Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Wednesday, September 25, 2019

Mengapa Monyet Masih Memiliki Ekor - Dongeng Brazil

courtesy of pngdownload.id
Dongeng Anak Dunia - Pada suatu hari sang monyet dan sang kelinci membuat rencana. Sang monyet itu akan membunuh semua kupu-kupu dan sang kelinci itu akan membunuh semua ular.

Ketika sang monyet sedang berjalan, dia melihat sang kelinci sedang tidur siang. Sang monyet itu berpikir bahwa dia akan mempermainkan kelinci itu sehingga dia menarik telinga sang kelinci itu dan berpura-pura dia mengira kalau telinga sang kelinci itu adalah kupu-kupu. Sang kelinci itu pun terbangun dengan sangat marah pada sang monyet dan sang kelinci merencanakan tentang bagaimana dia akan membalas dendam pada sang monyet itu.

Sang kelinci dan armadillo adalah teman yang sangat baik. Armadillo adalah kelinci yang sangat kuat dan dia lah yang diminta untuk membantunya.

Suatu hari, sang kelinci melihat sang monyet itu sedang tidur siang. Dia telah memperhatikan dan menunggu lama sekali untuk melihat monyet itu tidur siang. Kemudian sang kelinci memanggil teman baiknya armadillo dan bersama-sama mereka menggulingkan batu besar di atas ekor sang monyet. Sang monyet itu terbangun dan kesakitan karena ekornya terjepit batu besar, sang monyet pun menarik ekornya dengan keras untuk mengeluarkannya dari bawah batu sampai putus.

Pada waktu yang bersamaan, sang kucing yang tidak memiliki ekor lewat dan melihat ekor monyet, kemudian membawanya pergi. Sang monyet itu sangat marah pada sang kelinci. "Oooww, kami pikir itu hanya ular yang berbaring di sana," kata kelinci itu. "Ketika kamu menarik telingaku, kamu mengira itu adalah kupu-kupu."

Hidup sang monyet menjadi tidak nyaman karena ekornya terputus. Bagaimana dia bisa hidup tanpa ekornya! Bagaimana dia bisa naik tanpa ekornya! sang kucing harus mengembalikannya sehingga sang monyet segera pergi untuk mencari sang kucing itu.

Akhirnya sang monyet menemukan sang kucing itu dan berkata kepadanya, "Oh, kucing yang baik hati, tolong kembalikan ekorku."

"Aku akan memberikannya kepadamu," jawab sang kucing, "jika kamu mau memberi Aku susu."

"Di mana Aku harus mendapatkan susu?" tanya sang monyet.

"Pergi dan mintalah pada sapi itu," jawab sang kucing.

Sang monyet itu mendatangi sang sapi dan berkata, "Oh, sapi yang baik hati, tolong beri aku susu mu supaya aku bisa memberikan susu itu kepada kucing agar kucing itu mau mengembalikan ekorku kepadaku."

"Aku akan memberimu susu," jawab sang sapi, "jika kamu mau ambilkan aku rumput."

"Di mana Aku harus mendapatkan rumput?" tanya sang monyet.

"Pergilah, tanya petani itu," jawab sang sapi.

Sang monyet pergi ke petani dan berkata, "Oh, petani yang baik, tolong beri Aku beberapa rumput agar Aku dapat memberikan rumput kepada sapi sehingga sapi akan memberi Aku susu lalu Aku dapat memberikan susu kepada kucing dan kucing akan mengembalikan ekorku kepadaku. "

Petani itu berkata, "Aku akan memberimu rumput jika kamu mau memberiku hujan."

"Di mana Aku akan mendapatkan hujan?" tanya sang monyet.

"Pergilah, tanyakan pada awan," jawab sang petani itu.

Sang monyet pergi ke awan dan berkata, "Oh, awan yang baik, tolong turunkan Aku hujan agar Aku dapat memberikan hujan kepada petani sehingga petani akan memberi Aku rumput lalu Aku dapat memberikan rumput kepada sapi kemudian sapi akan memberi Aku susu lalu Aku bisa memberikan susu kepada kucing dan kucing akan memberikan Aku kembali ekor Aku. "

"Aku akan memberimu hujan," jawab awan-awan itu, "jika kamu mau memberiku kabut."

"Di mana Aku bisa mendapatkan kabut?" tanya sang monyet.

"Pergi, tanya sungai," jawab sang awan.

Sang monyet pergi ke sungai dan berkata, "Wahai sungai yang baik, tolong beri Aku kabut sehingga Aku dapat memberikan kabut ke awan lalu awan akan memberikan hujan sehingga Aku dapat memberikan hujan kepada petani lalu petani akan memberi Aku beberapa rumput untuk Aku berikan kepada sapi sehingga sapi akan memberi Aku susu untuk kucing sehingga kucing akan memberikan Aku kembali ekor Aku. "

"Aku akan memberimu kabut," jawab sang sungai, "jika kamu bisa menemukan mata air baru untuk memberiku makan."

"Di mana aku bisa menemukan mata air itu?" tanya sang monyet.

"Pergi dan carilah satu di antara bebatuan di lereng bukit," jawab sang sungai.

Kemudian sang monyet memanjat bukit yang curam dan mencari mata air di antara bebatuan sampai akhirnya ia menemukan mata air kecil untuk memberi makan sang sungai. Dia membawa mata air ke sang sungai dan sang sungai memberinya kabut. Sang monyet membawa kabut ke awan dan awan memberinya hujan. Sang monyet membawa hujan ke petani dan petani memberinya rumput. Sang monyet mengambil rumput untuk diberikan kepada sapi dan sapi itu memberinya susu. Sang monyet membawa susu ke kucing dan sang kucing mengembalikan ekornya. Sang monyet itu sangat senang memiliki ekornya lagi sehingga ia menari dan menari dengan gembira. Sejak saat itu sang monyet sangat berhati-hati dan menjaga ekornya dengan baik-baik.

Source: click disini
Share:

Thursday, September 19, 2019

Androcles dan Singa - Dongeng Yunani

courtesy of storiestogrowby.org
Dongeng Anak DuniaB - Cerita ini terjadi di Roma, di mana seorang budak Yunani bernama Androcles melarikan diri dari tuannya ke arah hutan. Di sana dia mengembara cukup lama sampai dia lelah dan hampir mati karena kelaparan dan rasa putus asa. Saat itu dia mendengar seekor singa di dekatnya mengerang dan kadang-kadang mengaum dengan sangat keras. Androcles bangkit dan bergegas pergi, tetapi ketika dia berjalan melalui semak-semak, dia tersandung akar pohon dan jatuh yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Ketika dia mencoba untuk bangkit, dia melihat seekor singa datang ke arahnya sambil tertatih-tatih dengan tiga kaki karena kaki satunya lagi terangkat agak kedepan seperti sedang kesakitan.

Androcles yang malang dan sudah putus asa itu tidak memiliki kekuatan untuk bangkit dan melarikan diri dari seekor singa yang menghampirinya. Tetapi ketika binatang buas itu menghampirinya yang Androcles kira akan menyerangnya, singa tersebut hanya mengerang dan mengerang sambil menatap Androcles dan singa mengulurkan kaki kanannya yang berlumuran darah dan banyak bengkak. Androcles mencoba untuk melihat lebih dekat dan dia melihat ada duri besar yang menusuk ke kaki si singa yang merupakan penyebab singa mengerang kesakitan. androcles memberanikan diri untuk mencabut duri itu, ia menangkap duri itu dan menariknya keluar dari kaki singa, si singa mengerang dengan keras saat duri itu dicabut keluar tetapi setelah si singa menyadari kalau kaki nya sudah membaik, ia menjilat Androcles dan sebagai tanda ucapan terima kasihnya. Androcles mengira singa itu akan memakannya, tetapi singa itu malah membawa rusa muda yang telah dia bunuh dan Androcles membuat makanan dari rusa muda yang diberikan oleh singa.

Tiba-tiba di suatu hari ada sejumlah tentara datang berbaris melewati hutan dan menemukan Androcles. Karena dia tidak dapat menjelaskan apa yang dia lakukan, mereka menangkapnya dan membawanya kembali ke kota tempat dia melarikan diri. Di sini tuannya segera menemukannya dan membawanya ke hadapan penguasa. Kemudian Androcles dihukum mati karena melarikan diri dari tuannya. Di tempatnya Androcles sudah menjadi kebiasaan melempar pembunuh dan penjahat lain ke kandang singa dalam sirkus besar, sehingga banyak orang-orang yang dapat menikmati tontonan pertempuran antara mereka dan binatang buas.

Jadi Androcles dihukum untuk dilemparkan ke dalam kandang singa dan pada hari yang ditentukan dia dibawa ke Arena dan dibiarkan di sana sendirian dengan hanya tombak untuk melindunginya dari singa. Sang Kaisar yang berada di dalam kerajaan hari itu memberi sinyal kepada pengawalnya agar singa keluar dan menyerang Androcles. Tetapi ketika ia keluar dari sangkar dan mendekati Androcles, menurut kamu apa yang terjadi?

Orang-orang yang menontonnya akan mengira si singa melompat atau menerjang Androcles, tetapi si singa malah memeluk Androcles dan membelainya dengan kaki-kakinya dan tidak berusaha melukainya.

Mengapa bisa begitu?, karena singa tersebut adalah singa yang ditemui Androcles di hutan.

Sang Kaisar pun terkejut melihat perilaku aneh pada singa yang begitu kejam itu, sang Kaisar memanggil Androcles dan bertanya kepadanya "bagaimana hal itu bisa terjadi dan kenapa singa itu seperti kehilangan watak buasnya saat bertemu denganmu?".

Maka Androcles memberi tahu kepada Kaisar tentang semua yang terjadi padanya dan bagaimana si singa itu menunjukkan rasa terima kasihnya karena telah membebaskannya dari duri. Setelah itu sang Kaisar memaafkan Androcles dan memerintahkan tuan dari Androcles untuk membebaskannya, sementara si singa dibawa kembali ke hutan dan dilepaskan untuk menikmati kebebasan hidupnya lagi.

Source: click disini
Share:

Wednesday, September 18, 2019

Putra yang Tidak Taat - Dongeng Amerika Selatan

courtesy of rosediana.net
Dongeng Anak Dunia - Ada seorang anak lelaki yang memiliki sifat kasar dan tidak mau menuruti ibunya. Anak lelaki itu akan berjalan-jalan dan tidak akan kembali sampai larut malam, sekitar jam sepuluh atau sebelas malam. Pada jam sepuluh malam ibunya masih menunggu dan mengkhawatirkannya.

"Apa yang kamu lakukan, Nak?" ibunya bertanya. "Ibu mau tidur karena sudah larut malam dan aku masih menunggumu. Kamu tidak memperhatikan apa pun yang Ibu katakan. Ibu akan mengirimmu ke ayah baptismu jika kamu masih saja tidak mendengarkan perkataan Ibu". Kemudian sang Ibu dari anak laki-laki itu pergi untuk menemui pendeta pendampingnya.

"Compadre (Ayah Baptis), apa yang bisa dilakukan untuk putra baptismu? Dia benar-benar nakal dan tidak menaatiku. Anda adalah seorang imam dan Anda dapat menasihati dan mendisiplinkan putra baptis Anda ini; Aku sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk merubah sifatnya. Ini anak baptismu yang nakal Compadre. Biarkan dia tinggal di sini bersamamu untuk melihat apakah dia akan belajar berperilaku dengan baik. "

"Baiklah, kawan, suruh dia datang ke sini. Kenapa dia tidak melakukan apa yang kukatakan padanya? Aku memang seorang pendeta. Aku akan mengajari anak baptisku untuk bekerja. Jangan khawatir, kawan, anak baptisku akan patuh terhadap perintahku."

Wanita itu berkata kepada putranya: "Nak, pergilah dengan Ayah baptismu. Dia akan mengajarimu berperilaku dengan baik karena kamu tidak pernah mematuhiku, pergi dan bekerjalah di sana."

"Baiklah ibu, aku akan pergi ke rumah ayah baptisku. Karena aku tidak ada gunanya bagimu, aku akan pergi dan bekerja dengan ayah baptisku."

"Aku datang, ayah baptis. Apa yang bisa kulakukan untukmu? 'Tetaplah bersama ayah baptismu,' kata ibuku. Itulah sebabnya aku datang ke sini untukmu. Ibuku yang menyuruh aku untuk pergi ke ayah baptisku,"

"Baiklah, anak baptisku," kata pendeta itu kepadanya, "Kau akan bekerja untukku."

"Baiklah, ayah baptis, aku akan bekerja. Aku akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan kepadaku; semua yang kamu katakan padaku, akan kulakukan, ayah baptis."

"Baiklah. Sekarang aku akan memberitahumu sesuatu," kata sang pendeta. "Anak baptis, besok sekitar jam 3 pagi kamu akan menyapu. Aku tidak akan membangunkanmu, aku hanya memberitahumu sekarang."

"Baiklah," kata anak itu. Saat fajar dia pergi dan menyapu. Setelah selesai menyapu, dia pergi untuk memberi tahu Ayah baptisnya sang pendeta.

"Ayah baptis, aku sudah selesai menyapu semua gereja. Jadi aku ke sini untuk memberitahumu."

"Baiklah, anak baptis, aku senang kamu sudah selesai. Sekarang istirahatlah." Satu hari berlalu dan ayah baptis memberinya tugas berikutnya:

"Sekarang anak baptisku, aku akan memberitahumu apa yang harus kamu lakukan besok pagi. Kamu akan membunyikan bel pada pukul enam pagi. Aku ingin kamu bunyikan tiga kali dan ketika kamu selesai, datang dan katakan kepadaku dan aku akan pergi untuk mengucapkan Misa. "

"Baiklah," kata anak itu. Ketika hari berikutnya usai, anak itu pergi untuk membunyikan bel. Dia pergi untuk memberi tahu ayah baptisnya:

"Ayah baptis, aku membunyikan bel tiga kali. Sudah waktunya untuk bangun dan pergi mengucapkan Misa," katanya kepada ayah baptisnya.

"Baiklah," kata ayah baptis itu. Satu hari lagi berakhir dan sang pendeta berbicara sekali lagi kepada putra baptisnya:

"Sekarang aku akan memberitahumu sekali lagi apa yang harus kamu lakukan besok."

"Baiklah," kata anak itu.

"Bunyikan bel itu lagi jam tiga pagi."

"Baiklah," kata anak itu. Anak itu bangun dan teringat untuk membunyikan bel. Dia pergi untuk membunyikan bel di menara tempat lonceng bergantung, tetapi sang pendeta yaitu ayah baptisnya, telah memberikan anak itu ujian. Dia telah meninggalkan kerangka di menara tempat lonceng bergantung. Anak itu tiba di sana pada pukul tiga pagi dan menemukan kerangka berdiri di depannya. Dia berkata kepada kerangka:

"Pergilah dari hadapanku! Aku datang untuk membunyikan bel. Jangan menghalangi jalanku. Pergi dari hadapanku, karena ayah baptisku mengirimku untuk membunyikan bel. Pergi dari hadapanku atau aku akan membunuhmu!" Kerangka itu tetap tidak menyingkir dari hadapan anak itu, dia tidak bergerak dan tidak menjawab. "Jawab, atau kamu ingin aku membunuhmu?" anak itu bertanya pada kerangka itu. "Jika untuk ketiga kalinya kamu tidak menjawabku, aku akan menghancurkanmu berkeping-keping. Apakah itu yang kamu inginkan. Aku akan melemparmu jauh-jauh dari sini. " Dan anak itu mendorong kerangka tersebut keluar dari menara tempat lonceng bergantung. Ketika dia telah menghancurkan kerangka itu, dia membunyikan bel dan turun dari menara tempat lonceng bergantung. Dia pergi ke kamar ayah baptisnya dan mengetuk pintu untuk membangunkannya. Ayah baptis itu bangun dan menjawab:

"Apa itu?" tanya sang pendeta kepada anak itu.

"Bangun ayah baptis, aku sudah membunyikan bel," kata anak itu kepada sang pendeta. Mendengar hal tersebut, sang pendeta terkejut.

"Oh, apakah kamu membunyikan bel itu?" tanya sang pendeta itu.

"Ya, aku membunyikan bel itu, ayah baptisku," kata anak itu.

"Apakah kamu tidak melihat sesuatu di menara tempat lonceng bergantung?" tanya sang pendeta itu.

"Ya, ayah baptis," jawab anak itu, "Aku melihat sesuatu di menara tempat lonceng itu bergantung."

"Apa yang kamu lihat?" tanya sang pendeta kepada anak itu.

"Aku melihat seseorang menghalangi jalanku yang tidak mau membiarkan aku membunyikan bel," jawab anak itu.

"Oh, jadi apa yang kamu lakukan?" tanya sang pendeta itu. "Apakah kamu tidak takut padanya?

"Tidak, ayah baptisku."

"Jadi apa yang kamu lakukan?"

"Aku mendorongnya dan dia jatuh lalu pecah berkeping-keping di lantai."
Selesai.

Source: click disini
Share:

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...