hati.

Dan malam itu ketika sang putri sedang bermain di taman istana, Ibu Suri memberanikan diri untuk menemuainya.

Tentu saja sang Putri Malu yang sedang asyiknya beramin memberikan makan kelinci di taman istana yang di pelihara pengurus taman istana, sangat terkejut ketika di jumpai sang Ibu Suri yang tahu-tahu sudah ada di depannya.

"Maafkanlah saya yang telah berani dan lancang sekali menemuimu Putri," katanya dengan nada bicara yang gugup karena takut sang putri marah, "namun ada hal penting yang ingin saya beritahukan kepadamu, Putri," katanya.

"Oh begitu, baiklah sampaikan saja Ibu Suri!" menjawab sang putri malu.

"Ibu adalah orang yang mengurus Putri sejak dari lahir ketika sang Ibunda meninggal Putri, Ibunda putri meninggal ketika melahirkan putri jadi Ibu sangat tahu keinginan Putri."

"Yang ingin melihat dunia luar dengan bebas tanpa menunggu hari gelap dan ketika orang-orang sudah tidak ada lagi atau malam sepi seperti malam sekarang ini."

"Dan yang lebih sedih menyayat hati saya, adalah ketika Putri tidak bisa keluar istana pada siang hari padahal ini adalah istana kepunyaan sang Putri sendiri." katanya dengan nada bicara sendu.

"Tidak apa-apa Ibu Suri mungkin ini sudah nasib saya sebagai orang cacat yang harus saya jalani seumur hidup saya." jawabnya penuh dengan kepasrahan hidup. Dan tangan lentiknya yang terawat mengusap dan mengelus-elus wajah cacatnya.

"Tidak boleh berkata begitu Putri, sebab Putri belum tahu siapa sebenarnya Putri. Putri adalah seorang Putri cantik dan sangat baik hati namun Putri belum bisa melihat anugerah kecantikkan yang tercipta dari semua itu."

Sambil berkata begitu sang Ibu Suri mengeluarkan satu cermin yang tersimpan di dalam satu kantong khusus yang di bawanya.

"Lihatlah nanti Putri, mukamu dan kecantikkanmu di dalam Cermin Ajaib ini," katanya sambil memperlihatkan Cermin Ajaib kepada sang putri malu.

"Cermin Ajaib, apakah itu Ibu Suri?" Sang Putri sangat heran mendengar kata-kata sang Ibu Suri.

"Begini ceritanya Putri, dari dahulu kala kami sebagai Ibu Suri telah mempunyai cermin ini secara turun temurun untuk melihat wajah asli seseorang yang baik atau yang jelek melalui cermin ini.

"Bahkan dapat melihat seorang penyihir yang berhati dengki dan jahat dari cara kerja Cermin Ajaib ini."

"Dan ketika seseorang yang ingin menjadi cantik atau ingin menjadi tampan dengan melihat cermin ini juga bisa, asalkan mempunyai hati yang bersih, tenteram dan tetap harus bersyukur dengan anugerah yang telah diberikan sang Maha Pencipta, tentu saja keinginan tersebut akan terkabul." Ibu suri berkata menerangkan panjang hebar sekali.

Sang Putri pun menerima cermin tersebut dan apa yang nampak dalam cermin itu pun membuat hatinya bertambah kesal saja, lalu dia pun memarahi sang Ibu Suri dengan kata-katanya yang terlontar demikian.

"Ibu Suri pergi saja dari sini jangan pernah Ibu berkata kasihan atau apapun terhadapku lagi, pergi!" teriaknya marah.

Hanyalah wajah cacatnya saja yang terlihat dalam Cermin Ajaib tersebut membuat hatinya semakin luka saja, disangkanya sang Ibu Suri hanya membual saja dengan Cermin Ajaib itu.

Lalu cermin itupun dia lemparkan dan dibuang di atas tanah tidak jauh dari tempat itu dan berkata lagi, "cermin ajaib palsu."

Ibu Suri menjadi heran sekali terhadap apa yang baru saja terjadi mengapa bisa terjadi begini terhadap Sang Putri Malu yang menjadi anak asuh kesayangannya dari semenjak dia baru lahir.

Hanya rasa bingung yang ada dalam benak Ibu Suri saat itu, "maafkan saya putri, sungguh saya tidak akan berani main-main terhadap Putri apalagi untuk berbohong, mungkin hati Putri saja yang sedang dalam keadaan kacau jadi sang Cermin Ajaib tidak bisa bekerja seperti yang saya dan putri harapkan."

"Cermin Ajaib adalah cermin yang akan menunjukkan wajah dari cerminan yang baik hati seseorang yang bersyukur atas segala karunia dan anugerah yang di limpahkan sang Maha Kuasa terhadap makhluknya." Kata sang Ibu Suri.

"Maaf mungkin saat ini hati Putri tidak dalam keadaan bersyukur rubahlah sikap dan rasa syukur atas apa yang Putri punya dan di berikan sang Maha Pencipta." berkata lagi sang Ibu Suri.

"Bawalah Cermin Ajaib ini berserta kantongnya dan rubahlah sikap hidup putri dengan cara selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan terhadapmu." Ibu Suri berkata panjang lebar lagi mengenai apa yang harus di lakukan sang Putri Malu dalam menghadapi hidup di dunia ini.

"Bercerminlah tatkala telah berubah sikap dan bercermin lagi tatkala berubah sikap lagi kepada yang lebih baik dan selalu sabar dalam segala hal, Putri."

"Pastikanlah satu sikap bertambah baik maka cermin itu akan menampilkan wajah yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya, seterusnya bersikap syukur dan sabar selalu, percayalah wahai Putri."

Sang putri beranjak dari taman sambil membawa Cermin Ajaib pemberian Ibu Suri masuk ke kamarnya untuk merenungi kata-kata yang di ucapakan sang Ibu Suri, dan menurut pandangannya semua kata-kata tersebut memang benar adanya.

Wajah cacat bukanlah halangan untuk apapun sebab yang harus baik di hadapan sang Pencipta adalah hati yang bersih dan selalu jujur dalam bersyukur menerima apa yang sudah menjadi kehendak yang Maha Pencipta.

Berhari-hari sang Putri merenungi kata-kata sang Ibu Suri sambil sesekali melihat wajah cacatnya di dalam Cermin Ajaib tersebut dan benar saja ketika hati mulai di liputi ketenangan yang berangsur-angsur timbul kembali, sang Cermin Ajaib menunjukkan wajah yang bersih bersinar dan bercahaya.

Hari itupun dengan rasa percaya diri sang Putri Malu keluar dari kamarnya, dan sikap ini tentu saja membuat seluruh pelayan dan abdi kerajaan yang ada di istana menjadi kaget.

Sang Putri pun akhirnya di beri sambutan yang begitu hangat dari seluruh abdi keraton dan mulai saat itu sang Putri Malu sudah tidak malu lagi untuk bertemu siapa pun yang ada di istana atau pun diluar istana.

Sekarang dengan percaya dirinya yang timbul lagi, dia dapat merasakan indahnya dunia ini. Sinar matahari yang hangat kini terasa lagi menghangatkan tubuhnya.

Burung-burung yang berkicau kini dapat didengar dengan melihat sang burung yang sedang berkicau, kelinci yang dulu menjadi teman bermainnya di taman istana ketika malam hari kini dapat di kejar-kejarnya siang hari dengan penuh kegembiraan.

Betapa karunia alam yang di berikan sang Pencipta dapat di nikmati dengan indah tatkala hati dalam keadaan bersih dan bersabar serta bersyukur menerima nikmat yang berlimpah alangkah indahnya dunia ini.

Tentu saja perubahan yang dilakukan sang Putri Malu tidak luput dari perhatian sang Ibu Suri yang menyayanginya, betapa senangnya kini dia melihat semua ini.

Sang Putri Malu sudah dapat tertawa ceria tidak mengurung diri terus di dalam kamar yang sunyi tanpa ada teman yang bisa di ajak bicara.

"Apa kabar Putri? Hari ini kelihatan begitu senang sekali?" Ibu Suri bertanya tatkala sang Putri lagi duduk di depan kanvas sebuah meja lukisan yang belum selesai dibuatnya.

Sang Putri tersenyum serta menjawab dengan tenang sekali, "tentu saja kabar baik Ibu Suri, ini semua atas petunjuk dan saran darimu, sehingga kini aku dapat menerima apa adanya, terima kasih Ibu Suri."

"Nah sekarang cobalah Putri berkaca lagi dengan Cermin Ajaib itu mudah-mudah perubahan yang nampak akan berbeda setelah saya melihat sinar cahaya yang terpancar dari raut wajahmu." Sang Ibu Suri memberikan saran kepada sang Putri.

Putri Malu lalu berdiri mengambil kantong yang di simpan dekat kursi untuk melukis pemandangan taman dan bunga-bunga di dalam lukisan tersebut, sambil berkata kepada sang Ibu Suri.

"Karena aku tidak pernah bersyukur maka sudah banyak sekali nikmat yang terbuang dari rasa bersalah dan ke tidak berdayaanku saat masa-masa yang lalu," tuturnya.

"Namun kini aku selalu bersyukur atas cukup nikmat, bersyukur atas cukup indah dan bersyukur atas cukup bahagia walaupun wajahku masih tetap cacat namun dengan bersyukur aku merasakan ketenangan hidup selalu menyertaiku," katanya.

Lalu Cermin Ajaib pun di keluarkan dari kantongnya dan sang Putri Malu pun berkaca di depannya, terlihat kini wajah cantik nan jelita tanpa cacat sedikit pun di wajahnya, yang selama ini selau nampak cacat ketika dia berkaca di Cermin Ajaib tersebut.

Dengan rasa bahagia sekali sang Ibu Suri memeluk sang Putri malu yang telah berubah wajahnya menjadi cantik jelita sekali, bagaikan bidadari dari nirwana.

Cantik belum tentu baik bagi seseorang, tetapi baik haruslah menjadi hal yang utama bagi seseorang. Bersabar dan bersyukur itulah yang akan menuntun kita kepada kebaikkan. Sekian.

oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
Tips Berfoto Agar Terlihat Bagus
Pemimpin Korea Utara Kim Perintahkan Lebih Banyak Tes Nuklir
Share:

Blog Archive

Powered by Articlemostwanted

Followers

Statistik

 
loading...