Dongeng dan Cerita Pendek Anak Dari Seluruh Dunia Seperti Indonesia, Rusia, Amerika, Cina, Inggris, dan lain-lain

Sang Raja dan Ahli Pemuji - Dongeng Asia

Tersebutlah seorang Raja yang sangat arip dan bijaksana dalam menjalakan pemerintahan kerajaannya, rakyat sangat bahagia dan sangat mencintai sang Raja mereka.

Hans Yang Bodoh - Dongeng Belanda

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya.

Putusan Sang Karakoush - Dongeng Mesir

Dikala malam yang sunyi sepi dan sangat dingin ini, semua orang memanfaatkan untuk tidur istirahat dengan tenang diperaduan masing-masing dengan selimut tebalnya setelah siang harinya beraktifitas yang sangat melelahkan.

Thursday, March 10, 2016

Cerita Tiga Pengusaha Tamak - Dongeng Yunani

Courtesy of 5berita.com
dongeng anak dunia - Sebuah negeri yang subur makmur, dihiasi dengan banyak bangunan-bangunan menjulang tinggi di jalanan kota dengan taman-taman yang resik tertata rapih. Ibu kota yang sangat ramai zaman itu dengan pusat perdagangan yang begitu hidup, pasar-pasar selalu dipadati pembeli dari pagi sampai malam hari. Itulah ciri khas suatu negeri yang maju dengan rakyatnya yang tidak kekurangan sandang dan juga pangan.

Namun suasana yang damai dan tentram segera berubah, kota dikejutkan oleh kepulan debu membumbung dikejauhan yang ditimbulkan langkah kaki para prajurit serta ribuan kaki-kaki kuda prajurit yang akan menyerang.

"Ada apa ini? Bagaimana, apakah kita akan lari? Musuh dari manakah yang akan menyerang kota kita?" ribuan pertanyaan terlontar dari seluruh rakyat negeri.

Rasa takut dan gelisah terlihat dari wajah-wajah rakyat yang tahu betapa kejamnya perang, apa yang harus mereka lakukan saat suasana gawat seperti sekarang.

Rapat darurat pun segera digelar Dewan Kota. Seluruh pimpinan pasukan, semua staf dalam pemerintahan kerajaan hadir, tokoh serta pemuka penduduk duduk bersama untuk membahas langkah selajutnya demi mempertahan negeri tercinta dari serangan musuh yang datang dari luar.

Musuh telah datang dari segala penjuru arah untuk menggempur negeri tercinta, seluruh rakyat dan tentara pasukan bahu membahu akan mempertahankan negeri ini sampai titik darah penghabisan, itulah tekad mulia yang telah mereka ikrarkan dari zaman dahulu kala.

Pimpinan negeri telah hadir membuka rapat darurat. Seluruh pasukan tempur yang dikepalai jendaral telah siap siaga dengan pertahanan yang dilipat gandakan, dibentuk kembali pertahanan benteng yang diperkuat pasukan khusus.

"Bagus sekali tuan jenderal yang terhormat, saya sangat setuju sekali!" semua benteng pertahanan yang mengeliling negeri dan kota tercinta ini, harus diberi tambahan benteng yang tebal dari batu bata yang lebih kuat, sehingga musuh tidak bisa menjebol masuk.

"Kalau semua sudah setuju dengan usul yang saya berikan tadi, akan saya siapkan batu bata dan siapkan pula seluruh dananya!" Demikianlah usulan yang dikemukakan sang lelaki yang berbadan tegak dengan kulit mukanya yang berwarna merah bata seperti warna batu bata bikinannya.

"Baiklah saya juga setuju dengan usul sang jenderal, namun saya tidak mungkin setuju dengan usul yang diajukan lelaki pembuat batu bata!, sebab membangun benteng dangan menggunakan batu bata akan memakan waktu lama, mungkin saja sebelum selesai pembangunan musuh telah lebih dulu masuk. Usul saya adalah lebih baik memakai balok-balok kayu yang besar-besar dengan demikian benteng akan lebih kokoh dan pembuatan akan lebih cepat selesai. Kalau semua setuju dengan usul yang saya ajukan saya akan siapkan ribuan balok kayu yang kuat-kuat dan tuan jenderal tinggal siapkan dananya." Usul kedua datang dari seorang lelaki yang bertubuh tinggi kurus dan berkulit putih kecoklatan.

Selang beberapa menit kemudian seorang lelaki berdiri, "Hadirin sekalian yang hadir dalam rapat darurat ini kita harus menghemat waktu dan tenaga, jangan tertipu oleh kedua orang tadi yang menawarkan batu bata dan balok-balok kayu!. Semua prajurit pun tahu bahwa yang yang paling utama dalam pertahanan adalah tameng yang tidak tembus senjata musuh, untuk itu aku akan membuatkan tameng yang terbuat dari kulit-kulit sapi yang tebal yang tidak bisa tembus oleh senjata lawan." Orang yang ketiga ini sambil berbicara, tangan tidak berhenti menunjuk kiri dan kanan seolah-olah dia sedang melakukan aksi perang yang menggunakan tameng.

"Baiklah semua harus setuju dengan usulan saya yang paling tepat dan benar, sekarang pun akan saya siapkan kulit-kulit sapi yang tebal-tebal dan tuan jenderal harus siapkan pula dananya."

"Rakyatku adalah pengusaha-pengusaha yang hebat, namun dalam situasi yang sedang dihadapi negeri tercinta ini mereka masih saja memikirkan sebuah keuntungan besar." Sang jenderal berkata dalam hati.

"Sungguh mereka tidak tahu diri, kepentingan negeri masih saja dicampur adukkan dengan kepentingan pribadi atau keuntungan diri sendiri. Jiwa patriot mereka tidak ada sama sekali, yang tertanam dalam jiwanya." Bisik hati sang jendral.

Ego yang begitu tinggi tidak memikirkan kepentingan orang lain, sungguh tindakkan yang tidak terpuji sekali. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Keseimbangan Antara Professional dan Personal Life Para Sahabat SekretarisKu
- Arab Saudi - Houthi Bertukar Tawanan, Harapan Perdamaian Muncul
Share:

Sang Serigala dan Anak Domba - Dongeng Yunani

Courtesy of mystorieslusia.blogspot.com
dongeng anak dunia - Terasa begitu indah dunia siang ini, tatkala semua kebutuhan telah terpenuhi. Itulah yang dirasakan seekor serigala yang telah kenyang perutnya dengan santapan lezat seekor kelinci.

Kelinci gemuk yang malang telah menjadi santapan siang itu, keberuntungan yang tidak disangka-sangka. Sang kelinci yang sedang berjalan-jalan tidak hati-hati dan tidak tahu bahaya mengacamnya, sekali lompat kelinci itu telah menjadi menu makanan yang tersaji.

Sambil bersiul-siul kecil sang serigala berjalan dengan sangat riangnya, hari ini keberuntungan berpihak kepadanya.

Karena asyiknya dengan hati yang dipenuhi kegembiraan jalan yang ditempuh sang serigala kini telah berada didekat jalanan kampung, berjalan terus tanpa memperdulikan keadaan sekililingnya.

Rumah bapak-bapak petani berjejer disepanjang jalan desa dan sampailah pada sebuah rumah yang sekelilingnya dipagar serta pagar itu terbuat dari balok kayu yang cukup tinggi.

Diatas atap kandang terlihat sang anak domba sedang santai duduk. Tatkala melihat sang serigala lewat didepannya, sama sekali tidak menghiraukan makanan lezat didepan matanya. "Aku sudah kenyang dan aku sudah cukup bahagia hari ini, bukannya tidak tertarik tetapi untuk hari ini sudah cukup perutku terisi." Kata sang serigala dalam hati.

Namun sang anak domba ketika melihat kebawah ada serigala lewat diluar pagar rumahnya. Sang serigala tidak mungkin bisa masuk dia ada diluar pagar balok kayu yang tinggi.

"Bapak tua yang jalan disana!" sang anak domba berteriak nyaring sekali.

"Maling kesiangan yang tidak tahu malu, mau apa kamu bapak tua berjalan dikampung kami, kelakuan yang kamu perbuat sungguh sangat tidak baik sekali," ledekkan dan sumpah serapah terlontar dari mulut sang anak domba kala itu.

Namun sang serigala tidak membalas satu kata pun, ejekkan sang anak domba, dia hanya berjalan saja sambil mencari tempat untuk duduk sekedar menghilangkan sedikit pegal dari kakinya yang telah cukup lama berjalan.

Sang serigala bersender duduk ditepi pagar kayu, "Ledeklah aku sepuas-puasnya, selagi kamu aman didalam sana! ha ha hahaha." Sang serigala tertawa terbahak-bahak dengan puasnya mendengar ledekkan sang anak domba.

"Jadilah pemberani sejati, turun dan duduklah disampingku!, janganlah menjadi pemberani ditempat aman dan situasi yang aman, ha ha ha hahaha." Tawanya terus berlanjut sambil berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Berani ditempat aman itu mudah dan tidak akan ada tantangan yang berarti, sebab bahaya tidak bisa dihadapi dengan omongan atau bualan belaka. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Atasan Keras, 5 Tips Mengatasinya
- SDF Berusaha Rebut Benteng Negara Islam Terakhir di Hasaka
Share:

Tuesday, March 8, 2016

Sang Keledai dan Penggembala Tua - Dongeng Yunani

Courtesy of deapara.wordpress.com
dongeng anak dunia - Sang gembala tua sedang asyik menikmati sore temaran yang indah dari atas bukit yang bebas melihat kemana saja mata memandang. Padang rumput yang membentang terlihat disebelah utara bukit, dan dari selatan membentang ladang gandum petani yang sudah siap panen terhampar menguning tertempa sinar matahari sore yang merah merona.

Sementara sang keledai kepunyaannya sedang asyik memakan rumput, terlihat sang keledai itu makan rumput dengan lahapnya setelah dari pagi sampai siang bekerja memeras keringat.

Sore yang tenang dan indah dengan pemandangan yang begitu tenteram diatas bukit.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama sebab dari sebelah utara sudah terlihat gelagat yang sangat mencurigakan.

"Apakah itu gerangan?" pikir sang gemabala tua ketika matanya melihat satu gerakan yang sangat ribut dan kacau sekali.

"Tempur! gembur! habiskan!" pasukan musuh datang dengan persenjataan lengkap telah datang untuk menyerbu.

Satu pasukan prajurit dari arah utara yang terdapat padang rumput sedang menuju kearah bukit, sang gembala tua melompat dari tempat duduknya berlari menuju tempat keledainya yang sedang merumput.

"Keledaiku cepatlah lari musuh telah datang ketempat kita!" sang Penggembala berteriak kepada keladai.

"Keledaiku cepatlah kabur dari tempat ini dan ikut dibelakangku!"

"Keledaiku!!!" sang Penggembala semakin ketakutan saja, namun sang keledai tetap saja diam dan tidak bergeming dari tempat merumputnya.

"Dasar keledai pemalas yang tidak tahu diuntung," sang Penggembala tua sangat marah sekali kepada keledainya.

"Bapak gembala yang terhomat! seandainya saya tertangkap apakah saya akan bekerja lebih atau dua kali lipat dari pekerjaan yang sekarang saya kerjakan atau bekerja seperti biasa mengangkat beban yang berat dipunggungku dan membantu pekerjaan berat yang lainnya seperti biasa?"

"Oh tidak! kamu tetap bekerja seperti biasa saja!" berkata sang gembala tua.

"Kalau begitu santai saja bapak gembala tua, mengapa saya harus lari dari tempat ini?, pada akhirnya saya akan bekerja mengangkat beban juga, diatas punggung saya. Sama saja kan bapak gembala tua?"

Sudah turun temurun saya sang keledai menjadi pekerja berat.

Sebagai rakyat kecil, rakyat jelata, khalayak ramai atau kalangan bawah, siapa saja yang akan menjadi penguasa atau yang berkuasa tidak ada bedanya atau tidak masalah, yang menjadi masalah adalah bisa makankah kami rakyat jelata atau kalangan bawah. Sekian.

Wasalam.
oleh : mamang
edit  : galih
Advertising - Baca Juga :
- Konsultasi: Bagaimana Mengatasi Stress Dalam Bekerja?
- Negara Islam Serang Kota Perbatasan Tunisia, 50 Tewas!
Share:

Blog Archive

Followers

Statistik

 
loading...