Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Thursday, March 3, 2016

Sang Anak Sapi dan Sang Lembu - Dongeng Yunani

Courtesy of fasabbih.blogspot.com
dongeng anak dunia - Sudah menjadi tugas kebiasaan sang lembu setiap harinya, bangun tatkala ayam jantan baru berkokok pagi sekali. Bapak tani akan membawanya bekerja keladang dengan beban bajak diatas pundak, digaruknya tanah ladang dengan bajak sampai gembur menjadikan tanah kembali subur dan benih siap ditabur.

Tengah hari barulah sang bapak tani istirahat dari membajak, pekerjaan yang kedua adalah mengambil air dari kali. Gentong-gentong air telah berada dipundak siap diisi air sungai untuk menyirami tanaman ladangnya, sungguh pekerjaan yang sangat berat bagi sang lembu yang setiap hari sudah menjadi tugas rutinnya. Menjelang malam barulah sang lembu pulang ke kandang dalam keadaan badan yang begitu letih.

Dan ketika musim panen gandum tiba, sang lembu bekerja memutar roda pengilingan yang berat sampai sehari penuh sungguh menguras tenaga yang begitu berat. Sehari saja beristirahat selama tinggal dirumah bapak tani rasanya belum pernah, sang lembu benar-benar seorang pekerja berat yang sangat rajin.

Namun selain sang lembu bapak tani juga mempunyai seekor anak sapi. Sang anak sapi akan keluar tatkala sang bapak tani membuka pintu kandangnya setiap pagi.

Sang anak sapi akan bebas berkeliling kemana pun dia suka, kerjanya hanya makan rumput disekitar ladang yang penuh dengan rumput hijau yang sangat manis dan lezat.

Tubuhnya sangat cepat gemuk, anak sapi pun berubah menjadi seekor sapi yang sangat gemuk dan besar, dan sang anak sapi sering sekali melihat sang lembu lagi bekerja keras.

"Sang bapak lembu!" sang anak sapi besar dan gemuk menyapa.

"Ada apa sapi muda yang gemuk dan besar!" menjawab sang lembu pekerja keras.

"Sebenarnya aku sangat tidak tega melihat kamu yang harus bekerja sangat keras!" ungkapan katanya memperlihatkan mimik muka yang sangat sedih dan perihatin.

"Mengapa dengan aku?" sahut lembu "Kenapa tidak tega melihatku?"

"Apakah kamu tidak merasa capai dengan lehermu yang selalu diikat sampai keladang dan membawa bajak yang berat dipundakmu, terus kamu bekerja sampai malam."

"Dan apabila musim panen gandum tiba kamu akan terus memutar pengilingan yang sangat berat. Kasihan sekali derita yang harus kamu pikul selama ini." Kembali sang anak sapi muda berkata dengan mimik muka sangat sedih yang dibuat-buat ledekan halus terhadap sang lembu.

Sang sapi muda ini hampir setiap hari datang dan selalu berkata yang sama, tentang apa yang sedang terjadi kala itu, sudah menjadi suatu kebiasaan untuk mengejek sang lembu.

Sang lembu sudah tahu akan semua tingkah laku sang anak sapi terhadapnya namun sang lembu hanya membiarkan saja tidak pernah meladeni ejekkannya.

Waktu berputar terus, tidak terasa hari raya telah tiba, semua orang menyambut gembira. Keluarga besar bapak tani pun telah berkumpul dirumah besar bapak petani.

Bapak petani membukakan pintu kandang, "dihari raya ini kamu libur, kamu boleh pergi kemanapun kamu suka!" berkata bapak tani sambil memberikan setumpuk rumput hijau makanan kesukaan sang lembu.

Sang lembu pun sangat bahagia dihari raya ini, tidak menunggu lama rumput makanan itu pun disikat habis.

Dan sang bapak petani berlalu dari tempat itu pergi kekandang sapi yang ada dibelakang kandang lembu. Kemudian leher anak sapi yang gemuk itu pun diikat dengan tambang yang telah dipersiapkan oleh sang bapak petani.

"Moooo! ada apakah ini! mengapa leherku diikat begini?" sang anak sapi sambil bertanya dan sangat kaget bukan kepalang, "apa yang akan dilakukan sang bapak tani terhadapku."

"Dihari bahagia ini kita semua merayakannya dengan suka-cita, seluruh keluarga besarku menanti makanan lezat dan nikmat."

"gulai sapi dan sate sapi dari daging sapi muda pasti gurih dan empuk"

Begitulah nasib anak sapi muda yang selanjutnya, dikala semua orang berbahagia dia menjadi daging santapan untuk kebahagiaan orang-orang keluarga besar bapak petani tersebut.

Penderitaan, musibah, nasib buruk, akan terasa ringan menanggungnya asalkan kita ikhlas dan berjiwa besar dalam menerimanya. Berjalanlah seperti air mengalir. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Selingkuh, Kenapa Hal Ini Sering Menimpa Anda?
- Italia Terancam Oleh ISIS
Share:

Wednesday, March 2, 2016

Bapak Petani dan Dua Anak Gadisnya - Dongeng Yunani

Courtesy of www.sulutiptek.com
dongeng anak dunia - Kebahagian seseorang tidak bisa diukur oleh banyaknya harta benda yang mereka miliki, semua itu bukanlah ukuran yang utama. Namun kebahagian adalah ketika hati kita merasa tenang dengan apa yang kita miliki sekarang dan bisa bersama dengan orang-orang yang kita cintai.

Seperti halnya bapak petani ini mereka sangat bahagia hidup bersama kedua anak gadisnya yang telah beranjak dewasa, dua anak gadis yang cantik-cantik jelita.

Hari-hari mereka dulu, diisi dengan senda gurau yang penuh canda dan kasih sayang ayah kepada anaknya dan anak terhadap orang tuanya, mereka kini telah pergi dibawa suaminya masing-masing.

Sang bapak petani membayangkan hari-hari dahulu ketika bersama anak-anaknya yang lucu-lucu, "oh betapa bahagianya!" bisiknya. "kini aku kesepian tanpa kehadiran mereka!" bisiknya lagi. "Besok aku akan berkunjung kerumah mereka masing-masing."

Besok paginya sang bapak petani sudah siap berangkat kerumah anaknya yang peling besar dulu karena letak rumahnya memang paling jauh dari pada rumah anak bungsunya.

Suaminya seorang pekerja dikebun kerajaan istana, bertugas memeliraha dan mengatur kebun istana. Rasanya ingin cepat saja kaki ini sampai dirumah sang anak dan mengetahui kabarnya.

"Apa kabarmu, anakku tersayang?"

"Baik-baik saja, kami sekeluarga sehat-sehat selalu! kami mohon maaf kepada ayah belum sempat datang ketempat ayah, malah ayah sendiri datang ke tempat kami yang jauh ini!." Menjawab anak dan mantunya serta mohon maaf karena kesibukkan kerja anak mantunya yang belum sempat berkunjung kerumahnya.

"Tidaklah mengapa anakku yang penting kalian berdua sehat dan tidak kurang apapun!" serunya kembali.

"Tidak kami berdua berkecukupan untuk saat ini, asalkan hujan banyak sepajang tahun, kami akan selalu bahagia, ayah!" ujar mereka berdua anak dan mantunya.

"Ya sudah kalau begitu, ayah merasa tenang dan ikut bahagia pula!" sang bapak petani merasa ikut bahagia dengan anak sulungnya yang hidup bahagia.

Dan keesokkan harinya dia pun pamit dari rumah anak putri sulung untuk berkunjung kerumah adiknya sang anak bungsu yang tinggal ditempat lain.

"Bagaimana anakku, apakah kehidupanmu disini baik-baik saja?" sang bapak petani bertanya ketika sampai dirumah putri bungsu.

"Saya bersama suami saya hidup bahagia, ayah!"

"Apakah ayah juga dirumah dalam keadaan sehat dan baik-baik saja?" sang anak bungsu bertanya.

"Saya selalu hidup bahagia dengan penghasilan yang didapat suami saya, asalkan matahari selalu bersinar terang setiap harinya, ayah!" sang anak bungsu menerangkan perihal kehidupan sehari-hari.

"Baiklah aku turut bahagia, anakku!" sang bapak petani pun pamit untuk pulang kerumahnya.

Sang bapak petani berjalan pulang kerumahnya, hatinya bingung sekali dengan kedua anaknya. Anakku yang paling besar mengharap hujan selalu turun karena bekerja sebagai tukang kebun. Sedangkan anakku yang kedua berharap matahari bersinar terang terus sepajang hari karena suaminya bekerja sebagai tukang genting yang memerlukan panas matahari.

"Doa apakah yang harus aku panjatkan untuk kedua anakku ini!, Aku berdoa supaya turun hujan bagaimana anakku yang satu lagi, sebaliknya kalau aku berdoa supaya matahari terang terus!"

Kita berharap semua orang yang kita cintai selalu bahagia namun kita hanya dapat berdoa yang baik saja tidak bisa mendoakan semuanya. Sekian.

Wasalam
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Cara Merawat Wajah Tetap Halus Di Rumah
- Operasi Besar-besaran Irak Berusaha Rebut Utara Baghdad dari ISIS
Share:

Sang Singa Ada Dirumah Sang Bapak Petani - Dongeng Yunani

Courtesy of cikofairen.wordpress.com
dongeng anak dunia - Sore yang cerah tatkala sang bapak petani pulang dari ladang. Panen sudah di ambang pintu, "jerih payahku akan terbayar lunas dengan hasil yang melimpah ruah." Beberapa langkah menuju gang rumah yang telah ditempati bertahun-tahun bersama anak istri tercinta sudah terlihat. Semakin dekat langkah kaki sang bapak petani didepan gerbang pekarangan rumahnya, namun langkah kaki terhenti seketika. Terlihat dengan jelas sekali seekor binatang besar berbulu kecokelatan tebal dengan janggutnya yang panjang, sang raja hutan singa telah berada dipekarangan rumahnya.

Mengendap-ngedap sang bapak petani mendekati pintu gerbang dia berusaha menutup pintu gerbang rumahnya. Setelah berhasil menutupnya walaupun hatinya sangat berdebar-debar takut ketahuan sang raja hutan singa.

"Sang raja hutan telah terkurung didalam halaman pekarangan rumahnya, aku akan menangkapnya kini" pikirnya.

Sang raja hutan singa yang serba ingin tahu itu meneliti semua yang ada ditempat itu, mengendus-endus setiap benda yang dijumpainya.

Pot-pot kembang dihalaman rumah depan dan patung-patung hiasan yang tertata rapih ditaman depan, kemudian sang raja hutan singa berbalik meneliti halaman belakang rumah yang penuh perabotan alat perkakas membajak ladang.

Aneh mungkin tidak ada yang seperti dihutan tempat daerah kekuasaan, semua serba asing baginya. Sang singa pun berbalik ketempat tadi dia datang, namun apa yang terjadi pintu gerbang telah terkunci rapat. Sang raja hutan berkeliling rumah mencari jalan keluar dari tempat itu, satu kali, dua kali, jalan keluar tidak ditemukan.

Sang raja hutan singa tidak menemukan jalan keluar, "jalan keluar itu telah hilang" pikirnya.

Badannya berbalik dan apa yang dilakukan selanjutnya diluar dugaan sang bapak petani, sang raja hutan singa mengamuk. Sang raja hutan berlari kehalaman depan semua pot-pot kembang yang berjejer, dihancurkan dengan tendangan kaki depannya yang sangat kuat.

Demikian pula patung-patung yang menghiasi taman tersebut menjadi sasaran tendangan kaki-kaki sang singa yang kuat. Sang singa pun berlari ke kandang kambing menerkam dan membunuh beberapa ekor kambing yang dapat diraihnya. Terakhir dia pun berlari menuju kandang kerbau yang letaknya dibelakang rumah bapak petani, kesempatan ini dipergunakan oleh sang bapak petani untuk membuka kembali pintu gerbang rumahnya.

Kemudian sang bapak petani kembali ketempat persembunyiannya tadi. Setelah puas menerkam dan membunuh kerbau, sang singa keluar dari kandang kerbau mencari lagi sasaran kekesalan yang lain. Namun sang raja hutan melihat pintu gerbang telah terbuka, maka dia pun keluar dan berlari pulang kearah hutan belantara yang menjadi tempat tinggalnya.

Sang bapak petani keluar dengan hati-hati dari tempat persembunyian, matanya masih jelalatan melihat kiri-kanan takut sang raja hutan masih ada disekitar situ.

"Berantakkan sekali rumahku," pikirnya sambil berlari menuju rumahnya. Rumah sang bapak petani porak poranda bagaikan kapal pecah saja.

Sesampainya didalam rumah dia pun bercerita kepada sang istri, "halaman rumah hancur tidak karuan, beberapa kambing kita telah diterkamnya dan juga kerbau kita sepertinya telah diterkam juga!"

"Makanya kalau menjadi orang berpikir dengan bijak, jangan merasa singa ada dihalaman rumah kita dan kita bisa menangkapnya dengan gampang!"

"Melihatnya saja kamu sudah tidak berani, sehingga dari tadi aku lihat kamu hanya diam dan bersembunyi!" itulah jawaban yang keluar dari mulut sang istri dengan galaknya.

Jangan anggap semua yang kita kerjakan atau hadapi adalah sesuatu yang ringan dan enteng saja, pikirkanlah sebelum kita berbuat atau melakukan sesuatu itu dengan bijak.

Janganlah tumpahkan kekesalan kepada siapa saja, sebab kesalahan atau kebodohan ada pada diri sendiri. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Makanan Sehat, Apakah Anda Memakannya?
- ISIS Eksekusi Delapan Warga Belanda 'Desertir' di Suriah
Share:

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...